"Tam, "
Tak perlu menunggu lama, Tama muncul di tengah pintu yang terbuka sedikit. Yah, ia mendengar panggilan Mamanya dan pastinya ia tau apa yang harus dilakukannya. Tapi bukannya melihat Mamanya yang membawa nampan berisi jus sayur seperti biasa, ia malah mendapati Mamanya datang dengan tangan kosong.
"Tama udah ngga harus minum jus lagi ya Ma?" tanyanya.
"Kamu ada masalah dengan Nathan?"
Hanya mendengar nama Nathan, mampu membuat mood Tama seketika berubah. Yah, ia tau apa yang sebentar lagi akan terjadi mengingat Mamanya yang selalu mengajarkan dirinya tentang kebaikan.
"Ma, boleh ngga kali ini aja Tama jadi anak jahat?" katanya
"Tak boleh!"
"Ma,"
"Orang tua Nathan sudah menitipkan dia pada kita sedari bayi Tama. Jadi selama ia datang, kita adalah keluarganya. " tolak Ina mentah-mentah.
Yah, Tama tau hal itu. Moment saat orang tua Nathan pindah ke Australia dan menitipkan Nathan pada Papanya. Tapi itu jauh sebelum kejadian itu terjadi, dan selama ini Nathan yang memilih menghilang dengan alasan mencari ketenangan. Lalu kenapa saat ini ia susah payah untuk kembali? Saat Tama sedang menikmati masa-masa indah hidupnya yang penuh dengan kebaikan.
"Atanasius?"
Ina melambaikan tangan di depan wajah Putranya yang tampak melamun. Yah, dengan begini saja ia sudah tau ada yang tak beres diantara mereka. Dan sebagai seorang ibu yang baik ia akan membantu Tama menyelesaikan nya meskipun suaminya sudah melarangnya dan mengatakan laki-laki harus punya cara sendiri menyelesaikan masalahnya. Tapi, Ina tak bisa menunggu lebih lama lagi. Semuanya harus segera di selesaikan.
"Kamu sayang Mama?" pancingnya.
"Ini tentang Nathan, Ma. Kenapa jadi agresif gitu sih?"
Yah, Semenjak kejadian yang membuat kedua orang tuanya sangat malu dan tak punya harga diri lagi. Setiap hari Tama berusaha menyenangkan hati kedua orang tuanya meskipun itu tak sesuai dengan hatinya. Yah, cukup sekali itu saja ia membuat orang tuanya malu.
"Tama akan berbaikan dengan Nathan, Ma. Tapi tidak sekarang." tolaknya.
"Kalau Mama bilang sekarang?"
Tama menghela nafas panjang yang berat. " Lebih baik Tanpa meminum jus sayur yang sangat pahit." katanya.
Ina mengetuk kepala Tama lumayan keras. "Temui Nathan sekarang, dan selesaikan semuanya. " kata Ina tegas.
"Mama,"
"Cowok Kam Tam? atau Mama ganti aja nama kamu sekarang!"
"Jadi siapa?"
"Utami."
"Mama!"
"Eits, kamu berani ngebentak Mama?"
Mau tak mau akhirnya Tama keluar kamar juga untuk menemui Nathan.
*
Tama menatap langit senja yang memancarkan sinar penuh keanggunan. Yah, Atasannya tadinya mengabarkan kalau ada orang yang mengunjunginya dan memintanya menemuinya di sini dibawah pancaran senja yang menggoda. Entah mengapa, di saat seperti ini kepalanya dipenuhi sosok Rani yang sangat dirindukannya di tempat asalnya.
Dari kejauhan tampak sosok Nathan berjalan dengan dada tegap. Yah, jika dilihat secara fisik harusnya dialah yang menjadi TNI seperti perjanjian awal yang mereka ikrarkan sedari kecil. Tapi apalah daya, ia tak kunjung berhasil bertahun-tahun sampai usianya masuk zona limit.
"Hey," Tama mengulurkan tangannya meminta tos dari Nathan begitu ia tiba.
"Udah bintang brapa bro?" balas Nathan menyambut uluran tangan Tama.
Keduanya tertawa bersama sambil berjabat tangan dan melepaskan rindu. Yah, hubungan keduanya kembali aman setelah kejadian itu. Saling memaafkan dan menerima kekurangan masing-masing dan memilih sama-sama memikirkan hal yang paling positif tentang Rani yang mereka cintai.
"Tumben lo mampir."kata Tama menatap langit senja.
"Lo ngga lupa kan, bokap gue ada di akademi ini juga." balas Nathan.
"Wow, bokap yang mana nih?"
"Ngga penting yang mana, yang pasti dia sayang banget ama gue."
Yah, Tama tau siapa yang dimaksud pemuda itu. Sosok yang sangat dihormati Tama dan menjadi panutannya menerima Nathan sebagai anak angkatnya katana kasihan melihat perjuangan pemuda itu dan ingin membantunya sampai berhasil meskipun hal itu tak kunjung jadi kenyataan.
"Gue ngga punya banyak waktu. Bentar lagi_"
"Gue tau kok waktu lo sangat berharga. Gue ngga akan lama kok, 10 menit aja." potong Nathan.
"Dasar."
"Gue mau ngomong tentang Rani."
"Rani?"
"Yah, Rani yang sekarang ada bersama lo."
Entah kenapa, setiap kali mendengar dan melihat nada suara dan ekspresi Nathan yang seperti ini saat membicarakan kekasihnya itu membuat Tama tidak nyaman. Yah, Ia hanya takut masa lalu kembali terulang dan mereka malah terjebak di hati yang sama lagi.
"Firasat gue bilang kalau_"
"Stop! "cegah Tama.
Ia menatap Nathan tajam."Rani yang dulu udah mati, Nath. Itu yang gue percaya, dan Rani yang sekarang gue cintai itu sama sekali ngga da hubungannya dengan masa lalu."kata Tama yakin.
Nathan tersenyum ."Gue juga tau, Tam. Tapi entah kenapa gue selalu ngerasa kalau mereka punya hubungan satu sama lain." katanya tersenyum sendu.
"Gue ngga tau kenapa semua yang gue punya selalu saja ingin lo miliki Nath. Kasih sayang orang tua gue, Cinta pertama gue dan sekarang ... Please jangan rebut Rani dari gue juga. Jangan buat dia bingung,"
"Lo ngomong apaan sih?"
"Syukurlah kalau lo ngga niat. Tapi gue mohon ama lo, jangan ngebuat gue benci ama lo lagi." kata Tama .
"Gue cuma penasaran, kenapa tanggal _"
"05 Oktober, Ulangtahun gue dan Rani yang sekarang, itu hanya kebetulan Nath. Gue liat di Akte lahirnya kalau ia mengganti tanggal lahirnya agar sesuai dengan data dapodik. Kita ngga barengan ulang tahun, tapi dia pengennya barengan, jadi dia pakai yang sesuai dengan KTP dan Izasah." jelas Tama mencegah sahabatnya itu salah paham lagi.
Malam itu, Tama tak bisa memejamkan matanya meski hanya sejenak. Yah, inilah ketakutan yang paling sering ia takuti. Kepulangan Nathan ke Indonesia membuatnya takut kehilangan Rani meskipun ia tau benar siapa Rani yang dikencaninya sekarang.
Ia menyesal kenapa mengijinkan Papanya memulangkan Nathan kala itu. Harusnya ia menolak setuju saat Papanya bertanya, dan ia tak perlu setakut ini.
Memang terkadang inilah alasan ia terpaksalah membenci Nathan karana selalu menginginkan hal yang dimiliki dan menjadi prioritas pertama Tama.
Tanpa sadar, Tama tertidur dan merasa panas di sekujur tubuhnya. Yah, ia mendadak demam tinggi dan mengigau tentang hal-hal yang membuat teman sekamarnya bingung.
Segitu takutkah ia kehilangan Rani.
Sementara itu, Rani menjalani hari-harinya penuh dengan penantian. Ia sudah lumayan terbiasa, dan bisa tersenyum meskipun senyuman itu ia hadirkan agar orang-orang sekitanya tak menaruh kasihan padanya.
Hingga pagi itu, ia bersorak ria mendapat telepon dari Tama. Namun, raut wajahnya seketika memucat takkala mendapat kabar yang mampu membuat ponselnya terjatuh.
Apakah yang terjadi pada Tama?
*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments