"Tama, Papa mau ngomong!'"
Tama yang masih bersemedi dalam selimutnya membuka mata enggan. Yah, kesempatan ini sangat langka karena Papanya tak pernah bicara padanya dengan nada seperti ini. Mau tak mau ia segera menyingkap selimutnya dan mempersembahkan senyuman tanpa dosa pada Papa-nya yang terkenal sangat sibuk.
"Kenapa Pa?" katanya.
"Kamu serius ngga mau balik sekolah?"
Tama menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Emang ada yang mau nerima Tama yah, Pa?" katanya.
"Tama_"
"Kamu satu-satunya pewaris Sint Fatwa yang mungkin akan memecahkan rekor dunia."potong Tama mengulang ucapan Papanya yang selalu didengarnya.
"Maksud Papa, kamu tau kan Mama dan Papa ngga mungkin selamanya bersama kamu. Mau jadi apa kamu nanti kalau Papa dan Mama pergi?" Fatwa menatap Putera-nya itu dengan tatapan dalam yang lain dari biasanya.
Tama membungkam seketika. Yah, ia tau beberapa bulan belakangan itu Papanya memang punya masalah serius dengan kesehatannya. Ia juga ingat dengan jelas hasil pemeriksaan terakhir kesehatan Papanya itu jauh dari harapan.
"Papa mau ninggalin Tama?" katanya.
"Bukan gitu, Papa ingin kamu jadi orang yang bisa dipercayai orang lain. Tidak harus jadi direktur Sint Fatwa... kamu bisa lebih dari itu. "kata Papanya lagi.
"Tapi Tama udah ngga punya masa depan, Pa." katanya pelan sambil menunduk.
"Kata siapa?"
"Papa kan tau Tama_"
"Selama papa masih hidup, kamu bisa melakukan semuanya."potong Papanya.
Tama tau arahan ucapan itu kembali ke SMA Sint Fatwa. Yah, mungkin itu satu-satunya sekolah yang mau menerimanya setelah masalah yang ia ciptakan. Tetapi ia malah bingung haruskah ia bersyukur terlahir sebagai Sint Fatwa atau malah mengeluh.
"Papa ngga minta kamu belajar Tam. Kamu hanya perlu menjalaninya dengan tenang dan jangan membuat masalah karena Papa tak akan tinggal diam. Kamu tak pernah salah, jika Papa masih hidup. Kesalahanmu akan menjadi kebenaran yang mungkin akan kamu benci seumur hidup. "kata Fatwa membuyarkan lamunannya.
"Tama akan pikirkan Pa."katanya
"Papa tunggu kabar baiknya."
Sepeninggal Papanya, Tama hanya rebahan menatap langit-langit kamarnya sambil merenungi segalanya. Ia meraih ponselnya dan menatap sebuah foto yang ia gunakan sebagai wallpaper ponselnya.
"Kapan gue ketemu lo lagi."bisiknya jernih.
Yah, ia merasa tak bisa menahan rasa rindunya lagi meskipun ia baru beberapa kali bertemu gadis itu. Ia juga bingung bagaimana ia bisa jatuh cinta secepat itu pada orang yang sebelumnya jauh dari wanita idamannya. Gadis yang jauh dari kata cantik karena kulit dan postur tubuhnya berbeda dari gadis-gadis nya sebelumnya. Tapi senyuman itu, mampu membuatnya luluh dan ketagihan ingin melihat gadis itu lagi.
Lama memikirkan wanita itu, akhirnya tanpa sadar ia tertidur. Lama ia tertidur sampai tak sadar Ina masuk dan mengusap rambut anaknya itu sambil tersenyum lembut. Yah, untuk pertama kalinya ia melihat Putera-nya itu tertidur selelap itu setelah semua yang mereka lalui.
"Mama?" Tama membuka matanya.
"Terganggu ya?"
"Enggak."
Ina meraih bungkusan yang ia taruh sebelumnya di meja samping ranjang Tama. Melihat bentuk bungkusan itu saja, Tama sudah mendapatkan firasat buruk. Pasti Mamanya memutuskan satu hal tanpa bertanya padanya lagi.
"Itu apa, Ma?" tanyanya.
"Seragam Sint Fatwa. "
"Hah?"
"Sint Fatwa satu-satunya harapan terakhir kita, Tam. Mama ngga ingin kamu berakhir dengan_"
"Okey,Tama akan ngikutin mau Mama."posting Tama cepat sebelum Mama nya menyebut tentang hal yang paling ia benci.
"Maafin, Mama yah Tam."kata Ina pelan.
Nada suara itu selalu membuat Tama merasa bersalah. Yah, harusnya ia tak menyeret orang tuanya sejauh itu. Bukannya harus menerima permintaan maaf, ialah yang harusnya meminta maaf. Ia kemudian duduk dan memeluk Mamanya erat, sambil meminta maaf.
"Tama ngga guna, Ma."katanya.
"Kata siapa? Kamu itu jagoan Mama yang ngga pernah bisa dikalahkan oleh siapa pun. "balas Ina.
Keesokan harinya, meskipun dengan langkah malas Tama terpaksa melangkahkan kaki ke bang SMA lagi. Ia sengaja tidak mengumumkan pada sohib-sohibnya tentang hal itu agar mereka juga terkejut melihatnya hadir.
"Udah, Tam?" Fatwa mendekatinya sambil menyerahkan sebuah kunci mobil.
"Punya siapa Pa?"
"Siapa lagi kalau bukan buat kamu."Sambut Ina.
"Beneran Pa?"
Fatwa mengangguk pasti."Itu di desain khusus buat kamu."katanya.
Tama setengah berlari menuju mobil yang tersenyum di garasi. Yah, setelah ini ia mungkin tak membutuhkan sopir lagi karena ia juga sudah punya KTP.
"Wahhhhh, harganya berapaan, Pa?" katanya kagum melihat Lamborghini yang sangat ia impikan selama ini.
"Cukup bayar pakai Izasah SMA aja." balas Fatwa.
"Tapi... Tama ngga suka bawa mobil ke sekolah. Alsky dan Devan pasti lebih nyaman dengan motor," kata Tama tersenyum.
Jika dilihat dari senyumanya, fiks ia punya permintaan lain dan pastinya harus segera dikabulkan. Beginilah sosok Tama yang sebenarnya, selalu saja mengandalkan kekayaan orang tuanya sampai ia hampir memiliki segala fasilitas.
"Kamu tinggal pilih modelnya, kita belum langsung cass. " kata Fatwa menepuk bahu Tama.
"Beneran Pa? "
Kedua orang tuanya mengangguk pasti, membawa Tama melayang diatas awan. Jadilah ia berangkat sekolah hanya karena ia telah dibayar mahal. Yah, sekolah ini sekolah Papanya dan ia akan melakukan sesuka hatinya.
Sialnya hari pertama sekolah, malah ia harus menerima perlakuan gerbang yang ditutup karena ia terlambat. Namun begitu ia membunyikan klakson, penjaga gerbang tergopoh-gopoh langsung membuka gerbang.
"Atanasius yah?" katanya saat Tama membuka kaca mobil.
"Kok tau?"
"Pak direktur bilang nak Tama datang hari ini." katanya menunduk hormat.
"Oh, ya udah."
Tama melaju masuk dan memarkirkan mobilnya di parkiran sekolah. Ini adalah salah satu yang paling dibencinya, karena dikenali dimana-mana membuatnya tak bisa bergerak bebas. Orang-orang pasti berbisik di belakangnya karena tak berani bicara langsung. Mengatakan kalau ia sama sekali tak mirip dengan Ayahnya dari segi manapun.
Ia menuju kantor TU untuk melaporkan dirinya sudah tiba, Dan berakhir dengan mereka berjalan beriringan ke kelas tempatnya akan belajar. Untuk pertama kalinya ia bersyukur karena tak ada yang mengenalinya di kelas ini. Yah, Sint Fatwa yang terkenal dengan pendidikan yang menguras otak dan uang sehingga kaya tak menjadi jaminan diterima disini. Mungkin satu-satunya orang yang bodoh disini hanyalah Tama seorang nantinya. Namun, itu bukan alasan Tama enggan sekolah disini, ia hanya tak ingin orang-orang segan padanya karena tau siapa dia yang sebenarnya.
"Tama, perkenalkan dirimu." kata guru pembimbing yang menuntunnya masuk.
"Nama gue Atanasius_"
Ucapan Tama terhenti saat matanya menangkap sebuah sosok yang ia rindukan selama ini. Ia berada di sudut depan lorong satu dengan ekspresi yang acuh sama sekali tak terpengaruh dengan kehadirannya.
'Akh, inikah yang dinamakan takdir?' batin Tama.
*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments