"Oke, gimana kalau ngabisin ya kita buat game aja. " saran Laura.
"Game apaan sih?"
"Yang terakhir ngabisin, kita kasih Truth or Door."
"Ya udah pasti gue yang kalah."tolak Nadia.
Tapi Laura menginjak kaki sahabatnya itu sebagai kode kalau ia melakukan itu untuk Rani yang tampaknya belum makan sedari pagi.itu diketahui karena beberapa kali perutnya berbunyi dan terdengar jelas oleh Laura yang disampingnya.
"Ya udah, "
"Gue_"
"Nggada penolakan." potong ke duanya.
"Ya udah."
"Oke, dalam hitungan 3 semuanya mulai yah."kata Laura memberi aba-aba.
Hitungan ke tiga keluar dari mulut Laura dan permainan di mulai. Tak butuh waktu satu jam, Laura telah selesai dalam 15 menit, dan kemudian disusul Nadia. Keduanya kaget bukan main melihat Rani yang terlihat memaksa makanan masuk ke perutnya. Selama ini, Rani terkenal makan dengan kecepatan super itu, kini bermusuhan dengan makanan. Bahkan Ia tampak mual, sehingga terpaksa berhenti.
"Lo sakit?" kata Nadia khawatir.
"Engga kok, "balas Rani meneguk minumannya.
"Beneran?" sambung Laura.
"Hey, santai aja. Gue ngga papa kok,"kata Rani meyakinkan sambil tersenyum.
"Yakin?"
"Gue yang kalah nih, apa dong truth and door nya?" katanya mengalihkan percakapan.
"Oh, iya. "
"Karena gue yang duluan abis, berarti gue yang milih yah. Gue mau lo ngelakuin truth," katanya.
"Dah, berarti lo harus jujur ke gue, Ran."sambung Nadia.
"Serah lo dua aja deh."kata Rani menyerah.
"Oke, untuk truth nya...gue mau lo telpon Tama sekarang, dan bilang kalau lo_"
"Wait! Kenapa jadi ke Tama sih?" protes Rani.
"Suka-suka gue dong." kata Laura menjulurkan lidahnya.
"Oke deh. Untuk door nya , Lo mau apa?" kata Rani pada Nadia.
"Gue mau lo jujur tentang perasaan lo yah sebenarnya ke Tama dan Azka. "Kata Nadia tanpa beban.
"Ngada-ngadi lo."
"Aturannya _"
"Ya udah. Mau yang mana luan?"
"Gue dulu." kata Laura disusul anggukan kepala dari Nadia.
Dengan hati dan tangan bergetar, Rani mencari kontak Tama dan mulai memanggilnya. Tunggu punya tunggu, sampai sedetik berlalu tak ada tanda-tanda pemuda itu mengangkat panggilan Rani meskipun kata berdering tertulis di layar ponselnya.
"Halo, Adek."
Dih, pakai kata adek segala. Norak banget sih," komentar Nadia mendengar suara Tama.
"Diem, biar Rani yang ngomong."kata Laura.
Kedua temannya tampak senang karena berharap setelah ini Rani akan lebih baik. Tapi beda dengan gadis itu, sapaan Tama membaut hatinya sedikit terluka. Seumur hidup, ia tak pernah mendengar sapaan itu, dan ia curiga kalau itu ditujukan ke orang lain.
"Kenapa diem, Ran. Bilang kalau lo kangen."suruh Laura berbisik.
Rani menelan ludah sukar."Kamu apa kabar? Sibuk ngga?"
[Okh, sorry Ran. Aku pikir orang lain, jadi _]
"Kamu oke?" potong Rani mencegah dirinya terluka.
[Baik, tapi...kita ngomongnya entar aja yah. Aku lagi ada kerjaan yang ngga bisa ditinggal.] kata Tama cepat.
"Tapi aku mau_"
[Kamu juga ngga usah nungguin aku bobo, yah. Soalnya aku lagi sibuk banget, dan aku harap kamu mengerti yah. Night, Rani.]
Tama sama sekali tak memikirkan suara Rani yang mendadak serak karena ia berusaha menahan tangis. Lelaki itu memutuskan sambungan telepon tanpa rasa bersalah, meninggalkan Nadia dan Laura yang tak bisa berkata-kata lagi. Keduanya diam dalam kebingungan karena melihat Rani menghela nafas panjang sambil memejamkan mata karena air mata menitik dari kelopak matanya.
"Sekarang udah buat Laura, lo mau gue jujur kan?" kata Rani menatap Nadia.
"Kalau semisal itu ngebuat lo terluka, mending ngga usah Ran."larang Laura.
"Gue emang ngga bisa nerima Azka karena gue ngga ada rasa apa-apa ke dia. Tapi gue juga ngga tau perasaan gue ke Tama tuh kaya gimana sekarang. Lo berdua liat sendiri kan, dia gimana? Itu ngebuat gue bingung gue masih pacaran atau udah putus sih? "kata Rani sambil meneteskan air mata.
"Ran_"
"Stop dulu, Lau. Gue belum selesai dan akan jujur ke lo berdua karena emang gue udah ngga bisa ngebunuh otak gue lagi "potong Rani.
Nadia menggenggam tangan Rani dan Laura."Oke, lanjutin aja dulu. "
"Gue tau gue udah ngga selevel ama Tama kaya yang lo bilang Lau. Tapi gue masih ngga mau ngehianatin Tama karena udah janji bakal ngedukung dia ngeraih mimpi dia sampe kapan pun. Lalu gimana kalau gue yang diselingkuhi? Gue hanya bisa nunggu dan nunggu sampe dia ngomong."
"Ran, bukannya gue mau ikut campur. Tapi kenapa lo ngga mau cari yang lain aja sih? kenapa harus Tama? Sampe kapan lo akan nunggu?" kata Nadia buka suara.
Laura menyenggol lengan gadis itu sebagai kode agar ia diam. Biar bagaimana pun, Alsky sudah cerita padanya tentang Rani dan Azka dan ia tau Rani sedang dalam Masalah besar karena hatinya yang kesal pada Tama dan juga ketakutan Alaska akan membenci Tama juga.
"Azka tuh kan baik ke lo. Mending sama dia deh daripada_"
"Azka? baik darimananya? Lo ngga tau dia yang ngelukain Rani waktu itu?"
"Lo_"
Ucapan patah dari mulut Rani menyadarkan Laura kalau ia sudah lepas kontrol. Padahal ia sudah berjanji pada sang kekasih untuk tidak membahas hal itu didepan Rani dan teman-temannya yang lainnya.
"Maaf, Ran. Gue ngga bermaksud _"
"Azka yang nyerempet lo?" potong Nadia.
"Lo bego atau gimana sih? Lo percaya kata serempet yang keluar dari mulut Al? Rani tuh dilecehkan ama Azka "
"What?"
"Makanya Alaska balas dendam...."
Karena terlalu asik berdebat dan memberikan informasi, mereka tak menyadari kalau Rani menghilang dan malah mengambil whisky yang di stok Laura hanya untuk dirinya sendiri. Ia mulai meneguk minuman keras yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan itu dengan harapan ia bisa kabur sedetik saja. Namun yang dirasakan olehnya malah rasa panas yang membaut dada dan tenggorokan nya seakan meledak. Tetapi, ia terus memaksakan diri meskipun air maya jatuh di pipinya.
"Stop! Lo ngapain sih?" Laura merebut botol Whisky dari genggaman Rani begitu sadar sahabatnya itu begitu terluka.
"Udah, Ran... udah!" sambung Nadia.
Rani mendadak tersenyum karena ia sudah dalam keadaan mabuk."Gue pusing," katanya dengan senyuman aneh.
"Ya iya lah. Lo minum hampir _"
Ueeeeeek
ucapan laura terhenti karena kaget Rani tiba-tiba muntah ke arahnya. Setelah itu, gadis itu malah menutup mata dan terkapar begitu saja.
Kali ini Rani yang terkenal kuat jatuh untuk pertama kalinya. Ia menangis tersedu sampai kedua sahabatnya berpindah duduk ke sampingnya dan memeluknya erat. Yah, mereka tau Rani tak mudah melupakan perasaanya dan ia bukan tipe wanita yang gampang jatuh cinta dan tak akan pernah tahu akan pilihannya sendiri.
*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments