"Tumben lo cantik. Mau kencan kemana lo? ama siapa? Azka? Pulang jam berapa? mau gue jemput atau_"
"Gaun lo nggada yang lain? minim amet bahannya. Nggada yang lebih baik apa?"
Baru saja membuka pintu kamar Rani sudah disemprot dengan berbagai macam pertanyaan yang pastinya membuatnya ingin kembali masuk ke kamar. Ini salah satu alasan kenapa ia malas mengikuti pesta seperti Trend yang sedang disukai anak muda pada umumnya. Kedua adiknya ini terlalu cerewet melebihi Mamanya.
"Ma...."
Nah, belum saja Rani membalas ucapan adiknya, Laudy lebih dulu memanggil Mita. Dan tanpa nunggu lama, Mita segera tiba dan menatap anak gadisnya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Nggada yang salah. Kenapa pada teriak sih?" katanya menatap kedua anak cowoknya.
"Mama rabun? baju pendek kata gitu dibilang Worth it. Buat dipakai? " kata Laudy dengan mata melebar.
"Sibuk amat lo pada. Suka-suka gue dong," kata Rani begitu mendapatkan pembelaan dari Mita.
"Cowok mah ngga usah sok tau soal cewek." dukung Mita.
"Lo mau kemana?" lagi-lagi langkah gadis itu ditahan Alaska.
"Pergi ama siapa?" Lanjut Laudy.
"Al, Laud. Please deh, gue cuma mau datang ke acara keluarga teman gue." kata Rani frustasi.
Jujur, kepalanya mendadak pusing melebihi otaknya yang terus mencari petunjuk bakalan seperti apa pestanya nantinya. Yah, untuk pemula ini terlalu mendadak buatnya.
"Acara keluarga? mau nikah lo?"
Lagi-lagi ucapan Laudy membuat Rani merenggut." Ma, Please deh."katanya meminta bantuan Mita.
"Kalau emang dia tanggung jawab, harusnya dia datang dong. Cowok apaan yang ngebiarin cewek datang sendiri?" kata Alaska menunjukkan keberatan nya.
"Dia udah datang dari setengah jam lalu. Kalian aja yang interogasinya berlebihan, sampai harus kaya gitu."kata Mita.
"Mana?"
"Ngobrol ama Papa."
"Aman." Laudy mengacungkan jempolnya pada Alaska.
Selanjutnya tanpa menunggu waktu lama lagi, Tama dan Rani pamit pergi. Sepanjang perjalanan tak banyak yang mereka bicarakan karena jelas ekspresi tegang itu membuat Rani pucat.
"Tegang amat."komentar Tama begitu mereka hampir tiba.
"Ini kali pertama gue,"
"Kasian banget."
"Maksud lo?"
"Dilarang ama Nyokap-Bokap yah?"
"Apanya?"
"Pacaran"
Seketika wajah Rani memerah. Darimana Tama tau soal itu, sementara ia belum bicara apa-apa. Yah, selama ini ia selalu menggunakan itu sebagai alasan agar para kaum pria menyerah mendekatinya
"Bokap gue bilang gitu?" katanya penasaran.
Setahunya, Papanya tak mungkin melakukan hal itu karena ia selalu memberikan kebebasan pada setiap anak-anaknya meskipun kebebasan itu harus digunakan tepat pada waktunya.
"Enggak."balas Tama memarkirkan mobilnya.
"Trus gue harus ngapain nih?"
"Nari, Nyanyi_"
"Lo gila?"
Jelas tergambar di wajah Rani kalau ia sedang tidak dalam mode bercanda. Hal itu membuat senyuman Tama mekar seketika. Ekspresi seperti inilah yang paling ia sukai, dan ingin ia nikmati begitu lama.
"Bilang sama Nyokap-Bokap gue kalau kita pacaran. Okay?"
"Hah?"
"Gue bilang gitu ke Bokap lo."
"Serius lo?" kata Rani kaget bukan main.
"Tapi boong."
Dengan santainya Tama membalas sambil mencubit gemes pipi Rani. Membuat gadis itu semakin sewot dan membuang muka sembari bersyukur karena aman pulang ke rumah. Yah, ia tidak akan tau kaki mana yang harus melangkah lebih dulu menghadapi Papanya.
"Gue bilang kalau gue suka ama lo, tapinya lo enggak. Huhhhhh Bokap lo bilang, kalau dia setuju aja asal gue bisa buat lo bahagia."kata Tama.
"Gila,"
"Artinya gue dapat lampu hijau dari Bokap lo."kata Tama mendekati Rani.
"Ngapain lo?" kata gadis itu gugup.
"Mau keluar kan?" Tama melepas sabuk pengaman yang dikenakan gadis itu.
"Oh, "
Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut Rani mewakili pipinya yang semakin bersemu merah. Ia merasa sangat malu karena prasangka buruknya sendiri.
Selanjutnya mereka masuk sambil bergandengan tangan. Jala terasa kalau tangan Rani basah sakin gugupnya. Tapi karena Tama yang meyakinkan semuanya akan baik-baik saja ia melangkah juga.
"Hay, Ma. ini Pacar Tama," kata Tama menyalami Mamanya.
'Mama gue ulang tahun' katanya di telinga Rani.
"What?"
Sontak saja gadis itu panik seketika. Ia datang denga tangan kosong, dan tak ada persiapan uang tunai walau hanya sekedar membeli hadiah.
"Cantik ya kamu."kata Mama Tama memuji meski jelas terlihat di hanya mulutnya yang berucap.
"Selamat ulang tahun Tante," kata Rani menyambut uluran tangan itu meskipun ia sangat gugup dan malu.
"Ini hadiah dari pacar Tama, Ma."kata Tama memberikan sebuah kotak kado.
"Oh , Makasih loh." balas Mamanya yang tak lain bernama Ina.
"Sama-sama Tante," kata Rani canggung.
"Siapa namamu?"
"Rani Tante. "
"Oh, lagi-lagi Rani."kata Ina menatap tajam Tama.
"Dia yang terakhir, Ma." kata Tama cengengesan.
"Oh, gitu. Ya udah, Ran... kita masuk yuk." kata Ina menggandeng lengan Rani.
Pesta ulangtahun yang jauh dari ekspetasi Rani berjalan lancar dan meriah. Tak ada sedetikpun Tama meninggalkan dirinya sendirian bahkan dalam keadaan terjepit karena pertanyaan keluarga besarnya sekalipun. Hal itu membuat Rani perlahan merasakan capek yang bukan main dan akhirnya mencuri kesempatan menjauh dari keramaian.
Yah, ditempat ini ia merasa lega. Tak harus pura-pura lagi, dan mencari kata yang tepat menjawab berbagai macam pertanyaan. Tanpa sadar, Ina ternyata mengamatinya dari jauh dan kemudian menghampirinya.
"Kenapa disini?" katanya menyodorkan gelas minuman pada Rani.
"Akh, sepertinya aku belum terbiasa, Tante. Makasih minumannya, "kata Rani menerima gelas itu sopan.
"Kamu bukan pacar Tama kan?"
Sontak saja kata-kata itu membuat Rani tersendat saat minum, dan alhasil ia menyembur ke depan. Dengan sigap, Ina menyodorkan sebuah tisu.
"Maaf, Tante."kata Rani menyesal.
"Tama bayar kamu berapa?"
'Uhhhh, ternyata ibu dan anak tidak jauh beda.' kata Rani dalam hati.
"Kita hanya barter Tante."kata Rani yakin.
"Maksudnya?"
"1 bantuan dihargai 1 permintaan."
"Oh, jadi kamu bilang Tama bantu kamu?"
"Iya."
Kali ini Rani tak berhasil menjaga sosoknya yang elegan. Ia merasa Ina telah melukai harga dirinya dan ia tak akan diam saja soal itu. Emang dirinya terlihat murahan?
Tiba-tiba Ina memegang tangan Rani."Sebenarnya saya mau minta tolong ke kamu."katanya.
'Kali ini apa lagi?' batin hati Rani.
"Maksud Tante?"
"Tama satu-satunya harapan keluarga ini. Dia harus menggantikan sosok ayahnya suatu hari nanti, dan itu membutuhkan sosok Tama yah bertanggung jawab dan bisa dikategorikan sebagai manusia."katanya.
"Rani ngga ngerti, Tante."kata Rani bingung.
"Jadilah pacar Tama meskipun kamu tidak menyukainya."katanya.
"Hah?"
"Saya bersedia membayar berapapun yang kamu mau."
"Bentar, Tante nyogok saya hanya demi masa depan Tama? Tante ngga takut Tama terluka?" balas Rani semakin bingung.
"Dalam hidup tidak ada yang namanya putih dan juga hitam Rani. Semuanya buram dan berwarna abu-abu. Suatu saat nanti kamu akan mengerti, dan saat ini kamu hanya perlu menjadi support pertama Tama menuju kesuksesan."katanya.*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments