Naik-Turun

"Ran, lo ngga bisa ngindarin gue gitu aja!" Azka mencekal lengan Rani sampai gadis itu kesakitan.

Jelas dilihat di wajah Azka kondisi hatinya sedang tak baik. Yah, ia menyesali banyak hal semenjak Rani menghilang dari kehidupannya.

"Ngga da yang perlu diomongin, Az." Rani meronta sekuat tenaga, namun apalah dayanya yang hanya wanita lemah. Sekuat-kuatnya ia meronta sama sekali tak melonggarkan cengkraman tangan Azka.

"Az, gue_"

Sebuah tangan kekar menarik tangan Rani dari cekalan Tama sampai Rani terpojok di dada bidangnya. Secepat itu ia mendekap tubuh Rani dan menahannya di dadanya.

"Kamu nga papa, Beb?" katanya mengusap rambut Rani.

Yah, dia adalah Tama yang baru saja meresmikan diri menjadi musuh baru Rani. Melihat reaksi Rani yang ingin menjauhkan diri darinya, membuat Tama menekan kepalanya. Tampaknya ia satu-satunya orang yang tenang dan paham akan situasi ini.

"Ran dia_"

"Hay, gue Tama pacar_"

Azka menarik tangan Rani secara paksa." Ini ngga benar kan, Ran?" katanya meminta penjelasan.

Rani melepas genggaman tangan Azka dan menggandeng lengan Tama. Yah, ia mulai paham sekarang. Ia akan mengambil kesempatan ini untuk lepas dari Azka meski ia tau dekat dengan Putera pemilik sekolah tak akan semudah yang ia bayangkan karena anak yang memiliki segalanya sejak lahir berbeda denga anak yang harus berjuang untuk mencapai di titik tertentu.

"Lo denger sendiri kan?" Kata Tama dengan senyuman penuh kemenangan sambil merangkul bahu Rani yang tampak berusaha keras untuk tidak risih.

'Pasti ada yang tidak beres ' gumam Azka dalam hati.

"Jadi sekarang, lo ngga bisa sesukanya dengan cewe gue."kata Tama lagi

keduanya pergi meninggalkan Azka yang masih terpaku tak bisa mempercayai apa yang baru saja terjadi terlebih ia merasa sangat tidak asing dengan Tama. Yah, ia ingat dengan jelas kalau pertemuan pertama mereka di olimpiade Sains se-provinsi saat masa putih biru dulu. Namun saat itu ia jelas mendengar Rani mengatakan kalau ia tak ada hubungan apa-apa dengan Tama meskipun gadis itu meminjamkan Hoodie nya padanya.

"Sejak kapan mereka pacaran?" gumamnya.

Sementara itu, Rani menarik paksa tangannya dari genggaman Tama. Yah, sedari tadi ia tau pasti kalau batin dan fisiknya risih meskipun ia selalu tersenyum dan mengikuti alur cerita yang dibuat Tama.

"Why?"

"Lo gila?" kata Rani menatap wajah Tama lekat-lekat.

"Bukannya yang gue terima harus ucapan Makasih yah?"

"Hay, Tama...."

Seorang gadis yang dikenal Rani dengan nama yang sama, menghampiri Tama dan langsung memeluknya erat tanpa rasa risih. Yah, gadis yang dulunya sempat menjadi bestie Rani meski hanya beberapa bulan.

"Lo_"

"Aku kangen banget. Ini hari ke 3 kita ngga bareng, aku dah ngga bisa nahan." kata Rani Aliana bergelayut di lengan Tama seolah ia adalah anak kecil yang sedang bergelayut manja di bahu Papa yang baru pulang dinas. Bukan hanya Rani yang bertambah risih, Tama juga bertingkah lugu dan mau menerima apa aja perlakuan Rani A termasuk ciuman di bibirnya.

"Hay Ran. Lo_"

Rani berbalik dengan cepat dan pergi begitu saja padahal ia yakin masih ada hal yang harus mereka bicarakan. Yah, ini salah satu ketakutannya mengenal Tama yang terkenal playboy dan anggap enteng dengan yang namanya wanita termasuk yang ada hubungannya dengan Rani. Entah ada dendam apa, ia selalu mencari mangsa.

*

Tama memantau gadis yang sedang membaca di taman sekolah yang penuh dengan bunga mawar. Dengan earphone yang melekat di telinganya, ia tampak fokus membaca meski semilir angin menggelitik wajah cantik dengan rambut yang beterbangan di terpa angin.

Tanpa sadar, Tama tersenyum dan merasa debaran di hatinya itu semakin nyata. Akh, jika melihatnya seperti ini saja mampu membuatnya terpesona dan melayang bagaimana ia melanjutkan hari-hari selanjutnya tanpa gadis itu.

"Ngga nyangka yah, Bad Boy di sekolah kita takluk pada gadis yah jauh dari standar."

Alsky menghampiri Tama dan mengikuti tatapan Tama pada Rani yang masih belum sadar. Mendengar itu, seketika Tama berdehem dan menyembunyikan senyumannya yang masih saja kelihatan.

"Gue senang Tam, akhirnya lo jatuh cinta lagi." katanya.

Tama berdehem lagi."Gue hanya penasaran." katanya.

"Itu awal_"

"Menurut lo dia_"

Lagi-lagi ucapan Tama terpotong saat matanya melihat seseorang yang berjalan santai keliling lapangan basket dengan earphone di telinganya. Tiba-tiba matanya mendadak berubah dan wajahnya merah padam seakan ada hal yang membuatnya sangat marah. Tentu saja hal itu membuat Lausky bingung.

"Sejak kapan lo takut sinar matahari?" katanya

Tama mengepal tangannya menahan marah."Beraninya muncul di hadapan gue!" katanya.

"Siapa?"

Bukannya menjawab, Tama malah pergi begitu saja membuat sahabatnya itu semakin bingung. "Kenapa sih??" katanya sendiri.

Lantas siapakah orang yang dilihat Tama?

*

05 Oktober 2001

Hari yang seharusnya dijalani Tama dengan penuh kebahagiaan bersama teman masa kecilnya yang telah dijodohkan padanya. Mereka merayakan ulang tahun bersama untuk usia yang ke 15 dan 10 tahun.

Sedari tadi Tama sudah setia menunggu gadisnya itu tanpa sabar. Ia sudah sangat merindukan gadis itu padahal baru 2 hari mereka tak bertemu.

Akhirnya penantian Tama berbuah takkala melihat Nathan, Sahabatnya sedari kecil. Orang yang paling dekat dengan Rani karena mereka memang bersama sejak kecil.

"Hay." Tama menyambut kedatangan sahabatnya itu dengan senyuman full.

Ia celingukan mencari dimana Rani disembunyikan Nathan yang selalu penuh kejutan. Namun melihat raut wajah Nathan, senyuman Tama mendadak pudar.

"Rani mana?" katanya.

"Dia...."

Nathan tiba-tiba tersungkur dan menangis begitu saja tanpa perduli Tama yang semakin bingung. Firasatnya mengatakan ada yang tidak beres, namun ia tidak tau itu tentang apa.

"Rani mana???" katanya mengguncang bahu Nathan.

Namun yang ditanya hanya menangis tanpa kata. Waktu terus berjalan sampai hari ini, namun tak ada kejelasan tentang semuanya. Rani yang dicintai Tama menghilang entah kemana bersama orang tuanya tanpa sebab meninggalkan luka yang masih membekas sampai kini di hati Tama.

Sejak itu, ia tak pernah berhenti menyakiti setiap wanita yang bernama Rani karena ia ingin membuktikan kalau tak hanya gadis itu yang bisa melukainya.

Tapi benarkah ia begitu membenci Rani?

Tama sendiri tidak begitu yakin tentang dirinya lagi apalagi semenjak harinya berdebar setiap melihat sosok yang berbeda atas nama 'Algiant Agathara Frani' sosok yang jauh dari harapannya namun mampu membuatnya merasakan rasa yang begitu membingungkan.

Tama menempelkan satu kelopak mawar yang membuat kuntum mawar itu sempurna. Inilah hal yang selalu ia lakukan, selama menunggu kedatangan Rani yang mungkin tak akan pernah kembali.

*

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!