Terpesona

Burung beo yang dilepaskan Gandasuli hampir saja sampai di gerbang depan istana dewa petir Adrakhs. Burung beo itu ingin segera meneriakkan, "Gandasuli temanku ada di bumi dan selamat" Namun, utusan ibu tirinya Gandasuli berhasil membungkam burung beo itu untuk selamanya. Burung beo itu berakhir malang, dia mati hangus terbakar karena sihir yang ditembakkan oleh utusan ibu tirinya Gandasuli.

Chanan mengumpat kesal saat ia meletakkan pantat Gandasuli dengan pelan di tepi ranjang karena pandangan matanya tanpa ia komando, kembali bersarang ke gundukan berwarna putih menggoda itu.

Gandasuli melihat kedua bola mata Chanan, lalu menunduk dan sambil merapatkan jubah mandinya, gadis cantik itu melotot ke Chanan, "Kau suka dengan pemandangannya, Paman?"

Chanan yang masih tertegun dan pikirannya berkelana liar, menjawab, "Iya" Tanpa ia sadari.

Gandasuli langsung menepuk pundak Chanan cukup keras sambil mendelik dan berteriak, "Dasar mesum!"

"Aduh! Kenapa kau pukul pundakku, hah?!"

"Apa yang kau lihat barusan, Paman?!" Gandasuli menekan nada bicaranya di kata paman dan Chanan dengan cepat berbalik badan sambil berkata, "Aku nggak lihat apa-apa. Memangnya apa yang bisa aku lihat dari tubuh kerempeng dan rata kamu itu, cih! Diam di situ! Aku akan ambilkan obat dan obati kaki kamu"

Gandasuli sontak menunduk untuk menilai tubuhnya sendiri dan bergumam kesal, "Mana ada kerempeng dan rata? Aku ini bukan ikan asin. Dasar cowok nggak punya hati, huh!"

Chanan kembali di depan Gandasuli dan langung duduk di lantai lalu meletakkan tas obatnya di atas lantai, membuka tas itu untuk mulai memeriksa sambil bertanya, " Yang mana yang sakit?"

"Dadaku" Sahut Gandasuli dengan mulut meruncing lancip.

Chanan mendongak kaget dan langsung mendelik, "Kenapa bisa dada kamu yang sakit ? Dada kamu membentur dinding kamar mandi, ya, tadi?"

"Nggak! Dadaku sakit karena kamu mengatakan tubuhku kerempeng dan rata"

Chanan menyeringai kesal lalu berkata, "Aku belum memeluk kamu. Apa boleh aku peluk kamu agar aku bisa menilai dengan benar apakah tubuh kamu kerempeng atau tidak?"

Gandasuli langsung memeluk tubuhnya sendiri dan menggeram kesal, "Nggak boleh!"

"Hufftttt! Aku juga nggak akan meluk kamu. Aku hanya akan memeluk wanita yang aku cintai. Sekarang katakan kaki mana yang sakit?!" Chanan kembali menundukkan wajah untuk melihat kedua kakinya Gandasuli.

"Yang kanan. Sakit banget. Apa bengkak?"

Chanan mencoba menggerakkan pergelangan kaki Gandasuli ke atas, ke bawah, lalu ke kanan dan ke kiri, sambil bertanya, "Sakit?"

Gandasuli menggelengkan kepala.

Chanan mendongak kesal, "Ditanya,.kok, nggak dijawab? Katanya tadi kalau ditanya sama orang tua harus menjawab"

"Aku sudah gelengkan kepala barusan"

"Hufftttt! Sabar, Chan! Snowy, kalau aku menunduk dan kamu gelengkan kepala, aku bisa lihat tidak?"

"Tidak"

"Kalau begitu, jawab dengan bersuara kalau aku nanya! Dasar menyebalkan!" Chanan memekik kesal dan Gandasuli langsung menyahut, "Iya, baiklah!"

Chanan kemudian menundukkan wajahnya lagi untuk melihat telapak kakinya Gandasuli, ia menekan telapak kaki itu dengan pelan dan Gandasuli langsung menarik kakinya sambil berteriak kencang sekali, "Aduh!!!!!"

Mamanya Chanan dengan cepat melesat masuk ke dalam kamar dan langsung bertanya, "Kenapa dengan menantu kesayangan Mama? Astaga! Kenapa menantu Mama menangis? Kau apakan Snowy, Chan?!" Mamanya Chanan memeluk Gandasuli dan melotot ke Chanan.

"Aku sedang obati kakinya, Ma. Dia terpeleset di kamar mandi tadi"

"Astaga! Apa bengkak? Nggak papa, kan, Chan? Nggak perlu digips, kan?"

"Aku rasa nggak perlu digips. Nggak ada yang patah. Cuma ototnya memar. Jadi, sedikit bengkak. Tapi, aman, kok. Aku akan pasang deker di telapak kakinya dan besok dia sudah sembuh. Kalau mau jalan diseret dulu! Jangan diangkat kaki kanan kamu!" Ucap Chanan sambil mengoleskan obat lalu memasang deker di telapak kakinya Gandasuli.

Mamanya Chanan mengusap lembut kepala Gandasuli dan berkata, "Syukurlah kalau Snowy baik-baik saja. Suami kamu dokter yang hebat. Jadi, jangan nangis lagi, ya, Sayang"

Gandasuli menyahut, "Iya, Ma" Lalu menatap mamanya Chanan dengan senyum manisnya.

"Ah! Menantu Mama kenapa bisa secantik ini. Kamu beruntung, Chan. Snowy cantik, kan?"

"Hmm" Sahut Chanan asal karena pria tampan itu masih asyik memasang deker dan kembali memeriksa kondisi kakinya Gandasuli.

Gandasuli memperhatikan cara Chanan mengobati kakinya, hatinya terasa hangat dan dia tersenyum senang saat ia mendengar Chanan menyahut Hmm, untuk pertanyaan yang diajukan oleh mamanya Chanan.

Berarti ia mengakui kalau aku cantik, kan? Ah! Kenapa hatiku berdesir hebat saat aku mendengar dia ber-hmm tadi. Batin Gandasuli dengan senyum yang semakin lebar.

"Mama akan ke kantor dulu. Nanti malam Mama tidur lagi di sini. Jaga diri baik-baik, ya, Sayang" Mamanya Chanan mencium pipinya Gandasuli kemudian ia mencium pipi Chanan sambil berkata, "Jaga Istri kamu dengan baik"

"Iya, Ma. Ayo aku antar, Ma"

Mamanya Chanan langsung menahan dada putra tampannya sambil berkata, "Nggak usah diantar! Kamu jaga saja Snowy. Supir Mama sudah datang, kok"

"Hati-hati, Ma" Ucap Gandasuli dan Chanan secara bersamaan.

Mamanya Chanan membalasnya dengan lambaian tangan dan senyuman manis.

Gandasuli menatap Chanan dan tanpa ia sadari, wajahnya mengulas senyum lebar.

"Kenapa senyum kayak gitu?" Chanan menatap Gandasuli dengan heran.

Gandasuli sontak memasang wajah datar kembali karena kaget dan berkata, "A.....aku cuma senang. Kakiku nggak parah kondisinya"

"Istirahatlah! Aku akan ke dapur dulu ambil makanan buat kamu"

"Iya, Kak. Terima kasih banyak sudah menolongku pas jatuh dan mengobati kakiku"

"Hmm" Chanan langsung berbalik badan.

Lima belas menit kemudian, Gandasuli nekat turun dari kasur dan menyeret kaki kanannya sambil bergumam, "Aku haus"

Gandasuli belok kanan saat ia mendengar bunyi bel pintu.

Dia membuka pintu dan seorang pria berjas biru tua langsung menyapa dia, "Selamat pagi. Saya dari kampus XX. Saya mencari Nona Snowy dan ......."

"Kenapa kau keluar dari kamar? Kaki kamu masih sakit, kan? Lalu, kenapa kau membuka pintu tanpa melihat siapa yang datang di layar dulu?" Suara Chanan menusuk telinga Gandasuli.

"Maaf. Aku mau ambil air minum dan pas mendengar bunyi bel pintu, aku bergegas membukanya" Sahut Gandasuli.

"Siapa kamu?" Chanan menoleh ke seorang pria berjas yang masih berdiri tegak di teras depan.

"Saya dosen yang akan mengajar Nona Snowy Rahardian"

"Hei! Kenapa dosen pengajar yang datang cowok? Kenapa bukan cewek?"

"Kemarin Anda tidak meminta dosen cewek, kan, Tuan. Jadi, nggak ada salahnya, kan, kalau pihak kampus mengutus saya ke sini"

Cantik banget wanita di depanku ini? Apa ini calon muridku nanti? Batin pria berjas itu.

"Sial! Kenapa kau terus menatap Istriku?" Chanan menggeram kesal.

"Is......Istri? Jadi, gadis cantik di depan saya ini, Is.....Istri anda, Tuan? Saya kira dia keponakan Anda dan........"

"Dia Istriku dan bukan keponakanku. Lancang benar kau berasumsi begitu, hah? Dan berani benar kau puji Istriku cantik di depan mataku. Snowy masuk ke dalam kamar dan tunggu aku di sana, cepat!" Chanan menoleh tajam ke Snowy dan Snowy langsung menyeret kaki kanannya dan melangkah cepat untuk segera masuk ke dalam kamar.

"Maafkan saya, Tuan. Saya tidak sengaja menatap Istri anda terus tadi"

"Sial! Aku juga nggak bisa biarkan seorang cowok memegang tangan Istriku nanti. Makanya aku nggak mau dosen cowok yang datang ke sini" Gumam Chanan.

"Kenapa saya memegang tangan Istri Anda nanti? Apa boleh begitu?"

"Tentu saja nggak boleh! Istriku tidak bisa menulis pakai pensil atau pulpen. Dia terbiasa menulis pakai kuas. Jadi, dia perlu diajari dulu nulis pakai pensil atau pulpen, kan? Jadi, dosennya harus memegang tangannya kalau mengajari dia nulis, kan?"

"Kenapa menulis pakai kuas? Kenapa begitu?"

"Sial! Kau tidak perlu tahu detailnya. Pokoknya aku tidak suka sama kamu. Kembalilah dan minta dosen cewek untuk ke sini mengajar Istriku. Jangan cowok lagi! Kalau sampai dosen cowok yang datang lagi ke sini, aku akan cabut dukunganku untuk kampus kalian saat ini juga!"

"Baik, Tuan. Saya akan kembali dan menyuruh dosen wanita untuk ke sini mengajar Istri Anda, Tuan" Dosen pria itu bergegas ngacir meninggalkan Chanan.

Chanan berbalik badan dan langsung menangkap tubuh Gandasuli yang hampir jatuh terjengkang ke belakang. Pria tampan itu menarik tubuh istri imut dan cantiknya hingga menempel di tubuhnya sambil mendengus, "Kenapa kau berdiri diam di belakangku? Dasar bodoh!"

Namun, seketika pria tampan itu mengumpat kesal di dalam hati, sial! dilihat dari jarak sedekat ini, dia cantik banget dan harum sekali rambutnya.

Chanan terpesona pada Gandasuli untuk yang pertama kalinya. Begitu pula Gandasuli.

Lalu, terdengarlah bunyi degup jantung keduanya, deg, deg,deg, deg ................

Terpopuler

Comments

Senajudifa

Senajudifa

itu sdh yg akur dong😁😁

2023-04-03

0

TK

TK

bunga untuk Thor 🌷

2023-03-06

0

Ucy (ig. ucynovel)

Ucy (ig. ucynovel)

iya emang cantik kok 😊

2023-03-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!