Misi

Dewa petir, Adrakhs

Dewa petir marah besar saat ia mengetahui mesin pelacak kalungnya Gandasuli tidak pernah dipelihara dengan baik dan ngadat. Dengan mendelik, dewa yang sangat tampan dan gagah itu berkata ke anak buahnya, "Pokoknya alat ini harus jadi malam ini juga dan besok harus bisa digunakan untuk melacak kalungnya Gandasuli!"

"Baik, Dewa!" Sahut kesepuluh anak buahnya dewa petir secara bersamaan.

Dewa petir kemudian terbang kembali ke singgasana dan merenung sedih di sana. Kehilangan Gandasuli selama beberapa jam saja rasanya seperti satu abad. Pria tampan itu sangat merindukan Gandasuli.

Melihat mulut pria di depannya ternganga lebar, Gandasuli langsung berkata "Awas ada lalat masuk ke dalam mulutmu"

Chanan sontak menutup mulutnya dan batuk-batuk lalu berteriak panik, "Apa lalatnya udah aku telan? Apa benar ada lalat masuk ke mulutku tadi?" Keringat dingin mulai muncul di kening Chanan dan wajahnya menjadi pucat.

Gandasuli yang ingin melepas tawanya seketika berkata, "Nggak ada! Aku hanya bercanda" Saat ia melihat wajah pucatnya Chanan, lalu wanita cantik jelita itu berkata, "Jangan pingsan lagi! Kamu harus benerin kalungku, nih!" Gandasuli menjejalkan kalungnya ke dalam genggaman tangan Chanan.

Chanan mengamati kalung yang mirip gelang baginya itu sambil mengusap keringat di keningnya dan berkata, "Aku akan benerin gelang ini, eh! Kalung ini kalau kamu katakan apa keistimewaan kalung ini. Tapi, bukannya ini gelang? Kecil begini kau sebut kalung?"

"Itu dipakai pas aku jadi kelinci. Jadinya tampak kecil mirip gelang. Kalung itu adalah kalung pemberian dewa petir dan..........."

"Pfftttt!" Chanan sontak mengulum bibir menahan tawa.

"Kamu menertawakan aku?"

Chanan langsung mengibaskan tangannya di depan Gandasuli lalu berkata, "Aku tidak menertawakan kamu, tapi aku geli aja, mana ada dewa petir di jaman sekarang ini, pfftttt!" Chanan menutup mulutnya yang ingin menyemburkan tawa.

"Ada. Dewa petir adalah pria paling tampan di dunia ini. Dia juga baik dan lembut. Namanya Dewa Adrakhs.

"Buahahahahaha! Mana ada dewa petir. Hentikan khayalan kamu itu kalau nggak, kamu akan berakhir di depan meja seorang psikolog seperti aku"

Gandasuli sontak mendengus kesal dan mencekal pergelangan tangan Chanan.

Chanan sontak menunduk untuk melihat pergelangan tangannya dan seketika merasa heran, "Kenapa aku tidak bersin saat tanganku di sentuh cewek ini? Apa karena cewek ini adalah Snowy?"

Lalu, Chanan diam saja saat Gandasuli menariknya ke halaman belakang.

Gandasuli mengerem langkahnya di depan daun yang tidak berbunga dan sambil melepaskan pergelangan tangannya Chanan, gadis cantik jelita itu berkata, "Lihatlah! Aku akan buktikan kalau semua ucapanku benar" Gandasuli menunjuk daun yang ada di depannya dan berkata, "Berbungalah" Dan ajaibnya daun itu langsung mengeluarkan bunga berwarna putih yang sangat cantik. Lalu, Gandasuli berputar badan sambil berteriak "Berbungalah!" Dan ajaibnya, seluruh rumput di halaman belakang rumah Chanan dan semua pohon yang ada di sana mengeluarkan bunga yang sangat cantik. Halaman belakang rumahnya Chanan seketika berubah menjadi permadani bunga.

Chanan langsung melongo lalu berkata, "Ka.....kamu bisa menciptakan bunga? Ta.....tapi, apa hubungannya bunga-bunga ini dengan keberadaannya dewa petir yang kamu katakan tadi"

"Aku adalah putri bunga di negeri kahyangan. Aku bisa menumbuhkan bunga bukan menciptakan. Karena yang berkuasa menciptakan segala sesuatu itu Tuhan Yang Maha Esa. Dewa petir yang menyelamatkan aku dari ibu tiriku. Ibu tiriku ingin membunuhku dengan cara menyihirku menjadi kelinci dan membuangku ke hutan untuk dimakan hewan buas, namun dewa petir menyelamatkan aku. Untuk itulah aku butuh kalung itu agar dewa petir bisa melacak keberadaanku dan menjemputku ke sini. Aku harus segera kembali ke kahyangan untuk mengungkap kejahatan ibu tiriku dan menyelamatkan rakyat di kerajaan bunga dari penyihir jahat itu. Ibu tiriku ternyata seorang penyihir yang sangat jahat dan kejam"

Chanan mengamati Gandasuli, dia sangat cantik. Dia juga satu-satunya orang yang bisa aku dekati dan aku tidak bersin saat ia menyentuhku. Padahal selama ini hanya Leo yang bisa menyentuhku dan tidak membuatku bersin. Disentuh Mamaku saja aku bersin. Cewek ini langka dan aku enggan kehilangan dia. Dia juga bisa aku manfaatkan untuk menghindari cewek-cewek nggak jelas yang ingin nempel ke aku dan menghindari perjodohan yang selalu diatur oleh Mama.

"Kok bengong lagi? Kamu kasih tidak percaya dengan semua ucapanku?"

Chanan menggeleng cepat lalu berkata, "Aku percaya. Tapi, emm......."

"Tapi, apa?" Gandasuli bersedekap di depan Chanan.

"Aku ada syarat lagi kalau kamu ingin aku yang memperbaiki kalung ini"

"Apa syaratnya?"

"Kamu harus membantuku meyakinkan Mamaku untuk tidak mengenalkan cewek lagi ke aku"

"Caranya bagaimana?"

"Besok Mamaku akan mengenalkan aku ke seorang cewek di sebuah restoran. Kamu temani aku pergi ke sana dan mengakulah ke Mamaku kalau kamu itu adalah pacarku, emm, tidak! Kalau pacar, Mama masih bisa minta aku putus dengan kamu. Katakan kalau kamu itu calon Istriku. Kita sudah bertunangan"

"Apa itu pacar? Apa itu Calon Istri? Dan apa itu bertunangan?"

"Sial! Kau tidak tahu semua itu?" Chanan langsung menautkan kedua alisnya.

"Aku masih muda dan di kahyangan tidak ada pacar, bertunangan, dan calon istri Kalau suka ya, dilamar kalau wanitanya setuju, ya, terus menikah. Kami semua menikah di umur dua puluh tahun"

"Sial! Memangnya berapa umur kamu sekarang ini?"

"Delapan belas tahun. Kalau kamu?"

"Aku dia puluh delapan tahun"

Gandasuli langsung membungkukkan badannya dan berkata, "Salam kenal, Om"

"Hei! Jangan panggil aku Om! Aku masih muda dan sangat tampan"

Gandasuli menegakkan badannya, memandang Chanan dan berkata, "Jarak umur kita.sepupuh tahun. Maka wajar, kan, kalau aku memanggilmu, Om"

"Nggak! Wajar apa? Panggil aku, Kak! Lagian aku punya misi untuk kamu. Kalau kamu nggak mau jalankan misi ini maka aku nggak akan perbaiki gelang ini dan aku akan buang gelang ini dan mengusir kamu dari sini"

Gandasuli ingin memukul dan memaki sepuasnya pemuda arogan di depannya ini. Namun, karena Gandasuli tidak kenal siapa pun di tempat asing ini dan hanya bisa.kembali .ke kahyangan dengan gelang itu, akhirnya gadis cantik jelita itu berkata, "Baiklah, Kak. Aku akan jalankan misi dari Kakak Apa misinya?"

"Kamu jadi tunangan palsuku agar Mamaku tidak menjodohkan aku dengan cewek yang nggak aku kenal. Besok kamu ikut aku menemui Mama dan cewek itu! Aku akan jelaskan apa itu tunangan ke kamu besok"

"Tapi, aku nggak punya baju"

Chanan mengamati penampilan Gandasuli yang masih memakai kaosnya. Kaos tipis itu memperlihatkan bagian yang indah dari gadis itu, lekuk pinggang gadis itu menggoda iman, dan saat ia menunduk, ia melihat kaki gadis itu sangat ramping dan tampak seksi tanpa alas kaki. Pria tampan itu langsung berdeham untuk mengusir fantasi liar yang hendak menyusup masuk ke benaknya. Kemudian pria itu berbalik badan dengan cepat sambil berkata "Aku akan belikan baju untuk kamu besok. ini sudah malam..Ayo kita tidur"

"Aku tidur di mana?"

Chanan menyahut dengan masih memunggungi Gandasuli, "Kamu bisa jadi kelinci lagi balik ke kandang kamu. Atau kamu tidur di sana" Chanan mengarahkan jari telunjuknya ke sofa tanpa menoleh ke Gandasuli dan pria tampan itu langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu kamarnya.

"Dasar pria nggak tahu sopan santun!" Teriak Gandasuli dengan wajah kesal.

Gandasuli kemudian melangkah ke sofa dan duduk di sana dengan bergumam, "Dingin sekali. Dia bahkan nggak kasih aku bantal dan selimut dan menyuruhku tidur di kursi keras dan sempit ini"

Gandasuli kemudian bangkit berdiri dan melangkah ke kamarnya Chanan. Ia mengetuk pintu kamar itu dengan tidak sabar.

Chanan membuka pintu dan dengan memicingkan matanya ia menyemburkan, "Ada apa, ganggu aja! Aku ngantuk, tahu nggak!"

"Aku kedinginan. Minta selimut"

"Nggak ada. Selimutnya cuma satu. Besok aku belikan" Brak! Chanan menutup pintu dengan keras dan langsung menguncinya.

Gandasuli ternganga kaget lalu berteriak, "Dasar pria nggak punya hati!!!!!" Gandasuli kemudian balik lagi ke sofa dan meringkuk di sana dengan ngedumel kesal. Sangat kesal.

Keesokan harinya, Gandasuli bangun pagi. Dia ingin memasak dan pergi ke dapur. Namun, saat ia melihat peralatan di dapur penuh tombol aneh dan dia tidak menemukan tungku di sana yang ia kenal sebagai kompor di kahyangan, gadis cantik jelita itu kembali ke ruang tengah dan duduk diam di sofa.

Chanan keluar dari dalam kamar dengan kemeja cokelat terang dipadukan dengan celana kain berwarna cokelat tua. Chanan menoleh ke Gandasuli dan langsung meluncurkan protes, "Kenapa kamu duduk aja di situ? Kamu nggak masak? Dasar cewek pemalas"

"Aku mau masak, tapi nggak tahu di mana kompornya. Kalau di kahyangan kami memasak memakai tungku besar dengan arang"

"Sini aku ajari cara pakai kompor elektrik. Kamu tinggal di sini gratis. Kamu harus memasak sebagai ganti biaya sewa. Nggak malas-malasan kayak gini"

Gandasuli mengekor Chanan sambil berkata dengan nada tidak terima, "Siapa yang malas-malasan. Aku tadi dari dapur mau masak, cuma tidak tahu caranya"

Chanan mengabaikan nada tidak terimanya Gandasuli dan terus melangkah lebar ke dapur.

Chanan mengajari cara menghidupkan kompor elektrik, lalu berkata, "Semua bahan makanan ada di dalam lemari es. Itu lemari esnya. Kamu buka dan kamu pilih bahannya. Terserah kamu mau masak apa"

Gandasuli menatap kesal punggung Chanan yang menjauh sambil bergumam, "Sukanya main perintah dan main tinggal begitu saja. Dasar pria nggak punya akhlak"

Satu jam kemudian, Gandasuli meletakan sup dan nasi goreng di atas meja makan.

Chanan langsung memasukkan telepon genggamnya ke dalam saku kemejanya dan mulai mencicipi masakannya Gandasuli, "Emm, enak"

Gandasuli duduk di depan Chanan dan berkata, "Gitu aja?"

"Apanya?" Chanan menatap Gandasuli dengan penuh tanda tanya.

"Kamu nggak mengucapkan terima kasih?"

"Untuk apa? Harusnya kamu yang berterima kasih karena udah tinggal gratis, makan gratis, dan bahkan sebentar lagi aku akan ajak kamu ke toko untuk beli baju"

Gandasuli menatap Chanan dengan helaan napas panjang dan berkata di dalam hatinya, sabar, sabar, Suli! Dia emang aneh. Yang waras ngalah"

Tiga jam kemudian, Gandasuli duduk di bangku yang ada di dalam sebuah restoran meeah. Dia menunggu kedatangannya Chanan, Mamanya Chanan dan cewek yang akan dijodohkan dengan Chanan di sana

Sedangkan Dokter Chanan, tersenyum senang saat ia menerima pesan masuk dari supir pribadinya, "Nona Snowy sudah saya antarkan ke restoran yang Anda tunjuk, Tuan. Sekarang Nona Snowy tengah menunggu kedatangan Anda dan Mama Anda"

Terpopuler

Comments

Ran Aulia

Ran Aulia

😂😂😂😂😂

2023-08-17

0

꧁☠︎𝕱𝖗𝖊𝖊$9𝖕𝖊𝖓𝖉𝖔𝖘𝖆²꧂

꧁☠︎𝕱𝖗𝖊𝖊$9𝖕𝖊𝖓𝖉𝖔𝖘𝖆²꧂

cerita Fantasikah.. seru ni ceritanya..
semangat terus berkarya Kaka 💪😊

2023-03-04

0

Be___Mei "Hiatus"

Be___Mei "Hiatus"

akh, ayang bebep ada di mari 😍😍

2023-02-27

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!