Belajar

"Ingat! Begitu kira keluar dari lift, kira harus bergandengan tangan lagi"

"Kenapa begitu?" Gandasuli berucap sambil menempelkan punggung dan kedua telapak tangannya di sisi kiri lift.

"Kenapa kau menempel di sisi lift kayak cicak begitu?"

"Aku kelinci bukan cicak. Enak aja!" Gandasuli mendelik ke Chanan.

"Iya aku tahu kalau kamu itu kelinci. Tapi, kenapa kamu menempel erat di sisi lift kayak cicak? Kayak cicak aku bilang" Chanan mendengus kesal.

"Karena aku nggak boleh menempel ke kamu makanya aku nempel di sini. Aku takut naik ruangan sempit ini"

Chanan mengabaikan ketakutannya Gandasuli dan kembali berkata, "Ingat! Kita harus bergandengan tangan begitu pintu lift ini bergeser terbuka!"

"Kenapa begitu?" Gandasuli menanyakan kata tanya yang sama dengan yang sebelumnya.

"Karena di sini banyak mata-matanya Mama dan di sini banyak cewek yang naksir sama aku. Aku ingin menjauhkan mereka semua dari hidupku. Kalau tahu aku menggandeng cewek maka semua cewek yang naksir sama aku akan menjauhi aku"

"Ihhhhhhh, siapa cewek yang naksir sama cowok aneh kayak kamu?" Gandasuli mencebikkan bibirnya

Chanan menoleh tajam ke Gandasuli, "Kau........."

Ting! Pintu lift menggeser terbuka dan Chanan langsung menggenggam tangan Gandasuli dan menarik Gandasuli untuk keluar dari lift.

Chanan terkejut dengan kemunculan mamanya yang datang bersama rombongan pelayan di rumahnya dan kesepuluh pelayan di rumah mamanya itu membawa troli bertingkat tiga yang berisi kardus berukuran sedang berwarna cokelat.

Mamanya Chanan langsung memekik girang, "Wah! Pengantin baru, bergandengan tangan terus, nih"

Gandasuli merasa rikuh dan dengan tersenyum canggung ia menarik pelan tangannya dari genggaman tangan Chanan, namun Chanan menahan tangan itu da. menggenggamnya lebih erat dan bertanya ke Mamanya, "Kenapa Mama datang ke sini dan membawa pelayan dari rumah mama dengan troli dan kardus-kardus itu? Kardus apa itu, Ma?"

Chanan tidak bersin saat Mamanya memeluk dia karena di memakai masker medis.

Mamanya Chanan memeluk putra tunggal dan menantunya secara bergantian kemudian berdiri tegak kembali di depan Chanan dan Gandasuli untuk berkata, "Mama datang ke sini untuk membagikan syukuran pernikahan kalian. Di kampusnya Snowy nggak boleh ada yang tahu kalau kalian sudah menikah, tapi di rumah sakit boleh, kan? Biar semua tahu kalau kamu menikah dan para.cewek di sini nggak ada yang berani naksir kamu dan nggak ada yang berani menggoda kamu lagi"

"Tapi, Ma. Nggak usah berlebihan kayak gini! Aku malu, Ma"

"Kenapa harus malu? Kalian menikah dengan sah. Mama akan bagikan semuanya ini"

"Terserah Mama. Tapi, aku dan Snowy harus segera daftarkan Snowy homeschooling. Kalau terlambat bisa........."

"Oke! Kamu pergi saja dengan menantu Mama yang cantik ini. Mama akan bagikan semua ini"

Gandasuli mencium punggung tangan mamanya Chanan sambil berkata, "Saya permisi dulu, Ma"

"Iya, Sayang" Mamanya Chanan mencium pipinya Gandasuli dengan penuh kasih sayang.

Gandasuli merasa sangat senang mendapat ciuman dari mamanya Chanan karena sudah sangat lama ia tidak pernah mendapatkan ciuman di pipi dari seorang mama.

"Aku permisi Ma"

"Hmm. Jaga menantu kesayangan Mama dengan baik, Chan!"

"Iya" Sahut Chanan dengan wajah kesal.

Gandasuli menoleh ke belakang dan melambaikan tangannya ke mamanya Chan dengan senyum penuh kasih sayang. Mamanya Chan membalas lambaian tangannya Gandasuli dengan senyum kasih sayang.

Sesampainya di mobil, Chanan melepaskan genggaman tangannya dan berkata dengan nada cukup tinggi, "Masuk ke dalam mobil cepat! Panas, nih"

"Iya. Nggak usah pakai bentak-bentak, kan bisa" Gandasuli masuk ke dalam mobil dengan bibir mengerucut runcing.

Chanan memasang sabuk pengaman sambil berkata, "Jangan terlalu akrab sama Mamaku! Kalau kamu balik ke kahyangan dan tiba-tiba menghilang, Mama bisa syok, sedih dan sakit kalau kalian dekat"

"Tapi, Mama kamu baik banget dan sayang sama aku. Mana bisa aku mengabaikan kebaikan dan kasih sayangnya. Kualat entar. Aku nggak mau jadi jambu monyet kalau kualat"

"Ish! Kenapa kamu percaya sama dongeng anak soal jambu monyet" Chanan mendengus kesal sambil mulai melajukan mobilnya.

"Soalnya di kahyangan ada yang beneran jadi jambu monyet kalau ia berani sama orang tua dan tidak menghargai kasih sayang orang tua" Gandasuli menoleh ke Chanan dengan wajah serius.

"Hufftttt! Terserah kamu saja! Dasar bocah ingusan" Chanan kembali mendengus kesal.

"Aku bukan bocah. Aku sudah delapan belas tahun. Kalau di kahyangan........"

"Bodo amat dengan kahyangan! Sekarang diam! Aku butuh keheningan kalau nyetir"

Gandasuli terlonjak kaget lalu diam membisu dan berkata di dalam hatinya, kenapa dia suka banget marah-marah? Apa dia suka makan cabe mercon, ya? Suka banget marah-marah dan kalau bicara kata-katanya selalu pedas.

Selama dua jam perjalanan menuju ke kampus, keheningan menguasai mobilnya Chanan. Setelah Chanan memarkirkan mobilnya, dia membuka sabuk pengamannya dan menoleh ke Gandasuli, "Kenapa? Kok belum keluar?"

"Ini macet. Aku tidak bisa membukanya. Aaaaaa! Apa sekarang Paman mau mengurung dan mengikatku di mobil ini lalu menjualku, huhuhuhuhu" Gandasuli menangis histeris dengan wajah panik sambil terus memencet tombol dan menarik-narik sabuk pengamannya.

"Ssstttt! Jangan menangis dan berteriak nggak jelas kayak gini! Kalau ada orang hilang aku dikira menculik kamu. Diam! Aku akan Lepaskan sabuk pengamannya"

Sekali pencet langsung terbuka sabuk pengaman itu dan Gandasuli mengusap ingus, air mata, lalu tersenyum ke Chanan sambil berkata, "Terima kasih, Paman"

"Huuuffttt! Paman lagi?" Chanan mendengus kesal.

"Maaf. Terima kasih, Kak" Gandasuli memamerkan deretan gigi putihnya di depan Chanan.

"Emang harus punya kesabaran tingkat tinggi saat harus dekat sama kamu. Dipanggil Paman, dituduh yang nggak-nggak, dan harus kehilangan uang ratusan juta rupiah padahal belum ada sehari, Hufftttt! Semoga nggak pecah kepala kamu lama-lama, Chan, Chan!"

"Memangnya kepala bisa pecah? Setahuku kepala hanya bisa terbalik macam jambu monyet. Nggak bisa pecah dan ......."

Chanan menggeram, "Lupakan soal pecah! Keluar dari mobil sekarang juga!"

"Iya, baik" Gandasuli langsung membuka mobil dan melangkah turun dari mobil.

Di depan petugas pendaftaran di kampus XX, kampus tersohor di kota metropolitan di mana Chanan dilahirkan dan dibesarkan, Chanan langsung berkata, "Saya ingin mendaftarkan, emm, ini, adik saya untuk kuliah di sini dengan program homeschooling"

"Bisa. Tapi, Adik harus mengisi formulir dan ikut tes IQ terlebih dahulu. Mari ikut Kakak, adik cantik"

Gandasuli memegang erat lengannya Chanan dengan kedua tangannya dan ia menggeleng ketakutan.

Chanan menghela napas panjang dan berkata, "Maaf, apakah trs IQ dan pendaftarannya bisa dilakukan secara online?"

"Bisa, Pak. Saya akan kasih brosurnya"

Setelah menerima brosur, Chanan langsung mengajak Gandasuli pulang ke rumah untuk mengajarkan Gandasuli cara memakai laptop dan telepon genggam yang ia beli baru khusus untuk Gandasuli karena ia tidak ingin Gandasuli memegang laptopnya dan merusakkan laptopnya.

"Wah! Nggak nyangka wajah kamu yang jelek dan tampak bloon ini ternyata bisa dengan cepat menguasai internet dan bisa mengoperasikan laptop dengan sangat baik. Kau sudah bisa mulai kuliah homeschooling besok. Selamat menjadi mahasiswi di Kampus XX dengan nilai IQ yang tinggi. Nggak nyangka aku"

Alih-alih merasa senang karena memiliki IQ yang tinggi, Gandasuli justru lebih peduli soal wajah, "Emang aku jelek, ya?" Gandasuli menoleh ke Chanan dan wajah mereka menjadi sangat dekat.

Chanan memundurkan wajahnya sambil berdeham keras untuk mengusir gelitikan aneh di perutnya dan mengusir desiran halus di hatinya. Lalu, pria tampan itu berkata, "Sekarang aku ajari kamu cara menggunakan telepon genggam"

"Hmm"

"Hei! Jangan terlalu dekat! Aku tahu aku sangat tampan, tapi jangan sedekat ini sama aku!" Chanan mendorong bahu Gandasuli dengan wajah kesal.

Gandasuli melotot ke Chanan dan menyemburkan, "Siapa yang ingin dekat-dekat sama kamu? Aku cuma nggak bisa lihat dengan jelas dari jarak segini. Aku harus mendekat"

"Huuuffttt! Oke! Sekarang kamu duduk saja di depan laptop dan aku akan memandu kamu dari belakang"

"Ide bagus" Sahut Gandasuli.

Saat Gandasuli tengah asyik belajar cara menggunakan telepon genggam, tiba-tiba terdengar suara menggelegar, "Unyil dan Pak Ogah main ke sawah. Wah! Siapa gadis cantik nan wah itu Chan!"

Chanan dan Gandasuli tersentak kaget dan sontak menoleh ke asal suara

Chanan langsung mengumpat kesal saat ia melihat mata Leo yang terus menatap Gandasuli dengan takjub dan mulut Leo ternganga lebar.

Terpopuler

Comments

Senajudifa

Senajudifa

km cemburu nan

2023-03-11

0

꧁☠︎𝕱𝖗𝖊𝖊$9𝖕𝖊𝖓𝖉𝖔𝖘𝖆²꧂

꧁☠︎𝕱𝖗𝖊𝖊$9𝖕𝖊𝖓𝖉𝖔𝖘𝖆²꧂

💐 buket bunga untuk mu kak... 😊😉

2023-03-06

0

SFairy

SFairy

Beneran kebanyakan makan cabe deh kayaknya ini si chanan😌

2023-03-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!