Hukuman

Blub! Gandasuli merubah dirinya menjadi seekor kelinci dan setelah menyembulkan dirinya dari onggokan baju, kelinci putih itu langsung meletakkan kedua kaki depannya di depan dada. Dengan posisi berdiri tegak, telinga sebelah kiri menekuk, kepala menunduk, kedua kaki depan mengatup, kelinci putih itu kemudian mematung.

Sial! Kenapa ia imut banget kayak gitu? Batin Chanan sambil meraup wajah tampannya yang tengah memerah marah

Klak! Terdengar bunyi pintu kandang terbuka. Chanan sontak mengumpat, "Sia!" Sambil berlari mencegah burung terakhir yang berada di dalam sangkar terakhir itu tidak keluar dan terang bebas.

Namun, Chanan terlambat dan hanya bisa gigit jari saat ia melihat burung Kakatua Raja yang harganya mencapai ratusan juta rupiah itu tenang bebas membumbung tinggi ke angkasa.

Chanan sontak menunduk dan menatap kelinci putih yang bergeming. "Bagus sekali, ya?! Kau langsung berubah jadi kelinci putih setelah membuatku merugi sebanyak lima ratus juta rupiah lebih. Asal kau tahu, ya, semua burung yang baru saja kau lepaskan, bukan saja mahal, tapi memiliki nilai historis tinggi bagiku Burung-burung itu dibeli almarhum Papaku tiga bulan sebelum beliau meninggal dunia"

"Maaf! Aku nggak tahu"

"Makanya jangan lancang lalu nggak tahu!" Chanan berteriak kencang dengan wajah yang semakin memerah marah

"Aku hanya berpikir kalau semua makhluk hidup itu tidak seharusnya ditempatkan di dalam sangkar dikurung, dan dibatasi ruang geraknya. Kan, kasihan" Gandasuli berucap lirih dengan masih berdiri tegak, menunduk, dan mengatupkan kedua kaki depannya di depan.

"Kalau itu hewan berbahaya juga nggak boleh dikurung, hah?!" Chanan berteriak sambil melompat kesal.

"Tapi, burung tadi, kan, tidak berbahaya. Lagian kalau itu ular pun juga akan aku bebaskan. Aku punya sahabat ular putih di kahyangan dan.........."

"Bodo amat dengan piaraanmu?! Siapa yang nanya?! Sekarang gimana cara kamu menebus kesalahan kamu ini, hah?!" Chanan berjongkok di depan kelinci putih itu.

Gandasuli masih belum berani mengangkat wajahnya dan menjawab lirih, "Terserah Paman saja. Aku nurut. Mau dihukum apapun juga mau"

"Paman lagi?! Panggil aku Kak!"

"Iya, Kak. Maaf, Kak" Sahut Gandasuli.

"Aku tunda dulu membeli komponen untuk memperbaiki kalung kamu. Kamu harus bekerja di rumahku dan selalu menuruti ucapan dan aturanku selama setahun"

Gandasuli sontak mengangkat wajahnya karena kaget.

"Apa melotot?! Berani kau melotot?!"

Gandasuli meredupkan sorot matanya dan berkata, "Kenapa lama sekali? Aku, kan, sudah kangen banget sama Dewa Adrakhs"

"Bodo amat dengan dewa bodoh kamu itu! Kalau kamu nggak mau, maka kamu harus cari uang sebanyak itu untuk mengganti burung-burung tadi"

"Jangan sebut Dewa Adrakhs bodoh! Beliau nggak bodoh dan ......."

"Bodo amat!" Chanan melotot kesal.

"Kalau aku pilih cari uang, gimana caranya?"

"Iya harus kerja di luaran sana"

"Aku mau kerja di luaran sana asalkan kamu cepat perbaiki kalungku dan aku bisa segera kembali ke kahyangan. Kalau aku kerja aku akan ganti semua burung-burung itu dalam waktu dekat, kan?"

Cih! Kau baru berumur delapan belas tahun dan nggak punya ijazah apapun di bumi ini. Kalau kerja di luaran sana kau cuma bisa bekerja kasar dan dapat gaji kecil. Kalau mau mengumpulkan lima ratus juta rupiah, kau harus bekerja di luaran sana selama puluhan tahun"

"Hah?!"

"Mending kerja sama aku selama setahun, kan?"

Iya, sih. Cuma kamu tuh galak dan suka kasih perintah yang aneh-aneh. Batin Gandasuli.

"Gimana? Kalau deal hari ini setelah makan siang, kau akan aku daftarkan ke homeschooling biar nggak bikin ulah lagi di sini"

"Apa itu homeschooling?"

"Sekolah di rumah. Pagi kau tetap harus masak dan nyuci baju.Kemudian, sekolah di rumah dari jam delapan pagi sampai jam tiga sore. Setelah sekolah selesai kau harus bereskan rumah, nyetrika, dan masak untuk makan malam, ngerti?!"

"Apa itu nyetrika?"

"Nanti akan aku ajari. Sekarang masuk ke kamar dan ganti baju sana. Ubah dirimu jadi manusia lagi!"

"Baiklah. Tapi, tolong ambilkan semua baju-bajuku!"

"Huffftttt! Masih bisa main perintah, ya, kamu?"

"Aku kan nggak mungkin merubah diriku jadi manusia sekarang ini untuk ambil bajuku sendiri. Kau mau melihatku telanjang?"

"Sial! Ya sudah kamu masuk ke kamar dulu, aku akan bawa baju-baju kamu ini" Ucap Chanan sambil membungkuk untuk memungut semua baju-bajunya Gandasuli yang teronggok di atas rumput taman halaman samping ruang kerjanya Chanan.

Setengah jam kemudian, Gandasuli muncul di depan Chanan.

"Duduk! Makan siang dulu! Setelah ini aku akan daftarkan kamu homeschooling"

Gandasuli duduk dan menatap wadah berbentuk bundar yang terbuat dari plastik khusus untuk makanan dingin.

"Apa isinya? Kenapa dingin?" Tanya Gandasuli.

"Sapad buah dan sayur. Kau suka sayur dan buah, kan?"

"Wah! Kayaknya enak"

Chanan mengabaikan pekikannya Gandasuli dan mulai menyendok nasi gorengnya.

"Wah! Beneran enak. Aku suka. Terima kasih, Paman"

Chanan mendengus kesal.

"Ah, maaf! Terima kasih, Kak. Hehehehehe" Gandasuli meringis di depan Chanan.

Chanan kembali menunduk menikmati makan siangnya dan diam membisu. Dia masih sangat marah perihal burung-burung mahal koleksi almarhum Papanya yang sudah terbang bebas di luar sana yang dilepaskan oleh Gandasuli.

"Apakah masih ada? Aku mau lagi salad buah ini" Sahut Gandasuli dengan kepolosannya.

"Nggak ada! Ayo kita harus segera berangkat untuk mendaftarkan kamu homeschooling karena empat sore nanti, aku ada operasi"

Gandasuli bangkit berdiri dan melangkah ogah-ogahan mengekor Chanan.

Gandasuli kembali memeluk pinggang Chanan saat lift bergerak turun sambil berteriak, "Aaaaaaaa! Kita akan jatuh dan mati, kan? Apa kita akan pergi ke neraka kali ini? Aaaaaaaaa!!!!!"

Chanan mendengus kesal, "Ssssttt! Diam! Lepaskan lengan kamu dari pinggangku!" pria tampan itu menggoyangkan pinggangnya dengan kesal.

"Nggak mau!!!!!! Apakah melepaskan burung-burung tadi termasuk dosa yang sangat besar, huhuhuhuhu. Aku nggak mau dibawa ke neraka, huhuhuhu!!!!!!" Gandasuli menangis ketakutan, semakin menundukkan kepalanya dan mempererat gelungan lengannya di pinggang kokohnya dokter tampan yang selalu memakai masker kalau keluar dari ruang kerjanya.

Chanan mulai mengerakkan gerahamnya dan menggeram, "Kita hanya akan turun ke lantai bawah. Kita tidak sedang menuju ke neraka. Lepaskan lengan kamu!" Chanan menggoyangkan kembali pinggangnya.

"Benarkah? Kamu nggak bohong, kan?"Gandasuli mengangkat wajahnya untuk. menatap Chanan dengan wajah polos dan mata mengerjap-ngerjap untuk mengusir air mata yang menghalangi pandangannya.

Chanan menunduk dan saat ia bersitatap dengan Gandasuli, seketika itu juga Chanan membeku dan mengumpat kes.di dalam hatinya, sial! Kenapa tiba-tiba jantungku berdebar kencang dan sial! Kenapa dia imut banget sekarang ini?

Chanan langsung mengurai paksa gelungan lengan Gandasuli dan menggeser badannya untuk menjauhi Gandasuli sambil berkata, "Hmm"

Terpopuler

Comments

@🔵🍁⃟𐍹 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ⬪ᷢ♛⃝꙰ ❤

@🔵🍁⃟𐍹 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ⬪ᷢ♛⃝꙰ ❤

keren Thor

2023-03-05

0

Be___Mei "Hiatus"

Be___Mei "Hiatus"

ehem 🤭🤭 mulai nih

2023-02-28

0

S R

S R

mulai kesemsem nich

2023-02-25

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!