Arabella kemudian melepas ciumannya untuk mengambil napas. Seketika Chanan tersadar dan pria tampan itu langsung mendorong tubuh Arabella menjauh dari tubuhnya.
Arabella membuka matanya dan melihat Chanan tengah berjalan mundur menjauhinya.
"Apa benar kamu tidak bahagia dengan pernikahanmu dan kamu tidak mencintai suami kamu? Karena yang aku lihat dulu, kamu itu cewek matre. Kamu meninggalkan aku kala itu karena yang kamu tahu aku hanyalah mahasiswa kedokteran yang belum lulus dan kamu memilih menikahi konglomerat itu. Lalu, sekarang setelah kamu tahu kalau aku ternyata lebih kaya dari konglomerat itu, kamu ingin kembali padaku?" Chanan menatap Arabella dengan penuh selidik.
Arabella tampak gugup dan diam saja mematung di depan Chanan.
"Jangan mencoba untuk berbohong, aku bukan Chan yang naif lagi. Aku bisa dengan cepat mendapatkan info tentang kamu jika aku menginginkannya " Tambah Chanan.
"Iya benar, aku sudah menikah selama tiga tahun ini. Tapi, aku tidak bahagia dengan suamiku. Suamiku hanya menganggap aku sebagai pajangan. Dia tidak selembut dan semanis kamu, Chan." sahut Arabella dengan suara bergetar menahan tangis.
"Aku tidak perduli dengan kehidupanmu." Chanan menatap Arabella tanpa ekspresi.
"Kamu jangan munafik! Kamu juga masih menginginkan aku, kamu masih mencintaiku dan aku bisa merasakan kerinduan kamu. Aku bisa merasakan bahasa tubuhmu tadi. Aku bisa merasakan lewat ciumanmu tadi." Ucap Arabella dengan suara lantang
"Kamu wanita gila !! Kamu sudah menikah. Kamu sadar itu, hah !! Kenapa kamu mendekati aku?! dasar gila !!" Chanan berkata tidak kalah lantangnya lalu melangkah ke arah pintu, membukanya dan melesat keluar dari dalam kamar meninggalkan Arabella begitu saja.
Arabella jatuh bersimpuh di depan pintu kamar dan berteriak, "Chan! Aku tidak akan menyerah! Aku akan terus mengejar kamu, Chan!"
Sesampainya di rumah, Chanan tertegun melihat Gandasuli ketiduran di meja makan. Chanan berjalan pelan menghampiri Gandasuli dan ia mengelus pelan rambut gadis itu karena hatinya tersentuh melihat Gandasuli memasak untuknya dan melihat Gandasuli ketiduran di meja makan menunggu dirinya pulang.
Pria tampan itu kemudian berjongkok untuk melihat wajah Gandasuli.
Dilihat sedekat ini, dia cantik banget. Kalau tidur seperti ini dia manis dan imut. Tanpa Chanan sadari, ia memajukan wajahnya ingin mencium keningnya Gandasuli.
Chanan mengangkat tangannya saat ia melihat kepala Gandasuli bergerak dan langsung berdiri tegak saat ia melihat Gandasuli menegakkan kepala.
Gandasuli menoleh ke Chanan sambil mengucek-ucek matanya dan berkata, "Akhirnya kamu pulang. Aku sudah lapar banget. Ayo kita makan"
"Hmm" Chanan hanya menyahut singkat sambil duduk di sebelahnya Gandasuli.
Gandasuli menatap Chanan dengan heran dan bertanya, "Kenapa duduk di sini? Biasanya kamu duduk di depanku?"
"Aku capek jalan ke sana" Sahut Chanan acuh tak acuh.
"Padahal jalan ke sana nggak jauh. Kenapa capek dan......."
"Ambilkan aku nasi!"
"Kenapa nggak ambil sendiri?"
"Hei! Kamu itu Istriku. Tugas Istri itu melayani Suaminya "Chanan melotot ke Gandasuli.
"Iya, baiklah" Gandasuli merengut sambil mengambil nasi untuk Chanan.
"Sekalian sayurnya. Kamu masak apa?"
"Tadi, aku diajari sama Kak Leo cara menelepon Mama dan saat sudah terhubung sama Mama, aku nanya apa makanan favorit kamu. Kata Mama kamu suka sama semur daging. Ya, sudah aku masak semur daging. Tadaaaa! Semur daging ala Gandasuli! Silakan dicicipi dan dinikmati!" Gandasuli menatap Chanan dengan wajah ceria.
Chanan sontak terbatuk saat ia menyadari kenyataan bahwa senyuman Gandasuli sangat cantik.
Gandasuli mengelus pelan punggung Chanan sambil berkata, "Kalau makan pelan-pelan. Tersedak, kan?"
Chanan mengunyah makanan di dalam mulutnya dengan canggung. Dia menikmati sentuhan tangan Gandasuli di punggungnya dan merasa kecewa saat tangan itu terangkat dari punggungnya.
"Enak?" Tanya Gandasuli.
"Hmm. Kenapa kamu ceriwis bangat dan menatapku terus? Kenapa tidak makan? Katanya udah lapar"
"Hmm" Gandasuli memakan sup sayur di depannya yang sudah dingin.
"Jangan dimakan! Pasti sudah dingin, kan? Aku akan panaskan sebentar sup sayur kamu"Chanan mengambil sup sayur yang ada di depan Gandasuli dan langsung membawanya ke dapur untuk ia panaskan.
Gandasuli menatap tingkah Chanan dengan wajah penuh tanda tanya dan gadis itu kemudian bergumam, "Kenapa dia baik banget sama aku? Apa karena masakanku sangat enak dan ia ingin berterima kasih padaku, jadi dia baik padaku" Gandasuli tersenyum senang.
Tidak begitu lama, Chanan kembali duduk di sebelahnya Gandasuli dan meletakkan. satu mangkuk sup sayur di depan Gandasuli sambil berkata, "Hati-hati makannya! Masih sangat panas"
"Aduh!" Gandasuli riba-tiba mengaduh dan menjatuhkan sendok di atas mangkuk secara refleks saat bibirnya terkena sup yang masih sangat panas.
Chanan sontak menoleh dan mengelus lembut bibir Gandasuli dengan ibu jarinya, lalu meniup bibir itu sambil sesekali berkata, "Kenapa kau ceroboh sekali dan tidak pernah mau mendengarkan nasehatku" Chanan masih terus mengusap lembut bibir Gandasuli sambil meniupnya pelan.
Gandasuli mengerjapkan matanya beberapa kali saat ia merasakan hatinya berdesir hangat dan perutnya seperti ada debaran sayap kupu-kupu di dalamnya.
Chanan kemudian mengangkat mata dan saat ia bersitatap dengan Gandasuli, pria tampan itu refleks menegakkan wajahnya dan duduk kembali dan setelah berdeham untuk mengusir rasa canggungnya, ia berkata, "Bibir kamu udah nggak papa. Makan dengan hati-hati!"
"Hmm. Terima kasih, Pam, eh, Kak Chan" Gandasuli tersenyum lalu menikmati kembali sup sayurnya dengan hati-hati"
Setelah selesai makan, Chanan mengambil semua piring dan gelas dari meja makan untuk ia cuci sambil berkata, "Kamu tunggu di sofa! Aku akan bereskan kamar tamunya. Kasihan kalau kamu harus tidur di sofa terus"
"Kamar tamu? Kata Kak Chan, di sini cuma ada satu kamar"
"Apa aku bilang begitu? Aku, kok, lupa" Sahut Chanan.
"Hmm. Kakak bilang begitu. Lalu, sini, Kak, biar aku yang cuci piring dan gelasnya"
"Sudah jangan ceriwis! Duduk di sofa sana dan tunggu aku di sana!" Chanan mendelik ke Gandasuli.
"Iya" Sahut Gandasuli sembari berlari kecil menuju ke sofa yang ada di ruang tengah.
Kenapa mendadak dia baik, ya? Gumam Gandasuli.
Aku memang hanya menikah sementara dengan Snowy. Aku hanya memanfaatkannya untuk menuruti Mama dan mengusir semua gadis di sekitarku termasuk mengusir Bella. Tapi, kenapa pas aku berciuman dengan Bella tadi, ada rasa bersalah pada Snowy. Aku seorang suami yang sudah berselingkuh. Maafkan aku, Snowy. Kamu gadis baik. Batin Chanan.
Satu jam Kemudian, Chanan muncul di depan Gandasuli dan berkata, "Aku sudah rapikan kamar tamunya. Kamu di sana mulai malam ini. Ayo ikut aku! Aku akan tunjukan letaknya dan........."
Tok, tok, tok!
Chanan dan Gandasuli menoleh ke pintu depan secara bersamaan. "Siapa yang datang malam-malam begini?"
"Nggak tahu. Apa mungkin Kak Leo?" Sahut Gandasuli.
Semoga bukan Bella. Batin Chanan sambil melangkah lebar melewati ruang tamu dan setelah ia membuka pintu, ia langsung menyemburkan, "Ma! Kenapa Mama ke sini di jam sebelas malam?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 52 Episodes
Comments
Senajudifa
lanjut thor
2023-03-19
0
Be___Mei "Hiatus"
Like akak 🥰
2023-03-06
0
S R
Tambah menarik🤔
2023-03-03
0