“Cepat bayar! Kalian kan sudah melihat barangnya. Aku tidak berbohong, kan?”
Sang supir truk yang bernama Argento, dan temannya yang bernama Grigio itu mendesak para warga desa untuk segera membayar barang dagangan mereka. Argento juga merebut ponsel dari dalam saku Floretta. Untunglah, mereka tidak menyadari pisau yang diselipkan oleh wanita itu di dalam mantelnya.
Floretta yang tangan dan kakinya dipegang erat oleh dua orang pria hanya bisa pasrah. Wanita yang hanya mengisi perutnya dengan susu dan buah apel tersebut sudah mulai kehilangan tenaga untuk melawan para vampir ganas itu.
“Tunggu dulu. Dia memang cantik dan memiliki status yang sangat tinggi di kerajaan. Tetapi harga yang kamu berikan tetap saja terlalu mahal, untuk darah yang rasanya tidak terlalu enak ini,” tolak seorang pria, yang diduga adalah kepala desa di sana.
“Sombong sekali kalian! Padahal kalian hanya bisa meminum darah manusia setahun sekali, yang dibagikan gratis ketika perayaan ulang tahun raja,” balas Grigio.
“Ulang tahun raja bagi-bagi darah manusia?” Jantung Floretta berdebar cepat, mendengar pernyataan tersebut. “Apakah aku salah satu tumbal yang disiapkan Alden, untuk hari ulang tahunnya nanti?” pikirnya lagi.
“Kami akan mengeceknya dulu. Siapa tahu dia memiliki manfaat lain, selain darahnya.”
Seorang pria bertubuh paling besar dan berkulit sedikit gelap, menarik paksa Floretta dan menghempaskan tubuh kecil wanita itu ke badan mobil. Floretta sedikit memberontak dan hendak mengambil pisau dari dalam mantelnya, tetapi rupanya tenaga dan kecepatan pria itu jauh lebih besar dari dirinya.
“Coba kita lihat, apa tubuhnya semolek wajahnya?”
Brett!! Lelaki bertubuh tegap dan besar itu membuka mantel dan menarik baju kemeja yang dipakai oleh Floretta dengan kasar. Sontak saja kain putih itu robek. Seluruh kancingnya terlepas dan memperlihatkan bagian dada wanita itu yang hanya dibalut oleh korset.
“Wah! Apa ini? Kau rupanya menyimpan pisau di dalam mantel?” seru salah seorang vampire, yang berdiri di sebelah Floretta.
Pemuda itu mengambil pisau yang tergeletak di atas salju lalu … Sret! Dia melukai ujung jari telunjuk wanita itu, hingga aromanya menguar ke mana-mana.
“Tolong!” jerit Floretta sekuat tenaga.
“Haa? Kau berteriak minta tolong sama siapa di sini?” ucap Grigio terbahak-bahak. “Meskipun ada wanita di sini, mereka nggak akan peduli padamu. Asalkan mendapatkan setetes darah milikmu,” sambung pria itu lagi.
“Gimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Ku kira aku bisa aman setelah keluar dari istana. Ternyata keluar atau bertahan di sana sama aja.” Air mata mulai membasahi pipi tirus istri raja vampir tersebut.
Kedua tangan Floretta terentang dan digenggam oleh dua orang pria. Udara dingin menusuk hingga ke sum-sum tulangya. Beberapa pria sedang berusaha membuka korset milik Floretta, yang diikat dan dililit dengan erat itu. Mereka tampak kesulitan membukanya, sampai mereka berusaha merobeknya dengan pisau tadi.
“Andaikan Alden ada di sini, apa dia akan membantuku atau membiarkanku ternodai dan meregang nyawa?” Floretta teringat pada sang suami, yang selama ini selalu membantunya dan membuatnya aman.
“Tapi itu tidak mungkin. Aku bisa sampai di sini karena ulahku sendiri. Dia pasti saat ini sedang menertawaiku di istana, dan mencari wanita lain sebagai penggantiku,” batin Floretta.
“Hei, lihat! Dia menangis. Ternyata dia ingin lebih cepat mati. Dia pasti nggak tahu, rasa darahnya akan semakin lezat kalau dia ketakutan,” celetuk salah seorang remaja pria, yang melihat Floretta banjir air mata.
“Ssst, jangan bilang begitu. Kalau dia dengar bagaimana?” bisik salah seorang wanita yang berpakaian seperti budak.
“Biarkan saja dia mendengarnya. Toh emangnya apa lagi yang bisa dia lakukan di sini? HP-nya sudah disita sama Argento,” kata remaja itu lagi.
“Apa yang dibilangnya itu benar?” Floretta pun memutar otaknya, untuk melawan para vampir tersebut.
Sedikit demi sedikit korset yang di pakai Floretta pun terbuka. Sementara itu tetesan darahnya semakin banyak, membuat salju putih di bawahnya tampak memerah.
“Wah, ternyata rendahan sekali selera kalian, ya. Sampai tergoda melihat manusia yang hanya seonggok makanan ini. Apa kalian nggak pernah tidur dengan bangsa kalian sendiri?”
Floretta membuka mulutnya, dan memprovokasi para vampire itu dengan kalimat sindiran. Dia berusaha mengenyahkan rasa takutnya, dan menunggu para vampire itu sedikit lengah.
“Hei, jaga mulutmu, perempuan brengsek!” seru salah seorang vampire. “Kau tidak lihat pisau besar ini berada di depan dadamu? Meleset sedikit saja, pisau ini bisa menusuk jantungmu hingga terbelah dua,” ancam pria itu lagi.
Gulp! Hati Floretta mulai gentar, ketika melihatmata pisau yang tajam itu.
“Lawan rasa takutmu, Floretta. Hanya itu caranya kalau kau mau hidup. Ingat semua yang mereka lakukan padamu.” Floretta menyemangati dirinya sendiri.
“Hei, para vampir! Mati atau tidak, itu sudah nasibku. Tetapi membuat darahku lezat atau pahit, itu pilihanku. Kalian pikir wanita yang tidak pernah disentuh oleh raja ini, akan takut dengan sikap mesum kalian?” ucap Floretta dengan lantang.
“Uh, bau! Darahnya semakin bau! Sepertinya dia manusia dari kalangan budak!” bisik beberapa orang vampir.
Para lelaki yang tadi hendak mengeksekusi Floretta pun menjauh dari istri sang raja, sambil menahan isi perutnya yang hampir keluar.
“Berhasil! Usahaku mulai berhasil!” batin Floretta senang.
Keberanian Floretta pun muncul. Dia menggunakan kesempatan ini untuk menutup tubuhnya dengan mantel, dan mengambil sebuah pisau.
“Hei, brengsek! Kau mungkin bisa mengalahkan mereka, tapi tidak denganku!”
Seorang pemuda tampan berkulit kuning langsat dan rambut hitam legam, segera mencengkeram kedua tangan Floretta. Aroma wangi dari tubuhnya, menusuk indra penciuman Floretta.
“Ayo bermain denganku, gadis cantik. Aku akan membuka segel wanitamu,” bisik pemuda itu penuh rayuan.
...🦇🦇🦇...
"Yang Mulia, maafkan aku. Sepertinya ponselku di bawa oleh Yang Mulia Putri Floretta. Aku tidak menemukan benda itu di mana pun," ucap Lily sambil menunduk lesu.
"Benarkah? Kenapa nggak bilang dari tadi?" ucap Alden setengah membentak. Hatinya yang gusar, tidak mampu lagi mengontrol ekspresi dan nada bicaranya.
"Maaf, Yang Mulia. Saya baru menyadarinya," ujar Lily dengan lutut bergetar.
"Kalau memang begitu, kita bisa melacak keberadaan Floretta dari ponselmu," ujar Alden.
"Sepertinya tidak perlu, Yang Mulia. Barusan Leon menelepon, dan mengabari keadaan Yang Mulia Putri Floretta,” ujar salah seorang pengawal.
“Benarkah? Di mana dia sekarang? Gimana keadaan istriku?” tanya Alden tidak sabaran.
“Mereka ada di Desa Pauvre, Distrik Issolé,” jawab pengawal tersebut.
“Astaga! Sejauh itu?”
Alden terkejut, mendengar Floretta telah pergi hingga ke perbatasan kerajaan mereka, yang terkenal sebagai sarang bandit dan para pemberontak. Selain itu, Desa Pauvre adalah salah satu desa termiskin di kerajaannya.
“Siapkan pakaian hangat untukku. Aku akan segera pergi ke sana,” perintah Alden pada seluruh pelayannya.
(Bersambung)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments