"Astaga! Dia kabur melalui jendela seperti malam itu? Kenapa alarm pengaman tidak berbunyi?" pikir Alden bingung.
Biasanya alarm pengaman akan berbunyi dan memanggil para pengawal dengan segera, jika ada seseorang yang berusaha merusak dan membuka kamar raja dengan paksa.
"Yang Mulia, ternyata sistem pengaman sudah di nonaktifkan oleh Yang Mulia Putri Floretta. Sidik jarinya ditemukan di sini. Wajahnya juga terekam oleh kamera pengaman."
Salah seorang petugas keamanan istana membongkar rahasia, kenapa sistem keamanan tidak menyala saat Floretta kabur melalui jendela.
"Nggak bisa dipercaya. Seorang gadis tamatan SMP seperti dia mampu mengoperasikan komputer dengan baik, dan menonaktifkan alarm pengaman tanpa ketahuan?" gumam Alden.
"Wanita itu benar-benar spesial. Aku harus mendapatkannya kembali. Dia harta berharga di kerajaan ini," sambung sang raja vampir sambil menghembuskan napas kesalnya.
Alden juga menemukan aksesoris milik floretta di atas meja. Sepertinya wanita itu sudah tahu, jika semua benda itu bisa melacak keberadaannya.
Namun setiap kejahatan pasti meninggalkan jejak. Demikian juga dengan Floretta. Wanita yang menyamarkan diri mengenakan pakaian sehari-hari raja itu, terekam di beberapa kamera CCTV yang mengarah ke dapur.
Sayangnya, tidak ada kamera yang merekam aksi sang putri, ketika dia menaiki mobil truk makanan tersebut.
"Uh, di mana sih dia? Sekarang sudah mulai gelap. Di tambah lagi prakiraan cuaca yang menunjukkan, kalau malam ini akan ada badai salju."
Alden mencemaskan keadaan sang istri yang kabur dari istana. Meski pun seluruh bantuan telah dikerahkan, keberadaan Floretta masih belum ditemukan.
"Ke mana sebenarnya dia pergi? Nggak mudah kabur dari istana yang luas dan penuh penjagaan ini. Apa jangan-jangan dia masih bersembunyi di lingkungan istana?" pikir Alden.
"Leon juga ada di mana, sih? Kenapa dia jadi ikut-ikutan menghilang dan nggak bisa dihubungi?" gerutu Alden kesal.
...🦇🦇🦇...
Aksi melarikan diri sang putri dari istana berjalan lancar. Mobil truk makanan itu melaju kencang, melintasi pegunungan menuju perbatasan dunia manusia dan dunia vampir.
"Tinggal sembilan belas kilometer lagi, aku akan sampai di perbatasan," ucap Floretta, sembari melihat peta dunia vampir, yang terdapat di HP milik Lily tersebut.
Perbatasan dunia manusia dan dunia vampir tersebut terletak di Danau Lachlan, yang merupakan wilayah pegunungan dan wisata alam di dunia manusia. Suasana di sana memang terkenal sangat misterius, terutama saat musim dingin melanda.
"Setidaknya aku sudah lebih aman dari para iblis penghisap darah manusia itu." Floretta tersenyum bahagia.
"Walau pun nanti aku terpaksa menggunakan identitas palsu dan jadi buruh kasar seperti dulu lagi tak apa. Yang paling penting aku udah terbebas dari gelar istri raja vampir." Wanita itu sudah berpikir akan tinggal di kota lain, yang jauh dari tempat kelahirannya.
Hujan salju mulai turun. Suhu udara pun terjun bebas mencapai sepuluh derajat celcius. Floretta yang berada di dalam bak truk tersebut pun meringkuk kedinginan di balik lapisan terpal.
Untunglah dia tadi sempat meminum rebusan air kayu manis dan buah pala, sehingga tubuhnya sedikit lebih hangat.
"Hei, kamu mencium bau busuk, nggak? Bukannya daging busuk tadi sudah kita buang di tempat pembuangan sampah?" Pengemudi supir truk tersebut mulai merasakan keanehan di mobil yang sedang dia bawa.
"Ah, aku sudah menciumnya sejak tadi. Aku pikir karena kita sedang melewati area Rawa Quagmire yang mengeluarkan belerang itu," balas salah seorang pria.
"Hei, mana mungkin. Rawa Quagmire sudah kita lewati sekitar empat kilometer. Tapi bau busuknya masih tercium kuat," lata sang supir lagi.
Kedua petugas kurir makanan itu semakin mencium keanehan dari mobil mereka. Tetapi hujan salju yang semakin lebat, membuat mereka tetap melanjutkan perjalanan, agar cepat sampai ke tempat tujuan.
...🦇🦇🦇...
"Loh, ini bukan jalan ke arah perbatasan lagi. Kenapa mereka tiba-tiba mengarah ke wilayah selatan?"
Floretta yang sempat tertidur sejenak, terkejut melihat kendaraan yang dia tumpangi secara ilegal itu berubah haluan. Berdasarkan peta yang dilihat oleh Floretta, mobil truk makanan itu menuju ke provinsi yang terkenal sebagai wilayah paling miskin di kerajaan tersebut.
"Aduh! Mereka semakin menjauh dari perbatasan, bahkan pusat ibukota. Aku harus bagaimana ini?" batin Floretta panik.
Dia mulai merasakan, bahwa pelarian dia kali ini akan berakhir sia-sia. Percuma saja dia lari dari istana, kalau tetap berada di wilayah kerajaan vampir.
Brak! Mobil yang dia tumpangi tiba-tiba berhenti mendadak. Terdengar suara pintu mobil terbuka. Floretta yang nerasa cemas, menyembunyikan dirinya di balik kotak paling belakang.
"Kenapa kamu sembunyi di sana, Nona? Kita sudah sampai tempat tujuan," ucap salah seorang pria berambut merah dan gigi taring yang mencuat keluar.
"Astaga! Jadi mereka sudah mengetahui keberadaanku? Apa karena itu mereka urung ke dunia manusia?" Floretta yang tertangkap basah, masih bersembunyi di dalam bak truk makanan tersebut.
"Hei, ayo cepat keluar. Para pembeli sudah tak sabar ingin melihatmu," desak pria tadi dengan arogan. "Jangan buat aku bersikap kasar sama istri raja, Nona," sambungnya.
"Jadi mereka mau menjualku? Pada siapa?" pikir Floretta dengan hati gentar.
Diam-diam Floretta mengambil dua buah pisau daging yang terselip diantara kotak-kotak tersebut, dan menyimpannya di balik mantel.
"Kau punya telinga apa nggak sih, brengsek!" Pria itu akhirnya menarik paksa Floretta untuk turun dari mobil.
Bruk! Wanita berkulit seputih salju dan bertubuh mungil itu terjatuh ke atas tanah. Tubuhnya menggigil kedinginan, saat kulitnya menentuh salju yang membentang di atas lapisan tanah tersebut.
Segerombolan vampir berdiri mengelilingi Floretta, bagaikan serigala kelaparan. Air liur mereka meleleh. Gigi taring mereka yang tajam, seolah-olah mampu merobekkan kulitnya hingga ke tulang. Floretta bisa merasakan tatapan tajam dari para vampir itu.
"Kalian mau menjualku?" Floretta berdiri dan berusaha melawan rasa takutnya. Tidak ada gunanya dia bersikap pasrah di saat begini.
"Tentu saja. Langka banget ada manusia yang sengaja menyelinap ke dalam mobil kami. Dan karena kamu adalah istri dari raja, hargamu juga sangat mahal," ucap sang pengemudi mobil truk.
"Percuma saja kalian menjualku. Darahku tidak enak. Aromanya juga bikin kalian mual dan muntah. Darahku hanya racun bagi kalian. Bahkan raja vampir sendiri tidak mau menyentuhku sampai hari ini," kata Floretta meyakinkan mereka semua.
"Hahaha, kau pikir hal itu berpengaruh sama para vampir miskin seperti mereka? Kamu salah, Nona." Supir truk beserta temannya itu tertawa terbahak-bahak sambil memandang Floretta dengan rendah.
"Mereka jarang sekali mendapatkan darah manusia. Bahkan mereka rela membayar mahal hanya demi mendapatkan setetes darahmu yang pahit dan bau itu," jelas supir truk itu lagi.
"Kalian pasti akan mendapatkan hukuman karena telah menjual dan membunuh istri dari raja kalian," ancam Floretta lagi.
"Maksudnya istri yang telah melarikan diri dari istana dan menyelinap ke dalam truk makanan? Apa kamu tahu, seseorang yang kabur dari istana itu sama dengan pengkhianat? Hukumannya jauh lebih berat daripada seorang pencuri," jelas pria itu lagi.
"Gawat! Sekarang aku harus apa?" pikiran Floretta pun semakin kalut. Sementara kedua vampir yang menjualnya itu, menyeretnya dan menyerahkannya pada para vampir yang kelaparan tersebut.
(Bersambung)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments