"Apa kita tidur berdua aja malam ini?" ucap Alden tiba-tiba.
"Apa? Jangan, deh. Aku masih mau hidup sampai tua. Jangan sampai kita di geruduk sama Anggota Dewan gara-gara tidur sekamar lagi," tolak Floretta dengan tegas. Dia bahkan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Tanpa banyak bicara, Alden tiba-tiba mendekati sang istri.
"Gyaaa! Apa yang kamu lakukan?"
Floretta menjerit kuat, sampai Leon Hazel dan para pengawal yang berada di luar ruangan buru-buru membuka pintu untuk melihat apa yang terjadi. Namun dengan isyarat mata, Alden mengusir mereka semua.
"Aku akan mengantarmu ke kamar, lalu istirahat," jawab Alden sambil memasang wajah tidak bersalah.
"Tu-turunkan aku. Aku bisa jalan sendiri, kok," ucap Floretta sambil menepuk-nepuk dada Alden.
"Kakimu masih sakit, Flo. Aku bisa melihat kamu jalan sambil menahan rasa sakit tadi," ujar Alden sembari melangkahkan kakinya menuju keluar kamar milik Floretta, yang sementara waktu dia gunakan.
"Tapi gimana nanti kalau dewan istana melihat kita? Kamu mau membuat kekacauan besar di sini?" ucap Floretta sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "Aku juga malu dilihat oleh para pelayan seperti ini," sambung wanita itu dengan berbisik.
"Kenapa harus takut dan malu? Kita kan udah resmi menikah. Kalau mereka memarahi kita, tunjukkan saja surat nikah kita," sergah Alden tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Tapi tetap aja aku merasa nggak nyaman, Al," ucap Floretta masih menutup wajahnya dengan tangan.
Kamar mereka yang berjarak sekitar dua puluh meter, membuat banyak pengawal dan pelayan mampu melihat mereka berdua. Meski kedua matanya tertutup, telinga Floretta mampu mendengar suara bisikan dan ejekan dari para pelayan yang membicarakannya.
...🦇🦇🦇...
Alden meletakkan Floretta di atas kasur empuk miliknya dengan sangat hati-hati.
"Bukalah matamu, kita udah sampai. Hanya tinggal kita berdua di sini," bisik Alden seraya melepaskan pelukannya dari tubuh mungil Floretta.
Jantung Floretta semakin berdegup kencang, saat mendengar mereka hanya berdua saja di kamar itu. Ketika wanita itu membuka matanya, hal pertama yang dia lihat adalah wajah tampan sang suami, yang berjarak kurang dari satu sentimeter dari wajahnya. Kedua tangan Floretta pun reflek mendorong agar Alden menjauhinya.
"Kenapa, sih? Kita kan udah suami istri. Kamu sendiri kan yang bilang, aku boleh menyentuhmu jika kita udah menikah?" Alden berbisik sembari menggenggam kedua tangan wanita itu.
Duh, Floretta yang posisinya berada di bawah, tidak bisa bergerak sama sekali. Jantungnya bahkan terasa mau copot.
"Apa kamu tahu? Berapa lama aku menahan diri untuk nggak menyentuhmu? Mana ada laki-laki yang sudah menikah bisa tahan nggak menyentuh istrinya sama sekali?" sambung Alden dengan suara sangat rendah.
Floretta sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Aroma wangi dari rambut dan tubuh pria itu membuat serotonin dalam tubuhnya semakin meningkat. Dia hanya berharap, semoga Alden tidak bisa mendengar suara jantungnya yang semakin berisik.
"Degup jantungmu kuat banget? Kamu juga merasakan hal yang sama denganku, kan?" ucap Alden, masih dengan posisinya yang sangat dekat dengan Floretta.
"Uh, jantung sialan! Gak bisa banget diajak kerja sama," umpat Floretta dalam hati.
"Sekarang kamu istirahatlah. Aku akan menunda malam pertama kita, sampai kamu benar-benar merasa siap dan nyaman," ucap Alden sambil mengecup kening istrinya dengan lembut. Pria itu lalu menjauhkan tubuhnya dari Floretta, dan duduk di tepi tempat tidur.
"E-eh? Apa kamu bilang? Jadi kita beneran mau ngelakuin itu?" ucap Floretta sambil membuka kedua matanya lebar-lebar.
"Ya iyalah, terus menurutmu apa tujuan kita menikah?" balas Alden sambil menahan tawa. Dia baru sekali melihat wanita yang benar-benar lugu seperti ini.
"Ya, aku nggak tahu. Tapi aroma darahku kan nggak enak. Emangnya kamu sanggup dekat-dekat denganku?" tanya Floretta.
"Kamu masih meragukanku? Apa kita lakuin sekarang aja biar kamu percaya?" Alden mendadak mengunci pintu melalui remote khusus yang terletak di tepi tempat tidur.
"Heeeh? Apa? Nggak! Aku nggak mau!" Wanita itu buru-buru menarik selimut tebal, hingga menutupi kepalanya.
"Sudahlah, aku cuma bercanda, kok. Lagian ini masih siang, pekerjaanku masih menumpuk," kata Alden sembari membuka kembali kunci pintu kamar tersebut, yang hanya bisa diakses menggunakan sidik jarinya.
"Sudah, ya. Aku tinggal dulu. Kalau ada apa-apa kamu bisa meneleponku atau pelayan," ucap Alden sambil menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh sang istri.
"Fyuh, syukurlah. Ku pikir dia beneran mau ngelakuin itu." Floretta bernapas lega, ketika melihat punggung Alden menghilang di balik pintu.
...🦇🦇🦇...
Alden menghembuskan napas panjang sebanyak dua kali, sebelum mengetuk sebuah ruangan yang memiliki pintu besar dengan ukiran naga di depannya.
"Ini aku," ucap Alden singkat, sembari mengetuk pintu beberapa kali.
Pintu yang terbuat dari kayu pohon sequoia berumur ratusan tahun itu akhirnya terbuka. Aroma buah pinus yang khas langsung menyeruak indra penciuman Alden.
Ruangan bernuansa klasik itu terlihat sangat rapi dan bersih, dengan patung-patung hewan mendominasi setiap sudutnya. Itu adalah hasil buruan sang pemilik kamar ini, dari hutan-hutan di kerajaan mereka.
Tanpa menunggu perintah, Alden langsung duduk di sebuah sofa empuk berwarna putih bersih, yang ditopang dengan kayu jati berwarna cokelat tua dan ukiran yang sangat indah. Sofa tersebut dipesan khusus dari Asia sepuluh tahun yang lalu, sebagai kenang-kenangan kunjungannya di sebuah negara kepulauan tropis.
"Ada apa kamu ke sini?" tanya Raven tanpa senyum di wajahnya. Mata pria itu tetap fokus pada sebuah buku yang sedang dibacanya.
"Bagaimana hasil kunjungan ke Kerajaan Verenian kemarin?" tanya Alden.
"Langsung ke intinya saja. Aku tahu, kamu bukan mau membicarakan hal itu di sini," tegas Raven, enggan menjawab pertanyaan sang adik barusan. Dia bahkan tidak menoleh sama sekali, pada sang raja yang juga adik kandungnya tersebut.
"Baiklah, aku akan jujur. Kak, aku mohon jangan ganggu dan lukai Floretta," pinta Alden berterus terang.
"Sejak awal aku penasaran, kenapa kamu tiba-tiba mengunjungi kamarku? Ternyata untuk meminta hal ini?" ucap Raven sambil menyeringai lebar.
hhSaudara laki-laki dari raja vampir itu melemparkan buku yang dibacanya ke atas meja. Dia lalu memuta kursinya menghadap ke arah Alden.
"Kau pikir kau siapa, bisa memerintahku seenaknya?" bentak Raven.
"Aku nggak akan menyebut diriku sebagai raja. Ini permohonan seorang adik pada kakaknya," ucap Raven dengan nada lembut namun penuh harapan.
"Itulah maksudku, kenapa kau bisa menikahi gadis manusia? Kerajaan kita udah melemah karena dipimpin oleh raja bodoh sepertimu. Tapi kamu malah menambah masalah saja dengan menikahi gadis lemah seperti dia?" ucap Raven dengan ketus.
"Katakan padaku tentang asal usul gadis itu," pinta Raven setengah memaksa.
"Aku nggak bisa mengatakannya," ucap Alden tegas.
"Kenapa? Kamu mengambilnya dari panti asuhan? Atau dari tempat hiburan malam?" cibir Raven, memaksa Alden untuk membuka suara.
(Bersambung)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments