"Flo, kamu memakai kalung bawang putih?" seru Alden.
Floretta mendadak melihat ke bawah. Dia menaikkan kerah bajunya agar untaian bawang putih itu tidak terlihat.
"Dari mana kamu mendapatkan benda itu? Dan untuk apa?" tanya Alden sambil tertawa terbahak-bahak.
"Kamu mau menggunakan bawang putih itu sebagai senjata? Atau untuk nembuat masakan spesial?" sambung Alden lagi.
"Ah, dari mana aku mendapatkannya, i-itu rahasia. Dan aku melakukan ini untuk berjaga-jaga," jawab Floretta dengan wajah memerah karena malu. Senjata rahasianya sudah terlihat oleh musuh.
"Pasti setelah ini dia memaksaku untuk membuang bawang putih ini, dan mengenyahkan bumbu masakan ini dari seluruh bagian istana," pikir Floretta cemas.
Alden tertawa terpingkal-pingkal mendengar kalimat sang istri. Sang raja vampir itu pun memperlihatkan gigi taringnya yang tajam.
"Kok malah ngetawain aku, sih?" Floretta cemberut.
"Habisnya tingkahmu lucu banget. Kamu dapat info dari mana sih, kalau vampir itu takut bawang putih?" tanya Alden.
"Loh, bukannya memang begitu? Semua film tentang vampir di TV, pasti menunjukkan bahwa bangsa kalian takut pada bawang putih," jawab Floretta.
Floretta mengira kalau itu hanya trik Alden, supaya dia bisa menyingkirkan bawang putih itu dengan mudah.
"Hah? Beneran? Aku nggak pernah menonton film vampir, sih. Tapi yang jelas info itu sesat banget," kata Alden tanpa bisa menghentikan tawanya.
"Tapi itu beneran, kan? Jangan coba-coba mengelabui aku, cuma biar kamu bisa menyingkirkan bawang putih ini dengan mudah." Floretta tidak percaya begitu saja, pada orang yang telah membohonginya berkali-kali.
"Tapi menurutku, lebih baik cepat-cepat kamu lepasin tuh kalung, sebelum diketawain sama para vampir di sini." Alden tidak bisa menahan tawanya.
"Aku nggak mau! Nanti kalau aku melepaskan ini, kamu langsung menghisap darahku untuk sarapan pagi. Dan aku pasti bukan manusia pertama yang jadi korban di sini," kata Floretta menolak untuk membuka kalung bawang putih tersebut.
"Flo, dengarkan aku baik-baik. Para vampir itu nggak takut sama bawang putih. Dari zaman nenek moyang dulu, kami malah udah menggunakan bawang putih untuk bumbu masakan," jelas Alden.
Pria itu mengaduk isi piringnya, lalu menusuk sebuah bawang putih yang terselip di antara daging, dan mengunyahnya bulat-bulat. Tidak hanya sekali, Alden melakukan hal yang sama hingga tiga kali.
"Hah? Jadi beneran?" Floretta tercengang melihat Alden mengunyah bawang putih itu dengan santai.
"Jadi kalian makan seperti manusia juga?" tanya Flo masih merasa heran.
"Ya, tentu aja," kata Alden. "Sudah beberapa abad kami hidup berdampingan dengan manusia, dan bangsa kami sudah mulai beradaptasi," jelas Alden lagi.
"Tapi masih sering meminum darah manusia juga?" tanya Floretta masih penasaran.
"Ayo, cepat makan. Tunggu apa lagi?" ucap Alden, mendesak Floretta untuk segera makan. Dia tidak menjawab pertanyaan istrinya barusan.
Floretta mengerti kalau Alden berusaha mengelak dari pertanyaannya. Dia pun sudah lelah untuk mendesak pria itu untuk jujur.
"Aku bisa minta buah apel saja, nggak? Perutku agak mual, nih," pinta Floretta. Dia masih belum bisa mempercayai setiap makanan yang terhidang di meja.
"Baiklah, akan aku minta para pelayan membawakannya," ucap Alden. Beberapa saat kemudian, seorang pelayan pun datang, dan membawa apel, anggur dan aprikot.
"Pffft! Dia memakai kalung bawang putih?" Floretta bisa nendengar suara tawa pelayan tadi dari luar.
"Makanlah," ujar Alden kemudian. "Aku nggak mau kamu pingsan, gara-gara melewatkan sarapan pagi," imbuhnya lagi.
"Alden, apakah besok pagi aku masih hidup?" tanya Floretta dengan suara bergetar. Dia sudah susah payah mengumpulkan keberanian, untuk mempertanyakan hal ini.
"Makanlah dulu. Nanti kita bicarakan lagi," ucap Alden sambil mengunyah daging barbeque.
"Tolong jawab aku! Selama ini aku menahan semua tekanan dari paman dan bibiku, hanya demi bertahan hidup. Aku nggak mau mati konyol di sini!" Floretta menjerit tanpa bisa mengontrol dirinya.
Alden menatap Floretta dengan tajam, lalu meletakkan sendok dan garpunya di piring. Taringnya yang panjang terlihat dengan jelas di sisi kanan dan kiri bibirnya.
"Permisi, Yang Mulia Raja. Ada hal penting yang harus saya sampaikan." Seorang asisten mendadak muncul di depan pintu, dan menginterupsi waktu makan raja vampir tersebut.
"Ya, katakan," sahut Alden.
"Kunjungan ke wilayah selatan hari ini dibatalkan, karena provinsi di sebelah barat mengalami kebanjiran. Para penduduk sangat kekurangan makanan. Beberapa Anggota Dewan sudah berada di sana. Dan mereka ingin Yang Mulia mengunjunginya langsung," lapor asisten tersebut.
"Begitu, ya?" Tak langsung mempercayai berita itu, Alden pun mengambil ponselnya, dan mencari berita terbaru.
"Baiklah. Segera siapkan kendaraan untuk ke sana beserta bantuan untuk para korban. Bawakan juga perbekalan untuk di perjalanan, agar istriku nggak kelaparan di jalan," perintah Alden setelah memastikan kebenaran itu.
"Maaf, Yang Mulia. Tapi anggota dewan melarang Yang Mulia Putri Floretta untuk pergi. Takutnya bisa membuat kekacauan di sana," ucap asisten raja tersebut sambil melirik ke arah Floretta.
"Gawat! Ini pasti rencana mereka agar aku dan Floretta bisa terpisah. Terutama malam ini dia akan pulang," pikir Alden Black dengan resah.
"Tapi aku juga nggak mau mengabaikan bencana ini. Kalau aku sembunyikan Floretta di dalam mobil, justru lebih berbahaya karena mereka bisa mencium aromanya," kata Alden dalam hati.
"Baiklah, sebentar lagi aku akan turun. Kalian bersiap-siaplah dulu," ujar Alden kemudian.
"Baik, Yang Mulia."
Setelah asisten raja itu pergi, Alden langsung berbalik menghadap ke arah sang istri. Raut wajahnya masih menunjukkan rasa gelisah.
"Sayang, dengarkan aku. Soal pertanyaanmu tadi, semuanya tergantung dirimu. Kau pasti nggak akan percaya, sama yang akan kamu lihat nanti di malam hari. Ku harap kamu nggak bakalan keluar kamar setelah matahari terbenam," ucap Alden dengan tatapan serius.
"Tanpa disuruh pun, aku nggak bakalan berkeliaran di malam hari," jawab Flo dingin. "Jadi benar kau menikah denganku demi setetes darah?" imbuhnya lagi.
"Flo, aku belum selesai bicara. Aku berharap kita bisa tidur dalam satu kamar, agar aku bisa menjagamu setiap waktu. Akan ada hal aneh yang mengintaimu di malam hari," ucap Alden. Kedua alisnya bertaut, menunjukkan raut wajah sedih.
"Sekamar dengan raja vampir sepertimu? Justru aku merasa lega, karena kita menggunakan kamar yang terpisah," sahut Floretta dengan cepat.
"Ah, kalau ini adalah cerita novel, aku pasti tokoh paling bodoh karena sudah mengantar nyawa pada mangsaku sendiri," ucap Flo seraya menghela napas panjang.
"Sayang, dengarkan aku dulu. Sejak awal aku nggak pernah berniat membunuh atau memangsamu. Tapi sayangnya aku nggak bisa menjagamu sepanjang waktu," ungkap Alden.
Pria itu menjeda kalimatnya sebentar, lalu meneguk air di dalam gelas untuk membasahi tenggorokannya.
"Ku rasa dia akan datang malam ini. Kalau dia mulai menyerangmu, segeralah masuk ke dalam kamar, lalu nyalakan lilin yang berada di sudut ruangan," sambung sang raja vampir tersebut.
"Akan aku suruh Leon Hazel, pengawal kepercayaanku untuk menjagamu. Lily Ivory dan Bu Magenta juga akan datang malam ini," ujar Alden lagi.
"Dia? Siapa maksudmu?" tanya Floretta semakin tidak mengerti. Terlalu banyak teka-teki yang menyelimuti lelaki itu.
"Dia ..."
"Maaf mengganggu waktunya, Yang Mulia. Ini sudah waktunya kita pergi, sebelum jalan tertutup salju."
Seorang pria berpakaian serba hitam mendadak muncul di balik pintu, dan memutus obrolan Alden dengan Floretta.
"Ya, baiklah," sahut Alden. "Maaf, Flo. Aku harus pergi sekarang. Jaga dirimu." Alden bangkit dari kursinya, lalu mengecup kening Floretta.
"Tunggu! Kamu belum selesai cerita," desak Flo.
"Kalau kamu terdesak, telepon saja aku. Aku akan segera pulang," ucap Alden seraya mengecup kening sang istri. Akan tetapi Floretta mengelak dengan cepat.
Alden hanya menautkan kedua alisnya, melihat sang istri yang terus menjaga jarak padanya. Pria itu lalu beranjak dari meja makan, dan bergegas melangkahkan kaki ke arah pintu.
(Bersambung)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Sandisalbiah
tragis amat nasib Flo.. ikut keluarga Green di jadikan budak dan di siksa lahir batin, setelah menikah malah lebih para.. nyawanya yg terancam.. poor Floretta
2024-06-15
1