Flo menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Alden, aku menerima lamaranmu. Aku bersedia jadi istrimu," ucap Flo tiba-tiba.
"Kamu bilang apa?" Albert merasa tidak yakin, dengan apa yang barusan di dengarnya.
"Aku bersedia jadi istrimu. Jadi pendampingmu selamanya," bisik Flo sambil menahan rasa malu. Ini pertama kalinya dia mengucapkan kata-kata itu.
"Beneran? Syukurlah. Terima kasih, Floretta. Aku senang sekali." Tanpa aba-aba, Alden langsung memeluk gadis di hadapannya.
"Hei, kamu lupa dengan perjanjian kita sebelumnya? Dilarang sentuh-sentuh, sebelum kita resmi menikah," ujar Floretta tegas.
"Maaf, reflek. Habisnya aku senang banget," kata Alden seraya menjauh dari Flo.
Gadis itu heran, kenapa Alden bisa sesenang ini hanya karena menikahi gadis biasa seperti dirinya?
"Kalau begitu, setelah sarapan kita bahas rencana pernikahan, ya," ucap Alden lagi.
"Loh, terus pekerjaan kamu?" tanya Flo.
"Aku kan bos, bisa datang kapan aja. Nggak ke kantor juga nggak apa-apa. Toh, duit tetap ngalir," kata Alden.
"Agak kesal sih dengarnya. Tapi benar juga," ujar Flo seraya tertawa kecil. "Fyuh! Semoga ini keputusan yang tepat," sambung Flo dalam hati.
Setelah sarapan pagi, Alden pun memenuhi janjinya untuk membahas persiapan pernikahan mereka.
"Flo, kenalkan. Ini Madam Emerald, dia akan melakukan perawatan pada tubuhmu, sekaligus mempersiapkan gaun pernikahan untukmu," ucap Alden sembari mengenalkan seorang wanita paruh baya pada Floretta.
"Kamu bisa request apa saja padanya, sesuai dengan keinginanmu. Jangan pikirkan soal biaya," sambung pria itu.
"Perawatan tubuh?" Flo tercengang mendengarnya. Selama sembilan belas tahun hidup di dunia, Flo belum pernah melakukan perawatan khusus untuk tubuhnya.
"Tentu saja, aku ingin calon istriku tampil paripurna bagai bidadari di hari pernikahan nanti," kata Alden seraya mengedipkan matanya.
"O-oh, be-gitu." Flo mendadak canggung.
...🦇🦇🦇...
"Apa? Floretta jadi menikah dengan pengusaha muda itu?" Violetta menjerit kaget, ketika mendengar kabar dari ibunya.
"Iya, dia menikah di awal musim dingin nanti," sahut Olive, sambil meraih sebuah jaket yang tergantung di lemari.
"Nggak! Nggak bisa begini. Floretta itu dilahirkan hanya sebagai pelayan miskin. Dia nggak pantas menikah. Aku nggak rela dia punya suami yang lebih kaya dari aku," batin Violetta merasa geram.
Violetta mondar mandir di ruang tamu, seraya menggigit kukunya. Hatinya gusar. Dia tidak suka melihat sang adik hidup bahagia seperti ini.
"Kalau Flo jadi menikah dengan Alden, artinya dia jadi istri dari bos suamiku? Ah, brengsek! Kenapa bisa begini? Apa yang disembunyikan Flo selama ini?" Pikiran Violetta semakin berkecamuk.
"Harusnya waktu itu aku biarkan saja dia menikah dengan David. Jadi pasti aku yang akan dilamar oleh Alden Black."
Sejak kedatangan Alden di hari pernikahannya, detik itu juga Violetta merasa menyesal telah merebut pacar sang adik.
"Violetta! Apa lagi yang kamu pikirkan? Ayo cepat bersiap, kita harus pergi ke rumah Madam Lavender untuk mengukur gaun kita sebelum gelap. Alden sudah memberikan bahan dan biaya untuk menjahit gaun pesta kita," kata Olive dengan senyum sumringah di wajahnya.
"Ck! Aku lagi malas keluar. Sebentar lagi suamiku pulang," tolak Violetta. Dia nggak bersemangat untuk menghadiri pesta pernikahan sang adik.
"Hei, kau ini! Ayo cepatlah temani Ibu. Ah, senangnya punya menantu kaya raya," ujar Olive sambil bersenandung kecil.
"Bu, menantu pertamamu juga kaya raya," seru Violet tersinggung.
"Tapi dia hanya seorang pegawai, kan? Bukan pemilik perusahaan. Membayar hutang pada Tuan Cyano aja nggak bisa," cibir Olive.
"Ya sudah, kalau gitu akan aku ambil lagi semua hadiah pernikahannya! Ibu kan sebentar lagi bakal punya menantu konglomerat," ancam Violetta sambil mendengus kesal.
"Hei, bocah sialan! Bisa-bisanya kau berbuat seperti itu pada Ibumu. Dasar anak durhaka! Lihatlah adikmu, dia bisa membalas budi dengan baik, dengan segera menikahi pria kaya."
Jayden mendadak muncul dari pintu, dan menepuk punggung putri sulungnya berkali-kali.
"Duh, Ayah! Aku ini lagi hamil calon cucumu. Gimana kalau nanti aku keguguran?" seru Violetta sambil menghindari ayahnya.
"Kau hamil? Padahal pernikahanmu baru satu minggu yang lalu. Jadi kamu sudah mengandung, bahkan sebelum menikah dengan David?" Jayden kembali menepuk punggung putri sulungnya tersebut.
...🦇🦇🦇...
Dua minggu kemudian. Pesta pernikahan super mewah pun dilakukan di sebuah gedun termegah di kota itu. Bangunan bernuansa modern itu disulap bagaikan sebuah istana negeri dongeng.
Sepanjang lorong menuju ke ruang pesta dihiasi bunga segar aneka warna yang sangat harum. Lampu-lampu indah pun dipasang, layaknya kunang-kunang yang tengah bermain di taman. Atapnya yang terbuat dari kaca, membuat panorama langit dan pepohonan di sekitar gedung dapat terlihat dengan jelas.
Musik mengalun pelan, memanjakan telinga para tamu yang mulai berdatangan. Puluhan pelayan dengan sigap melayani seluruh tamu dengan beragam hidangan mewah. Penghangat ruangan pun mulai dinyalakan dengan suhu yang pas, agar para tamu tidak kedinginan di awal musim dingin ini.
Sang calon pengantin wanita duduk di sebuah ruangan, menanti waktunya upacara pernikahan tiba. Kedua tangannya saling mengepal, untuk menghilangkan rasa dingin yang menguasai tubuhnya. Ini bukan dingin karena cuaca di luar, tetapi karena rasa gugup yang menderanya.
"Ah, aku nggak mengerti. Untuk apa mengundang tamu sebanyak itu, kalau aku nggak memiliki seorang pun yang ingin diundang?" batin Flo sambil menatap keramaian di luar sana.
"Rasanya aku masih nggak percaya, sebentar lagi bakal menjadi istri dari orang asing," sambung wanita bergaun indah itu lagi.
Calon pengantin itu merasa sangat kesepian, di tengah keramaian seperti ini. Dia merasa hampa, tanpa tahu apa yang dia pikirkan saat ini. Dari balik dinding kaca yang hanya tembus satu arah, Floretta melihat kedua orang tuanya datang, bersama kakak dan saudara iparnya.
Rasa marah pun kembali muncul di dalam dadanya. Alasannya untuk menikah dengan Alden semakin jelas. Dia ingin menunjukkan pada kakak dan mantan kekasihnya, kalau dia bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik. Selain itu, Flo juga ingin melepaskan diri dari kekangan kedua orang tuanya.
"Alden, kenapa kami nggak diizinkan untuk bertemu dengan Floretta? Padahal kami kan orang tuanya," protes Olive pada calon menantunya.
"Benar, aku nanti juga akan mengantar putriku padamu," ujar Jayden menambahkan kalimat istrinya.
"Ini permintaan Floretta, Yah. Tapi jangan khawatir, nanti Ayah dan Ibu akan tetap bisa bertemu Flo dan mengantarnya padaku," ucap Alden sang calon pengantin pria.
"Haaah, aku sedih sekali. Padahal ini adalah saat terakhir melihat putriku sebelum melepaskan masa lajangnya," kata Olive memasang wajah sedih. "Ah, tapi apa aku boleh tahu, hadiah apa yang akan kamu berikan pada kami?" tanya Olive penasaran.
Alden hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. "Ah, sepertinya sudah waktunya, Bu. Aku harus bersiap-siap," ujar Alden menghindar dari kedua calon mertuanya tersebut.
Upacara pernikahan yang hidmat pun akhirnya dimulai. Calon pengantin wanita berjalan memasuki ruangan bersama sang ayah. Semua pasang mata terpaku melihatnya.
Kulit Flo tampak seputih salju, sangat kontras dengan gaunnya yang berwarna biru bertabur berlian dan rambut hitamnya yang ditata dengan anggun. Bola matanya yang indah bagaikan batu permata. Bibirnya yang mungil itu terlihat merona. Dia adalah pengantin tercantik yang dilihat para tamu.
"Aku nggak mengangka, gadis pelayan itu bisa menjadi secantik ini. Kenapa kemarin aku melepaskannya, ya?" David menatap mantan kekasihnya tanpa berkedip. Hal itu membuat Violetta mendesis pelan, karena cemburu.
Alden menyambut calon istrinya dengan senyuman. Kedua tangannya menggenggam jemari mungil gadis itu.
"Aku, Alden Black menerima Floretta Blue sebagai istriku selamanya," ujar Alden dengan lantang.
"Apa? Floretta Blue?" Para tamu undangan saling berpandangan. "Bukankah namanya Floretta Green? Mana mungkin Alden salah menyebut nama istrinya? Karena hanya ada satu keluarga Blue di kota ini, dan itu sudah belasan tahun yang lalu."
Sementara itu, Floretta reflek melepaskan genggaman tangan Alden. "Kenapa dia bisa tahu nama asliku? Siapa dia sebenarnya?" pikir Flo resah.
(Bersambung)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Sandisalbiah
tuh kan.. nama keluarga Flo berbeda dgn Vio dan ortunya.. pantas mereka selama ini begitu menindas Flo..
2024-06-15
1
Astri
spertix makin seru nihh
2023-06-03
1
Susi Pratiwi
semangat up.nya thor
2023-02-09
4