"Yang Mulia mau menggunakan dress panjang motif pink floral, atau midi dress dengan renda warna biru muda ini, untuk menemani Yang Mulia Raja makan siang?" tanya Lily pada Floretta yang baru saja selesai mandi dan masih menggunakan handuk kimono.
"Kenapa kalian berbohong padaku?" ucap Floretta tanpa membalas pertanyaan para pelayan itu. Tatapannya begitu dingin dan mengintimidasi.
"Maafkan kami, Yang Mulia. Kami hanya menjalankan perintah dari Yang Mulia Raja," ucap Lily sambil membungkukkan tubuhnya dalam-dalam.
"Jadi intinya kalian kompak membohongiku?" ucap Floretta lagi.
"Bukan begitu, Yang Mulia."
"Berhenti memanggilku 'Yang Mulia', Lily. Aku muak mendengarnya," sela Floretta dengan ketus. Dia mengganti handuknya dengan dress floral yang terletak di atas tempat tidur, tanpa bantuan para pelayan.
"Jadi apa kamu dan Bu Magenta juga bangsa vampir?" tanya Floretta pada pelayannya lagi.
"Iya, benar," jawab Lily dengan wajah menunduk.
"Haaah, pantas saja aku gak pernah lihat kalian makan roti dan sayur mayur. Jadi cairan merah di dalam kulkas itu darah manusia untuk sarapan kalian?" kata Floretta.
"Y-yang Mulia masih mengingatnya?" Lily sedikit terkejut dengan pengakuan Floretta barusan.
"Oh, jadi kalian sengaja membuat aku lupa? Apa aku mau kalian jadikan santapan makan malam?" balas Floretta.
"Tidak, Yang Mulia. Cairan di dalam kulkas itu bukan darah manusia, melainkan darah hewan. Dan Yang Mulia Raja tidak pernah berpikir untuk menjadikan Anda mangsa. Karena ..." Lily mendadak menghentikan kalimatnya.
"Karena apa?" tanya Floretta penasaran.
"Kami tidak berani mengatakannya, tanpa izin dari Yang Mulia Raja," sahut Lily menutup rahasia sang raja vampir itu rapat-rapat.
"Huh, ada rahasia apa lagi di antara mereka?" pikir Floretta penasaran.
...🦇🦇🦇...
Tok! Tok! Tok!
"Alden, ini aku," ujar Floretta mengetuk pintu kamarnya, yang sementara waktu digunakan oleh Alden.
"Masuklah," sahut Alden dari dalam.
Wanita dari ras manusia itu membuka pintu perlahan. Dia melihat Alden sedang sibuk di balik laptopnya, serta beberapa tumpuk berkas yang harus ditandatangani.
"Kenapa datang ke sini? Kakimu sudah sembuh?" tanya Alden dengan wajah khawatir. Pria itu berdiri dari kursi kerjanya, lalu duduk di sofa bersama Floretta.
"Lumayan," sahut Floretta sambil berjalan berjingkat-jingkat. "Apa aku menganggu pekerjaanmu, Yang Mulia?" sambung wanita itu.
Alden sedikit terkejut mendengar istrinya memanggil dia dengan sebutan "Yang Mulia". Tetapi sesaat kemudian pria tampan itu kembali tersenyum.
"Aku nggak terganggu, kok. Justru aku senang kalau kerja ditemani kamu," sahut Alden. "Tapi tumben banget kamu keluar dari kamar? Apa kamu sudah nggak takut lagi tinggal di sini?" tanya Alden penasaran.
"Siapa bilang aku nggak takut lagi? Padahal aku tinggal di tengah-tengah ras pemangsa manusia. Tapi sepertinya mereka nggak akan menyerangku dalam waktu dekat, karena darahku aromanya nggak enak," ucap Floretta.
"Ah, maaf. Kamu pasti mendengar para pelayan bergosip, ya?" ujar Alden meminta maaf.
"Kenapa kamu meminta maaf?" tanya Floretta dengan wajah berkerut. "Justru aku sedikit merasa lega, walau pun agak sakit hati juga sih dengarnya. Kayak lagi ngomongin bau badan gitu," sahut Floretta lagi.
"Tapi Al, aku mau tanya satu hal padamu. Apa sebelumnya ada vampir yang menikahi manusia?" tanya Floretta penasaran.
Alden mengangkat wajahnya, ketika mendengar pertanyaan tidak terduga itu.
"Aku nggak tahu. Tetapi sepertinya aku yang pertama menikahi manusia," kata Alden lagi.
"Kalau darahku tidak berguna untukmu, lantas kenapa kamu menikahiku? Setelah mendengar ucapan para pelayan, aku jadi semakin bingung," kata Floretta lagi.
"Sejak awal aku sudah bilang, kan? Aku nggak pernah berniat untuk mencelakaimu," tegas sang raja vampir.
"Lalu apa tugasku di sini? Aku bukan benalu yang hanya bisa menghabiskan isi kulkas, lalu tidur seharian, kan?" tanya Floretta mendesak suaminya untuk jujur.
"Tugasmu di sini hanya menemaniku setiap hari," jawab Alden singkat.
"Hah?" gumam Floretta sembari mengerutkan keningnya cukup dalam.
"Kamu pasti udah dengar ceritanya dari para pelayan, kan? Kalau aku ini selalu makan sendirian sejak orang tuaku meninggal?" tanya Alden. Floretta pun mengaggukkan kepalanya.
"Aku butuh seorang teman yang bisa diajak berbincang dan membuatku nyaman. Makanya aku memilihmu sebagai istriku," ujar Alden sambil menatap Floretta dengan hangat.
Hati wanita itu berdebar kencang, saat mendengar jawaban dari suaminya. Tapi hanya berselang beberapa detik, perasaan itu kembali memudar. Bisa saja pria itu hanya menggombal, sampai keinginannya tercapai, kan?"
"Kalau aku membuatmu nyaman, lalu gimana dengan tunanganmu? Bukankah tunanganmu itu wanita cerdas dari kalangan bangsawan vampir? Apa dia yang akan menjadi ratu, seperti kata anggota dewan?" ujar Floretta.
Wanita cantik itu tidak sadar, jika dalam kalimatnya itu terselip rasa cemburu.
"Suatu saat nanti aku akan menjelaskannya padamu," ucap Alden menolak memberikan jawaban, dari pertanyaan istrinya tersebut.
Floretta hanya menarik napas panjang untuk menutupi rasa kecewanya, saat melihat reaksi suaminya tersebut.
"Sekarang aku antar kamu kembali ke kamar, ya. Kamu istirahat saja sampai waktu makan malam nanti," ucap Alden lagi.
"Kita belum selesai bicara,Yang Mulia," ucap Floretta menolak pergi dari sana.
"Ada apa lagi?" tanya Alden dengan lembut. Matanya yang berwarna biru kehijauan, menatap sang istri dengan kasih sayang.
"Dia ini sebenarnya baik atau jahat, sih? Kenapa susah banget menebak isi hatinya?" Pikiran Floretta kacau balau saat melihat wajah tampan dan senyuman memikat dari suaminya teraebut.
"Kenapa? Kok diam? Ku pikir ada yang mau kamu tanyakan?" ujar Alden.
"Ah, iya. Memang ada yang mau aku tanyakan, kok," ucap Floretta buru-buru mengembalikan kesadarannya. "Kenapa sejak tadi aku nggak melihat Yang Mulia Raven? Apa dia nggak tinggal di istana ini?" tanya Floretta dengan berbisik.
"Oh, dia tinggal di sini juga, kok. Cuma kalau siang gini kerjaannya cuma tidur. Dasar kalong!" ucap Alden setengah menggerutu. "Kenapa kamu tanyain itu? Dia nggak bakalan berani ganggu kamu, karena ada aku di sini," sambung Alden lagi.
"Aku cuma penasaran aja, kok. Tapi seandainya aku ketemu dia lagi, aku harusa bagaimana?" tanya Floretta dengan wajah serius.
"Jangan melawannya. Cukup perlakukan dia layaknya seorang raja," sahut Alden dengan nada suara sangat rendah.
"Kenapa gitu? Kan kamu yang raja di sini?" ucap Floretta bingung.
"Saat ada yang melawannya secara terang-terangan, Raven hanya membuatnya menjadi seonggok mayat. Tak peduli bangsawan vampir sekali pun," sahut Alden. Floretta bergidik ngeri mendengarnya.
"Tetapi selama orang itu patuh dan bermanfaat baginya, Raven akan membiarkannya hidup. Jadi satu-satunya cara agar kamu bisa tinggal di istana dengan tenang, harus membuatnya menyukai keberadaanmu di sini," jelas Alden lagi.
"Gimana caranya aku membuatnya menyukai keberadaanku? Dengan sesama vampir aja dia bisa membunuh, apalagi manusia seperti aku?" tanya Floretta pada sang suami.
"Aku yakin kamu pasti bisa. Itu juga salah satu alasanku membawamu ke sini, untuk melunakkan hatinya yang beku," jawab Alden.
"Hah? Maksudnya?" Floretta semakin tidak mengerti.
"Jangan terlalu dipikirkan, nanti kamu pasti akan paham dengan sendirinya, kok," ucap Alden. "Sekarang aku antar kamu ke kamar untuk istirahat, ya. Aku tahu, kakimu masih belum sembuh, kan?" Lagi-lagi Alden bersikap manis pada istrinya.
"Tapi kamarku kan di sini, Yang Mulia," ucap Floretta dengan tegas.
"Oh, benar juga. Apa kita tidur berdua aja malam ini?" goda Alden.
"Jangan, deh. Aku masih mau hidup sampai tua. Jangan sampai kita di geruduk sama Anggota Dewan gara-gara tidur sekamar lagi," tolak Floretta dengan tegas.
(Bersambung)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Susi Pratiwi
up.nya jangn satu episode aja thor. biasa 2 episode
2023-02-13
4