"Sudah dua hari dia nggak datang ke sini. Apa dia benar-benar marah padaku? Terus aku harus apa?" ucap Floretta dalam hati.
Sejak matahari terbit, dia terus berdiri di dekat jendela tanpa lelah. Memperhatikan mobil dan orang-orang yang berlalu lalang di bawah sana.
"Kamu sedang apa, Flo?" tanya Bu Magenta yang meletakkan beberapa buku novel dan komik di atas meja.
"Oh, nggak apa-apa, kok. Aku cuma rindu keadaan di luar sana," sahut Flo tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela.
"Udara di luar sudah sangat dingin. Pasti beberapa hari lagi akan turun salju," kata Bu Magenta.
"Ya, kayaknya gitu," ucap Flo. "Apa ini Bu?" tanya Floretta, ketika melihat tumpukan buku di atas meja. Rasanya nggak mungkin Bu Magenta akan membaca buku komik dan novel remaja seperti itu.
"Ini titipan dari Tuan Alden sebelum dia pergi dinas ke luar kota. Dia khawatir kamu akan bosan karena di rumah terus. Tapi karena Tuan Alden nggak tahu kamu suka apa, makanya dia memimjamkan beragam jenis buku," jelas Bu Magenta.
"Oh, jadi Alden lagi ke luar kota? Pantas dia nggak ada datang ke sini." Entah kenapa hati Flo sedikit lega mendengarnya.
"Kenapa? Kamu nenunggu kedatangannya beberapa hari ini?" tanya Bu Magenta sambil tersenyum kecil.
"Eh, apa? Nggak, kok," sahut Flo seraya mengalihkan wajahnya. Dia tak mau Bu Magenta melihat wajahnya yang memerah karena malu.
"Oh, iya. Apa aku boleh ke dapur untuk membantu menyiapkan sarapan? Aku bosan kalau cuma duduk-duduk sepanjang hari," tanya Flo pada pelayan senior itu.
"Tidak boleh, kami bisa dipecat kalau membiarkanmu bekerja. Apa kamu nggak kasihan sama kami, Flo?" balas Bu Magenta.
"Tentu saja nggak. Eh, maksudnya aku nggak akan membantah perintah Tuan Besar," sahut Floretta sambil menggaruk kepalanya. "Hari ini aku harus ngapan, ya? Bosan banget kalau cuma diam di kamar baca buku," pikir gadis itu.
...🦇🦇🦇...
"Astaga! Anda mau ke mana? Anda nggak berusaha kabur dari sini, kan?" Lily Ivory, salah seorang pelayan, menahan Flo yang hendak keluar rumah.
"Aku nggak akan kabur, kok. Aku cuma mau turun sebentar ke minimarket untuk membeli beberapa keperluan dan paket internet," ucap Flo.
"Paket internet? Kenapa Anda menggunakan data selular untuk mengakses internet? Padahal di sini ada jaringan wi-fi," ujar Lily seraya mengerutkan keningnya. "Lagian Tuan Alden melarang Anda untuk keluar sendirian," sambung pelayan itu.
"Hah? Di sini ada wi-fi? Kok aku baru tahu?" celetuk Flo.
Sedetik kemudian, gadis itu menutup mulutnya rapat-rapat sambil melirik Lily. Rasanya dia baru saja membuat kesalahan besar, dan hampir menghilangkan kesempatan untuk keluar dari apartemen ini.
"Ehem! Lily, pertama-tama jangan menggunakan bahasa formal denganku. Kita ini seumuran. Kamu boleh memanggilku Flo saja," ujar Floretta sambil melemparkan senyum manis penuh ramah tamah.
"Lalu yang kedua, aku tetap harus keluar untuk mengambil gajiku di ATM, dan membeli sesuatu. Kamu mau menemaniku, kan?" Ternyata Flo tidak kehilangan akal untuk menginjakkan kaki di luar apartemen.
"Haduuuh, tetap nggak bisa, Nona ... Maksudku Flo. Memangnya benda apa yang harus dibeli? Aku akan membelikannya untukmu." Lily tetap bersikukuh mematuhi aturan.
"Kamu tahu-lah, tamu bulanan perempuan. Aku juga harus menarik uang gajiku, sebelum diambil sama Ibuku. Kamu mau membantuku, kan?" bisik Flo. Gadis manis itu juga memasang wajah sedih untuk menjerat Lily.
"Terus kalau nanti ada yang mengganggu Nona lagi gimana?" tolak Lily dengan halus.
"Ini kan siang hari. Ada banyak pasang mata dan kamera CCTV yang mengawasi kita. Terus ada kamu juga yang menemaniku," rayu Flo agar Lily mau menemaninya keluar.
"Ta-tapi ..."
"Ayolah, kamu mau melihatku bersedih karena semua uang gajiku ditarik ibuku yang tamak itu?" Lagi-lagi Flo memasang wajah sedih bagaikan kucing yang kelaparan.
"Uh, ya udah deh. Tapi janji ya, jangan ke mana-mana selain minimarket," ujar Lily mengalah.
"Ok, aku janji," ujar Flo kembali tersenyum ceria.
"Kalau begitu aku siap-siap dulu," kata Lily.
Selang tiga menit kemudian, Lily pun kembali ke ruang tamu. Tubuhnya tampak membengkak, karena tiga lapisan jaket tebal yang membungkus tubuhnya. Wanita berkulit putih kemerahan itu juga membungkus jemarinya sengan sarung tangan super tebal.
"Lily, aku tahu sebentar lagi memasuki musim dingin, tetapi suhu di luar sana belum sedingin itu," ucap Flo, yang hampir tertawa melihat penampilan Lily. Pelayan itu tampak seperti ikan buntal yang terdampar di daratan.
"Ehm, sebenarnya aku memang nggak tahan dingin. Aku mempunyai riwayat sakit bronkitis," kilah Lily.
"Ah, jadi begitu? Ya sudah. Ayo kita pergi," ajak Floretta dengan semangat.
Setelah beberapa hari terkurung di lantai atas apartemen, ini hari pertama dia menghirup udara segar di luar.
"Tunggu dulu. Kamu juga harus pakai ini." Lily menyerahkan sebuah syal kepada Floretta.
"Ah, aku sih nggak perlu. Aku tahan dingin, kok," tolak Flo.
"Sebenarnya syal ini dari Tuan Alden untukmu. Tapi aku baru ingat memberikannya sekarang," bujuk Lily lagi.
Mau tidak mau Flo pun mengambil syal itu, lalu melilitkan di lehernya.
...🦇🦇🦇...
"Flo, ayo kita pulang. Kita udah terlalu lama di luar," ajak Lily. Wajahnya tampak cemas, sembari menoleh ke kiri dan kanan.
"Sebentar Ly, aku lagi memilih buah untuk persediaan di kulkas kita," kata Flo dengan santai.
"Loh, tadi katanya kamu cuma mau ambil uang dan membeli pembalut saja?" protes Lily.
"Ah, tanggung. Kita udah keluar juga, kenapa nggak belanja aja sekalian," ucap Flo lagi. "Kamu mau apa? Apel atau Strawberry?" ujar Flo seraya menyodorkan kedua macam buah itu di hadapan Lily.
Tak terduga, wajah Lily langsung berubah. Dia mendadak mual melihat kedua buah itu. "Ah, maaf. Aku nggak suka buah," ujar Lily kemudian.
"Oh, oke." Flo kemudian meletakkan buah, dan mengambil sekotak susu. "Kalau ini kamu mau, kan?" tanyanya lagi.
Lily mengangguk dengan cepat. "Kita nggak punya waktu lagi. Kita harus segera pulang," desak Lily.
Meski merasa aneh, tetapi Floretta mengikuti permintaan Lily. Dia pun segera menuju ke kasir.
"Hei, kamu Floretta si perebut Alden kami, kan?" Tiba-tiba seorang wanita datang, dan hendak melabrak Floretta.
"Ya, benar. Aku Floretta. Tetapi bukan aku yang merebut Alden kalian. Dia sendiri yang datang melamarku," balas Flo tanpa rasa takut.
"Halah! Dasar perempuan penggoda!" Wanita itu maju selangkah dan hendak menerjang Flo. Tetapi baru saja menyentuh kerah baju Flo, dia mendadak terjatuh. Tangannya yang menyentuh kerah baju dan syal milik Flo tiba-tiba melepuh seperti kena api.
"Hah? Apa? Ternyata dia memiliki sihir pelindung," seru wanita itu, lalu buru-buru pergi menjauhi Flo.
"Hah? Sihir pelindung apaan? Dasar cewek aneh," gumam Flo. "Tapi kenapa tangannya melepuh seperti terkena api gitu, ya?" pikir Flo merasa heran.
(Bersambung)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Sandisalbiah
wow.. ini pasti Alden yg buat utk. melindungi Flo... lagian kenapa Alden gak membinasakan keluarga Flo yg licik itu
2024-06-15
1