"Kyaaa! Astaga! Kok dia sudah ada di sini?"
Floretta nggak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, saat melihat sepasang sepatu dan celana panjang hitam di hadapannya. Kepala wanita malang itu mendongak, untuk melihat wajah pria yang berdiri di hadapannya.
"A-aku mohon. Jangan bunuh aku, Tuan."
Floretta mengatupkan kedua telapak tangannya di dada, dan memohon ampunan pada pria kejam di hadapannya. Dia tidak menyangka, kalau pria itu bisa menyusulnya hanya dalam beberapa detik.
"Flo ..."
"Aku akan pergi dari sini, kalau kalian tidak suka dengan keberadaanku. Tapi biarkan aku hidup," pinta wanita itu lagi.
Seluruh tubuh Floretta menggigil dan berkeringat dingin. Rasa sakit akibat terjatuh tadi semakin menjalar ke seluruh tubuhnya. Ditambah lagi perasaannya yang sangat was-was.
"Flo, tenanglah. Ini aku. Maaf aku datang terlambat." Pria itu mengulurkan tangannya, untuk membantu Floretta berdiri.
"Jangan bunuh aku, Tuan." Wanita dari ras manusia itu bergerak mundur menjauhi pria itu.
Grep! Tanpa berbicara lagi, pria itu meraih tubuh Floretta, dan menggendongnya. Dia lalu membawanya kembali ke dalam kastil.
...🦇🦇🦇...
"Sudah pagi, ya?"
Floretta mengedipkan matanya beberapa kali, saat seorang pelayan membuka gorden jendela. Butiran salju berwarna putih, terhampar di seluruh pepohonan di taman istana. Mentari tersembunyi di ufuk timur, dengan cahayanya yang malu-malu.
"Ternyata aku masih bisa bernapas pagi ini," kata Floretta sedikit bernapas lega. "Eh? Tetapi ini bukan kamarku, kan? I-ini di mana?" sambungnya lagi.
"Jangan banyak bergerak dulu, luka di kakimu masih cukup parah." Seorang pria berjalan ke sisi tempat tidur sambil membawa segelas susu hangat.
"A-alden?" Floretta menarik selimutnya hingga ke dada.
"Tenanglah, aku nggak akan mengganggumu," ucap Alden dengan lembut. "Ini, minum dulu. Jangan sampai kamu lemas kelaparan, karena nggak makan seharian seperti kemarin."
Pria itu memaksa istrinya untuk menghabiskan susu di gelas tersebut.
"Aku rasanya ingin marah dan protes pada Alden, tetapi rupanya dia benar-benar menyelamatkanku tadi malam. Dia juga memaksamu untuk mengisi perut pagi ini," batin Floretta dalam hati.
"Aku mengerti apa yang kamu pikirkan sekarang. Maafkan aku, karena meninggalkanmu sendirian di sini. Kamu pasti takut banget tadi malam," ucap Alden.
"Apa dia Yang Mulia Raven?" tanya Floretta setengah berbisik.
"Iya, dia saudaraku satu-satunya," jawab Alden.
"Tapi ini di mana?" tanya Floretta.
"Ini kamarku," jawab Alden singkat.
"Eeeh? Jadi tadi malam k-kita?" Floretta mendadak menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Hei, kamu mikir apa?" Alden tertawa mendengar pertanyaan sang istri.
"Maksudku, apa kita sudah melanggar aturan dari Anggota Dewan? Katanya kita nggak boleh berada satu kamar, karena pernikahan ini belum di setujui oleh mereka." Floretta mengulang pertanyaannya, untuk menghilangkan rasa malu.
"Aku tadi malam tidur di ruangan lain, kok. Jadi antara kita nggak terjadi apa-apa. Lagian mana tega aku meng-anu perempuan yang lagi terluka parah," kata Alden seraya tertawa lepas.
"Heeei, kan udah aku bilang, bukan seperti itu maksudku!" seru Floretta semakin malu.
"Tapi kalau dipikir-pikir lagi, semua masalah ini aku yang memulainya sendiri. Aku terlalu gegabah menerima lamaran pria tidak dikenal, hanya untuk menang dari Kak Violetta," gumam Floretta dalam hati.
"Jadi nggak ada gunanya aku marah pada Alden dan bersembunyi terus. Aku harus bersikap seperti biasa, agar mereka tidak lagi menganggapku remeh," pikir Floretta.
"Gimana? Apa badanmu sudah lebih segar setelah minum susu?" Alden membungkukkan tubuhnya, dan mendekatkan wajahnya pada Floretta.
"Lu-lumayan," ucap Floretta sambil memalingkan wajahnya. Dia tak sanggup melihat ketampanan Alden yang sudah sah menjadi suaminya itu.
"Kamu mau makan apa lagi? Biar aku masakkan untukmu," ucap Alden dengan tulus.
"Eh? Masak? Selama ini aku nggak pernah mendengar Raja turun ke dapur dan memasak untuk seseorang," ucap Floretta.
"Memang nggak ada. Jadi aku ingin memulainya. Nggak ada salahnya kan memasak untuk Ratu-ku sendiri? Gini-gini aku jago masak, loh," ucap Alden dengan bangga.
Jantung Floretta berdegup kencang mendengar kalimat Alden tersebut. Dia tersipu malu di anggap Ratu oleh pria tampan impian para gadis ini.
Sejak ayah dan ibu kandungnya meninggal dunia, Floretta tidak pernah mendapat perhatian dan kasih sayang yang cukup. Bahkan ketika berpacaran dengan David sekali pun.
"Alden, ku harap semua kasih sayang yang kamu curahkan ini benar-benar tulus. Aku sampai merasa terharu mendengarnya," ucap Floretta dengan suara sangat rendah.
Wajah perempuan bertubuh mungil itu tertunduk sangat dalam. Dia tidak ingin Alden melihat pipinya yang bersemu merah bagaikan buah apel.
"Aku mengerti kalau sampai sekarang kamu masih belum percaya padaku. Aku cuma berharap, kamu nggak menolak semua perhatian dariku," ucap Alden.
"Ah, tetapi kenapa tadi malam kamu ketakutan saat melibatku?" tanya Alden mengalihkan topik pembicaraan.
"Ya salah kalian sendiri, kenapa mirip banget? Aku jadi salah mengira, kalau kamu itu Yang Mulia Raven?" sahut Floretta.
"Hah? Kok nggak bisa bedain, sih? Jelas-jelas suami kamu ini jauh lebih tampan dari pada cowok resek itu," balas Alden pura-pura ngambek.
"S-suami? Ah, benar juga. Status kami sekarang sudah sedekat itu," pikir Floretta.
"Lalu soal Kak Raven, aku minta maaf. Sikapnya memang seperti itu pada semua orang, apalagi pada orang baru seperti kamu," ucap Alden lagi.
"Kenapa kamu yang harus meminta maaf? Kenapa nggak dia sendiri aja yang datang meminta maaf?" tanya Floretta.
"Dengan sifatnya yang seperti itu, aku nggak yakin dia mau meminta maaf padamu," jawab Alden. "Syukurlah kakimu nggak terluka parah. Tapi ku harap kamu jangan berjalan jauh dulu sampai benar-benar sembuh," ujar Alden lagi.
"Maaf kalau pertanyaanku sedikit menyinggungmu, Tapi dia benar-benar saudara kandungmu? Bukannya posisi raja itu biasanya diserahkan pada anak tertua?" selidik istri dari Alden itu.
Raut wajah Alden berubah menjadi sedikit redup, mendengar pertanyaan sang istri. "Dia saudara kandungku satu-satunya," ucap Alden dengan lirih. "Itulah yang membuat dia semakin arogan, karena kedua orang tua kami mewariskan tahta kepadaku," sambung pria itu.
"Kenapa?" tanya Floretta lagi.
Alden menggeleng pelan. "Aku juga nggak tahu," ungkapnya.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi, Yang Mulia. Kami membawakan pakaian ganti untuk Yang Mulia Putri Floretta," ujar beberapa pelayan dari luar.
"Silakan masuk," ucap Alden mempersilakan para pelayan untuk masuk ke dalam kamarnya. "Kalau begitu aku pergi dulu ya, Flo," ucap Alden pada istrinya.
Grep! Floretta reflek menarik ujung kemeja Alden.
"Jangan pergi," bisik Floretta hampir tidak terdengar.
"Apa? Jadi kamu membiarkan aku di sini, dan melihatmu mandi serta berganti pakaian? Duh, Ratu-ku mulai mesum, ya?" ujar Alden sambil menahan tawa.
"Bukan gitu maksudnya! Aku cuma gak mau ditinggal sendirian. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, memang sebaiknya kamu keluar aja," ujar Floretta meralat kalimatnya.
"Ya, ya ... Aku tahu kalau kamu itu cepat kangen sama aku. Tapi satu jam lagi kita bakal ketemu, kok. Jadi jangan kangen sama aku, ya," goda Alden lagi.
"Uh, bukan gitu juga maksudku, Alden," ucap Floretta dengan suara tinggi, sampai-sampai para pelayan yang baru saja masuk terkejut.
(Bersambung)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Sandisalbiah
masih penasaran dgn keistimewaan Flo sampai Alden memilihnya jd istri walau semua bangsa vampir menentangnya
2024-06-15
1