"Jadi kamu mau mematuhi Yang Mulia Raja dan membiarkan aku merintih kesakitan?" ucap Floretta sambil pura-pura merintih menahan sakit.
"Pokoknya aku harus berhasil membuatnya masuk ke dalam dan menjebaknya," pikir Floretta lagi.
"Bukan begitu, Yang Mulia. Apa perlu saya sampaikan hal ini pada Yang Mulia Raja, dan meminta dokter datang ke sana?" Pelayan itu memberikan sebuah usul.
"Jangan! Aku nggak mau membuat Yang Mulia Raja khawatir. Pekerjaannya sangat menumpuk," tolak Floretta dengan tegas.
"Kalau kamu melaporkannya, itu cuma menambah pikirannya saja. Aku hanya perlu segelas air hangat dan madu. Ah, kalau ada jahe juga lebih bagus," Floretta berusaha membuat sang pelayan percaya tipu dayanya, dan terjebak ke dalam jebakannya.
"Baiklah, saya akan membawakannya," ucap Lily mengalah.
Beberapa menit kemudian, pelayan yang usianya sebaya dengan sang tuan putri itu pun datang, dan membawakan permintaan Floretta tadi. Istri dari raja vampir itu pun langsung menyelipkan tubuhbya ke balik selimut, lalu nemasang wajah sakit.
"Maaf, kami tidak menyimpan jahe di dapur. Jadi aku menggantinya dengan kayu manis dan buah pala," ucap Lily seraya menyodorkan air panas dengan rempah dan madu kepada sang tuan putri.
"Terima kasih, Lily," ucap Floretta sambil menebar senyumannya.
"Apa sakit perutnya sangat parah, Yang Mulia? " tanya Lily khawatir. "Apa perlu minum obat?" sambung sang pelayan.
"O-oh, nggak kok. Cuma rasanya agak sedikit kembung. Kayaknya aku belum terbiasa dengan cuaca di sini," ucap Floretta sambil menepuk-nepuk perutnya.
"Tolong ambilkan selimut lagi. Aku masih merasa kedinginan, padahal suhu penghangat ruangan sudah maksimal," pinta Floretta dengan lirih.
"Baik, Yang Mulia."
Diam-diam wanita itu menarik ponsel milik pelayannya ke dalam selimut, ketika Lily mengambil sebuah selimut tebal dari dalam lemari.
"Terima kasih, Lily. Tapi sekarang aku sedikit lapar. Apa kamu bisa membuatkan aku bubur gandum?" pinta Floretta lagi.
"Baiklah, aku akan meminta koki istana untuk ..."
"Jangan suruh mereka membuatnya. Aku masih belum bisa mempercayai orang-orang di sini." Floretta memotong ucapan Lily, dan menghalangi wanita itu untuk mencari ponselnya. "Tolong kamu saja yang membuatnya, Lily," sambung Floretta dengan wajah memelas.
"Baik, Yang Mulia. Aku akan membuatkannya. Yang Mulia bisa beristirahat dulu sembari menunggu," ucap Lily dengan patuh. Pelayan yang memiliki kulit seputih salju itu bergegas pergi ke dapur.
"Ini kesempatanku. Waktu itu aku pernah melihat dia memasukkan keyword HP-nya. Semoga dia belum mengubahnya."
Jemari Floretta dengan cepat mengetikkan angka-angka di layar ponsel milik pelayan pribadinya. Tep! Kunci layar ponsel itu langsung terbuka. Istri dari raja vampir itu pun segera mengecek isi ponsel milik sang pelayan.
"Ternyata benar, aplikasi di ponsel mereka berbeda," gumam Floretta. Dia lalu mempelajari peta dunia vampir dan manusia melalui aplikasi khusus yang dimiliki ponsel Lily. "Ah, rupanya perbatasan antara dunia manusia dan sihir ada di Danau Lachlan?"
Floretta juga mencari informasi lain tentang vampir. Sayangnya dia nggak menemukan apa-apa, selain mengetahui bahwa Lily melakukan pemesanan puluhan botol darah premium, dari sebuah pabrik yang terletak di Provinsi Timur Laut.
"Puluhan botol darah? Darah apa? Jadi di sana ada pabrik pengemasan darah dalam botol?" Floretta bergidik ngeri, mengetahui informasi itu. "Biasanya setiap sore ada truk makanan dari istana yang pergi menuju ke sana, kan?" sambungnya.
Floretta yang memiliki pendengaran cukup tajam itu, selalu mencuri dengar obrolan para pelayan yang berlalu lalang depan kamar.
"Kalau begitu, Ini satu-satunya kesempatanku untuk bertahan hidup."
Wanita itu melirik keluar pintu, penjagaan terlihat begitu ketat. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Floretta mengganti gaunnya dengan celana dan baju milik Alden yang dia temukan di dalam lemari. Dia juga mengenakan sebuah topi dan masker untuk menyamarkan penampilannya.
Setelah itu Floretta berusaha membuka jendela yang memiliki kunci berlapis. Menggunakan bantuan seprai yang dia ikat di tepi jendela, Floretta pun melarikan diri dari sana.
"Kalau menurut denah, parkiran terdekat dari dapur istana ada di sebelah barat daya. Semoga saja aku bisa menemukan truk makanan itu. Kalau tidak, aku terpaksa naik truk sampah di malam hari," ucap Floretta dengan nekat.
Ternyata nasib baik menyertai Floretta. Wanita itu lolos menyeberangi kebun istana karena cahaya matahari yang sangat redup. Dari kejauhan dia melihat truk makanan yang baru saja mengantar bahan makanan dari dunia manusia.
Ketika sang supir sedang berbincang dengan pelayan dapur, Floretta pun menyelinap masuk ke dalam mobil, dan bersembunyi di balik kotak-kotak yang tersusun rapi.
Rencana Floretta ini sebenarnya memiliki resiko yang sangat tinggi dan rentan gagal. Lengah sedikit saja, dia bisa ketahuan. Tetapi wanita itu sudah nekat dari untuk kabur dari sana.
Meskipun di dunia manusia nanti Floretta harus mengganti identitasnya dan kembali menjadi babu, menurutnya itu jauh lebih baik daripada menyerahkan nyawa pada para vampir itu.
...🦇🦇🦇...
Tiga puluh menit kemudian, di Ecarlatte Castle. Tepatnya kamar Yang Mulia Raja.
"Yang Mulia, ini buburnya."
Lily sang pelayan membawakan bubur sesuai permintaan Floretta. Tetapi wanita itu tidak menemukan Floretta di mana pun. Dia malah mendapati kamar sudah berantakan dan jendela terbuka lebar.
"Astaga! Y-yang Mulia Putri Floretta?"
Lily mulai panik, ketika menyadari bahwa istri dari sang raja melarikan diri dari kamarnya. Dia lalu bergegas memberitahu para pengawal, dan mencari sang putri di seluruh bagian istana.
Tak menemukan ponselnya di mana pun, pelayan yang masih belia itu menggunakan telepon khusus untuk layanan kamar, dan melaporkan kejadian buruk tersebut pada sang raja.
"Yang Mulia! Yang Mulia Floretta tidak ada di kamarnya," lapor Lily pada Alden. Suaranya terdengar gemetar dan ketakutan.
"Apa? Kok bisa? Sudah kalian cari ke ruangan lain?" tanya Alden dengan gusar.
"Sudah, Yang Mulia. Tetapi juga tidak ada," jawab Lily dengan wajah panik.
"Di mana Leon? Mungkin Floretta sedang bersamanya?" Alden mempertanyakan keberadaan pengawal pribadi istrinya tersebut.
"Leon nggak bisa dihubungi sejak tadi, Yang Mulia," jawab Lily dengan suara gemetar. Dia sudah pasrah, jika kali ini dipecat bahkan di hukum mati oleh sang raja.
"Pengawal, cepat cari dan periksa seluruh istana. Lalu cek CCTV juga," perintah Alden pada para pengawal yang saat itu sedang mendampinginya. Dia juga bergegas ke kamar, dan memastikan keadaan di sana.
"Astaga! Dia kabur melalui jendela seperti malam itu? Kenapa alarm pengaman tidak berbunyi?" pikir Alden bingung.
Biasanya alarm pengaman akan berbunyi dan memanggil para pengawal dengan segera, jika ada seseorang yang berusaha merusak dan membuka kamar raja dengan paksa.
"Sialan! Harta berhargaku kabur gitu aja. Padahal aku hampir saja mendapatkan simpatinya. Aku pastikan dia akan kembali lagi ke sini, dan bertekuk lutut di bawah kekuasaanku," batin Alden sambil menyeringai lebar.
(Bersambung)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Astri
ehh maksudx ini apaan
2023-06-03
0
Susi Pratiwi
mantap👍
lajut thor semangat
2023-02-14
4