"Alden, kamu membohongiku?" Floretta mencecar Alden dengan pertanyaan menusuk, setelah mereka memasuki sebuah ruangan besar, yang terlihat seperti ruang bersantai.
"Flo, tenanglah dulu. Masih ada para pengawal di sini," bisik Alden seraya meletakkan jari telunjuknya di depan bibir.
"Aku nggak peduli. Jelaskan padaku semuanya. Ini cuma lelucon, kan? Mana ada vampir di dunia ini?" seru Floretta tak sabaran. Dengus napasnya yang kasar dan berat, terdengar jelas oleh Alden.
"Ya, baiklah. Aku mengaku. Aku memang raja vampir. Selama ini bangsa kami hidup berdampingan dengan manusia," jawab Alden dengan jujur.
"Jadi kamu memaksaku menikah denganmu, hanya untuk menjadikanku hidangan makan malam?" tanya Floretta dengan kening berkerut.
Kali ini Alden yang menghembuskan napasnya secara perlahan. Dia lalu melirik ke arah sang istri yang baru saja dinikahinya beberapa jam, dengan tatapan sinis dan seringai lebar.
"Flo, aku nggak pernah memaksamu untuk menikah denganku. Ah, awalnya sih iya. Tetapi setelah itu kan keputusan kembali aku serahkan padamu," jawab Alden dengan nada datar dan intonasi rendah. Gigi taringnya yang selama ini tersembunyi, akhirnya terlihat dengan jelas.
"Cih! Benar juga." Floretta tak bisa menampik fakta itu. Dia lah yang telah menyetujui lamaran Alden padanya, tanpa berpikir panjang.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Aku nggak akan melakukan sesuatu padamu. Percayalah, sayangku," kata Alden seraya menggenggam erat tangan Floretta.
Wanita yang kini resmi berstatus menyandang nama sebagai Nyonya Black itu hampir muntah, ketika Alden memanggilnya dengan kata sayang.
"Sekarang kamu beristirahatlah. Kamu pasti kelelahan dengan rangkaian upacara penikahan hari ini," ucap Alden. Dia lalu memerintahkan seorang pelayan untuk mengantar sang istri ke kamar.
...🦇🦇🦇...
"Dasar manusia bodoh! Bisa-bisanya dia nggak tahu, kalau dia menikahi raja vampir."
"Aku masih nggak percaya, kita harus memanggil makanan kita itu dengan sebutan Yang Mulia Putri Floretta."
"Untuk apa Yang Mulia Raja menikahi manusia rendahan seperti dia? Padahal calon istrinya jauh lebih cantik dan bermartabat dari wanita itu."
"Kau masih bertanya? Tentu saja karena darahnya. Malam ini Yang Mulia pasti akan menghabisinya."
Floretta menunduk sedih, mendengar bisik-bisik dari para pelayan tersebut. Dia merasa seperti seekor kambing yang hendak dibawa ke kandang singa kelaparan.
"Aku harus hidup. Bagaimana pun caranya, aku harus tetap hidup," tekad Floretta dalam hati.
"Ini kamar Anda, Yang Mulia. Karena Dewan Penasehat Istana belum menyetujui Anda menjadi Ratu di sini, jadi untuk sementara Anda dan Yang Mulia Raja akan menggukan kamar terpisah," jelas pelayan atau dayang istana yang usianya diperkirakan sekitar empat puluh tahunan itu.
"Terima kasih," jawab Flo singkat. Hatinya merasa sangat lega, karena dia tidak tidur sekamar dengan vampir malam ini.
"Silakan istirahat, Yang Mulia. Semua barang-barang kebutuhan Anda sudah ada di kamar. Yang mulia bisa memanggil kami dengan telepon yang tersedia, kalau memerlukan sesuatu," jelas pelayan itu lagi.
"Ya, terima kasih," jawab Flo tanpa semangat.
"Di mana Lily dan Bu Magenta? Apa mereka juga seorang vampir?" pikir Floretta resah. "Ah, aku jadi teringat sebotol darah yang ada di kulkas. Pantas saja mereka menyimpan darah itu, rupanya itu adalah makanan utama mereka," sambung wanita malang itu dalam hati.
...🦇🦇🦇...
Keesokan paginya di Ecarlate Castle, Kediaman Raja Vampir, Alden Black.
"Yang Mulia, mohon izinkan kami masuk."
"Pergi kalian semua, vampir sialan! Jangan berani mendekati kamarku," jerit Flo dari dalam.
"Kami hanya ingin membantu Yang Mulia bersiap-siap untuk sarapan pagi," seru para pelayan dari balik pintu, yang sudah terbuka setengah.
"Lihat saja, kalian tidak akan bisa memakanku," ujar Flo.
Wanita itu memegang sebuah pedang mainan yang dia temukan di dalam lemari sebagai senjatanya.
"Ah, aku udah lama nggak menggunakan pedang. Tapi kurasa ini sudah cukup untuk menghalau mereka sementara waktu. Kalau saja kamarku tidak berada di lantai atas, aku pasti sudah kabur dari sini tadi malam," batin Floretta dengan resah.
"Tapi ini melelahkan sekali. Sudah semalaman aku terjaga, supaya tidak ada yang masuk. Mau sampai kapan aku berada di sini? Apa tidak ada cara lain untuk pergi dari tempat ini?" pikir wanita dari ras manusia tersebut.
"Floretta, sudah hentikan. Kamu bikin para pelayan kesulitan." Alden tiba-tiba muncul di kamar Floretta.
"Ba-bagaimana kamu bisa masuk? Aku kan sudah mengunci pintunya?" ucap Flo dengan tatapan heran. Dia juga menyilangkan senjata itu di depan badannya.
"Itu bukan hal penting sekarang. Turunkan pedangmu, kamu bisa terluka nanti," pinta Alden pada istrinya.
"Penipu! Dari awal aku sudah merasa ada yang kamu sembunyikan. Aku berusaha tidak mempedulikannya, karena kamu selalu bersikap baik padaku. Tetapi aku salah besar."
Suara Floretta terdengar parau dan bergetar. Sepertinya dia telah menangis semalaman.
"Padahal sudah jelas tidak ada yang menganggapku berharga. Sudah jelas tidak akan ada orang aneh yang tiba-tiba melamarku. Apalagi yang kamu inginkan, kalau bukan karena darahku?" seru Floretta dengan intonasi tinggi.
"Sudah berapa banyak wanita yang kamu perlakukan begini? Seharusnya dari awal aku tidak mempercayaimu!" Wanita itu menjerit histeris.
"Flo, tolong dengarkan aku ..."
"Jangan mendekat, kalau kamu tidak mau mati!" ancam wanita itu.
Slap! Pedang yang berada di dalam genggaman Flo tiba-tiba melayang dan berpindah ke tangan Alden. Wanita itu melongo dibuatnya.
"Apa itu barusan? Sihir?" gumam Flo dalam hati.
"Kamu pikir aku bisa mati dengan mudah, hanya karena benda seperti itu?" Alden menatap Floretta dengan tajam. Matanya berubah menjadi berwarna merah dan menyeramkan.
"Uh, badanku tidak bisa bergerak. Padahal dia nggak memegangku." Floretta menggigil ketakutan. Dia tidak pernah melihat makhluk semengerikan ini
"Kenapa aku harus mati dengan cara seperti ini? Apalagi hanya karena seorang manusia sepertimu," ucap Alden lagi. Pedang mainan yang terbuat dari besi itu meleleh di tangan Alden.
"Ayo bersiap, lalu sarapan denganku. Hari ini kita ada jadwal untuk mengunjungi kota selatan," kata Alden.
Kali ini nada suaranya kembali turun, dan bernada lembut seperti biasanya. Warna merah di matanya pun telah menghilang.
...🦇🦇🦇...
"Daging barbeque? Uh, kenapa rasanya perutku mual, ya? Jangan-jangan sausnya terbuat dari darah manusia?" Floretta menutup mulutnya, yang hampir saja memuntahkan isi perutnya.
"Jangan takut, ini semua makanan manusia biasa, kok," ucap Alden memahami isi kepala sang istri. "Lalu, aku juga tidak akan meminum darahmu sebagai makanan utama," sambung Alden lagi.
"Hah? Apa dia bisa dipercaya? Sedangkan identitasnya saja bisa disembunyikan," batin Flo menatap makanan di piring dengan mual.
"Daging ini berasal dari peternakan sapi di kota yang akan kita kunjungi nanti. Lalu saus tomat dan cabainya berasal dari kebun terbaik di dunia manusia. Ah, kalau kamu penasaran, boleh kok mengunjungi dapur," Kata Alden berusaha meredakan kekhawatiran Floretta.
"Uh, tetap saja aku masih merasa khawatir. Aku masih bisa merasakan tatapan sinis mereka yang ingin menghisap darahku sampai kering," batin Flo lagi.
"Pelayan, tolong tinggalkan kami berdua saja. Lalu tutup pintunya," ucap Alden tiba-tiba.
"Sekarang sudah aman, kan? Silakan ma -"
Alden menghentikan ucapannya, ketika matanya menangkap sebuah benda yang tergantung di leher Floretta.
"Flo, kamu memakai kalung bawang putih?" seru Alden.
(Bersambung)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Sandisalbiah
dr mana Flo mendapatkan bawang putih..??
2024-06-15
1
Astri
alden baik ko
2023-06-03
1