"Permisi Pak Direktur. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda. Saya udah mengatakan bahwa jadwal Anda hari ini padat, tetapi dia ngotot ingin bertemu," kata Brayne Brown, sekretaris pribadi Alden Black.
"Siapa dia?" tanya Alden sambil mengirim sebuah email dari laptopnya.
"Namanya Jayden Green. Katanya dia orang penting bagi Direktur," ujar Brayne lagi.
"Jayden ...?" gumam Alden sambil mengingat-ingat. Ah, suruh dia ke ruanganku sekarang," perintah Alden.
"Tapi Direktur, lima belas menit lagi kita akan meeting, untuk membahas ekspor produk kita ke luar negeri," kata Brayne mengingatkan.
"Nggak apa-apa. Aku jamin dia nggak betah lebih dari lima belas menit di ruanganku," kata Jayden dengan percaya diri.
"Baiklah, kalau gitu aku akan mengantarnya ke sini," kata Brayne.
"Ah, Brayne. Bisakah kamu bawakan permen mint saat ke sini nanti? Lidahku rasanya aneh, karena menghisap darah cewek-cewek jahat itu kemarin," pinta Alden sebelum sekretarisnya pergi.
"Baiklah," jawab Brayne singkat.
Beberapa saat kemudian.
"Halo, calon menantuku. Aku nggak menyangka perusahanmu jauh lebih besar, dari yang disebut oleh orang-orang," kata Jayden. Pandangannya menyapu seluruh sudut ruang kerja Alden yang mewah dan modern tersebut.
"Silakan duduk, Ayah," ujar Alden, mempersilakan tamu pentingnya untuk duduk. Dia juga meminta sekretarisnya untuk menghidangkan teh.
"Jadi, ada apa Ayah ke sini? Maaf aku belum sempat mengabari keadaan Flo, setelah membawanya pergi," tanya Alden dengan sangat ramah. Dia juga mengganti panggilannya terhadap Jayden, dari 'Bapak' menjadi 'Ayah'.
Jayden tersenyum sumringah, mendengar Alden memanggilnya dengan sebutan ayah.
"Ah, tidak apa-apa. Aku yakin, Flo pasti aman bersamamu," kata Jayden. Tidak ada raut wajah cemas tergambar di wajahnya, layaknya orang tua yang melihat putrinya pergi bersama seorang pria baru dikenal.
"Tapi kapan kamu mau menikahi putriku? Kabar lamaran kalian sudah tersebar di seluruh kota. Aku jadi pusing di tanya-tanya oleh orang terus," sambung Ayah dari Flo tersebut.
"Aku belum bisa menikahinya, Yah," jawab Alden dengan wajah serius.
"Eh? Kenapa? Bukankah kamu berjanji akan segera menikahinya?" Wajah pria empat puluh lima tahun itu berubah sedikit masam.
"Aku maunya juga begitu. Tetapi Flo menolaknya. Karena baru saja dikhianati oleh kekasihnya, jadi dia nggak mudah percaya padaku," jelas Alden.
"Haah .... Dasar gadis bod*h. Mana mungkin seorang pengusaha terkenal begini bakal menipunya?" gerutu Jayden, menunjukkan rasa kesalnya.
Alden hanya mengerutkan keningnya melihat sikap calon ayah mertuanya, yang berbeda dengan kebanyakan orang tua lainnya.
"Maafkan aku, Nak. Flo memang memiliki watak keras kepala sejak kecil. Pendidikannya juga cukup rendah. Jadi dia nggak bisa membedakan mana orang bermartabat, dan mana yang bukan."
Jayden berusaha menjelaskan keadaan putri bungsunya, agar Alden tidak membatalkan rencana pernikahan ini.
"Aku mengerti, Yah. Tetapi kami tetap butuh waktu untuk saling mengenal," sahut Alden.
"Kalian kan bisa saling mengenal setelah menikah? Sebelum musim dingin adalah waktu pernikahan yang terbaik," ujar Jayden sedikit memaksa.
"Ah, maaf. Aku bukannya memaksa pernikahan ini. Tetapi bagi kami keluarga perempuan, aib jika Flo terlalu lama tinggal di rumah pemberianmu, tanpa hubungan pernikahan," kilah Jayden, agar Alden tak menganggapnya aneh.
"Aku mengerti, Ayah. Aku nanti akan membujuk Flo lagi," janji Alden sambil tersenyum ramah.
"Oh, iya. Karena Flo bukan lulusan sekolah tinggi, jadi kami nggak terlalu menuntut pernikahan mewah seperti putri pertama kami, Violetta. Justru kehidupan setelah pernikahan itu yang lebih penting," kata Jayden mengingatkan.
"Jangan khawatir, Ayah. Aku pasti akan memberikan hadiah pernikahan yang cukup besar nantinya," kata Alden.
...🦇🦇🦇...
"Jadi, apa kamu udah memutuskan untuk menerima lamaranku?" tanya Alden, ketika menemani Flo makan malam.
"Ohok!" Flo yang sedang mengunyah daging kalkun itu pun tersedak. Alden buru-buru memberinya minum.
"Alden, ini baru sebelas jam sejak kamu memberiku waktu untuk berpikir," ujar Flo setelah meneguk segelas air putih.
"Ah, sayang banget. Padahal aku udah bertekad melepaskan status jomblo ini, sebelum tahun berganti," kata Alden sambil mengerucutkan bibirnya.
"Terus kenapa kamu malah memilih aku, dan bukannya para gadis yang mengejarku itu?" tanya Flo kemudian.
"Floretta, apa ada hal yang bisa aku lakukan, biar kamu menerima lamaranku?" tanya Alden tanpa merespon kalimat Floretta barusan.
"Alden ..."
"Apa pun yang kamu mau, pasti akan aku kabulkan. Atau kita pergi ke mall dan membeli baju baru untukmu," tawar pria tampan itu lagi.
"Alden, dengarkan aku dulu!" teriak Flo tiba-tiba.
"Oh, oke ..." Alden terkejut dengan sikap Flo yang tiba-tiba berubah.
"Maaf, aku nggak bermaksud membentakmu. Tetapi kamu harus tahu, aku nggak menolak dan memilih pria karena hartanya," kata Flo lagi.
"Kalau begitu karena apa?" tanya Alden penasaran.
"Aku ... Hanya butuh orang yang bisa membuatku nyaman dan aman," ujar Flo lirih. Dia sendiri ragu mengatakan hal itu.
"Hmm, baiklah. Aku nggak bisa memaksamu," sahut Alden. Pria itu meletakkan sendok dan garpunya di piring. Dia sudah selesai makan malam.
"Tapi aku serius untuk mengajakmu berbelanja, Flo. Ku lihat kamu cuma punya beberapa lembar baju, dan itu jauh lebih jelek daripada baju para pelayanku," kata Alden.
"Aku rasanya ingin di rumah aja seharian. Aku nggak sanggup menghadapi tatapan wanita yang menusukku, karena udah merebutmu dari mereka semua," jawab Flo.
"Floretta, kamu harus tahu satu hal. Kamu akan aman selama bersamaku. Tidak akan ada yang berani mengganggumu," ucap Alden.
Tatapan mata Alden yang menunjukkan ketulusan, membuat Floretta sedikit luluh. Tapi kepribadiannya yang sangat misterius, membuat gadis itu berpikir ulang untuk menerimanya.
"Kalau kamu nggak nyaman dengan tatapan mereka, aku bisa menyewa seluruh mall selama satu hari untuk berbelanja," bujuk Alden lagi.
"Nggak perlu, Alden. Aku jadi semakin sulit untuk menerimamu, kalau kamu kayak gini terus." Floretta kembali menolak perhatian yang diberikan Alden. "Aku juga pasti akan mengumpulkan uang, untuk membayar semua biaya, selama aku tinggal di sini," kata Flo dengan cepat.
Alden memandang Flo cukup lama tanpa berkedip. "Kamu mau terus terang-terangan menjaga jarak denganku?" kata Alden dengan sedih. "Baiklah, kamu boleh melakukan apa pun. Aku gak akan melarangmu lagi, termasuk membayar biaya sewa rumah ini."
Setelah mengatakan hal itu, Alden pun pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Flo.
...🦇🦇🦇...
"Selama tinggal di sini, rasanya aku seperti terlahir kembali. Aku tidak perlu bekerja keras lagi dari pagi sampai malam seperti dulu. Apa aku terima saja ya lamarannya?" pikir Flo mulai bimbang.
"Ah, nggak! Itu pasti cuma akal-akalannya saja. Aku pasti saat ini sedang dimanja sebelum dijual, seperti domba yang hendak disembelih," pikir Flo satu detik kemudian.
"Bu Magenta, apa aku tadi sudah bicara keterlaluan pada Alden? Kayaknya dia marah banget sama aku," kata Flo, saat baru selesai makan malam.
"Aku nggak bisa memihak salah satu di antara kalian berdua," jawab Bu Magenta, yang sudah lama bekerja sebagai pelayan di keluarga Alden.
"Kamu pasti bingung, karena dilamar secara mendadak seperti itu. Tapi dia juga nggak bisa disalahkan, karena sejak kecil dia harus bersikap ototiter untuk menjaga kedudukannya," jelas Bu Magenta.
"Ah, gitu rupanya. Pasti hidupnya berat sekali," kata Flo menanggapi.
"Mungkin kamu nggak tahu. Inilah pertama kalinya Alden tersenyum dan makan bersama orang lain sejak kedua orang tuanya meninggal beberapa tahun yang lalu?" kata Bu Magenta. Kedua alisnya bertaut, menunjukkan raut wajah sedih.
"Eh? Yang benar? Ibu bilang begitu karena ingin membujukku, kan?" ucap Flo.
Bu Magenta menggelengkan kepalanya dengan mantap. "Aku bilang gini, karena udah menganggap Alden seperti anakku sendiri. Aku sangat senang karena dia memilih calon istri berdasarkan kepribadiannya," ungkap Bu Magenta.
"Kata sekretaris pribadi Alden, sepanjang hari ini ayahmu meneror Alden untuk segera menikahimu. Tapi Alden menahannya, karena tak mau memaksamu," kata Bu Magenta lagi.
"Apa? Ayah meneror Alden?" Flo terkejut mendengarnya.
(Bersambung)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Sandisalbiah
itu krn ayah Flo gila harta.. mereka mengincar hadis pernikahan dr Alden..
2024-06-15
1