Ting! Ting! Ting! Ting!
Belasan pesan masuk, saat HP Flo sudah tersambung ke jaringan wi-fi. Gadis cantik itu melihat nama pengirim pesan itu sambil membuang napas dengan kasar. Dia lalu membuka satu per satu pesan masuk itu.
"Flo, sayang. Kapan kamu mau mengirim uang pada Ibu? Ibu dengar gajimu sudah dibayar oleh pemilik restoran dan petani kentang itu."
"Wah, apa ini? Sejak kapan Ibu memanggilku sayang?" celetuk Flo, ketika membaca pesan itu.
"Flo, apa kamu membaca pesan dari Ibu? Kapan upacara pernikahan kalian akan dilaksanakan? Ibu sudah memilih gedung dan katering mahal untuk pernikahanmu nanti. Ibu juga udah menyusun seribu daftar tamu undangan."
"Apa? Kenapa Ibu melalukan hal itu? Padahal aku aja belum menerima lamaran Alden," kata Flo dengan gusar. Hatinya benar-benar kesal pada kedua orang tuanya, yang seakan-akan menjualnya pada seorang konglomerat.
Floretta kemudian membaca pesan berikutnya.
"Nak, kamu membaca pesan dari Ibu atau tidak, sih? Kenapa tidak dibalas? Kamu nggak melupakan jasa-jasa kami, yang udah membesarkanku dengan baik, kan?"
"Oh, jadi memberiku roti berjamur dan susu yang hampir basi itu namanya membesarkanku dengan baik?" cibir Flo.
Masih ada beberapa pesan lagi yang belum di bacanya.
"Flo, kamu masih belum mentransfer uang gajimu? Persediaan gandum dan telur di rumah sudah mau habis. Terus Tuan Cyan juga sudah menagih hutang kita. Kamu tega hidup bahagia di sana, sementara Ibumu hidup dalam kemiskinan?"
Floretta semakin muak membaca pesan-pesan dari ibunya tersebut. Bukannya ingin durhaka, tetapi selama ini dia lah yang menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Flo selalu hidup dalam kesulitan bagaikan anak buangan sejak kecil. Entah kenapa, dia baru bisa menikmati hidup setelah pindah ke apartemen ini.
"Flo, kamu beneran mau mengabaikan pesan dari Ibu? Hari ini Tuan Cyan datang lagi ke rumah, mengih hutang kita. Kenapa kamu membiarkan Ibumu seperti ini? Padahal kamu akan menjadi istri seorang konglomerat."
Hati Floretta semakin pedih, membaca pesan terakhir dari ibunya tersebut.
"Kenapa harus aku yang membayar hutangnya? Padahal uang itu selama ini digunakan sama Kak Vio untuk membeli make up dan baju-baju mahal."
Floretta tidak bisa lagi menahan air matanya, yang menggenang di pelupuk mata. Dadanya terasa sangat sesak. Rasanya dia sudah lelah, diperas seperti itu sejak kecil.
"Apa boleh kali ini aku menjadi anak yang durhaka?" pikir Flo dengan air mata menganak sungai di pipinya. Jemarinya terus membuka setiap pesan masuk ke HP-nya.
"Flo, Ayah udah bertemu dengan Alden kemarin. Katanya kamu mau menunda pernikahan. Kenapa? Kamu mau melepaskan rezeki nomplok ini? Padahal Alden benar-benar ingin menikahimu."
Kali ini yang mengirim pesan adalah Jayden Green, Ayahnya Floretta. Sikapnya sebelas dua belas dengan sikap sang ibunda, yang terus menerus memperlakukannya dengan kasar.
"Kalau kamu menolak menikah dengan Alden, maka Ayah terpaksa menikahkanmu ddngan anak Tuan Cyan, agar hutang kita segera lunas."
"Apa? Menikah dengan bocah manja pemabuk itu?" Flo bergidik ngeri, membaca ancaman dari ayahnya tersebut. "Apa aku nggak punya pilihan lain? Apakah hidupku hanya untuk dioper ke sana sini seperti bola?" bisik Flo dalam isak tangisnya.
Hanya tinggal satu pesan lagi yang belum dibaca, dan itu dari Violetta. Sebenarnya Flo enggan membukanya, tetapi hati kecilnya merasa penasaran dengan isinya. Pada akhirnya, jemarinya yang lentik itu membuka pesan terakhir tersebut.
"Hei, berani-beraninya kau menikah dengan orang kaya! Kau itu cuma terlahir untuk jadi pelayan. Batalkan pernikahan itu, atau aku akan mengganggu rumah tanggamu selamanya!"
Flo tertawa lebar membaca isi pesan tersebut. Tetapi air matanya mengalir lebih deras lagi.
"Belum puas dia merebut kekasihku, tapi sekarang dia malah berencana meanghancurkan rumah tanggaku?" gumam Flo sembari tertawa.
"Kenapa nggak ada satu pun yang menyayangi aku? Apa aku ini hanya budak di mata mereka?" jerit Flo dalam hati. Dia menangis dan tertawa dalam waktu bersamaan.
Tok! Tok! Tok!
"Flo! Apa yang terjadi padamu? Kamu sakit?" terdengar Bu Magenta memanggil Flo dari luar.
"Aku nggak apa-apa, Bu," jawab Flo sambil membuka pintu kamarnya.
...🦇🦇🦇...
"Uh, sejak kapan aku ketiduran di lantai begini? Badanku rasanya beku, karena menahan dingin semalaman." Floretta lalu berpindah ke kasur lalu menarik selimut.
Grroowll! Mendadak perutnya berbunyi. Floretta baru teringat, kalau tadi malam dia tidak makan. Setelah kecapekan menangisi nasibnya, gadis itu tertidur di lantai dan melewatkan waktu makan malam.
"Apa masih ada makanan di meja? " Flo berjalan berjingkat-jingkat menuju ke dapur, agar tidak membangunkan orang lain.
Ternyata wanita itu tidak menemukan apa-apa di atas meja makan. "Ah, sebaiknya aku minum susu saja untuk mengganjal perut," gumam Flo kemudian.
Gadis itu lalu membuka kulkas dan mengambil sekotak susu yang dibelinya tadi siang. Namun kedua matanya menatap sebuah botol berisi cairan berwarna merah pekat, yang disembunyikan di antara sayuran.
"Loh, ini apa? Jus strawbery? Atau jus delima? Katanya mereka nggak suka buah?"
Floretta yang merasa penasaran pun mengambil botol berwarna merah pekat itu. Dia lalu membuka tutupnya dan ...
"Huek! Ini darah? Kenapa ada darah di sini?" Seketika perut Flo pun mual, mencium bau amis dari dalam botol itu.
"Itu bukan urusanmu, dan cepatlah kembali ke kamar."
Seorang wanita tiba-tiba menegur Floretta. Bagaikan dihipnotis, gadis itu pun kemudian meninggalkan dapur tanpa banyak protes, sembari memegang sekotak susu.
...🦇🦇🦇...
Pagi harinya.
"Loh, kok aku tidur sambil bawa sekotak susu?" Flo ternyata melupakan kejadian yang dia alami tadi malam. "Ah, harum banget, kayaknya Bu Magenta lagi masak sop daging, deh," pikir Flo.
Gadis itu lantas membersihkan dirinya, dan mengenakan pakaian rapi. Kehidupannya saat ini benar-benar seperti sorang Nona Muda, dari keluarga kaya raya.
"Duh, perutku berbunyi dari tadi. Ibu masak apa?" Floretta yang telah berdandan rapi, melangkahkan kaki dengan riang, menuju ruang makan.
"Kayaknya kamu jadi lebih ceria, ya, saat aku lagi pergi." Tanpa Floretta sadari, seorang pria tampan duduk manis di meja makan. Seperti biasanya, tampilannya selalu rapi dan wangi.
"A-alden? Kamu udah pulang dinas?" Flo terperanjat, mendengar sapaan pagi yang tiba-tiba tersebut.
"Ya, aku pulang tadi malam," jawab Alden. "Duduklah, aku membawakan beberapa hadiah untukmu," ucapnya.
Pria bermata biru kehijauan yang indah itu lalu beranjak dari kursinya. Dia lalu menyerahkan sebuah koper biru yang cantik pada Floretta.
"Ambillah. Itu milik ibuku. Karena kamu nggak mau diberikan baju baru, jadinya aku membawakan baju-baju ini untukmu," kata Alden dengan nada rendah.
"Beneran aku boleh menerima ini?" Flo merasa nggak enak menerimanya, karena mengingat ibunda Alden sudah tiada.
"Ya, ambillah. Lebih baik kamu pakai, daripada dibiarkan lapuk di dalam lemari. Meskipun baju bekas, tapi kualitasnya masih bagus, kok," ucap Alden.
Floretta pun menuruti perintah Alden. Matanya terbelalak, melihat baju-baju mewah milik mendiang ibunda Alden.
"I-ini semua barang mahal, Alden. Rasanya aku nggak berhak menerimanya," ucap Flo dengan polos.
"Kenapa nggak? Kamu itu kan calon istriku. Yah, kalau kamu menerima lamaranku," jelas pria itu.
"Kenapa kamu baik sekali padaku? Ku pikir kamu marah, karena aku menolak semua perhatianmu waktu itu," kata Flo bingung.
"Untuk apa aku marah? Aku mengerti keadaanmu. Pasti rasanya sesak banget, dilarang ini dan itu," kata Alden sambil melempar senyum. "Percayalah, aku ada di sini untuk melimpahkan kasih sayangku padamu," sambung pria itu.
Flo menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Alden, aku menerima lamaranmu. Aku bersedia jadi istrimu," ucap Floretta tiba-tiba.
(Bersambung)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Sandisalbiah
semoga Flo tdk bodoh dgn menuruti semua permintaan keluarga toxic nya itu
2024-06-15
1