"Kenapa lagi, sih? Kau tinggal terima semua yang aku berikan aja kok nggak mau? Kamu tahu nggak, berapa banyak wanita yang menginginkan posisimu itu?" ujar Alden. Kedua matanya tampak berkilat-kilat menahan emosi.
"Aku ingatkan satu hal padamu, jangan pernah coba-coba meninggalkan tempat ini tanpa izin dariku, atau kau akan mati," ancam Alden.
Seluruh tubuh Floretta bergetar ketakutan, mendengar ancaman dari Alden barusan. "Gawat! Sepertinya aku baru saja lepas dari kandang buaya, tetapi malah masuk ke kandang harimau," pikir Floretta cemas.
"Nggak ada yang perlu kamu tanyakan lagi, kan? Kalau begitu urusan kita sudah beres. Tinggal mempersiapkan semua kebutuhan pernikahan," kata Alden menyudahi pembicaraan itu secara sepihak.
"Tunggu dulu. Coba katakan, aku istri ke berapa Tuan? Walau pun aku ini miskin dan nggak punya tempat tinggal, tetapi aku bukanlah cewek murahan yang bisa dibeli dengan harta," ucap Floretta tegas.
"Istri? Kamu menuduhku membuat harem di kota ini?" Alden tertawa mendengar tuduhan Floretta barusan. "Kalau aku katakan kamu adalah yang pertama, apa kamu akan percaya?" sambung Alden lagi.
"Aku tetap nggak percaya. Mana mungkin pria tampan seperti Anda belum punya pasangan," balas Floretta dengan wajah serius.
"Oh, jadi kamu mengakui kalau aku ini tampan?" ujar Alden sambil tertawa kecil.
Deg! Deg! Deg! Jantung Floretta berdebar dengan cepat. Seharusnya dia merasa risih, karena Alden terus menggodanya. Bukannya berdebar-debar seperti ini.
"Uh, pertanyaan menjebak," ujar Flo dalam hati.
Alden masih memandang Floretta dengan senyuman manisnya yang bergitu menggoda. Dia menantikan jawaban dari gadis mungil di hadapannya.
"Rasanya aku berbohong, kalau mengatakan Anda nggak tampan, Tuan. Tapi bukan berarti saya menyukai Anda," kata Flo, setelah mengendalikan perasaannya.
"Ya, tentu aja. Semua wanita pasti mengakui kalau aku ini tampan," kata Alden dengan bangga.
"Astaga, sombongnya ..." batin Flo. Dia mendadak menyesal mengatakan kalau Alden tampan.
"Jadi, harusnya kamu bangga karena aku yang tampan ini memilihmu," kata Alden lagi.
"Jadi Anda pikir, karena aku ini jelek dan miskin, aku nggak punya pilihan untuk menolaknya?" kata Flo dengan ketus.
"Sejak awal aku nggak pernah bilang kalau kamu jelek, tuh,” sahut Alden seraya megangkat cangkir minumannya. Pria itu menjeda kalimatnya sejenak, lalu meneguk isi cangkir tersebut.
“Kamu yakin mau menolakku? Seperti kata ibumu tadi, kesempatan emas gak akan datang dua kali," kata Alden berusaha meyakinkan Floretta.
"Maaf Tuan, jawabanku tetap sama," sahut Flo dengan cepat.
Alden tidak segera merespon kalimat Floretta barusan. Dia justru menawarkan sepiring biskuit dan segelas cokelat hangat yang sejak tadi tidak disentuh oleh Floretta.
"Aku mohon, tinggallah di sini untuk sementara waktu. Sebentar lagi musim dingin akan datang, dan sulit mencari rumah dengan biaya sewa yang murah," pinta Alden.
"Lalu tolong jangan panggil aku 'Tuan'. Kita nggak hidup di abad ke delapan belas yang harus bicara formal setiap saat. Panggil saja aku Alden," imbuhnya pria itu.
Floretta menatap wajah pria itu lekat-lekat. Dia tidak lagi melihat gaya arogan, yang tadi ditunjukkan oleh pria itu. Nada suaranya juga menjadi lebih rendah.
"Kenapa bersikap seperti ini, Tuan? Ah, maksudku Alden. Kita baru bertemu hari ini, tetapi kamu udah banyak membantuku, bahkan hendak menikahiku. Siapa kamu sebenarnya?" ujar Floretta.
"Namaku Alden Black. Aku putra kedua dari pasangan Adellard Black dan Selene Blanche. Aku lulusan University of Heidelberg, dari jurusan teknologi pangan," jelas Alden.
"Wow, ternyata kedua orang tuanya bukan orang sembarangan," batin Flo takjub.
Adellard Black dan Selene Blanche adalah konglomerat nomor satu, menurut versi salah satu majalah bisnis beberapa tahun yang lalu. Mereka juga dikenal sebagai konglomerat yang sangat dermawan, karena sering memberi santunan di beberapa panti asuhan dan panti jompo.
"Lalu soal larangan pergi dari sini tadi, itu bukanlah ancaman. Kamu memang bisa saja mati, jika keluar dari tempat ini seorang diri," jelas Alden lagi.
"Kenapa begitu?" tanya Flo bingung.
"Sejak aku mengumumkan akan menikahimu, maka sejak itu pula kamu jadi incaran semua wanita di kota ini. Kalau mereka sudah nekat, nggak segan-segan pasti akan membunuhmu," ujar Alden.
"Lalu gimana dengan pekerjaanku? Mereka pasti marah, kalau aku pergi begitu saja," kata Flo lagi.
"Aku sudah mengurusnya. Nanti majikanmu dari kebun kentang dan restoran kecil itu akan mentransfer gajimu, selama sebulan terakhir. Jadi kamu nggak perlu bekerja di sana lagi," jelas Alden lagi.
"Semakin dilihat, pria ini semakin mengerikan. Ternyata dia sudah menyusun rencana dengan sangat baik, sebelum datang menemuiku. Apa tujuan sebenarnya mendekatiku?" ucap Flo dalam hati.
"Apa kita sebelumnya pernah bertemu?" tanya Flo penasaran.
"Iya, kita sering bertemu," jawab Alden sembari melemparkan senyuman manisnya.
...🦇🦇🦇...
"Alden Black terpilih menjadi kapten tim basket, di SMA. Alden Black mendapat beasiswa di universitas ternama. Alden Black menghadiri konferensi ekonomi tingkat Uni Eropa."
"Haaah, apa nggak ada berita lain tentang pria itu? Kenapa semua beritanya bagus-bagus, sih? Apa dia nggak pernah melakukan hal konyol sekali pun?"
Floretta meletakkan HP-nya ke atas kasur. Matanya lelah karena menatap layar HP selama dua jam lebih, hanya untuk mencari informasi lebih tentang Alden Black.
Sampai paket internet yang dimilikinya habis, Floretta hanya menemukan satu informasi penting. Kedua orang tua Alden Black sudah meninggal dalam kecelakaan misterius, sejak dia masih kuliah.
Alden Black pun menjadi pewaris utama perusahaan keluarganya, berdasarkan surat wasiat yang ditinggalkan oleh orang tuanya.
"Kenapa dia yang menjadi pewaris utama, ya? Padahal katanya dia punya saudara laki-laki? Dan di internet juga nggak ada berita tentang kakaknya sama sekali," pikir Flo bingung.
"Pokoknya aku tidak mau menikah dengan pria asing itu" ucap Floretta pada dirinya sendiri.
"Meskipun dia kaya, belum tentu aku bisa hidup bahagia dengannya. Apalagi dengan caranya yang merendahkan aku tadi."
"Walaupun dia baik dan mengizinkan aku untuk tinggal di sini, aku tetap nggak bisa mempercayainya. Entah kenapa dia seperti menyembunyikan sesuatu. Bisa saja dia memang pelaku perdagangan manusia, yang menggunakan wajah tampannya untuk menarik perhatian orang."
Pikiran Floretta terhadap pria yang melamarnya semakin liar.
“Aku nggak bisa diam di sini saja.”
Floretta tidak menghiraukan peringatan dari Alden, bahwa semua wanita di kota itu sedang mengincarnya. Gadis itu menyambar sebuah mantel berwarna hitam, dan berjalan berjingkat-jingkat menuju keluar kamar.
Dengan sangat hati-hati, Floretta membuka pintu apartemen tersebut, lalu menuruni tangga darurat dengan cepat. Dia sengaja lewat sana, untuk menghindari pertemuan dengan orang lain.
Sayangnya kamar Floretta berada di lantai atas, sehingga butuh waktu lama untuk mencapai lantai bawah.
Tuk! Tuk! Tuk!
Floretta mendadak sembunyi, ketika mendengar suara ketukan sepatu di lantai basement. Beberapa saat kemudian suara langkah kaki itu menghilang. Flo pun menggunakan kesempatan ini untuk segera kabur.
"Hahaha ... Kena kau! Malam ini juga kau pasti bakal mati, Floretta!"
Tanpa sempat mengelak, Flo akhirnya ditangkap oleh beberapa orang perempuan yang tidak dia kenal. Salah satu diantaranya langsung membekap mulut Floretta, dan melucuti mantel yang dikenakan gadis mungil itu.
"Ternyata dugaan kita nggak salah. Alden menyembunyikan gadis itu di apartemen ini. Dan karena kebodohannya sendiri, pekerjaan kita untuk melenyapkannya semakin mudah," kata salah seorang di antara mereka.
"Hei, kalian! Jangan coba-coba mendekati wanitaku!" Alden tiba-tiba muncul dari tengah kegelapan, dan langsung bergerak cepat nenyelamatkan Floretta.
"Hah, aku pasti udah gila. Masa pria itu menggigit leher cewek-cewek itu dan menghisap darah mereka?" pikir Floretta, sebelum akhirnya pingsan.
(Bersambung)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Sandisalbiah
dablek nya Flo.. mungkin Alden tau tentang Flo dr si burung hantu
2024-06-15
1