"Hei, kalian! Jangan coba-coba mendekati wanitaku!"
Seorang pria tiba-tiba muncul dari dalam kegelapan. Dia lalu bergerak cepat menyelamatkan Flo dari para pengganggu itu.
"Aku tandai wajah kalian semua! Kalau sekali lagi berani mendekati calon istriku, kalian akan lenyap dari muka bumi ini," ancam Alden.
Para wanita itu langsung berlari menjauh sambil meringis kesakitan. Mereka semua tidak berani menoleh ke belakang lagi.
"Hah, aku pasti udah gila. Masa dia menggigit leher dan menghisap darah cewek-cewek itu?" pikir Floretta, sebelum akhirnya pingsan.
"Floretta!" seru Alden. Dia bergerak cepat menangkap gadis itu, sebelum tubuhnya menyentuh lantai.
Brak! Alden membuka pintu apartemennya dengan kasar. Dia lalu membaringkan tubuh Floretta yang terkulai lemas, di atas tempat tidur. Pria itu kemudian membentangkan selimut tebal di sekujur tubuh gadis mungil itu.
"T-tuan? Apa yang terjadi?"
Para pelayan yang baru aja terjaga, berdiri di depan pintu kamar. Wajah mereka tampak ketakutan, seperti baru saja melakukan kesalahan fatal.
"Kalian tanya apa yang terjadi?" ucap Alden dengan intonasi tinggi. Dia lalu keluar dari kamar Flo, dan menutup pintu dengan rapat.
"Apa perintahku tadi kurang jelas? Jangan biarkan gadis itu meninggalkan apartemen ini satu langkah pun. Tidak ada seorang pun yang boleh menyentuhnya, selain aku," kata Alden dengan mata berapi-api.
"Maafkan kami, Tuan. Ini kesalahan dan kelalaian kami. Kami tidur terlalu nyenyak, sampai nggak nenyadari kalau dia keluar dari sini. Kami pantas dihukum," ujar salah seorang pelayan.
"Sudahlah, aku lagi nggak berminat menghukum kalian bertiga. Tapi mulai detik ini, aku melarang kalian untuk tidur. Jaga gadis itu, jangan sampai kabur lagi. Atau kalian akan jadi santapan peliharaanku," perintah Alden disertai sebuah ancaman.
...🦇🦇🦇...
"Uh ..." Floretta mengedipkan matanya yang silau. Seberkas sinar matahari yang cukup redup, masuk melalui celah ventelasi jendela.
"Eh, sekarang udah pagi? Jadi aku gagal kabur dari sini?" seru Floretta sembari mengedipkan matanya berkali-kali.
Udara di kota itu sudah terasa semakin dingin, menandakan musim dingin akan segera tiba.
Ceklek! Floretta membuka pintu kamarnya secara perlahan. Setelah memastikan keadaan aman, dia pun melangkahkan kakinya menuju keluar.
"Kau sudah bangun, Floretta?"
"Astaga! Ya ampun! Oh, jantungku yang malang," seru Floretta. Dia terkejut melihat seorang pria yang duduk santai di sofa paling ujung, dengan secangkir kopi di tangannya.
Floretta mendadak malu. Tampilannya yang kusut karena bangun tidur, sangat kontras dengan penampilan rapi dari pria itu. Alden mengenakan kemeja hitam polos, yang dipadukan dengan celana jeans. Sebuah arloji mahal, melingkar di tangan kirinya. Lalu rambutnya yang hitam, ditata rapi dengan minyak rambut beraroma Almond.
"A-anda nggak pergi bekerja, T-tuan?" tanya Floretta sembari merapikan rambutnya dengan jari. Sudah terlambat baginya untuk kembali ke dalam kamar dan merapikan diri.
"Duh, aku sedih karena kamu masih memanggilku Tuan." Alden meletakkan cangkir yang dipegangnya ke atas meja. "Aku memang mau pergi ke kantor, kok. Tapi setelah memastikan keadanmu baik-baik aja. Kamu nggak terluka kan, waktu hampir kabur tadi malam?"
Wajah Flo memerah, ketika mendengar kalimat sindiran pria itu. " M-maaf, aku hanya ..."
"Haah, rupanya hanya aku yang menganggapmu spesial. Tapi kamu masih menjaga jarak denganku. Bahkan mau kabur dari sini," ucap Alden sambil mengerucutkan bibirnya.
Floretta memandang Alden dari ujung kepala, hingga ke ujung kaki berkali-kali. "Kayaknya ada kejadian penting tadi malam saat aku kabur, tapi apa, ya? " Flo bertanya-tanya dalam hati. Dia merasa telah melupakan sebuah kejadian penting.
"Kenapa kamu memandangku seperti itu?" tanya Alden dengan heran.
"Eh, anu .. Nggak ada apa-apa, kok." Flo menahan malu, karena kepergok sedan memperhatikan Alden.
"Oh iya. Hari ini aku udah bikin janji dengan designer gaun ..."
"Aku nggak mau menikah denganmu, Alden!" jerit Flo, tanpa menunggu Alden menyelesaikan kalimatnya.
"Kamu udah lihat kan, tadi malam? Satu langkah saja kamu keluar dari ruangan ini, maka para gadis itu akan menyerbumu seperti zombie," kata Alden dengan santai.
"Aku akan umumkan di media sosial, kalau rencana pernikahan kita batal. Dan aku mengizinkan semua gadis di kota untuk mendekatimu. Jadi aku bebas keluar dari sini," kata Flo dengan tegas.
"Cerdik juga gadis ini. Dia nggak bisa diancam menggunakan kekerasan. Aku harus lebih berhati-hati mengatasinya," pikir Alden semakin waspada.
"Duduklah dulu. Kita bicarakan hal ini baik-baik," kata Alden sembari menepuk-nepuk sofa di hadapannya.
Flo menatap Alden dengan ragu. Namun karena pria itu tidak menunjukkan sikap arogan seperti kemarin, akhirnya gadis sembilan belas tahun itu pun menurut.
"Maaf kalau kata-kataku kemarij melukai hatimu, Floretta. Aku nggak bermaksud merendahkanmu."
Raut wajah Alden mendadak sedih. Nada suaranya pun terdengar lebih rendah.
"Sebenarnya kamu adalah wanita yang cerdas dan baik hati. Karena itulah aku memilihmu," sambung Alden lagi.
"Itu pasti bohong, kan? Aku yang hanya lulusan SMP, mana bisa dibilang wanita cerdas?" balas Floretta dengan ketus. Dia masih belum bisa mempercayai Alden, meskipun pria itu berbicara dengan nada lembut.
"Tingkat pendidikan nggak bisa jadi tolak ukur untuk kecerdasan seseorang. Banyak orang dengan lulusan universitas ternama malah nggak punya kecerdasan attitude," kata Alden lagi.
Floretta tidak bisa membantah kalimat Alden barusan. Dan hatinya sedikit merasa senang, mendengar pujian itu.
"Duh, aku pasti udah gila. Aku nggak boleh terlena sama pesonanya," ucap Flo dalam hati.
"Aku nggak akan memaksamu lagi untuk menikah denganku," kata Alden. "Tapi aku berharap kamu bisa memikirkannya lagi karena niatku benar-benar serius," imbuhnya.
"Kenapa aku nggak melihat kebobongan dari sorot matanya?" pikir Flo tanpa menjawab ucapan Alden barusan.
"Aku masih nggak mengerti. Kamu bisa memilih siapa pun untuk jadi istrimu. Bahkan para gadis di luar sana berlomba-lomba untuk memilikimu, Alden. Tapi kenapa kamu malah memilih gadis miskin kayak aku?" Flo mengulangi pertanyaan yang sama seperti kemarin.
"Aku nggak bisa mengatakannya sekarang. Tapi percayalah, aku hanya ingin melindungimu dan aku membutuhkan kecerdasanmu itu," jawab Alden.
Jantung Floretta kembali berdebar cepat, mendengar ucapan Alden tersebut. Ini pertama kalinya dia mendengar seseorang ingin melindunginya.
"Lagi-lagi aku nggak bisa melihat kebohongan dari sorot matanya. Apa dia sedang menghipnotisku? Atau dia tahu, kalau aku nggak punya pilihan lagi," batin Flo.
"Baiklah, aku akan tinggal di sini untuk sementara waktu. Tapi soal pernikahan aku belum bisa memutuskannya, sampai aku mengenalmu." Floretta akhirnya mengalah dan ingin mengenal Alden lebih dalam lagi.
"Kau serius? Terima kasih, Flo."
Floretta mengerutkan keningnya, ketika melihat wajah ceria dari pria itu. "Aneh, kenapa dia yang berterima kasih?" pikir Flo sembari menarik tangannya yang hendak digenggam oleh Alden.
"Lalu ada satu hal lagi. Jangan sentuh aku, kecuali kita menikah nanti," larang gadis itu dengan tegas.
"Uh ... Sabar, Alden. Kamu harus tetap bersikap baik, sampai mendapatkan gadis itu. Kamu nggak boleh kehilangan makhluk berharga ini," ucap Alden dalam hati, pada dirinya sendiri.
"Ngomong-ngomong aku penasaran, gimana tadi malam kamu mengusir cewek-cewek itu pergi? Kenapa mereka terlihat ketakutan gitu?" tanya Floretta. Dia masih belum bisa mengingat kejadian tadi malam dengan lengkap.
"Ah, aku mengancam akan memenjarakan mereka kalau masih mengganggumu," jawab Alden sambil memalingkan pandangannya dari Floretta.
"Hmm, kayaknya bukan itu, deh. Tapi hal yang lebih mengerikan lagi. Kenapa aku bisa lupa, ya?" ucap Flo dalam hati.
"Aku pergi ke kantor dulu. Kamu jangan coba-coba kabur lagi, ya," ujar Alden.
"Uh ... Iya, iya. Walau pun aku bakalan bosan menonton TV seharian, aku pasti akan mematuhimu, Tuan Alden," ucap Floretta sambil mengerucutkan bibirnya ke depan.
Setelah Alden pergi, Floretta pun menyalakan TV untuk menemaninya sarapan. Tiba-tiba mata Floretta membulat, melihat berita hangat yang ditayangkan di TV.
"Loh, itu kan cewek-cewek yang menyerangku tadi malam? Aku ingat bajunya. Mereka tewas karena luka misterius di lehernya? Kok bisa?" gumam Floretta dalam hati.
(Bersambung)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Sandisalbiah
siapa Flo sebenarnya kenapa Alden begitu memaksa buat menikahinya
2024-06-15
1