"Itulah maksudku, kenapa kau bisa menikahi gadis manusia? Memangnya tunanganmu kurang cantik dan pintar aeperti apa lagi?" tanya Raven pada sang adik.
"Aku berhak memilih pendampingku sendiri, kan?" balas Alden berupaya menahan nada bicaranya, agar tidak semakin tinggi.
"Tidak. Kamu itu seorang raja, dan memiliki tanggung jawab besar untuk memilih ratu terbaik bagi rakyatnya," jawab Raven dengan tegas.
"Floretta adalah calon ratu yang terbaik bagi kerajaan ini, Kak. Aku sudah mengamatinya sejak lama," ucap Alden meyakinkan sang kakak.
"Manusia lemah itu?" cibir Raven. "Aku yakin, dia pasti tak sanggup melihat ras-nya meregang nyawa ketika kita mengambil darahnya. Terus, gimana dia menjadi ratu nanti?" sambung vampir tersebut.
Alden menundukkan kepalanya. Dia memang masih belum bisa berkata jujur pada Floretta tentang hal ini. Tetapi niatnya untuk tetap bersama wanita itu masih belum surut.
"Kak, ku mohon berikan dia waktu untuk beradaptasi di sini," pinta Alden pada sang kakak.
"Kerajaan kita udah melemah karena dipimpin oleh raja bodoh sepertimu. Tapi kamu malah menambah masalah saja dengan menikahi gadis lemah seperti dia?" ucap Raven dengan ketus. "Katakan padaku tentang asal usul gadis itu," pinta Raven setengah memaksa.
"Aku nggak bisa mengatakannya," ucap Alden tegas.
"Kenapa? Kamu mengambilnya dari panti asuhan? Atau dari tempat hiburan malam?" cibir Raven, memaksa Alden untuk membuka suara.
"Dia bukan wanita seperti itu, kak," bantah Alden.
"Ya terus? Apa dia sudah nengandung bayi dari benihmu?" tuduh Raven lagi.
"Kami bahkan belum ada bersentuhan sejauh itu." Kali ini Alden menjawab dengan nada sangat tinggi, hingga nembuat Raven terlonjak kaget.
"Ya terus kenapa? Kamu bahkan menikah di dunia manusia tanpa mengundangku dan anggota dewan di sini. Semua pernikahan kamu siapkan seorang diri. Tentu saja semua terasa aneh," kata Raven memandang Alden dengan tatapan curiga.
"Yang jelas niatku menikahinya bukan untuk menghancurkan kerajaan ini. Dia justru akan membawa manfaat bagi kita kerajaan ini nantinya," kata Alden meyakinkan sang kakak.
"Entahlah, aku masih meragukan ucapanmu itu. Tapi aku akan mempertimbangkan pilihanmu itu, kalau kamu mau menyerahkan jabatanmu padaku," ucap Raven sambil tersenyum licik.
"Nggak! Pasti ada alasan, kenapa ayah dan ibu membuat wasiat, agar aku meneruskan tahta ayah." Alden menolak menyerahkan tahtanya pada sang kakak dengan tegas.
"Yakin kamu mempertahankannya karena wasiat dari ayah dan ibu? Atau karena kamu memang bocah tamak yang menginginkan kedudukan dan kekuasaan?" balas Raven dengan nada datar dan mengintimidasi.
"Sebaiknya kita lanjutkan pembicaraan kita setelah makan malam. Aku permisi dulu, kak."
Alden menghindari pertanyaan dari sang kakak, dengan alasan makan malam. Baru saja dia hendak keluar dari kamar sang kakak, HP-nya berdering. Dia langsung mengangkatnya.
"Yang Mulia! Yang Mulia Putri Floretta tidak ada di kamarnya," lapor Lily pada Alden. Suaranya terdengar gemetar dan ketakutan.
"Apa? Kok bisa? Bukannya pintu dikunci dari luar? Sudah kalian cari ke ruangan lain?" tanya Alden dengan gusar.
"Sudah, Yang Mulia. Tapi Yang Mulia Putri Floretta tetap tidak ada," lapor Lily.
"Wah, kenapa ini? Apa wanita pujaanmu sudah mulai nggak betah di sini?" sindir Raven sambil tertawa kecil.
...🦇🦇🦇...
Beberapa jam sebelum waktu makan malam.
"Fyuh, syukurlah. Ku pikir dia beneran mau ngelakuin hubungan suami istri denganku."
Floretta bernapas lega, ketika melihat punggung Alden menghilang di balik pintu. Dada wanita itu berdesir, melihat tubuh tegap dan bidang suaminya itu.
Pantas saja semua wanita menyukainya. Tidak hanya wajahnya yang rupawan, tapi sikapnya pada wanita pun begitu lembut dan memesona.
Meskipun pernah berpacaran sebelumnya, Floretta tidak pernah sedekat ini dengan seorang pria. Dia malah sekarang meragukan, apakah hubungannya dengan David dulu itu bisa dibilang pacaran atau tidak.
"Kalian semua, jaga dia baik-baik. Jangan sampai dia keluar satu langkah pun dari kamar ini. Jangan biarkan dia berkeliaran di istana dan mengacaukan rencanaku, sampai hari H nanti."
"Lalu kalian tolong siapkan dua gelas darah spesial untukku. Bawakan ke ruang kerjaku."
Floretta terkejut mendengar perintah yang diberikan Alden kepada para pengawal dan pelayan. Tubuhnya bergetar hebat, mengetahui bahwa Alden hendak mengambil darahnya.
"Hari H? Apa maksudnya? Apa yang dia rencanakan di belakangku?" batin Floretta cemas. Baru saja ingin mempercayai suaminya, dia malah mendengar sesuatu yang mencurigakan.
"Jadi situasinya sekarang, aku terjebak di tengah istana vampir hanya karena menghindar dari keluargaku? Kalau aku tokoh novel, saat ini pasti sedang ditertawakan sama para pembaca karena kebodohanku sendiri," ucap Floretta sambil memandang keluar jendela.
Wanita itu berjalan-jalan di dalam kamar sang raja yang begitu luas dan mewah. Bahkan jauh lebih luas daripada rumah yang dihuninya bersama paman dan bibinya selama ini.
Floretta memandang seisi kamar itu. Semua fasilitas sangat lengkap. Mulai dari ruang baca yang dipenuhi beragam buku, ruang bersantai yang menghadap ke taman istana dengan beberapa rusa di dalamnya, serta ruang tamu dan ruang makan yang sangat mewah.
Tetapi semua fasilitas itu tidak lantas membuat Floretta bahagia. Dia merindukan hari-harinya ketika masih bekerja di kebun kentang, milik seorang petani yang baik hati.
"Apa aku hanya akan dijadikan pajangan di sini? Alden punya tunangan yang cantik, kan? Setelah mereka menikah nanti aku harus bagaimana? Jangan-jangan aku akan dijadikan santapan pesta pernikahan mereka," ucap Floretta lagi.
Tanpa sadar, wanita itu menggigiti jari kukunya untuk menghilangkan rasa cemas. Floretta bahkan telah melupakan rasa sakit di kakinya, akibat melompat dari kamar semalam.
Ada hal yang lebih penting dari semua itu saat ini, yakni nyawanya. Apakah dia masih bisa merayakan ulang tahunnya yang ke dua puluh, jika tetap tinggal di istana vampir yang kelam ini?
"Tapi aku penasaran, di mana perbatasan dunia manusia dan dunia vampir? Kenapa selama ini tidak ada manusia yang mengetahuinya?"
Floretta yang ketakutan, kembali ke atas tempat tidur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal. Dia lalu berselancar di HP-nya, membuka gugel dan mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang bangsa vampir.
Sayangnya dia tidak menemukan informasi apa pun, selain film bertemakan vampir dan urban legend tentang sosok menyeramkan itu.
Tak kehabisan akal, Floretta pun mengambil beberapa buku dari lemari dan mencari informasi tentang kerajaan tersebut. Lagi-lagi hasilnya nihil.
"Masih ada beberapa jam sebelum waktunya makan malam. Aku harus melakukan sesuatu sebelum Alden kembali," ucap Floretta sambil menekan tombol call pada layar HP-nya.
"Ya, Yang Mulia? Ada apa?" sahut Lily melalui sambungan telepon.
"Apa aku bisa minta tolong sesuatu?" ucap Floretta dengan sedikit merintih.
"Tentu, Yang Mulia," jawab Lily lagi.
"Perutku agak sakit. Aku membutuhkan air hangat dan sedikit madu. Apa kamu bisa membawakannya?" pinta Floretta pada pelayan tersebut.
"Ah, i-itu ... Kami dilarang masuk oleh Yang Mulia Raja. Supaya tidak mengganggu Yang Mulia istirahat," ucap Lily dengan lirih.
"Jadi kamu mau mematuhi Yang Mulia Raja dan membiarkan aku merintih kesakitan?" ucap Floretta sambil pura-pura merintih menahan sakit.
"Pokoknya aku harus berhasil membuatnya masuk ke dalam dan menjebaknya," pikir Floretta lagi.
(Bersambung)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments