"Aku, Alden Black menerima Floretta Blue sebagai istriku selamanya," ujar Alden dengan lantang.
"Apa? Floretta Blue?" Para tamu undangan saling berpandangan. "Bukankah namanya Floretta Green? Mana mungkin Alden salah menyebut nama istrinya? Karena hanya ada satu keluarga Blue di sini, dan itu sudah belasan tahun yang lalu."
Suasana di ruang upacara pernikahan itu mendadak ramai. Para tamu yang diundang oleh Jayden dan Olive saling berbisik, dan menatap keluarga pengantin itu dengan sinis.
"Brengsek! Apa yang dilakukan Floretta dan pria kaya itu? Sengaja mau mempermalukan keluarga Green di sini?" gerutu Jayden.
Sementara itu, Floretta reflek melepaskan genggaman tangan Alden. "Kenapa dia bisa tahu nama asliku? Siapa dia sebenarnya?" pikir Flo resah.
"Sstt! Flo, tenanglah. Ini satu-satunya cara agar kamu bisa lepas dari kekangan mereka selamanya. Aku janji nanti akan menceritakan semuanya padamu," bisik Alden.
"T-tapi a-aku ..."
"Kalau kita menikah menggunakan nama Green, maka pernikahan kita tidak sah, walau pun tercatat di catatan sipil. Dan kamu akan terus di bawah bayang-bayang keluargamu," bisik Alden meyakinkan sang calon istri.
Floretta yang sedang dalam posisi tidak bisa protes pun akhirnya hanya diam dan mengalah. Meski demikian tubuhnya gemetar ketakutan.
"Siapa sebenarnya pria yang aku nikahi ini?" Hati Flo terus bertanya-tanya, sembari menjalankan rangkaian upacara pernikahan.
Matanya yang indah menatap wajah kedua orang tuanya dari kejauhan. Mereka terlihat sangat marah. Olive dan Jayden terlihat ingin protes, tetapi dihalangi oleh beberapa orang suruhan Alden.
Upacara pernikahan yang sakral dan khidmat itu berakhir dengan lancar, diiringi hujan salju untuk pertama kalinya di tahun itu.
"Luar biasa, pernikahan mereka direstui semesta. Mereka pasti akan menjadi pasangan yang bahagia selamanya," bisik para tamu.
Sebuah mitos yang diceritakan secara turun menurun, bahwa pernikahan yang dilaksanakan saat hujan salju pertama tahun itu, akan menjadi pernikahan paling langgeng dan bahagia selamanya. Hmm, tapi apa mitos itu benar?
...🦇🦇🦇...
"Alden, di mana putriku," tanya Jayden dengan nada tinggi.
"Oh, Floretta sedang berada di ruang pengantin untuk berganti baju," jawab Alden dengan santai. Dia bahkan tersenyum manis seperti biasanya, tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Antarkan aku padanya. Aku ingin berbicara dengannya," pinta Jayden.
"Nggak, bisa. Meskipun dia putrimu, tetap saja tidak sopan melihatnya berganti pakaian," tolak Alden dengan tegas.
"Aku ingin berbicara sebentar padanya, brengsek!" desak Jayden.
"Kalau gitu katakan saja padaku. Karena sekarang aku adalah suaminya," jawab Alden.
Jayden menggrutu kesal. Tetapi dia tidak punya pilihan lain saat ini. Mengulur waktu sama aja dengan membuang kesempatan.
"Kalau begitu aku katakan saja di sini. Pernikahan kalian nggak sah, karena kamu salah menyebut nama putriku," ungkap Jayden.
"Itu benar, kok. Karena nama keluarganya memang Blue, bukan Green. Jadi pernikahan kami sah," jawab Alden dengan tegas.
Jayden menggeram kesal. "Jadi Flo memberi tahumu semuanya? Tapi tetap saja pernikahan kalian nggak sah, karena namanya yang kamu sebutkan tadi nggak sesuai dengan dokumen resmi yang dikeluarkan nanti," ucap Jayden masih tidak mau menyerah.
"Aku memiliki akte kelahiran asli milik Flo, jadi semua nama di dokumen pernikahan menggunakan nama Floretta Blue. Sampai di sini sudah paham, kan? Sebaiknya kalian diam saja, daripada aku bongkar kebusukan kalian lainnya," ucap Alden sambil tersenyum tipis.
"Lalu gimana dengan hadiah pernikahan untuk kami?" tanya Jayden.
"Wah, dasar nggak tahu malu! Tadi kalian bilang pernikahanku dengan Flo itu nggak sah. Tapi hadiah pernikahan tetap saja kalian tagih."
Alden menyindir keluarga dari istrinya tersebut secara terang-terangan.
"Tentu saja kalian nggak dapat. Karena Floretta bukan bagian dari keluarga kalian. Atau lebih tepatnya keponakan jauh kalian," sambung Alden dengan angkuh.
"Tapi tetap aja kami yang mengasuh Flo sejak kecil. Kami sengaja mengganti nama belakang gadis itu, agar dia bisa memiliki keluarga yang utuh lagi," kilah Jayden.
"Dalam tradisi maupun undang-undang di tempat kita, tidak ada kewajiban pengantin pria untuk memberikan hadiah pernikahan pada keluarga yang mengasuhnya, jika dia nggak memiliki keluarga kandung. Sebagai gantinya, semua hadiah pernikahan itu akan berikan pada pengantin wanita."
Alden membeberkan alasan, mengapa dia tidak mau memberikan hadiah pernikahan pada keluarga sang istri, seperti tradisi yang berlaku selama ini.
"Hei, itu nggak adil!" protes Olive.
"Nggak adil? Memangnya seperti apa keadilan yang kalian pahami selama ini? Apakah memeras ketingat seorang gadis mungil itu adil namanya?" balas Alden.
"Kamu salah paham, Alden. Kami bukan mengambil gajinya, tetapi hanya membantunya mengelola uang, karena dia masih di bawah umur waktu itu," bantah Olive.
"Bukannya itu lebih aneh lagi? Dia masih di bawah umur, tetapi kalian malah menyuruhnya bekerja dan bukan sekolah," balas Alden dengan ketus.
"Kalau kalian penasaran dengan hadiahnya, aku memberikannya sebuah mansion besar di kaki bukit yang memiliki panorama danau. Lalu sebuah pabrik roti, sebuah toko buku di kota sebelah, dan beberapa set perhiasan mahal sebagai investasinya," ucap Alden.
"Uh... Terus gimana dengan hutang kami pada Tuan Cyano kalau kamu tidak memberikan hadiah pernikahan?"
"Kenapa Floretta harus bertanggung jawab sama hutang yang uangnya kalian gunakan untuk berfoya-foya?" sahut Alden sambil mencibir.
Jayden dan Olive hanya bisa menelan ludah, mendengar balasan telak dari Alden.
"Aku udah memberikan gaun, sepatu, tas dan perhiasan mahal untuk kalian pakai di pesta ini. Kalian bisa menjualnya lagi jika butuh uang. Jadi kalian berhentilah mengganggu istriku. Biarkan dia hidup bahagia bersamaku," ujar Alden menutup pembicaraan.
Floretta yang mendengar semua pembicaraan Alden dengan Jayden dan Olive itu hanya bisa menangis pilu. Dia sedih melihat sikap paman dan bibi yang sudah dianggapnya sebagai keluarga sendiri. Tapi di sudut hatinya yang lain, Flo juga merasa terharu, karena Alden membela dan melindunginya.
...🦇🦇🦇...
Setelah pesta pernikahan usai, Floretta pun resmi ikut bersama Alden untuk pulang ke kediamannya. Sepanjang perjalanan Flo tertidur. Rangkaian upacara pernikahan yang sangat panjang, membuat tubuhnya kelelahan.
"Flo, sayang. Bangunlah, kita sudah hampir sampai," bisik Alden, seraya mengecup kening istrinya.
Flo pun membuka matanya perlahan. Tetapi sesaat kemudian keningnya berkerut. Flo diam termangu menatap bangunan megah di hadapannya.
Bangunan-bangunan tinggi yang menjulang ke langit itu memiliki arsitektur yang sangat indah dan menakjubkan. Designnya yang unik dan klasik, membuat Flo merasa kembali ke abad pertengahan. Tamannya yang indah dan luas, ditumbuhi beragam tanaman yang saat ini tertutup oleh salju.
Seumur hidupnya Flo tidak pernah melihat tempat tinggal seseorang seluas ini. Dia merasa begitu kecil, dibandingkan rumah milik Alden Black yang kini resmi jadi suaminya itu.
"Ini di mana?" tanya Flo dengan bingung.
"Ini istana kita. Rumah kita mulai hari ini," jawab Alden.
"Hah? Aku pasti masih bermimpi. Memangnya ada tempat seperti ini di negaraku? Ini bahkan lebih mewah dari pada kantor dan rumah dinas walikota," pikir Flo bingung.
"Kamu nggak sedang bermimpi, sayang. Ini memang tempat tinggal kita selamanya," tegas Alden.
"Astaga! Yang benar? Sekaya apa pria ini, sampai dia memiliki istana ini?" pikir Flo dalam hati.
Namun semua pertanyaan Flo justru semakin bertambah, saat mereka sampai di halaman istana yang sangat luas. Beberapa orang berpakaian resmi, berjejer rapi seakan menyambut kedatangan mereka. Mobil yang mereka tumpangi lalu berhenti di depan lobby, lalu seseroang membukakan pintunya.
"Selamat datang Yang Mulia Raja," ucap mereka semua, sembari menundukkan tubuh.
"Yang Mulia Raja? Sandiwara apa ini?" Floreta semakin bingung. "Alden, kamu seorang Raja? Bukannya negara kita di pimpin oleh presiden?" bisik Floretta yang berjalan di sisi suaminya.
"Angkat wajahmu dan tersenyumlah, semuanya sedang melihat kita berdua," balas Alden tanpa menoleh ke arah istrinya.
Jawaban yang keluar dari bibir Alden membuat Floretta kesal sendiri. Bahkan hingga menikah pun, sang suami masih menyimpan banyak rahasia darinya.
Alden terus berjalan memasuki bangunan megah itu, sambil menggandeng tangan istrinya. Floretta tak memiliki waktu untuk ragu-ragu. Wanita yang resmi menyandang statu Yang Mulia Putri Floretta itu pun menyelaraskan langkah kakinya dengan sang suami, sembari tersenyum manis.
"Hei, aku nggak mengerti. Kenapa Yang Mulia memilih istri dari bangsa manusia, yang hanya makanan kita?"
"Bangsa manusia? Makanan?" Flo yang mendengar kata-kata itu langsung bergidik ngeri. "Jangan-jangan ... "
"Selamat datang Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Putri Floretta Blue, calon ratu di kerajaan vampir ini," ujar salah seorang pria dengan pakaian resmi serba hitam.
"Va-vampir?"
Mimpi indah yang ditawarkan oleh Alden pada Flo hancur seketika. Yang bisa dilihat di hadapan Flo saat ini hanyalah mimpi buruk.
(Bersambung)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Sandisalbiah
semoga Flo kuat.. terlalu banyak ujian dlm hidupnya... dan menjadi istri raja vampir merupakan kejutan terbesar sekaligus menyeramkan
2024-06-15
1
Astri
pnsran knp alden tba2 dtg d kehidupan flo.. apakah seblumx mereka pernh bertemu
2023-06-03
2
Alfarossa
Makin seruuu
2023-02-11
4