"Jadi dia perempuan pilihan Yang Mulia? Kenapa seleranya rendah banget, sih?"
Para pelayan di sepanjang koridor saling berbisik, ketika Floretta berjalan menuju ke kamar. Mereka bahkan tidak mempedulikan perasaan Floretta, yang bisa mendengar jelas obrolan mereka.
"Aku nggak ngerti deh sama pilihan Yang Mulia. Aku pikir dia memilih cewek ini karena kecantikannya, atau rasa darahnya yang lezat. Tapi rupanya aromanya saja sudah bikin aku mual. Rasanya udah pasti nggak enak," ujar seorang pelayan sambil menatap Floretta dengan remeh.
Istri dari raja vampir itu mendadak menghentikan langkah kakinya. "Hah? Aroma darahku nggak enak?" Entah kenapa Flo sedikit senang mendengar kalimat itu. Bukankah dia seharusnya tersinggung disebut bau busuk?
"Yang Mulia, tolong abaikan saja ucapan mereka," bisik Leon Hazel, pemuda yang mengawal Floretta.
"Huuufff..." Floretta pun nenghembuskan karbondioksida melalui hidungnya, dan melanjutkan langkahnya kembali.
"Tapi kasihan banget, deh. Baru aja menikah dua hari udah ditinggal sendirian di kastil ini. Apalagi nanti malam si gila itu pulang," bisik para pelayan itu lagi.
"Wah benar juga. Mencium aroma kecoak saja sudah membuat Yang Mulia Raven membabi buta, apalagi manusia dengan darah menjijikkan itu?" timpal yang lain.
"Yang Mulia Raven? Apa dia yang dimaksud Alden tadi?" pikir Floretta dalam hati. "Ah, tunggu! Namanya Raven? Artinya dia saudara laki-laki dari Alden, kan?" Floretta menjadi sedikit penasaran dengan sosok saudara iparnya yang misterius tersebut.
"Ah, kayaknya besok pagi kita harus menyiapkan gaun hitam untuk ke pemakaman," bisik mereka sambil tertawa mengejek.
"Hentikan! Aku bisa mendengar semuanya! Dan tidak akan ada yang mati malam ini. Aku jamin itu!" ucap Floretta dengana nada membentak.
Manusia itu lalu melangkahkan kakinya lebih cepat lagi, agar cepat sampai ke dalam kamar.
"Yang Mulia, saya ada di ruangan sebelah. Kalau ada apa-apa segera panggil saya melalui telepon," ucap Leon sambil membungkukkan badannya untuk memberi hormat.
"Ya, terima kasih," jawab Flo tanpa senyum di wajahnya.
...🦇🦇🦇...
"Astaga! Aku ketiduran!"
Floretta melirik ke arah jendela. Langit sudah tampak gelap. Sementara itu jam di ponselnya menunjukkan pukul delapan malam.
Terlihat beberapa panggilan tak terjawab dari Alden di ponselnya. Ada pesan singkat juga yang dikirim oleh sang raja.
"Kamu nggak apa-apa, kan? Aku akan usahakan pulang malam ini juga," tulis Alden.
"Haaah ... Mau dia pulang cepat atau nggak, tetap aja aku tinggal bersama ratusan vampir di sini," ucap Floretta.
Krucuk! Perut wanita itu terasa melilit. Dia merasa cairan di dalam lambungnya telah penuh. Perutnya sudah berbunyi minta diisi.
"Ah, aku tadi pagi kan nggak sarapan, ya? Bodohnya aku. Harusnya aku bawa saja buah-buahan tadi ke kamar."
Wanita itu menyesali sikap angkuhnya. Sekarang dia bingung, bagaimana caranya untuk mengisi perutnya yang kelaparan. Sedangkan para pelayan tidak bisa masuk, karena dia mengunci pintu rapat-rapat.
Pandangan Floretta berhenti, tatkala melihat sebuah kulkas besar di sudut ruangan.
"I-ini isinya makanan normal, kan? Bukan darah atau jasad manusia? Sejak kapan ada kulkas di sini? Apa mereka memasukkannya saat aku dan Alden sarapan tadi?"
Dengan tangan gemetar, Floretta membuka kulkas dua pintu itu dengan perlahan.
"Astaga! I-ini beneran?"
Mulut Flortta menganga lebar, melihat kulkas itu dipenuhi dengan beragam jenis buah, sayur, roti, telur dan susu.
"Ternyata Alden sudah menyiapkan ini semua untukku?" Wanita itu sedikit merasa terharu dengan perhatian yang diberikan raja vampir itu.
Tok! Tok! Tok! Floretta tidak serta merta membukanya. Dia mengambil sebuah pisau buah dari samping kulkas untuk senjatanya.
Tok! Tok! Tok! Pintu kamarnya kembali di ketuk.
"Mau sampai kapan kau mengurung diri di dalam sana? Cepat buka, sebelum aku dobrak!" Terdengar seorang pria berbicara di balik pintu.
"Alden? Dia udah pulang rupanya."
Floretta menyembunyikan pisau tadi di balik bajunya, lalu bergerak membuka pintu.
"Berani-beraninya kau berada di kastil ini, wanita busuk! Kau juga menyembunyikan pisau buah di balik baju untuk membunuhku?"
Seorang pria dengan ekspresi marah, berdiri tepat di depan pintu kamar Floretta. Pria itu terlihat mengenakan kemeja dan celana hitam, lalu dilapis dengan sweater berwarna krem. Garis rahang pria itu tampak mengeras, dan taringnya yang panjang terlihat dengan jelas.
"A-alden? Kenapa dia berubah jadi jahat?" pikir Floretta bingung. Wanita itu berusaha menutup pintu kamarnya, untuk menghalangi pria itu masuk.
"Wah, kau mencoba menghindar dariku rupanya."
Pria itu bergerak cepat, dan menahan agar pintu tidak tertutup. Sementara tangan kirinya merebut pisau yang disembunyikan Floretta di balik baju, dan membuangnya jauh-jauh.
"Aromamu sangat busuk! Mengganggu penciumanku. Kenapa berani-beraninya tinggal di kastil ini dan megganggu kenyamamananku, sih? Sebagai hukumannya, kau harus mati," ucap pria itu. Gigi taringnya yang panjang, membuat leher floretta merasa ngilu.
"Tunggu! Dia bukan Alden. Terus siapa dia? Raven si gila itu?"
Floretta bisa merasakan lututnya sangat lemas, seakan tidak mampu menopang tubuhnya lagi. Ditambah lagi belum makan seharian, membuat tenaga Floretta berada di titik terendah.
"Gawat! Padahal Alden sudah mengingatkanku, agar tidak keluar kamar di malam hari dan membuka pintu sembarangan. Sekarang aku harus apa?" pikir Floretta panik.
"Kenapa kau terdiam di situ? Kau nggak mau mengajakku masuk ke dalam?"
Kedua bola mata pria itu membulat besar. Langkah demi langkah, dia mendekati Floretta.
"K-ku mohon, jangan bunuh aku," ucap Floretta lirih.
Suaranya terdengar parau dan gemetar. Matanya melirik ke kiri dan ke kanan untuk mencari benda yang bisa dia jadikan senjata. Namun kepalanya yang mendadak ngeblank, tidak bisa memikirkan sesuatu.
"T-tolong! Siapa pun tolong aku!" Floretta yang dalam keadaan terdesak, akhirnya berteriak meminta bantuan.
Suasana tampak sepi. Tidak terlihat para pelayan berlalu lalang seperti biasanya. Bahkan Leon yang diberi tugas untuk menjaga Floretta pun tidak terlihat batang hidungnya. Hanya terdengar gema suara Floretta di lorong tersebut.
"Ke mana semua orang? Ini kan baru jam delapan malam? Apa mereka takut sama pria gila ini? Atau sengaja?" pikir Floretta cemas.
"Hah? Kau mau meminta bantuan? Hahaha ... Mana ada di sini yang mau membantumu!" Pria itu tertawa terbahak-bahak.
Ini kesempatan Floretta untuk kabur. Dia langsung menutup pintu rapat-rapat dan bersembunyi di balik lemari.
Brak! Pintu kamar dibuka dengan kasar. Pria itu masuk ke dalam dengan mata merah menyala. Ekspresinya lebih mengerikan di bandingkan tadi.
"Mau ke mana, kau? Urusan kita belum selesai. Kau harus mati malam ini juga. Jangan ada ratu, sampai aku menjadi raja."
Pria itu melangkahkan kaki dengan cepat mendekati Floretta.
"Kenapa pria ini nggak menyerah, sih? Katanya darahku baunya nggak enak?" Floretta terus mencari sesuatu di sekelilingnya, yang bisa dijadikan alat untuk melawan pria itu.
Pria mengerikan itu sudah sampai di hadapan Floretta, lalu mencekik lehernya kuat-kuat.
Bugh! Floretta menendang bagian vital pria itu sekuat tenaga. Ternyata tendangan itu cukup ampuh. Pria itu melepaskan cengkeraman tangannya di leher Floretta dan meringis kesakitan.
"Ini kesempatan keduaku untuk kabur! Kali ini nggak boleh gagal!"
Floretta membuka jendela kamarnya. Dadanya berdesir melihat taman istana yang terletak jauh di bawah sana.
"Duh, kenapa kamarku harus ada di lantai tiga, sih? Aku bisa mati kalau melompat ke bawah!"
Wanita berkulit pucat itu menoleh ke belakang. Pria yang menjadi korban tendangannya tadi masih meringis kesakitan. Tak mau melewatkan kesempatan ini, Floretta mengulurkan kain gorden keluar jendela, lalu turun dengan bantuan kain itu.
"Lebih baik aku mati karena terjatuh, dari pada mati ditangan para vampir itu!" batinnya dalam hati.
Grasak!
Floretta bisa merasakan seluruh urat syarafnya menegang dan mengirimkan sinyal sakit, saat tubuhnya mendarat di atas rerumputan taman istana itu.
"Kyaaa! Astaga! Kok dia sudah ada di sini?"
Floretta nggak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, saat melihat sepasang sepatu dan celana panjang hitam di hadapannya. Padahal dia sendiri baru saja beberapa detik mendarat di tengah taman istana tersebut.
(Bersambung)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Sandisalbiah
di jadikan ratu vampir tp tdk memiliki kelebihan apapun sama dgn mati konyol Flo..
2024-06-15
1