"Bukan sebagai pelayan, tetapi sebagai istriku," balas Alden tanpa senyum sedikit pun di wajahnya.
"Eh, apa???" Tanpa sadar Floretta menjerit di tengah aula pernikahan tersebut.
"A-anda bercanda, kan? Masa pria mapan dan tampan sepertimu mau menikahi gadis biasa seperti dia? " tanya Olive Green tidak percaya.
"Aku mengerti, A-anda pasti ingin menjaga harga diri Floretta di depan umum begini," imbuh wanita empat puluh tahunan itu.
"Tentu saja saya serius, Bu Olive. Aku ingin meminang Floretta Green putri bungsu Anda, sebagai istriku. Dia wanita yang paling tepat untuk mendampingiku," tegas Alden Black.
Semua orang di ruangan itu ternganga, mendengar lamaran dadakan yang dilakukan oleh pengusaha paling sukses di kota itu. Para gadis menatap Floretta dengan iri.
"Uh, ini nggak adil. Kenapa Floretta malah dipinang sama pria tampan dan kaya raya seperti Alden?" Sang Pengantin Wanita yang cantik jelita pun menatap Floretta dengan tajam.
"Padahal aku udah merebut kekasihnya. Seharusnya aku jauh lebih pantas jadi istri pengusaha kaya raya itu, dibandingkan seorang babu seperti Floretta," sambung Violetta dalam hati, dengan rasa iri dan penuh kebencian.
"Pak Jayden, saya mohon izin untuk membawa putri Anda pergi," kata Alden sambil menunduk hormat. "Aku akan menempatkannya di sebuah apartemen tengah kota bersama pelayan khusus wanita, sampai hari pernikahan kita tiba," imbuh pria itu.
"Aku mengizinkanmu, Nak. Nanti barang-barang Flo akan kami kirimkan menyusul," ucap Jayden penuh semangat, disertai anggukan kepala Olive Green. Mereka merasa bangga karena seorang konglomerat melamar putrinya.
"Tu-tunggu dulu, Tuan Alden. Kenapa Anda harus membawa dia? Floretta itu cuma gadis rendahan lulusan SMP. Dia nggak bisa mendampingi pengusaha sukses seperti dirimu," protes Violetta, yang sejak tadi hanya melihat saja.
"Kamu tadi nggak dengar, ya? Sejak awal aku memang ingin menjemput gadis manis, yang kau bilang wanita rendahan ini," jawab Alden dengan tatapan sinis.
"Nona Floretta Green, kamu mau menjadi istriku, kan?" tanya Alden Black pada Floretta dengan suara lembut dan tatapan manis.
"Tentu saja tidak, Tuan." Tak disangka, rupanya Floretta justru menolak lamaran dari pria yang diinginkan seluruh gadis di kota itu.
"Kenapa nggak?" tanya Alden penasaran, tetapi wajahnya tidak menunjukkan raut marah atau pun kecewa.
"Aku nggak mengenalmu, Tuan. Bagaimana aku bisa menikah denganmu?" jelas Floretta.
"Hei, kenapa kamu bilang gitu? Kesempatan emas kayak gini nggak akan datang dua kali," omel Olive, sambil mencubit pinggang putri bungsunya itu.
"Hahaha, maaf Tuan Alden. Gadis ini kadang emang minim etika, karena dia nggak sekolah," ujar Jayden sambil melirik tajam pada Floretta.
"Ta-tapi ..."
"Sudahlah, Nak. Kapan lagi kamu mau membalas budi pada orang tua yang sudah membesarkanmu ini," bujuk Olive sambil membelai rambut Floretta yang panjang.
Floretta merasa risih dengan perlakuan itu, karena sejak kecil ibunya tidak pernah memperlakukannya dengan kasih sayang seperti itu.
"Benar yang dikatakan ibumu. Kalau kamu menolaknya di tempat umum seperti ini, hanya akan menjadi aib bagi kedua belah pihak," bisik Jayden pula.
"Ayo kita pergi, Nona cantik. Kita nggak punya urusan apa-apalagi di sini," Alden mengulurkan tangannya untuk mengajak Floretta pergi.
Tak punya pilihan lain, Floretta pun terpaksa pergi bersama pria asing itu. Pesta pun menjadi kacau balau. Para tamu sibuk berbisik dan menatap kepergian Floretta dengan iri.
"Kenapa Ayah dan Ibu membiarkan dia pergi begitu saja? Aku nggak rela dia mendapat suami yang lebih kaya dari pada aku," protes Violetta.
"Apa maksudmu, Violetta? Belum ada sehari kita menjadi suami istri, tapi kamu udah membandingkan aku dengan pria lain?" marah David.
"Uh, bukan begitu maksudku ..." Violetta merasa serba salah.
"Biarkan saja dia pergi. Pria itu kan kaya raya. Kalau dia menikahi adikmu, pasti akan memberikan hadiah pernikahan yang sangat besar untuk keluarga kita," sahut Olive, disertai anggukan kepala Jayden.
...🦇🦇🦇...
"Namamu Floretta Green, kan?" ucap Alden, sembari memandang Flo dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Benar, Tuan. Itu namaku," jawab Floretta dengan kaku.
"Tadi pria ini bilang sengaja ingin menemuiku, kan? Tapi kenapa dia masih memastikan namaku lagi? Lagipula, untuk apa dia mencariku? Aku ini bukan siapa-siapa dan sama sekali nggak populer di kota ini." Floretta menatap pria tampan di hadapannya dengan curiga.
"Namamu cantik dan unik," kata Alden. Seulas senyum terukir di wajahnya yang tampan.
"E-eh? Terima kasih," jawab Floretta.
Seluruh panca indra gadis itu tidak bisa berhenti waspada. Dia masih menaruh curiga, pada pria yang mengaku ingin menikahinya.
"Mana mungkin seorang pengusaha sukses seperti dia mau repot-repot menjemput seorang upik abu kayak aku? Apa jangan-jangan dia ingin menjadikanku pelayan tanpa bayaran? Atau dia ingin menjual organ tubuhku? Jadi karena itu dia kaya raya?" Pikiran Floretta semakin liar.
"Kamu yakin itu namamu?" tanya Alden sambil menyeringai kecil.
"Hah? Y-ya tentu saja itu namaku, Tuan," kata Flo meyakinkan pria di hadapannya. "Sebenarnya dia mau apa, sih? Menghipnotisku sebelum mengambil ginjalku?" pikir Floretta dengan resah.
"Tapi kayaknya kamu lebih cocok dipanggil 'sayangku', 'ratuku' atau 'bidadariku', deh. Terutama setelah kita menikah nanti," ungkap Alden dengan wajah ekspresi datar, namun terkesan serius.
"Eh, menikah?" Tanpa sadar, Floretta meninggikan suaranya.
"Iya, tentu saja. Kamu kan udah mendengarnya tadi," ujar Alden.
"Tunggu! Jadi Anda benar-benar mau memperistri aku, Tuan?" tanya Floretta masih belum percaya.
"Apa wajahku terlihat sedang bercanda? Duh, aku jadi sedih mendengarnya," kata Alden seraya memasang wajah sedih. Kedua ujung alisnya pun terlihat sedikit menurun.
"Ya mana mungkin kita bisa menikah begitu aja. Kita kan ..."
"Baru kenal?" ucap Alden, memotong ucapan Floretta.
"Iya."
"Memangnya kenapa kalau baru kenal? Orang yang sudah bertahun-tahun kamu kenal aja bisa mengkhianatimu. Jadi saling kenal sejak lama, bukan berarti bisa dipercaya," tandas Alden, menyindir Floretta.
"Iya, sih ..."
Meski terdengar mengesalkan, tetapi Floretta tidak bisa memungkiri kalimat itu. Dia dan David sudah saling mengenal selama lima tahun, Dan dua tahun terakhir mereka pun menjalin hubungan spesial.
"Sebentar! Kok Tuan bisa tahu, kalau aku dikhianati orang terdekatku?" tanya Floretta penasaran.
“Hhmm? Anggap saja aku punya banyak mata dan telinga,” jawab Alden sambil tertawa kecil.
"Tapi tetap saja ini kedengaran aneh. Kenapa Tuan Muda kaya raya seperti Anda mau menikahi saya?" selidik Flo.
"Ku dengar kamu udah diperlakukan berbeda oleh keluargamu sejak kecil. Kamu pun banting tulang sebagai pelayan dan pekerja kasar di kebun," ujar Alden seraya mengangkat wajahnya, untuk menatap Floretta lebih seksama.
"Harusnya kamu senang karena dinikahi oleh orang kaya raya seperti aku. Kamu nggak perlu bekerja keras lagi untuk mencari sesuap nasi. Segala kemewahan sebagai perempuan sosialita bisa kamu dapatkan hanya dengan menikah denganku. Kamu pasti nggak mau melewatkan kesempatan berharga ini, kan?" sambung Alden lagi.
"Seperti yang Tuan bilang tadi, orang yang sudah lama dikenal saja belum tentu bisa dipercaya. Apalagi orang yang baru dikenal? Aku nggak mau terjatuh di lubang yang sama dua kali," ucap Floretta dengan nada ketus.
"Saling mengenal itu mudah. Kita bisa melakukannya setelah menikah," kata Alden seraya berusaha menyentuh jemari Floretta.
"Nggak bisa! Aku nggak mau melakukannya!" jerit Floretta, sambil menarik kedua tangannya dengan cepat.
"Lalu izinkan aku pergi dari apartemen ini. Rasanya aneh menerima semua pemberian ini, sementara kita nggak punya hubungan apa-apa," kata Floretta tegas.
"Kenapa lagi, sih? Kau tinggal terima semua yang aku berikan aja kok nggak mau?" ucap Alden setengah membentak.
"Aku ingatkan satu hal padamu, jangan pernah coba-coba meninggalkan tempat ini tanpa izin dariku, atau kau akan mati!" ancam Alden.
(Bersambung)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
kalea rizuky
kayaknya dia brung hantu itu bukan
2024-12-26
0