panik dan takut bercampur menjadi satu. panik karena Danial tiba-tiba saja pingsan dan takut jangan sampai terjadi sesuatu dengan Kamila. saat itu pak Hamzah memberikan solusi untuk membawa Danial ke ruang UKS. khawatirnya guru itu, Danial mengalami penyakit atau semacamnya padahal yang terjadi sebenarnya, remaja itu tidak sanggup menahan panas kalungnya.
"bantu saya mengangkat Danial ke punggungku" pak Hamzah mulai duduk di lantai
"tapi pak" Satria seakan enggan karena tidak enak hati
"cepat, kita harus mencari Kamila sebelum terjadi sesuatu dengannya" desak pak Hamzah
Satria dan Zain membangunkan tubuh Danial dan akan meletakkan di punggung pak Hamzah. namun baru saja hendak melakukan itu, tiba-tiba Danial membuka mata begitu saja.
"eh, Danial sadar tuh" ucap Kirana, ia melihat Danial membuka matanya
pak Hamzah bahkan membalikkan badan untuk melihat keadaan remaja itu. benar saja, Danial benar-benar telah sadar. Satria dan Zain kemudian memperbaiki posisi duduk Danial.
"Dan, kamu baik-baik saja kan. mana yang sakit...?" Satria begitu khawatir
"kita antar kamu ke UKS ya" ucap Zain
Danial tidak menggubris mereka. dirinya hanya diam menatap lurus ke depan. kemudian ia pandangi satu persatu dari mereka semua. kedua matanya tertuju kepada Ananta yang saat itu sedang memperhatikannya. Danial menatap tajam gadis itu, begitu nyalang membuat Ananta ketakutan dan mencengkeram lengan Ayunda.
"Dan, Danial" Satria menggoyangkan lengan sepupunya itu
"Kamila. Kamila ada di gedung aula" ucap Danial
setelah mengatakan itu, Danial berdiri cepat membuat pak Hamzah, Satria dan Zain refleks ikut berdiri. remaja itu tanpa pamit berlari begitu saja keluar dari ruangan kesenian.
"kak Dan, mau kemana" Alea memanggil sayangnya Danial tidak berhenti
mereka semua ikut berlari ke luar dari ruangan itu. matahari sudah ditelan oleh gelapnya malam. ponsel Alea beberapa kali bergetar, namun gadis itu tidak mengetahuinya sebab yang ada di dalam pikirannya sekarang adalah, mereka dalam keadaan tidak baik-baik saja.
pak Samsul yang sudah berada di tempat parkir di luar gerbang sekolah, dirinya mulai gelisah karena anak-anak tim samudera itu tidak ada satupun yang mengangkat teleponnya.
"aduh, ini mereka semua kemana. bisa dimarahi pak Leo kalau begini" pak Samsul semakin cemas di dalam mobil
berulang kali menghubungi anak-anak itu namun. belum juga ada yang mengangkat. ingin mencari ke dalam dirinya tidak tau dimana sekarang anak-anak itu. tidak mungkin mencari mereka di ruangan satu persatu. luasnya sekolah itu, sungguh itu tidak mungkin.
tiba-tiba saja Adam menghubunginya. pak Samsul kelabakan dan dengan perasaan was-was, ia mengangkat telepon CEO itu.
pak Samsul
halo pak
Adam
pak Samsul, bapak dimana sekarang. kenapa anak-anak belum pulang juga. ada kegiatan tambahan di sekolah ya...?
(aduh... bagaimana ini) hati pak Samsul semakin gelisah
Adam
halo pak Samsul, kamu mendengar saya kan
pak Samsul
i-iya pak, saya dengar
Adam
kenapa belum pulang, anak-anak mana
pak Samsul
begini pak. tadi saat saya akan menjemput mereka, ban mobil saya pecah jadi dengan terpaksa saya harus ke bengkel dulu. anak-anak saya suruh menunggu di sekolah. tapi sekarang saya sudah berada di sekolah namun anak-anak tidak ada yang mengangkat teleponku. saya sudah menghubungi mereka beberapa kali
Adam
jadi sekarang mereka tidak bersama kamu...?
pak Samsul
tidak pak, saya sendirian di parkiran. saya ingin mencari mereka ke dalam tapi sekolahnya luas pak
Adam
hubungi mereka terus, aku akan mencoba menghubungi Danial
pak Samsul
baik pak
Adam mematikan panggilan. ia kemudian mencari nomor putranya dan menelponnya namun Danial tidak mengangkat. El-Syakir pun menghubungi Satria dan tidak diangkat juga olehnya.
"bagaimana mas...?" Airin bertanya, Ragel berada di dalam gendongannya
"nggak diangkat sayang" jawab Adam
"ya Allah, lalu bagaimana ini. sudah semalam ini tapi mereka belum pulang juga. apa yang mereka lakukan di sekolah jam segini" Seil begitu khawatir
"susul mereka Dirga, El" ucap ayah Adnan
"betul mas, susul mereka. aku takut terjadi sesuatu dengan mereka" Airin mengangguk cepat setuju dengan usulan ayah Adnan
"pergilah nak, kasian juga pak Samsul sendirian di sana" ucap ibu Arini
"ayo kak" El-Syakir mengajak
Adam mengangguk dan berpamitan kepada semua orang. melihat ayahnya melangkah menjauh, Ragel menangis memberontak ingin ikut. ibu Arini menggendong cucunya itu dan membawanya bermain di ruang keluarga.
di depan, Adam dan El-Syakir bertemu Zidan, Vania, Galang dan Gauri. mereka baru saja pulang dari rumah orang tua Vania.
"mau kemana Dirga, El...?" tanya Zidan
"jemput anak-anak paman" jawab El-Syakir
Zidan mengernyitkan dahi menatap keduanya "memangnya mereka belum pulang...?" tanyanya
"belum paman, maka dari itu kami akan menjemput mereka" jawab Adam
"perlu paman ikut...?"
"nggak usah paman, kami pergi berdua saja"
"ya sudah hati-hati"
"kalau Galang ikut gimana om...?" tanya Galang
"jangan, kamu kan baru saja datang. sebaiknya kalian masuk ke dalam saja. kami pergi dulu ya"
Adam dan El-Syakir masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah keluar Sanjaya.
di sekolah, pak Samsul bukan hanya dihubungi oleh Adam dan El-Syakir. Leo, Vino, Bara dan Deva juga menghubungi sopir itu. mendapat keterangan kalau anak-anak mereka tidak bersama pak Samsul, mereka semua bergerak untuk menyusul di sekolah. para istri tentu saja khawatir dengan anak-anak mereka. tim samudera dalam perjalanan menuju ke sekolah SMA Citra Bangsa.
di parkiran sebuah mobil datang masuk ke dalam halaman sekolah. pak Samsul ikut masuk dan berdiri tidak jauh dari mobil itu. itu adalah mobil kepala sekolah. pak Samsul mengira kepala sekolah adalah guru biasa. ia pun menghampiri kepala sekolah yang baru saja turun dari mobilnya.
"permisi pak"
kepala sekolah berbalik dan melihat pak Samsul yang berdiri di dekatnya.
"ada apa pak...? sepertinya anda bukan guru di sini, saya tidak pernah melihat bapak di sini"
"saya memang bukan guru pak. saya sebenarnya ingin menjemput anak-anak dari bos saya tapi sampai sekarangpun mereka belum juga datang di parkiran. saya hubungi mereka tapi tidak diangkat"
"subhanallah. ada berapa orang pak. saya kepala sekolah di sini"
"jadi bapak ini kepala sekolah. saya minta tolong pak, tolong beritahu anak-anak untuk datang. mereka berjumlah enam orang pak. tiga perempuan tiga laki-laki"
"begini saja, bagaimana kalau bapak ikut saya mencari mereka"
"baiklah, saya juga begitu khawatir kalau hanya menunggu saja"
kepala sekolah mengajak pak Samsul untuk berjalan bersamanya. pemimpin SMA Citra Bangsa itu menghubungi pak Hamzah untuk menanyakan dimana keberadaan mereka. namun guru itu tidak menjawab, bahkan beberapa kali tidak pernah diangkat. barulah setelah panggilan ke tujuh, pak Hamzah mengangkat telepon dari kepala sekolah.
pak Hamzah
halo pak
kepala sekolah
pak Hamzah, bapak dimana
"Danial awas"
teriakan salah seorang yang didengar dari sebrang sana membuat kepala sekolah semakin khawatir.
kepala sekolah
pak Hamzah, kalian dimana pak
pak Hamzah
di aula pak, cepat datang pak
"ayo pak" ajak kepala sekolah kepada pak Samsul
begitu buru-buru, kaki panjang kepala sekolah berlari begitu cepat melewati lapangan sekolah menuju ke aula sekolah.
sementara itu di aula sekolah, Kamila kini sedang cekikikan terus menari tanpa henti. Danial yang hendak akan mendekatinya, dilemparkan kursi oleh gadis itu tanpa mengangkatnya namun hanya menggunakan gerakan tangan, kuris itu melayang menyerang Danial. teriakan teman-temannya membuat kepala sekolah mendengar itu dan menyusul mereka.
"Kamila, kenapa kamu jadi seperti ini" Ananta menangis melihat temannya itu
pak Hamzah yang baru saja berbicara dengan kepala sekolah lewat telepon, mencoba mendekat Kamila. namun Danial menahannya dan menggeleng kepala.
"biar saya yang mengurusnya pak"
"kamu tidak bisa sendirian, dia sekarang dalam keadaan tidak sadar. apa kamu mau terluka"
tepat saat itu kepala sekolah datang bersama pak Samsul. kedatangan kepala sekolah membuat pak Hamzah lebih tenang karena mempunyai teman orang dewasa.
"pak Samsul" Alea langsung memeluk sopir itu. sudah dianggap sebagai orang tua sendiri, keluarga Leo Sebastian tidak pernah menjaga jarak dengan bawahannya
"non tidak apa-apa...?" pak Samsul melepas pelukannya dan menatap satu persatu anak-anak itu
"kami hanya takut saja pak, ada yang kesurupan" Ayunda menunjuk Kamila
"pantas saja kalian tidak datang-datang di parkiran. bapak menunggu kalian sejak tadi"
kepala sekolah mendekati pak Hamzah, di lihatnya Kamila masih terus menari layaknya penari yang begitu handal. selendang yang entah di mana ia dapatkan, terlilit di lehernya dan ia kaitkan di jemari kedua tangannya.
"Kamila" panggil kepala sekolah
gadis itu berhenti membelakangi mereka saat namanya dipanggil oleh kepala sekolah. namun kemudian tanpa mereka duga, kepala gadis itu berputar arah menghadap mereka semua sementara badannya masih tetap diposisi membelakangi mereka.
"Allahuakbar, ya Allah di seram sekali" Kirana histeris langsung memeluk Zain
semua orang kaget, para perempuan tidak ada yang berani melihat Kamila yang saat ini sedang tersenyum menyeringai melihat mereka semua.
"arwah sialan. kamu pikir bisa menyelamatkan anak ini...?" Kamila menatap Danial dengan senyuman mengerikan
yang ditatap hanya diam tanpa menjawab. semua orang terlihat heran, arwah siapa yang dimaksud oleh Kamila. namun tidak dengan kepala sekolah, laki-laki itu mengarahkan pandangan ke arah dimana Kamila sedang melihat seseorang dan itu ada Danial. saat itu juga kepala sekolah mendekati Danial dan memegang bahunya.
Danial memutar kepala melihat kepala sekolah dimana tangan laki-laki itu telah berada di bahunya. dan kini kepala sekolah tau siapa yang dimaksud oleh Kamila. hanya dengan melihat kedua mata remaja itu, kepala sekolah tau kalau dalam tubuh anak itu ada orang lain.
"maaf pak, tapi saya tidak bisa meninggalkan ana ini. bukannya tidak ingin keluar, aku hanya ingin dia tetap bersamaku sampai gadis itu berhasil ditangkap" Danial mengatakan itu dengan pelan dan hanya kepala sekolah yang mendengar
kepala sekolah pun menurunkan tangannya dan kembali fokus kepada Kamila. gadis itu kembali memutar kepalanya normal seperti sebelumnya. kemudian ia memutar badan menghadap ke arah mereka.
"anak ini akan menjadi milikku" ucap Kamila
"jangan mimpi, aku tidak akan membiarkan kamu mengambilnya" kepala sekolah menatap tajam
"hahaha.... hahaha" suara tawa Kamila menggelegar di gedung besar dan luas itu
"jangan berani-berani ikut campur urusanku manusia. berani kamu menghalangiku maka tamat riwayatmu" Kamila menunjuk kepala sekolah
"bukan kamu yang menentukan hidup seseorang iblis laknat"
"bedebah"
Kamila mengangkat semua kursi yang ada di ruangan itu. kedua tangannya mengarahkan semua kursi itu melayang ke arah kepala sekolah dan yang lainnya. namun karena Jin yang berada di dalam tubuh Danial, maka Danial yang menghentikan semua kursi itu hingga beralih melayang menyerang Kamila. padahal semua orang telah menutup mata dan pasrah, untungnya ada Jin yang menyelamatkan mereka.
Kamila melayang di udara dan hinggap di langit-langit seperti cicak yang merayap di dinding. gadis itu merangkak begitu cepat hendak melarikan diri. Danial melemparkan satu kursi untuk menghalanginya, membuat Kamila melompat kembali ke lantai.
"apa aku tidak salah lihat...?" Satria mengucek matanya, ia kaget melihat Danial memiliki kekuatan yang super seperti itu
"den Danial kuat sekali" ucap pak Samsul
"pak Hamzah, bawa semua orang keluar dari gedung ini" perintah kepala sekolah
"tapi pak, bagaimana dengan bapak...?"
"turuti saja perintahku pak Hamzah, keluar dari tempat ini"
dengan berat hati pak Hamzah menyuruh semua orang untuk keluar. Satria tidak ingin keluar begitu juga yang lain. Ananta sudah merengek ingin keluar, dirinya benar-benar ketakutan berada di dalam itu.
"ayo anak-anak, bahaya kalau kita berada di sini" ucap pak Samsul
"lalu Danial bagaimana...?" ucap Ayunda
"keluarlah, tinggalkan kami bertiga. cepat keluar" kelapa sekolah mulai mendesak mereka
pak Hamzah dan pak Samsul mengiring anak-anak itu untuk keluar dari gedung aula. setelah mereka pergi, maka di dalam itu hanya tersisa tiga orang saja.
Kamila cekikikan melihat keduanya, dirinya bahkan kembali berdiri dan menari lagi.
"keluar dari tubuh anak itu iblis laknat" ucap kepala sekolah
Kamila berhenti menari dan menatap nyalang kepala sekolah. selendang yang dipakainya ia lemparkan ke arah Danial. remaja itu menghindar namun dapat menangkap selendang itu dan menariknya dengan kuat. Kamila terbawa dan saat itu juga Danial mengikat tubuh Kamila menggunakan selendang itu.
"LEPASKAN AKU... LEPASKAN AKU" Kamila memberontak sekuat tenaga
"sadarkan dia pak" ucap Danial
kepala sekolah mendekati Kamila dan membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Jin yang berada di dalam tubuh Danial mulai kepanasan. hantu itu keluar dari tubuh Danial dan saat itu juga Danial kembali ambruk di tanah bersamaan dengan Kamila yang jatuh pingsan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Darnisah Isda
kok Galang panggil Om. Galang anak Zidan dan Vania. Zidan kan pamannya Adam dan El. harusnya Galang itu sepupuan sama Galang. coba deh di runut dr cerita PTM.
2023-12-06
0
V3
seruuuu bgt pak ,, harus nya nggu Team Samudra datang donk biar tahu klu Daniel punya penjaga jg
2023-05-23
2
Ayu Lutdiyasari
mulai seru nih, lanjut lagi kak.
2023-05-21
2