Zain yang hampir jantungan karena Danial langsung berlari kemudian berjalan pelan untuk menyebrang ke sebrang. setelah sampai ia langsung memeluk Danial dengan erat. pengendara motor yang jatuh di bantu oleh Satria untuk bangun.
"mas nggak apa-apa...?" tanya Satria
"nggak apa-apa hanya lecet sedikit. tapi bagaimana dengan anak itu...?" laki-laki itu mengarahkan pandangannya ke arah Danial dan Zain
"seperti dia baik-baik saja. aku mewakili saudaraku meminta maaf ya mas, mas sudah terluka sebaiknya mari aku antar ke rumah sakit"
"tidak perlu saya buru-buru. syukurlah kalau dia tidak apa-apa. bilang padanya aku minta maaf, aku tadi tidak melihatnya dan tiba-tiba saja di sudah berada di depanku untungnya aku tidak menabraknya"
Satria takjub dengan sikap laki-laki itu. biasanya jika orang lain mereka akan marah-marah dan menuntut namun untuk orang itu malah dirinya yang meminta maaf.
Satria membantu laki-laki itu membangunkan motornya kemudian ia menaikinya.
"aku pergi dulu, beritahu saudaramu untuk berhati-hati jika lain kali"
"iya mas, terimakasih banyak" Satria tersenyum
kini Satria menghampiri Danial dan Zain yang masih berada di sebrang jalan.
"Dan, kamu nggak apa-apa...?" tanya Satria
Danial tidak menjawab namun matanya menelisik di sekitarnya mencari seseorang. ia mencari sosok yang menyelamatkannya tadi, laki-laki yang ia larikan dengan ketakutan, laki-laki itulah yang menolong Danial namun sekarang laki-laki itu tidak terlihat oleh matanya.
"kemana perginya" gumam Danial
"kamu mencari seseorang, kenapa dari tadi kamu celingukan saja" ucap Zain
"kalian tidak melihat seseorang, laki-laki yang menyelamatkan aku tadi...?" tanya Danial
"laki-laki yang mana...?" tanya Satria
"laki-laki yang...yang"
"yang mana...?" Zain ikut melihat sekitar namun ia tidak melihat adanya laki-laki yang ia sebukan Danial. yang ada hanyalah para pengendara motor dan mobil
(*jelas mereka nggak bisa melihatnya dia kan...dia kan setan) batin Danial
(astaga...jadi...jadi aku sekarang dapat melihat setan) pekik Danial dalam hati*
"woi Dan kamu kenapa sih dari tadi bengong aja. perasaan kamu nggak ketabrak deh tapi kenapa otak mu malah geser seperti ini" Zain membuyarkan lamunan Danial
"enak aja otakku masih di tempatnya ya nggak bergeser sama sekali" Danial mencebik
"ya sudah ayo kembali ke rumah sakit" ucap Satria
"nggak mau" Danial menggeleng
"lah, kamu masih sakit Bambang..kamu ini kenapa sih heran aku" ucap Zain
"pokoknya aku nggak mau ke rumah sakit...nggak mau nggak mau nggak mau titik" Danial tetap tidak ingin ke rumah sakit
"kamu nggak mau ketemu om Adam, tadi aku sudah memberitahu mereka kalau kita di rumah sakit" ucap Zain
"ayah akan datang...?" mata Danial mulai berbinar
"makanya ayo kembali ke rumah sakit" ucap Satria
karena ingin bertemu ayahnya maka dengan terpaksa Danial mengikuti mereka. sebenarnya ia benar-benar takut kembali ke rumah sakit, ia takut bertemu dengan laki-laki itu meskipun sebenarnya ia yakin kalau laki-laki itu yang menyelamatkannya namun tetap saja Danial tidak berani untuk bertemu lagi dengannya. masih terbayang bagaimana wajahnya yang mengerikan ia lihat dalam mimpinya bahkan setelah bangun dari tidurnya pun ia dapat melihat kembali laki-laki itu.
namun satu hal yang membuat Danial mengingat apa yang diucapkan oleh laki-laki itu dalam mimpinya, hal itu membuat Danial menghentikan langkah sementara Satria dan Zain terus melangkah tanpa tau kalau Danial berhenti.
"dia bilang aku pernah ke tempatnya" gumam Danial
"tapi tempat dimana, perasaan aku baru kali ini melihatnya" gumamnya lagi
karena tidak ingin ambil pusing Danial kembali melangkah. tepat setelah kakinya menginjak pekarangan rumah sakit, ia langsung melihat Adam dan yang lainnya yang sedang berada di halaman rumah sakit.
"ayah" panggil Danial
mendengar suara anaknya, Adam menoleh dan ia melihat Danial sedang berlari ke arahnya.
bugh
Danial menabrak Adam dan memeluknya sementara ia pun membalas pelukan putranya itu.
"kamu tidak apa-apa, ada yang sakit nggak...?" Adam memeriksa setiap inci tubuh anaknya
"aku baik-baik saja, aku ingin pulang. aku kangen bunda sama dedek Ragel" ucap Danial
tim samudera telah bertemu dengan anak-anak mereka. semuanya begitu lega karena anak-anak mereka dalam keadaan baik-baik saja meskipun Ayunda terluka di lutut dan sikunya.
"maaf pah" Satria menunduk saat El-Syakir menatapnya dengan dingin
El-Syakir menghela nafas kemudian menarik putra sulungnya itu dan memeluknya.
"kita pulang, mama di rumah sangat mengkhawatirkan mu" ucap El-Syakir dan Satria mengangguk
mereka semua memutuskan untuk pulang, Danial tidak ingin di rawat lagi karena ia ingin di rawat oleh bundanya di rumah. Adam menghubungi Zidan untuk memberitahu kalau anak-anak telah di temukan dan meminta pamannya itu untuk pulang karena mereka dalam perjalanan pulang ke rumah.
saat Adam dan yang lainnya baru saja sampai, mobil Zidan pun baru saja memasuki halaman rumah. mereka datang bersamaan.
"paman" panggil Danial
"kamu tidak apa-apa...?" Zidan melangkah mendekati Danial
"dia membuat kehebohan di rumah sakit paman, lari terbirit-birit karena dikejar setan" ucap Alea memberitahu
"ih itu mulut...pengen banget aku ruqiah" Danial kesal dan mencebik
di dalam rumah setelah mendengar suara mobil di luar, para istri langsung berhamburan untuk melihat dan mereka semua bahagia melihat anak-anak mereka telah pulang.
"sayang" Airin berlari
"bunda jangan lari-lari" Danial panik melihat Airin berlari ke arahnya
ia memeluk putranya itu dan menciumi seluruh wajahnya.
"kamu darimana saja sih nak, jantung bunda hampir copot kamu nggak pulang-pulang" Airin menangkup wajah Danial
"maaf Bun, jangan nangis nanti cantiknya hilang" Danial menghapus air mata bundanya
Seil memeluk erat Satria begitu juga yang lainnya. mereka memeluk anak masing-masing. begitu bersyukur karena suami mereka membawa pulang anak-anak mereka.
setelahnya tim samudera meminta izin untuk pulang dan kini tinggallah keluarga Sanjaya.
"dedek Ragel mana Bun...?" tanya Danial
"sudag tidur, sekarang kamu ke kamar bersih-bersih terus langsung istirahat" Airin membelai kepala Danial
"aku lapar mah" Satria merengek kepada Seil
"aku juga lapar sayang" ucap El-Syakir
"kalau begitu kalian semua bersih-bersih biar kami menyiapkan makanan" ucap Airin
"suruh bibi saja sayang, kamu nggak boleh capek-capek" Adam merengkuh Airin
" ya sudah, aku mau memberitahukan bibi dulu" Airin patuh kepada suaminya
Danial dan Satria ke kamar mereka masing-masing untuk membersihkan diri. sementara Adam dan El-Syakir pun menuju ke kamar mereka.
Danial sebenarnya mengantuk dan ingin sekali merebahkan tubuhnya di kasur namun tidak mungkin ia tidur dalam keadaan belum mandi. setelah melakukan ritual mandinya, ia keluar dari kamar menuju ke ruang keluarga. di sana semuanya telah berkumpul bahkan ada Ragel dan juga Samudera.
Danial begitu senang melihat dua bayi itu. ia pun melangkah cepat dan mengambil tubuh adiknya dari pangkuan Airin. El-Syakir kini sedang memangku Samudera yang asik bermain dengan Gauri.
mereka pun memutuskan untuk makan malam karena semua keluarga telah berkumpul. Danial menggendong Ragel menuju ke meja makan sementara Samudera di ambil alih oleh ibunya karena bayi itu mulai rewel ingin segera tidur.
di meja makan Ragel memakan bubur yang dibuatkan olen Airin. bayi satu tahun itu di suapi oleh Danial dan dengan lahap memakan makanannya.
"Gauri juga mau bubur seperti adik Ragel" ucap Gauri
"memang Gauri suka...? tanya Airin
"suka, kemarin Gauri makan kok di suapi sama nenek" Gauri menjawab polos
ibu Arini tersenyum kemudian bangkit dari duduknya mengambilkan bubur untuk Gauri setelah itu ia menaruh mangkuk yang berisi bubur di depan anak itu.
"terimakasih nek" Gauri tersenyum lebar
"dibahiskan ya" ibu Airin mengelus lembut kepala Gauri
"iya" jawabnya dengan semangat
selesai makan karena tidak sanggup lagi menahan kantuk, Danial maupun Satria berpamitan untuk ke kamar mereka.
tiba di dalam kamarnya, Danial langsung merebahkan tubuhnya di kasur dan mulai memejamkan mata. sayangnya tidurnya terusik karena ia mendengar suara gemericik air di kamar mandi.
Danial bangkit dan mempertajam pendengaran dan ia benar-benar mendengar suara air di kamar mandi miliknya.
"kok seperti ada orang mandi ya" gumamnya
ia turun dari kasur dan melangkah mendekati pintu kamar mandi.
cek lek
dengan pelan ia membuka pintu dan memasukkan kepalanya, tidak ada orang di dalam bahkan suara gemericik air tidak terdengar lagi.
"apa iya telingaku yang bermasalah" gumamnya menggaruk kepala
ia pun kembali menutup pintu dan berbalik hendak kembali ke kasur namun saat itu juga Danial begitu terkejut melihat siapa yang sudah berada di dalam kamarnya.
"k-kamu" Danial tidak sanggup menggerakkan tubuhnya
"kita bertemu lagi Danial Zabdan Sanjaya" ucap sosok itu tersenyum menyeringai
Danial mematung di tempatnya, tubuhnya tidak dapat bergerak sama sekali dan bahkan ia tidak dapat mengeluarkan suara. wajahnya mulai pucat dan keringat dingin mulai keluar melalui pori-pori di keningnya.
laki-laki itu melayang mendekati Danial dan berdiri tepat dihadapannya. bahkan Danial tidak bisa hanya untuk sekedar menutup matanya, ia seakan di paksa untuk terus menatap sosok itu.
laki-laki itu mengendus-endus tubuh Danial dan kemudian ia berbisik.
"aku suka bau darahmu" bisiknya
laki-laki itu dengan sengaja mencakar lengan Danial hingga mengeluarkan darah. ia kemudian tersenyum puas dan kembali melayang duduk di kasur.
"t-tolong jangan bunuh aku" Danial mulai bisa mengeluarkan suara
"kalau aku ingin kamu mati, untuk apa tadi aku menyelamatkan mu" ucapnya
sosok itu melayang ke arah jendela dan menyibakkan kain gorden, ia melihat ke arah luar yang terang karena lampu. setelahnya ia kembali ke tempat duduknya tadi.
"kamu telah melakukan perjanjian darah denganku" ucapnya dengan tatapan tajam
"perjanjian darah...?" a-apa maksud mu...?" Danial tentu saja kaget
"bukannya kamu mengenalku, lihat aku baik-baik...dimana kamu pernah melihatku"
"bagaimana aku tau dimana aku pernah melihatmu"
Danial belum bisa menggerakkan tubuhnya, hanya mulutnya yang dapat ia gerakkan, semua itu karena kendali dari laki-laki itu.
"di rumah kosong tempat kalian berteduh dari turunannya hujan"
"bagaimana bisa kamu..."
Danial mencoba mengingat kejadian tadi sore. menurutnya ia tidak melihat orang lain selain hanya ia dan teman-temannya di rumah itu. namun jika ia perhatikan, wajah laki-laki yang ada di depannya terasa tidak asing baginya. ia seperti pernah melihatnya tapi entah dimana.
"ganteng-ganteng lah mereka ini"
Danial teringat dengan pujiannya yang ia berikan kepada dua anak remaja yang berada di dalam bingkai foto. hingga kemudian ia membekab mulutnya karena telah mengingat siapa sosok yang ada di depannya itu.
"k-kamu yang ada di foto itu"
"bagus, rupanya ingatanmu tajam juga"
"apa yang kamu inginkan, jika kamu marah karena aku memecahkan bingkai foto mu aku minta maaf aku benar-benar tidak sengaja. tolong jangan bunuh aku, aku belum ingin mati...aku belum menikah" Danial merengek
"astaga... bisa-bisanya sekian banyak hal, yang kamu ingat adalah pernikahan" laki-laki itu mendengus kesal
"tapi itu kan memang kenyataannya"
"otak mu ternyata mesum juga. lupakan tentang khayalan mu itu. sekarang kamu adalah milikku dan aku adalah milikmu, darahmu telah menyatu denganku"
"apa maksud kamu, aku tidak mengerti"
"aku akan membunuhmu dan menguasai ragamu"
deg
mata Danial melotot dan mulutnya menganga. bahkan untuk menelan ludah pun ia seakan tidak mampu.
"audzubillahi minasyaitonirrajim bismillahirrahmanirrahim laaillaahillallah Muhammadarrasulullah ALLAHU AKBAR"
tepat setelah menyerukan takbir, Danial dapat menggerakkan tubuhnya. sementara laki-laki itu kepanasan seperti terbakar di saat Danial membaca doa.
"brengsek...APA YANG KAMU LAKUKAN PADAKU" teriaknya kepanasan
Danial hendak kembali membaca doa namun tiba-tiba tubuhnya melayang dan menghantam dinding. ia menempel di dinding itu sementara laki-laki itu melesat cepat dan mencekik Danial.
uuugghhh
seakan lehernya diikat dengan tali lalu di tarik, Danial kesakitan dan bahkan kehabisan nafas.
braaaakkk
Danial di lempar lagi dan kali ini ia menghantam meja belajarnya. laki-laki itu kembali mendekatinya dan mengangkat tubuh Danial ke atas tanpa memegangnya. hanya sorot matanya yang tajam saja membuat Danial seperti itu.
"salahmu karena melakukan perjanjian darah denganku. kita sudah terikat, sekarang aku akan masuk ke dalam tubuhmu dan menguasai jiwa dan ragamu"
"laahaula walakuwata illabillah"
aaaggghh
braaaakkk
praaaaaang
kembali laki-laki itu kepanasan dan Danial di lempar lagi ke dinding mengenai meja tempat lampu tidur hingga benda itu jatuh dan pecah.
"KURANG AJAR"
semakin marah laki-laki itu, ia kemudian menatap tajam Danial dan seketika tubuh remaja itu terangkat dan menghantam langit-langit kamar kemudian ia di hempaskan lagi ke bawah.
bugh
"aaaggghh...BERHENTI" teriak Danial dengan tenaga yang sudah sangat menipis
laki-laki itu hendak menyerang lagi namun ia terdiam karena suara teriakan Danial.
"bagaimana kalau kita ubah perjanjiannya" ucap Danial berusaha untuk bangkit
"apa maksudmu...?"
penampakan laki-laki sekarang menjadi menakutkan seperti sosok yang Danial lihat dalam mimpinya. padahal tadi dirinya tidak seperti itu, hanya wajah pucat dengan bibir yang biru serta mata birunya yang indah tapi kali ini laki-laki itu berwujud mengerikan. Danial begitu ketakutan namun ia menekan dalam hati untuk berani.
"kita ubah perjanjian darah itu. kamu bilang kita sudah terikat bukan, maka kalau begitu kita bisa saling hidup berdampingan. aku milikmu dan kamu milikku namun dalam jiwa yang berbeda dan ragaku tetap milikku"
Danial tau ia tidak bisa melawan laki-laki itu maka ia harus mempunyai cara untuk bisa membuat laki-laki itu tidak menyerangnya lagi.
"kita bisa menjadi tuan dan abdi. namun aku tidak ingin menjadi abdimu karena derajat ku jauh lebih tinggi darimu. aku tau kamu pasti bukan semata-mata hanya untuk menguasai ragaku saja bukan namun kamu akan melakukan sesuatu hal yang belum terselesaikan tapi dirimu terlanjur mati. kamu akan menyelesaikan masalah itu menggunakan ragaku, benar begitu bukan...?"
"aku akan membantumu, kita sudah terikat maka aku akan membantumu untuk menyelesaikan urusanmu namun seperti yang aku katakan tadi, kita hidup berdampingan bukan dengan dirimu masuk ke dalam tubuhku"
laki-laki itu mencoba untuk memahami apa yang dikatakan oleh Danial.
"bagaimana...? tenang saja aku tidak akan bisa lari karena kita sudah saling memiliki satu sama lain bukan"
"baiklah" akhirnya laki-laki itu setuju dan Danial bernafas lega
"tapi aku tidak mau menjadi abdimu. aku ingin kita menjadi teman dan partner. apapun yang menjadi urusanku kini menjadi urusanmu dan urusanmu akan menjadi urusanku"
Danial mengangguk, tidak ada cara lain selain setuju. ia tau kalau sebenarnya dari dirinya sudah salah, meskipun tidak sadar namun yang namanya perjanjian dengan makhluk gaib adalah hal yang salah. tapi Danial akan mengiring kesepakatan itu ke arah menurut kemauannya. melarang hal-hal yang tidak bisa dilakukan olehnya nanti.
"jadi...kita partner sekarang. lalu...aku harus memanggil kamu dengan panggilan apa...?
"panggil aku Jin"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
V3
bgtu lah awal mula nya Daniel punya teman makhluk ghaib
2023-02-24
1