pukul 10 malam, semuanya menuju ke kamar masing-masing untuk istrahat. Ragel telah tertidur di pangkuan kakaknya. Gauri pun sudah berada dalam gendongan Galang dan membawanya ke kamar gadis kecil itu.
"bun, Ragel boleh tidur sama aku nggak malam ini" Danial berjalan menaiki satu persatu anak tangga
"boleh saja, tapi nanti kalau adik kamu bangun dan menangis minta susu bagaimana...?" Airin mengikuti langkah putranya
"tenang saja, aku kan kakak yang siaga. nanti kalau Ragel bangun aku akan membuatkan susu untuknya. boleh ya bun"
"ya sudah boleh. tapi nanti kalau kamu kewalahan, panggil bunda saja ya"
"makasih bun, aku pastikan Ragel nggak akan rewel malam ini"
Danial mencium pipi kanan Airin kemudian melangkah menuju kamarnya. sementara Airin pun masuk ke dalam kamarnya yang ia tempati bersama Adam. kamar Seil dan El-Syakir serta Satria juga berada di lantai dua begitu juga dengan Vania dan Zidan. hanya ayah Adnan, ibu Arini, Galang dan Gauri yang menempati kamar di lantai bawah.
dengan sangat berhati-hati, Danial membaringkan tubuh gembul adiknya di atas kasur dan kedua sisi ia berikan penghalang bantal guling agar nanti Ragel tidak terjatuh dari kasur.
Danial mencium pipi tembem adiknya itu kemudian ia melangkah ke arah jendela dan menutupnya.
"dia adikmu...?" Jin tiba-tiba sudah berada di dalam kamar dan duduk di samping Ragel
Danial terkesiap namun setelah melihat bahwa itu adalah Jin, ia melangkah dan duduk di samping adiknya.
"dia adikmu...?" Jin bertanya kembali
"iya, memangnya kenapa...?" Danial mengelus pipi Ragel yang sedang tertidur dengan pulasnya
Jin tidak menjawab, ia terus menatap lekat bayi itu membuat Danial merasa kalau Jin seperti sedang menginginkan adiknya.
"jangan macam-macam kamu, dia adikku" Danial berkata dengan tegas
"memangnya kamu pikir aku sejahat itu ingin memakan anak kecil" Jin melayang dan duduk di meja belajar
"lalu kenapa melihatnya seperti tadi"
"aku hanya gemas saja. dulu aku juga mempunyai adik yang masih bayi, tampan dan menggemaskan"
"lalu dimana adikmu itu sekarang...?"
Jin diam tidak menjawab. tatapannya lurus ke depan. ia pun mengalihkan pandangan ke arah rak buku yang ada di sampingnya.
"tadi aku ke rumahmu"
"lalu...?"
"emmm...kalau boleh aku tau, apakah kamu masih mempunyai keluarga...?" Danial bertanya dengan hati-hati takut menyinggung perasaan hantu itu
"keluarga...?" Jin bergumam pelan namun Danial masih mendengarnya
"dari foto yang aku lihat, kamu jelas tidak hidup seorang diri bukan"
"entahlah....aku sudah lama mati dan tidak ingat lagi keluargaku. mungkin mereka sudah bahagia sekarang tanpa aku" Jin mengarahkan tangannya ke depan dan satu buah buku tertarik melesat ke arahnya. seperti magnet yang menarik benda lain
Danial takjub dengan apa yang ia lihat. rupa-rupanya Jin memiliki kemampuan yang luar biasa. namun kemudian ia teringat dengan sesuatu yang ia ambil dari rumah kosong itu. segera ia bangkit dan berjalan ke arah meja belajar. ia membuka laci mejanya dan mengambil buku yang bersampul merah.
"aku mendapatkan ini di rumah mu tepatnya di sebuah kamar" Danial memperlihatkan buku itu kepada Jin
Jin hanya melirik sekilas kemudian kembali fokus pada buku yang ia baca.
"terus...?" tanyanya
"apakah ini bukumu...?"
"mungkin. aku tidak tau"
"namanya Keanu Alexander, aku menemukan ini di kamar itu. hanya ada dua orang anak laki-laki di rumah itu. yang bernama Keanu Alexander kalau bukan kamu berarti saudaramu"
"memangnya kenapa dengan buku itu...?" Jin menyimpan bukunya dan fokus kepada Danial
"ini buku tentang.... iblis. aku merasa tertarik untuk membacanya" Danial membuka lembar pertama
Jin tersenyum tipis sambil memperhatikan Danial membaca buku itu.
"apakah ini novel...?"
"baca saja maka kamu akan tau isi di dalamnya"
"nanti sajalah. tapi sepertinya buku ini seru. di dalamnya membahas tentang iblis yang menyeramkan. akan aku baca lain kali, sekarang aku ingin tidur terlebih dahulu. Danial menyimpan kembali buku itu dan ia beranjak ke ranjang berbaring di samping adiknya
"sudah memilih sekolah yang ingin kamu masuki...?"
"belum, aku akan menunggu ayah untuk mendiskusikan tentang hal itu" Danial menguap
"aku mau kamu masuk ke sekolah SMA Citra Bangsa"
Danial yang sudah ingin menutup mata, kembali bangun dan bersandar di ranjang.
"banyak sekolah di kota ini, kenapa aku harus masuk ke sekolah itu...?"
"di sana bagus dan pemandangannya pun bagus. kamu akan suka sekolah di sana"
"tapi di sana jauh sekali, bagaimana mungkin aku memilih sekolah itu sementara ada sekolah yang lebih dekat. katakan padaku, apa alasanmu merekomendasikan kepadaku sekolah itu. kamu tidak sedang merencanakan sesuatu kan...?" Danial menatap lekat ke arah Jin
"manusia memang selalu bermain dengan pemikirannya, tapi itu terserah kamu. kamu penasaran dengan apa yang aku rencanakan...?" Jin menatap tajam Danial "jangan selalu berburuk sangka kepada seseorang. sekarang tidurlah" Jin memutar badan membelakangi Danial
(aku yakin, ada sesuatu yang tidak beres dengannya) batin Danial
"jangan terlalu sibuk penasaran denganku, nanti kepalamu bisa botak" ucap Jin seketika
"nah benar kan kalau kamu bisa membaca isi hati seseorang. padahal tadi aku tidak bicara apapun dan aku hanya berbicara dalam hati tapi kamu langsung tau apa yang aku katakan dalam hati"
"apa kamu lupa kalau sekarang kita sudah terikat, darahmu telah menjadi darahku. jiwamu telah menjadi jiwaku begitu juga sebaliknya hanya raga saja sebagai pengecualian. aku hanya bisa mendengar isi hatimu tapi tidak dengan isi hati orang lain"
"wah hebat dong. berarti nanti jika aku meminta bantuan, aku tinggal memanggil kamu dalam hati maka kamu akan muncul" Danial berimajinasi
"kita memang akan saling membantu nantinya"
"maksud kamu...?" Danial mengernyitkan kening
Jin menyimpan bukunya dan melayang ke arah jendela kamar.
"semalat tidur"
Jin langsung menghilang dalam penglihatan Danial. karena memang sudah merasa mengantuk, Danial merebahkan diri di samping Ragel dan memeluk tubuh gembul bayi itu.
"selamat tidur kesayangan kakak"
cup
satu kecupan mendarat di pipi Ragel. Danial menutup mata dan menyusul sang adik ke alam mimpi.
dua hari tidak melakukan apapun selain berada di rumah dan bermain bersama adik-adik mereka, membuat Satria dan Danial merasa begitu senang. inginnya mereka tetap seperti itu namun hari ini adalah hari kepulangan Adam dan El-Syakir dan hari itu juga adalah penentuan sekolah dimana yang akan mereka masuki. tentunya orang tua mereka ingin sekolah yang terbaik untuk anak-anaknya.
"yang dekat-dekat sajalah nggak usah yang jauh-jauh" ucap Ayunda
mereka kini sedang berkumpul di halaman samping rumah di kolam renang sambil menikmati buah yang di sediakan oleh art di rumah itu.
"kan ada tuh sekolah yang nggak jauh dengan sekolah SMA xxx, mending di situ saja" ucap Zain
"harus berunding dulu lah sama ayah dan papa. memangnya kalian nggak mau beritahu orang tua kalian sekolah mana yang akan kalian masuki" timpal Satria
"kita sih dimana saja asal kita selalu sama-sama. mama sama papa juga setuju kalau aku tetap sama kalian terus" Kirana menjawab
sementara yang lain memilih sekolah, Danial malah sibuk dengan ponselnya. saat ini ia sedang memeriksa sesuatu di benda pipih itu. matanya tidak lepas dari apa yang menjadi tulisan di dalam layar ponsel itu.
"Dan, kamu lihat apa sih...?" tanya Zain dan ia memajukan kepala untuk melihat apa yang dibaca oleh Danial
"SMA Citra Bangsa" baca Zain
"kamu mau masuk ke SMA itu kak...? jauh loh itu" ucap Alea
"jauh tapi sekitarnya bagus loh. coba lihat, pas masuk ke dalam pagar sekolah kita sudah disuguhi dengan taman yang indah dan bunga-bunga yang cantik. terus, sekolah ini juga memiliki tempat kelas berbagai macam bakat yang ingin bisa diikuti oleh semua siswa. kelasnya setelah kelas wajib selesai" Danial menjelaskan
karena penasaran, mereka membuka ponsel dan mencari SMA Citra Bangsa di google. langsung muncullah sekolah besar itu yang ternyata banyak diminati oleh para pelajar.
"keren juga lah ini" ucap Satria
"tapi kok kayak di tengah hutan gini sih, pasti serem" ucap Ayunda
profil yang terlihat, SMA Citra Bangsa tidak berada di pinggir jalan seperti sekolah pada umumnya. sekolah itu harus melewati jalan setapak sekitar 100 meter. masih dalam jangkauan rumah-rumah penduduk hanya saja sekolah itu di kelilingi banyak pohon beringin dan juga di belakang sekolah itu adalah hutan yang luas.
"sekolah baru mungkin ya" ucap Kirana
"nggak mungkinlah. di sini tertulis sekolah SMA Citra Bangsa sudah berdiri sejak tahun 2003. berarti ini mah sekolah lama. nggak kalah keren dari sekolah yang lain meskipun letaknya jauh dari jalan poros" ucap Zain
"ada kelas les karate, wah bagus ini. bagaimana kalau kita masuk di sekolah ini saja. belajar karate supaya kita tidak mudah ditindas oleh orang-orang kurang kerjaan seperti Jeki kemarin" Danial mulai tertarik
"les menari dan piano ada juga. ini sekolah atau apa sih, keren banget. fix kita harus masuk di sini" Alea pun ikut tertarik
"jadi bagaimana...?" Danial menatap teman-temannya satu persatu
"aku setuju, tapi....jauh banget" Ayunda mengeluh
"kan kita bisa bawa motor" timpal Zain
"oke, aku setuju kita masuk di sini. tinggal bilang sama orang tua kita masing-masing" Satria berucap yakin
"jadi deal ya, kita masuk ke SMA ini" Danial bertanya lagi
"deal" semua orang berseru
Jin yang berada di tempat itu namun tidak terlihat oleh mereka bahkan Danial pun tidak melihatnya karena ia tidak menampakkan diri kepada remaja itu, ia tersenyum tipis sebelum akhirnya menghilang.
pukul 4 sore, para remaja itu pulang ke rumah masing-masing. saat akan hendak masuk ke dalam rumah, sebuah mobil berhenti di halaman rumah. Adam dan El-Syakir telah pulang dari luar kota. melihat mereka berdua, Dania dan Satria tersenyum.
"ayah"
"papa"
keduanya begitu senang dan menanti Adam dan El-Syakir melangkah mendekati mereka.
"kenapa berada di sini...?" tanya Adam
"kami mengantar teman-teman yang baru saja pulang yah" jawab Danial
"yah...yah"
Ragel bertepuk tangan dan berjingkrak-jingkrak di gendongan Airin saat melihat ayahnya. bayi itu ingin turun dan berlari ke arah Adam namun Airin menahan dan terus mengendong sampai ia berada di samping Adam.
"ulu ulu ulu...anak gantengnya ayah" Adam mengambil Ragel dari gendongan istrinya
Seil menghampiri suaminya bersama dengan Samudera yang terus merengek meminta ingin digendong oleh El-Syakir. bayi berusia lima bulan itu cekikikan saat sudah berada di gendongan ayahnya dan El-Syakir menciumi seluruh wajahnya.
"masuk yuk" ajak Airin
semuanya mengangguk dan masuk ke dalam rumah. mereka berkumpul di ruang keluarga.
"om Dirga...om El, oleh-oleh Gauri mana...?" gadis kecil itu langsung mengadahkan tangannya di depan keduanya
"oleh-olehnya di mobil sayang. Satria, tolong ambilkan ya" El-Syakir menyuruh anaknya
"iya pah" Satria bangkit dan menuju ke luar
Satria kembali dengan banyaknya oleh-oleh. Gauri melompat-lompat senang melihat hadiahnya. boneka beruang besar dan satu set alat memasak. Ragel yang dibawakan mobil yang berukuran besar langsung meminta untuk naik ke atas mobil itu. alhasil jadilah Adam kini bermain dengan putranya itu.
setelah makan malam, Danial dan Satria memberitahu bahwa mereka tidak diterima di sekolah tempat mereka mengikuti MOS kemarin. Adam dan El-Syakir menghela nafas mendengar alasan keduanya.
"masih banyak sekolah, pilih saja yang terbaik" ucap Zidan yang sedang memangku Gauri
"emmm sebenarnya kami sudah menemukan sekolah yang ingin kami masuki yah pah" ucap Danial
"sekolah mana...?" tanya Adam
kedua remaja itu saling pandang kemudian mengangguk bersamaan.
"SMA Citra Bangsa" ucap keduanya
"SMA Citra Bangsa...? jauh banget dek" Galang ternyata tau sekolah itu
"memangnya sekolah itu letaknya dimana...?" tanya Seil yang penasaran
"berada di wilayah selatan, tepat di hutan dan juga harus masuk jalan setapak sekitar 100 meter" Galang menjelaskan
"astaga sayang, kenapa memilih sekolah di tengah hutan" Airin tentu kaget
"banyak rumah warga di samping kiri-kanan bun. tapi memang di belakangnya adalah hutan. terlepas dari itu, sekolah itu juga tidak jauh keren dan bagus dari sekolah-sekolah yang lain. bahkan ada kelas les karate, musik, memanah dan masih banyak lagi sesuai bakat yang ada di dalam diri siswa. aku ingin masuk ke sana bun" ucap Danial yakin
"tapi tempat itu jauh" El-Syakir berkata lembut
"asal mereka suka sepertinya itu tidak masalah. mereka kan bisa naik motor" Vania menyetujui keinginan keduanya
"yang lain juga ingin masuk ke sana. kami semua akan masuk di sekolah itu. pah, ayah...kami mohon, izinkan kami masuk ke sekolah itu" Satria memohon
"izinkan saja nak, berada di dekat hutan bukan berarti sekolah itu berbahaya" ucap ibu Arini
"iya, asal mereka senang dan ingin menuntut ilmu. dimana saja tempatnya tidak menjadi masalah" ayah Adnan setuju dengan istrinya
"yah" Danial menatap dengan tatapan memohon
"hhh" Adam menghela nafas "baiklah" Adam akhirnya setuju
"papa" keduanya menatap El-Syakir
"kalau kalian tetap kekeuh, ya papa bisa apa" El-Syakir akhirnya mengalah
"makasih ayah"
"makasih pah"
Danial dan Satria memeluk ayah mereka masing-masing setelah itu bergantian mereka memeluk Adam dan El-Syakir. keduanya begitu senang, bisa mendapatkan izin sekolah di tempat yang mereka inginkan. sedang sosok yang sejak tadi memperhatikan mereka tersenyum tipis dan kemudian menghilang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
warkop Teteh kuningan
kek nya si jin itu metong disana dah trs nnti di minta nyari pembunuhnya
2023-10-31
0
V3
smg si jin gak punya maksud jahat apa pun.
kira² stlh team Samudra sdh pd menikah dan punya anak , apakah kemampuan nya msh ada atau sdh hilang ,, bgtu jg dg senjata yg mereka miliki apakah msh ada di dalam tubuh nya ❓❓ di
untuk ratu Sundari atau Airin apakah msh Sakti ❓❓❓❓🤔🤔🤔🤔
byk pertanyaan nih di kepala aku 🤔🤔🤔
2023-02-25
1
Kaa
kemampuan tim samudera liat makhluk halus udh ilang ya???
2023-02-17
1