air hujan belum juga menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti, meskipun begitu derasnya tidak sederas tadi. di jalan raya mulai digenangi air menimbulkan percikan ke sembarang arah jika kendaraan roda empat lewat maupun roda dua.
Danial mengumpulkan keberaniannya untuk membuka pintu rumah yang terlihat angker itu.
ngiiiik
suara pintu yang berderit memenuhi gendang telinga mereka. Danial membuka pintu dengan lebar agar ia dapat melihat keadaan di dalam sana.
"gimana Dan, ada orang nggak...?" tanya Satria yang kini tengah memapah Ayunda
"nggak ada. ayo masuk" Danial melangkahkan kaki kanannya menginjak lantai di dalam rumah itu
"pelan-pelan saja Ay" Satria menuntun Ayunda untuk berjalan
"aku masih bisa jalan sendiri loh Sat meskipun pincang" Ayunda ingin melepaskan tangannya dari leher Satria namun temannya itu menahannya
"lebih baik aku bantu biar cepat sampai" timpal Satria
saat pintu di buka maka akan terlihat ruang tamu dimana empat sofa tertata rapi di tempatnya dan juga meja kaca yang panjang. setelahnya mereka kembali melangkah masuk semakin dalam untuk mencari letak kamar mandi. di ruang tengah ada televisi dan juga dua sofa serta meja bundar. di pojok ruangan di samping televisi terdapat sebuah guci yang berisi tanaman bunga. ada kasur berukuran besar dan juga beberapa bantal sofa yang tergeletak di kasur itu. sepertinya itu adalah ruangan pemilik rumah untuk bersantai. terdapat tiga ruangan di tempat itu, sudah pasti itu adalah kamar.
"mana kamar mandinya...?" tanya Ayunda
"mungkin di belakang, nggak mungkinlah ada kamar mandi di ruang tengah kalau bukan di dalam kamar" jawab Danial
"biar aku antar ke kamar mandi" ucap Satria
Satria membawa langkah bersama Ayunda menuju ke arah dapur sementara Danial tetap berada di ruang tengah sambil melihat sekitarnya. beberapa foto di pajang di rak-rak yang tersedia khusus untuk penyimpanan foto.
lalu di dinding pun, ada sebuah bingkai foto yang berukuran besar. dapat dilihat kalau di dalam foto itu adalah foto keluarga.
"padahal rumah ini masih bagus, kenapa malah ditinggalkan seperti ini ya" gumam Danial
rumah yang berukuran sedang, dengan fasilitas yang lengkap di dalamnya. jika Danial asumsikan mungkin pemilik rumah itu adalah orang yang berkecukupan.
meong... meong
seekor kucing putih terlihat berjalan mendekat ke arah Danial. entah darimana masuknya kucing putih itu namun tiba-tiba saja kucing itu sudah berada di dalam rumah.
"meong"
kucing itu mengelilingi kaki Danial. karena merasa gemas, Danial menggendong kucing itu namun tidak lama karena kucing itu melompat dan duduk di sofa sambil menjilati bulu-bulunya.
Danial kembali fokus memperhatikan pajangan bingkai foto di depannya. wanita baya dan laki-laki baya duduk di sebuah kursi sedang dua orang anaknya yang keduanya adalah laki-laki berdiri di belakang mereka. senyuman kebahagiaan terpancar dari raut wajah mereka.
di samping bingkai foto yang berukuran besar itu, ada beberapa bingkai foto yang terpajang. bukan lagi foto keluarga melainkan foto dari dua anak laki-laki itu dan juga foto mereka yang berpose sendiri-sendiri.
"ganteng-ganteng lah mereka ini"
Danial mengangumi salah seorang dari mereka. remaja yang berkulit putih dan mempunyai bola mata berwarna biru. hidungnya mancung dan juga begitu tampan. keduanya sama-sama tampan namun Danial begitu terpesona dengan ketampanan salah satunya.
fuuuuhhh
"astaghfirullah"
merasa ada yang meniup telinganya membuat Danial terlonjak kaget dan refleks berbalik. tidak ada siapapun, bahkan Satria dan Ayunda pun belum kembali dari sejak tadi mereka mencari kamar mandi di rumah itu.
"perasaan ada yang meniup deh tadi. apa perasaan aku aja kali ya" Danial mengusap tengkuknya, matanya menjelajah ke setiap ruangan
seketika bulu kuduknya berdiri, ia mulai merinding merasa tidak nyaman. namun karena dirinya tidak melihat siapapun dan juga tidak mungkin ia meninggalkan Satria dan Ayunda.
dirinya tidak ingin ambil pusing, ia pun kembali menghadap ke depan menatap kembali foto remaja yang ia perhatikan sejak tadi. setelahnya ia hendak beranjak ke sofa untuk menunggu kedua temannya namun tanpa di sangka foto yang bahkan tidak di sentuhnya itu jatuh seketika tepat di kakinya.
bingkai foto itu pecah berantakan di lantai. Danial sampai temangu di tempatnya. berkali-kali ia mencoba memikirkan bagaimana bisa sampai bingkai foto itu jatuh padahal dirinya tidak menyentuh sedikit pun bahkan tidak mungkin juga angin akan menjatuhkan benda itu.
"aneh banget" ucapnya sambil berjongkok untuk mengambil foto tersebut
dengan hati-hati Danial mengambil lembar foto itu dari bingkai yang sudah pecah. entah ada masalah apa kucing putih itu dengan Danial karena tiba-tiba kucing itu melompat ke arah Danial dan mencakar tangannya dengan beringas.
meong... meong
kucing itu menyerang Danial dengan brutal dan mengeong begitu kerasnya bahkan tatapan matanya begitu tajam, menatap Danial seakan ingin mencakar wajahnya. tangan Danial yang terkena cakaran mulai berdarah dan menetes membasahi foto tersebut.
"astaghfirullah Dan" Satria yang baru saja datang mendudukkan Ayunda di sofa dan kemudian mendekati sepupunya itu yang dimana tangannya sudah meneteskan darah. bukan hanya sekali kucing putih itu mencakar Danial namun dengan brutal ia menggunakan kuku tajamnya untuk melukai Danial
meong... meong
kucing putih itu melap darah Danial yang menetes di lembar foto tadi. suara kucing itu perlahan melemah.
"sepertinya dia marah aku menjatuhkan foto itu, sampai dia mencakar ku dengan brutal. apa jangan-jangan kucing ini peliharaan anak laki-laki itu ya" ucap Danial
Satria mengangkat bahu Danial dan membawanya duduk di sofa. remaja itu berlari ke arah dapur mencari sesuatu.
"pasti sakit banget" Ayunda meringis melihat tangan Danial yang terus menerus mengucurkan darah
"namanya luka jelas sakit" Danial menjawab namun matanya fokus melihat ke arah kucing putih yang terlihat seakan sedang memeluk lembar foto itu
Satria datang membawa kotak p3k yang ia dapat entah darimana. dengan cekatan ia membersihkan darah Danial.
"kenapa sampai kucing itu menyerang kamu sih Dan" tanya Satria sambil mengobati luka-luka Danial
"mungkin dia suka padaku" Danial menjawab asal
"kalau suka mah dia nggak akan nyerang kamu" timpal Ayunda
tangan Danial di perban oleh Satria. setelah itu Satria kembali ke belakang untuk menyimpan kembali kotak p3k yang diambilnya tadi.
"ayo keluar, udah nggak hujan lagi tuh" ucap Satria setelah kembali
Satria kembali membantu Ayunda berdiri dan melangkah untuk keluar. sementara Danial masih bergeming di tempatnya dan terus menatap kucing putih itu. ia merasa kasihan karena terlihat kucing itu sedang bersedih sambil berbaring memeluk foto tersebut. setelahnya, kucing itu bangkit dan berjalan menuju pintu keluar, entah akan pergi kemana namun Danial tidak mengindahkan itu.
tangannya terulur mengambil lembaran foto itu dan memperhatikan dengan lekat. ia balik foto tersebut dan ternyata di belakang foto itu ada sebuah tulisan.
"jiwamu milikku jiwaku milikmu
darahmu milikku darahku milikmu
darahku darahmu jadi satu"
setelah membaca tulisan itu, seketika tubuh Danial tidak dapat bergerak. dirinya seperti orang lumpuh yang tidak dapat menggerakkan tubuhnya. bahkan sekuat apapun ia berusaha, dirinya sama sekali tidak dapat menggerakkan tubuhnya. bahkan mulutnya pun susah untuk ia gerakkan, memanggil semua teman-temannya saja seperti suaranya tertahan di tenggorokan.
hanya kedua matanya yang menatap setiap sudut rumah. kemudian seakan di paksa, kepalanya menunduk untuk melihat kembali foto yang ada di tangannya. semakin ia lama menatap maka semakin Danial merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan foto itu. tadinya ekspresi wajah anak remaja yang ada di foto itu tidak tersenyum, namun sekarang malah berbeda raut wajahnya. sekarang terlihat remaja itu sedang tersenyum, tersenyum menyeringai ke arah Dania.
"hahaha... hahaha"
tawa suara seseorang terdengar menggema di dalam rumah itu. seakan menertawakan penderitaan yang dialami oleh Danial. hingga tawa itu hilang tiba-tiba dan digantikan dengan suara yang terdengar begitu jelas di telinga Danial.
"darahku darahmu jadi satu"
Danial merinding dan begitu ketakutan. keringat dingin mulai membasahi bajunya. kalimat itu mulai terngiang-ngiang di kepalanya bahkan tanpa berhenti sekalipun. kepalanya kini mulai terasa berat, bahkan terasa sakit dan berdenyut seakan-akan hendak pecah.
"aaaggghh"
bugh
tidak sanggup menahan sakit kepala yang luar biasa, Danial jatuh ke lantai. sebelum matanya tertutup rapat, ia melihat seseorang sedang berdiri di depannya dengan senyuman yang terlukis di wajahnya dan menggendong seekor kucing setelahnya gelap dan Danial pingsan saat itu juga.
karena sudah terlalu lama Danial tidak keluar juga akhirnya Zain menyusul masuk ke dalam rumah. hal membuatnya terkejut adalah, sahabatnya itu telah terkapar di lantai tidak sadarkan diri.
"astaga SAT... SATRIA"
teriakan Zain membuat semua orang kaget. Satria berlari masuk kedalam rumah begitu juga dengan Alea, sedang Kirana menemani Ayunda di luar.
"apa yang terjadi, kenapa Danial pingsan begini...?" Satria panik tatkala melihat Danial di pelukan Zain
"wajahnya pucat banget Sat, tubuhnya juga dingin seperti es. kita harus pulang sekarang, aku nggak mau Danial kenapa-kenapa" Zain nampak sudah berkaca-kaca
"biar aku yang gendong kalian pergi cari taksi. kita nggak mungkin membawa Danial berjalan kaki, rumah kita jauh" ucap Satria
"biar aku yang cari taksi" Alea berlari keluar rumah
melihat Alea berlari keluar dari halaman rumah membuat perasaan Kirana dan Ayunda semakin di terpa gelisah. mereka ingin tau apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah.
"kita ke dalam Ki, aku ingin melihat mereka" Ayunda berusaha untuk bangun
"jangan Ay, kita tunggu mereka saja di sini" Kirana menahan Ayunda untuk bangun
"tapi aku khawatir. dari teriakan Zain tadi sudah menandakan kalau terjadi sesuatu"
"keadaanmu yang seperti ini sebaiknya tidak usah banyak bergerak dulu Ay. semoga di dalam tidak terjadi apapun" Kirana tetap tidak mengizinkan Ayunda untuk masuk ke dalam rumah
Ayunda hanya dapat menghela nafas sebelum akhirnya terpaksa mengikuti perkataan Kirana.
setelah berhasil menghentikan taksi, Alea berlari lagi ke arah rumah itu dan masuk ke dalam untuk memberitahu Satria dan Zain.
"taksinya sudah ada kak" dengan nafas memburu Alea berucap
"tolong bantu aku Za" pinta Satria
Zain membantu Satria untuk menggendong tubuh Danial di punggungnya. sekuat tenaga Satria berusaha untuk bangun dan Alea membantunya. setelah berhasil bangun, mereka keluar dari rumah itu. hal yang sama sekali tidak mereka sadari sejak tadi bahwa Danial menggenggam erat lembar foto yang ia ambil tadi.
Kirana dan Ayunda panik seketika saat melihat Danial di gendong oleh Satria. mereka pun ikut menyusul untuk berjalan ke arah taksi yang telah di berhentikan oleh Alea.
"ke rumah sakit pak" ucap Zain
satu taksi mereka tidak cukup sehingga dengan terpaksa para perempuan menunggu taksi berikutnya. Kirana melambaikan tangan ke arah sebuah taksi yang lewat.
"ikuti taksi yang ada di depan sana pak" ucap Ayunda
"baik dek"
di rumah kediaman Sanjaya, Airin dan Seil kini dalam keadaan gelisah menunggu anak-anak mereka pulang. sudah masuk waktu sholat magrib namun sampai sekarang Danial dan Satria belum juga menunjukkan batang hidung mereka.
"ya Allah, kemana mereka kenapa belum pulang juga" Airin sudah nampak begitu khawatir
"sudah malam tapi mereka belum pulang juga, apa terjadi sesuatu. perasaanku menjadi tidak enak" Seil terus gelisah di tempat duduknya
sebuah mobil putih memasuki pekarangan rumah dan berhenti di garasi mobil. Zidan dan Vania serta Galang baru saja pulang dari rumah ibu Sinta, ibu dari Vania. wanita itu bahkan sudah di bujuk oleh anaknya untuk tinggal bersama mereka namun ibu Sinta menolak karena tidak ingin meninggalkan rumah peninggalan suaminya. jadilah Zidan serta anak dan istrinya setiap minggu menjenguk wanita itu.
mereka menghampiri dua wanita yang kini berada di teras rumah. Galang menggandeng tangan adiknya yang berusia lima tahun. anak kedua Zidan dan Vania bernama Gauri Putri Sanjaya.
"tante Ai sama tante Seil kok di sini...?" Gauri bertanya dengan suara lembutnya
"lagi nunggu kakak Satria sama kakak Danial sayang" Seil tersenyum lembut ke arah bocah itu
"mereka belum pulang...?" tanya Zidan
"belum paman, padahal sudah malam tapi mereka belum pulang juga sampai sekarang" Airin menjawab dengan wajah penuh kekhawatiran
"Galang, kenapa adik-adik kamu sampai sekarang belum pulang...?" Vania bertanya kepada anaknya
"Galang nggak tau ma. mereka semua sebenarnya sedang dihukum, setelah pulang mereka harus membersihkan lingkungan sekolah karena mereka melanggar peraturan. namun harusnya mereka sudah pulang kalau sudah malam seperti ini" Galang pun ikut khawatir, ia merasa bersalah telah meninggalkan adik-adiknya itu
dua mobil datang masuk ke pekarangan rumah. mereka adalah El-Syakir dan Adam. saat ini El-Syakir bekerja di perusahaan Sanjaya grup membantu Adam. bersama dengan Deva, mereka membantu setiap pekerjaan CEO Sanjaya grup itu dan juga toko milik ayah Adnan, kini diambil alih oleh El-Syakir untuk menjalankan bisnis ayahnya itu karena ayah Adnan ingin menikmati usia tuanya bersama sang istri di rumah.
"mas"
"sayang"
Airin dan Seil melangkah cepat menghampiri suami mereka.
"kenapa sayang, ada apa...?" tanya Adam saat melihat mata istrinya sudah nampak berkaca-kaca
"yang, anak-anak belum pulang sampai sekarang" ucap Seil kepada suaminya
"belum pulang...?" tanya El-Syakir memastikan
"Danial dan Satria...?" tanya Adam
Airin dan Seil mengangguk, keduanya mulai menangis karena begitu khawatir dengan putra mereka.
tidak lama ponsel Adam berdering. segera ia mengangkat panggilan dari Alana karena adiknya itu yang menghubungi dirinya.
(halo kak, apakah kakak di rumah...?)
(iya kakak baru saja pulang, ada apa...?)
(apakah Alea ada di situ karena dia belum pulang sejak tadi)
(jadi Alea juga belum pulang...?)
pertanyaan yang di lontarkan Adam membuat semua orang saling pandang. Airin dan Seil semakin dibuat khawatir.
(iya kak maka dari itu Lana bertanya mungkin Alea ada di situ)
(nggak ada, Alea nggak ada di sini bahkan Danial dan Satria pun belum pulang)
(ya Allah, jadi kemana mereka)
Alana panik di sebrang sana
(kita akan mencari mereka, kamu tenanglah dulu)
(kalau begitu Lana sama mas Leo akan ke sana)
(ya sudah, hati-hati di jalan)
"bagaimana sayang...?" tanya Leo setelah Alana mematikan panggilan
"Danial sama Satria belum pulang juga mas, kita ke sana ya"
"ya sudah, kita sana sekarang"
bukan hanya Alana yang menghubungi Adam dan El-Syakir tapi tim samudera yang lainnya pun menghubungi keduanya menanyakan keberadaan anak mereka di rumah kediamannya Sanjaya karena biasanya di sanalah tempat anak-anak mereka berkumpul.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
warkop Teteh kuningan
kan tdi Galang sekolah masa udah dri rumah ibu Sinta lagi sih,,katanya setiap Minggu nengokin nya,,,
2023-10-30
0
V3
masalah Daniel sama spt masalah Leo dulu , beda nya klu Leo itu pd Lukisan Wanita , sdgkan Daniel masalahnya dg foto anak laki-laki
2023-02-24
1
Kayla Azzahra
Kya yg di alami leo dulu
2023-02-09
1