semua siswa siswi yang bersekolah di SMA Citra Bangsa akan pulang setelah semua pelajaran telah usai. biasanya, jam pulang sekolah elit itu adalah jam 16.00 atau terkadang 16.30. jika yang mengikuti kegiatan ekskul di luar jam sekolah, maka biasanya mereka akan pulang saat menjelang magrib.
anak-anak tim samudera, masih berada di taman sekolah menunggu kedatangan pak Samsul yang menjadi sopir pribadi mereka setiap hari. pak Samsul mengubungi Alea anak dari bosnya yaitu Leo, kalau dirinya akan terlambat beberapa menit ke depan sebab sekarang dirinya berada di bengkel. ban mobilnya bocor dan tentunya harus diservis di bengkel. mereka lebih memilih menunggu di taman sekolah, bisa duduk santai sambil melihat pemandangan bunga-bunga yang mulai bermekaran.
saat itu, Sharlin terlihat sedang berjalan ke arah mobil kepala sekolah. kendaraan guru-guru dan kepala sekolah memang berada di dalam pagar, khusus untuk para pendidik. sementara untuk kendaraan siswa siswi, berada di luar pagar, khusus untuk mereka.
"itu ketua kelas ngapain bersama kepala sekolah" ujar Danial
mereka yang sibuk bercerita, memutar kepala melihat ke arah parkiran para guru. di sana Sharlin, sedang berdiri di dekat mobil kepala sekolah sambil memainkan ponselnya. tidak lama, kepala sekolah mereka datang dan masuk ke dalam mobil. Sharlin pun ikut masuk di kabin depan.
"lah kok dia ikut masuk" ujar Zain
"apanya yang aneh sih, hanya masuk mobil kepsek doang. siapa tau, Sharlin nebeng sama kepsek" Satria masa bodoh
"ya bukan gitu kak, maksudnya kan...itu kepsek loh, masa segitu beraninya Sharlin nebeng sama kepsek" ucap Alea
"kalau dia punya nyali besar, ya dia berani lah" jawab Satria kembali
semuanya diam, mungkin memang Sharlin hanya nebeng saja di kepsek yang masih muda itu. mobil silver itu berjalan mundur perlahan, saat berubah haluan, Danial melihat sosok yang dikenalnya ternyata sedang berdiri di dekat mobil kepala sekolah sejak tadi. dialah Jin, tatapan mata hantu itu fokus melihat ke arah mobil yang semakin jauh darinya.
"ngapain dia di sana" Danial berucap tanpa sadar
"dia siapa...?" tanya Kirana, semuanya menatap ke arah dimana Danial fokus melihat ke arah itu "nggak ada siapapun" lanjut gadis itu
"dia sih Dan...?" tanya Ayunda
"hah...? siapa dia...dia siapa apanya...?" Danial baru sadar dan gelagapan
Satria menangkap keanehan dari sikap sepupunya itu. kini Satria mengalihkan pandangan ke arah dimana mobil kepala sekolah berada di sana tadi, sayangnya ia tidak melihat apapun.
"ish gimana sih, tadi kamu nyebut seseorang loh Dan" ucap Zain
"masa sih, aku nggak merasa menyebut seseorang. salah dengar kali. eh ngomong-ngomong, aku lapar loh, tunggu pak Samsul di warung makan aja gimana" Danial sengaja mengalihkan pembicaraan
"aku juga lapar, tapi warung makan itu jauh. di depan sana mana ada warung makan" ucap Ayunda
dengan terpaksa mereka harus menunggu sampai pak Samsul datang. saat itu Jin menghilang dan telah berada di samping Danial. hantu itu mengangkat alis saat Danial menatapnya penuh tanda tanya.
(ngapain tadi di sana...?) Danial bertanya dalam hati
"nggak ngapa-ngapain, kamu kepo sekali" Jin menjawab enteng
(cih dasar...sok main rahasia) Danial memasang wajah masam dan mencebik, sementara Jin bersikap tidak terjadi apapun
hampir menunggu satu jam, namun pak Samsul belum juga datang. hari sudah semakin sore, Alea menghubungi pak Samsul. ternyata laki-laki baya itu masih berada di bengkel. helaan nafas panjang Alea, membuat teman-temannya sudah dapat memastikan dimana keberadaan pak Samsul.
"belum selesai juga...?" tanya Satria
"belum, gimana dong...? udah jam 5 sore nih, sekolah juga udah pada sepi" Alea melihat sekitar
"masih ada yang ikut ekskul, bukan cuman kita saja" ucap Zain
"tapi tetap saja, aku jadi takut kalau suasana sore seperti ini. kelihatan serem gimana gitu" Kirana mulai takut
"sebaiknya kalian jalan kaki saja sampai di depan, jangan di sini" Jin memberitahu Danial
(emang kenapa kalau di sini, kan ada kamu) batin Danial
"kita tunggu pak Samsul di jalan utama saja deh. sejak kejadian mengerikan kemarin dan tadi pagi, aku rada ngeri kalau berlama-lama di sini sampai malam" Ayunda mengapit lengan Satria
"ya sudah, kita ke jalan utama saja" Satria setuju
mereka sepakat untuk menunggu pak Samsul di jalan utama. ayunan langkah kaki mereka hampir sampai keluar dari gerbang. tapi kemudian semuanya menghentikan langkah dan membalikkan badan saat seorang siswi berlari ke arah mereka dan sampai dengan nafas ngos-ngosan.
"t-tolong.... tolong teman saya" nafasnya yang memburu, matanya berair menahan tangis
"atur nafas dulu kak, pelan-pelan. kita duduk di taman saja" Ayunda memegang lengan siswi itu, membawanya ke tempat duduk mereka tadi
air mata siswi itu semakin jatuh membasahi pipinya yang chubby. rambutnya sampai bahu, dibasahi oleh keringat. Danial mengambil air mineral yang ada di tasnya dan memberikan kepada gadis itu. Alea mencari tisu di dalam tasnya dan melap keringat gadis itu dengan pelan.
"minumlah dulu, setelah itu cerita pelan-pelan" ucap Danial
"t-terimakasih" dengan tangan gemetar, ia mengambil botol air minum itu. sayangnya, untuk membuka penutupnya saja serasa dirinya tidak mempunyai tenaga. Danial mengambil dan membuka penutupnya kemudian memberikannya kembali
habis setengah air minum itu, gadis itu memberikannya kembali kepada Danial. Jin tetap berada bersama mereka, matanya menelisik ke segala arah. ia mulai merasakan ada yang tidak beres saat itu.
"sekarang kakak boleh cerita. sebenarnya apa yang terjadi sampai kakak terlihat ketakutan seperti ini...?" ucap Alea
"tadi...tadi aku sama temanku yang bernama Mila, kami sedang membersihkan ruang kesenian karena mendapat hukuman dari pak Hamzah" ucapnya dengan suara bergetar
"lalu...?" Satria ingin gadis itu melanjutkan ceritanya
"lalu....lalu, Mila tiba-tiba saja bersikap aneh. dia...dia... tiba-tiba saja menari. dia menari tanpa henti, bahkan saat aku mencoba menghentikannya, dia... dia malah menatapku begitu tajam. tatapannya begitu menakutkan, sampai aku masih merasakan merinding sekujur tubuh" gadis itu memeluk tubuhnya sendiri, ia usap semua badannya karena merasa begitu ketakutan
"setelah itu apa yang terjadi...?' tanya Zain
"Mila.... Mila, dia.... kesurupan. dia terus menari tanpa henti, bahkan dirinya menari begitu cepat namun kemudian menjadi lambat lagi. bukan hanya itu yang membuat aku meninggalkan dia. Mila sampai tertawa melengking, itu bukan suaranya tapi suara orang lain. matanya...kedua matanya berubah menjadi putih seluruhnya. apa yang harus aku lakukan, apa yang harus kita lakukan. aku takut kembali ke sana, tapi takut juga kalau sampai Mila kenapa-kenapa. tolong aku, aku tidak tau lagi mau meminta tolong kepada siapa" siswi itu memohon mengatupkan kedua tangan di depan dada
"beritahu guru yang sedang memberikan latihan ekskul tentang hal ini, aku akan ke ruang kesenian sekarang" Jin mengatakan itu kepada Danial "keluarkan kalungmu di luar baju sekolahmu, dan satu lagi, jangan sampai kalian berpencar. apapun yang terjadi nanti, kalian harus tetap bersama" setelahnya hantu itu menghilang tidak terlihat lagi
"gimana ini...?" Alea mulai gelisah
"gimana Dan, Sat...?" Zain meminta pendapat keduanya
"begini saja, untuk perempuan biar kalian menunggu pak Samsul di jalan utama. kami bertiga yang akan mencari Mila" Satria bersuara
"bahaya Sat membiarkan mereka begitu saja, ini bahkan sudah setengah enam. lebih baik kita tetap dalam keadaan bersama, jangan berpisah-pisah" Danial tidak setuju mereka terpencar. pesan Jin tadi harus dia lakukan
"benar kata Danial, aku nggak mau kita berpencar" ucap Kirana
"kalian tunggu di sini, aku akan memberitahu guru yang memberikan latihan ekskul. mereka harus tau ada siswi yang membutuhkan pertolongan. Za ayo temani aku, biar Satria yang menemani para perempuan di sini" ucap Danial
"ya sudah, ayo pergi"
"cepat kembali" ucap Satria
keduanya mengangguk, mereka berlari ke arah gedung pelatihan yang ada di sebelah kanan. luasnya sekolah itu memerlukan tenaga untuk bisa sampai ke tempat tujuan. berlari adalah satu-satunya cara agar mereka bisa dengan cepat sampai di tujuan.
gedung yang mereka temui pertama adalah gedung tempat memanah. saat mereka masuk, sudah tidak ada orang di dalam. rupanya hari itu latihan memanah tidak diadakan, mereka membaca pemberitahuan yang tertempel di dinding. mereka berlari lagi ke gedung berikutnya. gedung latihan karate, di dalam semua orang sedang bersiap-siap untuk pulang. dengan nafas memburu, Danial serta Zain menghampiri guru yang memberikan latihan yang sedang bersiap untuk pulang.
"pak...pak" Zain memanggil, remaja itu ngos-ngosan
"kalian mau ikut latihan, sudah terlambat semua orang sudah mau pulang. kenapa baru datang sekarang" guru itu menceramahi keduanya
anak-anak yang ikut latihan sudah membubarkan diri, di dalam gedung itu tersisa tiga orang saja.
"ada keadaan yang genting pak, seorang siswi kesurupan di ruang kesenian" Danial memberitahu
"kesurupan...?" tentu saja guru itu kaget, ia bahkan yang sedang duduk berselonjor di lantai, berdiri dengan cepat
"iya pak, kita harus menolongnya pak sebelum terjadi sesuatu padanya. temannya tadi datang memberitahu kami"
"astaga Mila, Ananta. terus dimana dia sekarang, maksud bapak dimana temannya itu...?"
"di taman pak"
segera saja guru itu berlari keluar gedung, Danial dan Zain terpaksa harus kembali berlari lagi. di taman, semua orang sedang menunggu mereka.
"Ananta" panggil guru tadi
"pak Hamzah" siswi yang bernama Ananta itu segera berdiri dan dengan cepat menghampiri guru yang ternyata adalah yang menghukum Ananta dan Mila di ruang kesenian
"apa yang terjadi, mana Mila...?"
"Mila... Mila kesurupan pak, dia di ruang kesenian. aku takut banget pak, Mila mengerikan, dia sangat menakutkan" Ananta menjelaskan dengan menangis
"kalau begitu kalian tetap di sini, biar saya yang menjemput Mila"
"kami ikut pak, bapak pasti membutuhkan bantuan kami. kenapa kita tidak memberitahu guru yang lain" ucap Danial
"tidak ada yang memberikan latihan hari ini selain saya, guru di sini hanya ada saya. kalau kalian ingin ikut maka cepatlah"
semuanya berlari menyusul pak Hamzah yang sudah lebih dulu berlari menuju ke ruang kesenian. ruang kesenian berada di tengah-tengah antara laboratorium dan aula sekolah. berjejer dengan gedung-gedung tempat latihan ekskul yang diikuti oleh siswa siswi setelah jam pelajaran sekolah usai.
pak Hamzah lebih dulu tiba di ruangan itu, sayangnya tidak ada siapapun di sana. kosong tanpa seorangpun, siswi yang bernama Mila itu tidak ada di tempat. bahkan saat Danial dan teman-temannya tiba, ia juga tidak melihat Jin berada di sana. perasaannya mulai tidak enak, teringat dengan percakapan dua siswa yang di toilet tadi. jangan-jangan siswi yang bernama Mila itu akan dijadikan tumbal. entah mengapa sekarang Danial seakan percaya dengan cerita dari dia siswa kakak kelasnya yang belum ia tau bagaimana wajah mereka berdua.
"dimana An, kamu bilang Mila berada di sini" pak Hamzah memutar badan menghampiri Ananta
"tapi tadi...tadi Mila ada di sini saat aku tinggalkan pak. dia bahkan menari di sana, di dekat jendela" Ananta menunjuk tempat berdirinya Mila
"kamu yakin tadi Mila berada di sini...?" pak Hamzah kembali bertanya
"yakin pak, dia bahkan tertawa-tawa melengking sambil menari" jawab Ananta
pak Hamzah mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor untuk menghubungi seseorang. pak Hamzah menghubungi kepala sekolah, beruntungnya satu kali memanggil langsung diangkat oleh kepala sekolah SMA Citra Bangsa itu.
pak Hamzah
gawat pak, ada siswi yang menghilang
kepala sekolah
bukannya semua siswa siswi sudah pulang ke rumah, bagaimana bisa ada yang hilang
pak Hamzah
mereka yang bermasalah dengan siswi yang bernama Zalifa pak. Kamila dan Ananta, mereka siswi yang membuli Zalifa
"membuli...?" tentu saja enam remaja yang mendengar itu langsung terkejut. tatapan mata mereka memicing ke arah Ananta, tidak di sangka siswi yang datang menangis kepada mereka adalah seorang siswi pembuli di sekolah itu
Ananta yang ditatap tajam oleh oleh tiga siswi dan tiga siswa yang menatapnya dingin, meneguk ludah dan menunduk takut. ia meremas kedua jemarinya.
kepala sekolah
cari sampai ketemu pak, saya akan ke sana sekarang
pak Hamzah
baik pak
"bagaimana pak...?" tanya Zain
"kalian pulang saja, kepala sekolah akan datang membantu saya. bahaya kalau kalian tetap di sini"
"tapi pak, kami ingin membantu pak, aaaggghh" Danial merasakan sakit di lehernya. kalung yang ia pakai mengeluarkan hawa panas yang membuat dirinya tidak sanggup menahan dan dirinya jatuh ke lantai
"Danial"
yang lain panik, mencoba menenangkan Danial namun remaja itu semakin histeris saat kalung itu semakin memanggang lehernya.
"Dan... Danial" Satria panik dan mencoba untuk memeluk sepupunya itu, sayangnya Danial tidak dapat dikendalikan
semakin lama rasa panas itu semakin menjadi, hingga akhirnya Danial jatuh pingsan di lantai. keadaan saat itu semakin genting. belum menemukan siswi yang bernama Mila, kini Danial harus pingsan juga. untuk kedua kalinya Danial tidak bisa menahan hawa panas yang ada di kalungnya. jika kali pertama ada Jin yang membantunya namun saat ini entah kemana perginya hantu itu. perlahan kedua mata Danial semakin gelap hingga akhirnya semakin tertutup rapat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
V3
sebenarnya kalung itu kalung apa sih , knp sering bgt menyiksa Daniel dg panas nya. ❓❓❓
2023-05-16
1