Episode 7

"panggil aku Jin"

"Jin...?"

"iya, kenapa...? laki-laki itu menatap Danial dengan tajam

"ah n-nggak... nggak apa-apa. nama kamu bagus" Danial kembali terbata

(namanya serem...seserem orangnya) batin Danial

"kamu mengataiku...?"

deg

mata Danial hampir melompat dari tempatnya.

"m-maksud kamu...?" Danial menelan ludah

(bagaimana dia bisa tau kalau aku membicarakannya)

"tentu saja aku tau"

uhuk...uhuk

Danial terbatuk-batuk dan memukul dadanya, ia kemudian berlari ke arah nakas dan mengambil gelas yang berisi air minum. dengan cepat ia meneguk habis isi gelas tersebut.

laki-laki itu mengangkat bahu dan melayang kemudian ia duduk di meja belajar Danial. matanya menelisik ke setiap sudut ruangan itu. sementara Danial setelah mengatur nafas, ia berbalik menghadap ke arah laki-laki itu dan lagi dirinya terkesiap kaget karena perubahan tiba-tiba yang di alami laki-laki itu.

"apakah kamu bunglon, dapat berubah wujud secepat kilat" ucap Danial

penampakan laki-laki itu tidak lagi semenyeramkan tadi. jika tadi wujud dirinya berubah menjadi setan yang menyeramkan bagi Danial dengan mata merah dan wajah penuh darah serta sebuah pisau tertancap di dadanya, maka sekarang penampakan laki-laki itu sudah berubah. tidak ada lagi pisau yang tertancap di tubuhnya dan tidak ada lagi darah yang memenuhi wajahnya serta warna matanya tidak lagi berwarna merah namun kini berubah menjadi biru. hanya saja wajahnya tetap pucat tapi tetap saja Danial dapat melihat kalau laki-laki itu begitu putih. bukan juga albino hanya saja memang laki-laki itu seperti rupa orang-orang barat.

rahangnya yang tegas dan hidungnya yang mancung serta mata yang jernih dan alis yang tebal, sungguh menurut Danial dia adalah laki-laki yang tampan yang pernah ia lihat.

"aku tau aku tampan, tapi aku masih normal" ucapnya dengan dingin

"idih...s-siapa juga yang mau sama kamu" Danial berucap gugup

"lalu kenapa melihatku seperti itu...?"

"aku tidak melihatmu ya aku hanya memandangmu. ups" Danial menutup mulutnya

Jin tersenyum menyeringai dan hal itu membuat Danial ketakutan. bagaimanapun tampannya dia, namun jika wajah sudah pucat hal itu akan terlihat menakutkan. Danial menutup mata dan melangkah selangkah demi selangkah menuju ke ranjangnya. seperti orang buta padahal sebenarnya ia tidak buta.

"dua langkah lagi ke depan" ucap Jin yang menjadi komando bagi Danial dan remaja itu mengikuti arahan hantu itu

"dua langkah samping kiri"

Danial berhenti dan melangkah ke samping kirinya.

"satu langkah lagi ke depan"

Danial melangkah lagi dan setelahnya ia membuka mata. benar saja dirinya kini sudah berada di dekat ranjangnya. Danial ke atas tempat tidurnya dan mengambil selimut menutupi seluruh tubuhnya.

"kamu tidak ingin berterimakasih padaku...?" Jin sudah berada di dalam selimut bersama Danial

"aaaaaa"

bugh

"aduh"

karena kaget Danial panik dan hendak kabur namun dirinya malah terjatuh di lantai.

"sakit sekali. bisa nggak sih kamu jangan membuat aku terus jantungan. bisa-bisa aku mati muda" Danial menggerutu

"kamu ingin mati, baiklah aku kabulkan. ayo, sini aku bunuh kamu"

gleg

"hehehe... nggak kok nggak, aku nggak marah" Danial mundur perlahan dengan menyeret pantatnya

Jin kembali melayang dan duduk di kursi belajar. ia pun membuka laptop Danial dan melihat isi di dalamnya.

"kamu harus pindah sekolah" ucap Jin tiba-tiba

"maksudnya...?" Danial bangkit dan duduk di ranjang

"kamu harus pindah sekolah, apakah kamu tuli"

"hei pendengaran ku masih bagus ya, aku bertanya alasannya bodoh"

"kamu mengataiku...?" Jin berbalik dan menatap garang Danial

"b-bukan... maksudku aku yang bodoh...iya aku yang bodoh" dengan cepat Danial melarat ucapannya

"tidurlah, aku akan menjagamu" Jin kembali menatap layar laptop

(setan aneh) batin Danial

"kamu yang aneh" ucap Jin tanpa menoleh

"astaga, apakah kamu punya indera keenam, kenapa bisa kamu mengetahui isi pikiranku"

Jin tidak lagi menjawab, ia sibuk memainkan laptop di depannya sedangkan Danial yang merasa kesal karena di acuhkan langsung merebahkan tubuhnya dan menutup mata hingga tidak lama kantuk mulai menjemputnya.

tangan lembut yang mengusap kepalanya, dapat Danial merasakan. saat membuka mata, ia melihat wanita cantik yang sedang tersenyum lembut ke arahnya.

"bunda" Danial bangun dan langsung memeluk Airin

"bangun mandi dan sholat subuh" Airin melepaskan pelukannya

"memangnya sudah jam berapa...?" Danial mengucek matanya dan melihat jam yang ada di atas nakas

"jam 5" gumamnya

"bunda keluar ya, nanti segera turun di bawah untuk sarapan"

"iya Bun"

Airin beranjak dari ranjang putranya dan keluar kamar. sedang Danial menguap beberapa kali kemudian mengambil handuk dan ke kamar mandi. dengan bersiul ia mulai membersihkan dirinya.

di lantai bawah, Ragel sudah ribut bermain bersama Gauri di ruang keluarga. padahal baru pukul 5 pagi namun rupanya kedua anak itu telah lebih dulu bangun dan kini sedang asik bermain. ada ibu Arini yang menjaga mereka.

Airin masuk kembali ke dalam kamar dan melihat suaminya sedang bersiap-siap.

"berangkat jam berapa mas...?" tanya Airin memperbaiki rambut Adam

"jam 7 sayang" Adam sedang memakai jam tangannya

"mas Deva ikut juga ya...?"

"iya, kan dia asisten aku"

"kalau El-Syakir...?"

"ikut juga, mereka berdua ikut"

Adam merengkuh pinggang Airin dan mendaratkan ciuman di bibir istrinya.

"aku bakalan kangen banget sama kamu" Adam memeluk Airin dan menaruh kepalanya di celuk leher istrinya

"kalau sudah sampai jangan lupa kabarin aku ya"

"tentu sayang" Adam menarik diri dan menatap mesra istrinya

"pengen ngukung kamu di dalam selimut deh. aku nggak jadi pergi aja deh"

"semalam memangnya belum puas, bahkan sampai pinggang aku encok gini" Airin cemberut

"hehehe maaf sayang abis aku kan mau ke luar kota beberapa hari jadi ya harus

puas-puasin supaya nggak kepikiran di sana"

"kamu memang suka gitu"

"tapi kamu juga suka kan...?" Adam menaik turunkan alisnya

Airin memutar bola matanya kemudian mencubit pinggang suami tengilnya itu. kemesraan mereka tetap awet sampai sekarang bahkan setelah mempunyai dua orang anak.

di kamar lain, Seil kini sedang menyiapkan semua perlengkapan suaminya selama di luar kota. setelahnya ia menyimpan koper kecil itu di sampingnya.

"sudah selesai sayang...?" El-Syakir datang dan memeluk Seil dari belakang

"sudah yang, tinggal bawa saja" Seil berbalik dan menghadap ke arah suaminya

"aku pasti bakalan kangen banget sama kalian semua terutama Samudera" El-Syakir mengarahkan matanya kepada putra keduanya yang sedang terlelap di box miliknya

"kan bisa video call yang, kami selalu di sini menunggu kamu pulang"

El-Syakir tersenyum kemudian mencium bibir istrinya. dengan lembut ia ******* bibir merah alami itu dan setelahnya ia membawa istrinya ke dalam pelukan.

"minta satu ronde boleh nggak...?" bisik El-Syakir

"ya ampun yang, ini saja aku masih capek banget loh. kamu mau nyiksa aku ya" Seil memukul punggung suaminya itu

"ya abis kamu pagi-pagi tapi udah cantik banget sih, aku kan jadi pengen"

"nggak usah ngada-ngada deh yang. nanti pulang kan bisa, sampai pagi juga bisa"

"benaran ya...?" El-Syakir melepaskan pelukan dan menatap istrinya

"iya, sejak kapan aku bohong"

"ah nggak sabar nunggu pulang"

"belum juga berangkat udah ingat pulang saja" Seil geleng kepala

tepat jam 6 pagi semua orang telah berkumpul di meja makan. namun tidak dengan Zidan karena laki-laki itu sudah berangkat terlebih dahulu setelah Ardi mengubunginya kalau setengah 7 nanti mereka akan mengadakan rapat. dan juga Danial yang entah sedang apa dirinya di dalam kamar sampai belum juga menongolkan batang hidungnya.

menjadi CEO dalam dua perusahaan memang tidak mudah namun itulah yang harus di tanggung oleh Zidan. namun untuk urusan perusahaan istrinya Wisma Mulia, ia mempercayakan Ardi untuk menghandle semua pekerjaannya di bantu oleh Furqon. dirinya akan terjun langsung apa bila ada sesuatu hal yang harus dibahas dan Zidan harus ikut serta. sementara di perusahaan miliknya sendiri, ada Helmi yang membantu dirinya, untuk Randi dan Pram, mereka berdua mengambil alih perusahaan orang tua mereka. namun meskipun begitu jika Zidan membutuhkan bantuan, mereka tetap siap kapan saja untuk membantu.

di dalam kamar Danial sedang terlibat diskusi dengan Jin.

"alasannya aku harus pindah sekolah itu apa loh Jin, kalau nggak ada alasan bagaimana nanti ayah akan mengizinkanku"

"ya sudah kalau begitu, tetap ikuti saja alurnya, tapi aku akan membuat kalian semua tidak diterima di sekolah itu"

"kami semua...?" kening Danial mengkerut

"iya, kamu dan semua teman-teman mu"

Danial menatap lekat wajah Jin yang kini sedang duduk santai di atas meja.

"sebenarnya apa yang kamu rencanakan. kamu sedang tidak ingin berencana untuk mencelakai teman-teman ku dan kamu mengambil alih raga mereka kan" Danial memicingkan matanya

"memangnya boleh aku melakukan itu...?"

"jangan berani-berani menyentuh teman-teman ku, atau aku..."

"atau apa...? kamu ingin berbuat apa padaku...?" Jin mengangkat sudut bibirnya

"atau aku akan memusnahkan mu. kamu pikir aku takut padamu" Danial memperlihatkan keberaniannya yang hanya secuil itu

"cih, melihat wajahku saja yang mengerikan kamu tidak berani bagaimana bisa kamu akan memusnahkan ku. malah terbalik, aku yang akan membunuhmu"

deg

Danial semakin takut jika hantu itu selalu mengatakan akan membunuh dirinya dan mengambil alih raganya. namun teringat dengan tekadnya semalam bahwa ia harus membuat Jin mengikuti aturannya maka dari itu Danial ingin lebih berani lagi menghadapi hantu itu.

"aku tidak takut padamu, aku punya Tuhan yang dapat melindungi ku darimu. jadi jangan bermimpi untuk dapat menyentuh teman-teman ku"

Danial mengambil tasnya hendak keluar namun pintu kamarnya tiba-tiba terkunci dan ia melayang menabrak dinding. Jin melesat dengan cepat ke arahnya dan berdiri sangat dekat dengannya.

"a-apa yang kamu lakukan" Danial gugup setengah mati

bukannya menjawab namun Jin tersenyum tipis dan menatap tajam Danial yang kini semakin susah menelan salivanya.

"takdirmu akan terus bersamaku setelah kamu melakukan perjanjian darah denganku. ingatlah anak manusia, kamu....telah terikat denganku" Jin tersenyum menyeringai

cek lek

pintu terbuka lebar, saat itu juga Jin menghilang dan Danial jatuh ke lantai.

"Dan, kamu kenapa...? Satria panik melihat Danial meringsut di dinding

"kepalaku pusing" Danial berbohong, tidak mungkin dirinya mengatakan yang sebenarnya, lagi pula meskipun ia berkata jujur Satria belum juga akan percaya

"kali gitu kamu nggak usah ikut MOS dulu, nanti aku beritahu kak Galang"

"jangan, hanya pusing sebentar kok tapi sudah mendingan dan aku baik-baik saja" Danial menggeleng

"kamu yakin...?"

"yakin, ayo kita keluar"

meskipun khawatir namun Satria tetap tidak bisa memaksa sepupunya itu. ia pun mengikuti langkah Dania yang telah lebih dulu keluar kamar.

"lama sekali sayang, habis ngapain...?" tanya Airin setelah melihat anaknya baru saja datang dan duduk samping Satria

"masih mengagumi ketampanan aku yang hakiki ini bunda" Danial menjawab

"kak Danial kepedan tingkat dewa" celetuk Gauri dan hal itu membuat semua orang tertawa

setelah sarapan pagi Adam dan El-Syakir berpamitan kepada semua orang untuk berangkat ke luar kota. namun sebelum itu, mereka mengantar Danial dan El-Syakir terlebih dahulu ke sekolah. untuk Galang, remaja itu berangkat menggunakan motor miliknya.

"jangan buat ulah lagi" ucap Adam setelah mereka sampai di depan gerbang sekolah

"ayah sama papa lama ya pulangnya...?" tanya Satria

"mungkin dua hari atau bisa lebih" El-Syakir menjawab

"ikuti peraturan yang ada kalau tidak kalian tidak akan di terima di sekolah ini" ucap Adam

"kan bisa masuk di sekolah lain yah" kesempatan Danial untuk mengutarakan keinginannya. bukan keinginannya namun keinginan teman hantunya. meskipun masih ragu namun entah kenapa Danial ingin sekali mengikuti kemauan hantu itu

"memangnya kamu tidak ingin masuk ke sekolah ini...?" tanya Adam yang sejak tadi memutar kepala untuk melihat anak dan keponakannya

"kalau misal nggak bisa di terima di sini, boleh sekolah di tempat lain kan yah" ucap Danial

"kamu mau bikin ulah lagi Dan, jangan aneh-aneh deh" Satria bersuara

"sekolah dimana pun sama saja asal bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. sekarang kalian masuklah, tuh teman-teman kalian sudah menunggu" El-Syakir melempar pandangan ke arah anak-anak tim samudera yang berdiri di depan gerbang menunggu Danial dan Satria

keduanya mencium tangan Adam dan El-Syakir setelah itu mereka keluar dari mobil dan menghampiri yang lain.

"udah sembuh Dan...?" tanya Zain

"udah, aku kan nggak segampang itu untuk sakit" jawab Danial

"lutut kamu gimana Ay...?" Satria menatap Ayunda

"sudah bisa jalan" Ayunda tersenyum manis

" ya sudah masuk yuk, hari ini harus lebih baik lagi dari hari kemarin" Kirana mengapit lengan Zain

Alea mengapit lengan Danial sementara Satria bersama Ayunda. mereka semua masuk ke dalam pekarangan sekolah.

Terpopuler

Comments

☆🅢🅐🅚🅤🅡🅐☆🇮🇩🇸🇩

☆🅢🅐🅚🅤🅡🅐☆🇮🇩🇸🇩

kq tim samudera g bs liat jin yg ikutin danil

2024-10-23

0

warkop Teteh kuningan

warkop Teteh kuningan

ada apa tuh di sekolahan???bikin pinisirin....

2023-10-30

0

V3

V3

jd rada-rada ngeri nih sama si Jin ,, niat nya itu jahat apa baik sih , msh jd tanda tanya nih ❓❓

2023-02-24

1

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Episode 138
139 Episode 139
140 Episode 140
141 Episode 141
142 Episode 142
143 Episode 143
144 Episode 144
145 Episode 145
146 Episode 146
147 Episode 147
148 Episode 148
149 Episode 149
150 Extra part
Episodes

Updated 150 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Episode 138
139
Episode 139
140
Episode 140
141
Episode 141
142
Episode 142
143
Episode 143
144
Episode 144
145
Episode 145
146
Episode 146
147
Episode 147
148
Episode 148
149
Episode 149
150
Extra part

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!