"panggil aku Jin"
"Jin...?"
"iya, kenapa...? laki-laki itu menatap Danial dengan tajam
"ah n-nggak... nggak apa-apa. nama kamu bagus" Danial kembali terbata
(namanya serem...seserem orangnya) batin Danial
"kamu mengataiku...?"
deg
mata Danial hampir melompat dari tempatnya.
"m-maksud kamu...?" Danial menelan ludah
(bagaimana dia bisa tau kalau aku membicarakannya)
"tentu saja aku tau"
uhuk...uhuk
Danial terbatuk-batuk dan memukul dadanya, ia kemudian berlari ke arah nakas dan mengambil gelas yang berisi air minum. dengan cepat ia meneguk habis isi gelas tersebut.
laki-laki itu mengangkat bahu dan melayang kemudian ia duduk di meja belajar Danial. matanya menelisik ke setiap sudut ruangan itu. sementara Danial setelah mengatur nafas, ia berbalik menghadap ke arah laki-laki itu dan lagi dirinya terkesiap kaget karena perubahan tiba-tiba yang di alami laki-laki itu.
"apakah kamu bunglon, dapat berubah wujud secepat kilat" ucap Danial
penampakan laki-laki itu tidak lagi semenyeramkan tadi. jika tadi wujud dirinya berubah menjadi setan yang menyeramkan bagi Danial dengan mata merah dan wajah penuh darah serta sebuah pisau tertancap di dadanya, maka sekarang penampakan laki-laki itu sudah berubah. tidak ada lagi pisau yang tertancap di tubuhnya dan tidak ada lagi darah yang memenuhi wajahnya serta warna matanya tidak lagi berwarna merah namun kini berubah menjadi biru. hanya saja wajahnya tetap pucat tapi tetap saja Danial dapat melihat kalau laki-laki itu begitu putih. bukan juga albino hanya saja memang laki-laki itu seperti rupa orang-orang barat.
rahangnya yang tegas dan hidungnya yang mancung serta mata yang jernih dan alis yang tebal, sungguh menurut Danial dia adalah laki-laki yang tampan yang pernah ia lihat.
"aku tau aku tampan, tapi aku masih normal" ucapnya dengan dingin
"idih...s-siapa juga yang mau sama kamu" Danial berucap gugup
"lalu kenapa melihatku seperti itu...?"
"aku tidak melihatmu ya aku hanya memandangmu. ups" Danial menutup mulutnya
Jin tersenyum menyeringai dan hal itu membuat Danial ketakutan. bagaimanapun tampannya dia, namun jika wajah sudah pucat hal itu akan terlihat menakutkan. Danial menutup mata dan melangkah selangkah demi selangkah menuju ke ranjangnya. seperti orang buta padahal sebenarnya ia tidak buta.
"dua langkah lagi ke depan" ucap Jin yang menjadi komando bagi Danial dan remaja itu mengikuti arahan hantu itu
"dua langkah samping kiri"
Danial berhenti dan melangkah ke samping kirinya.
"satu langkah lagi ke depan"
Danial melangkah lagi dan setelahnya ia membuka mata. benar saja dirinya kini sudah berada di dekat ranjangnya. Danial ke atas tempat tidurnya dan mengambil selimut menutupi seluruh tubuhnya.
"kamu tidak ingin berterimakasih padaku...?" Jin sudah berada di dalam selimut bersama Danial
"aaaaaa"
bugh
"aduh"
karena kaget Danial panik dan hendak kabur namun dirinya malah terjatuh di lantai.
"sakit sekali. bisa nggak sih kamu jangan membuat aku terus jantungan. bisa-bisa aku mati muda" Danial menggerutu
"kamu ingin mati, baiklah aku kabulkan. ayo, sini aku bunuh kamu"
gleg
"hehehe... nggak kok nggak, aku nggak marah" Danial mundur perlahan dengan menyeret pantatnya
Jin kembali melayang dan duduk di kursi belajar. ia pun membuka laptop Danial dan melihat isi di dalamnya.
"kamu harus pindah sekolah" ucap Jin tiba-tiba
"maksudnya...?" Danial bangkit dan duduk di ranjang
"kamu harus pindah sekolah, apakah kamu tuli"
"hei pendengaran ku masih bagus ya, aku bertanya alasannya bodoh"
"kamu mengataiku...?" Jin berbalik dan menatap garang Danial
"b-bukan... maksudku aku yang bodoh...iya aku yang bodoh" dengan cepat Danial melarat ucapannya
"tidurlah, aku akan menjagamu" Jin kembali menatap layar laptop
(setan aneh) batin Danial
"kamu yang aneh" ucap Jin tanpa menoleh
"astaga, apakah kamu punya indera keenam, kenapa bisa kamu mengetahui isi pikiranku"
Jin tidak lagi menjawab, ia sibuk memainkan laptop di depannya sedangkan Danial yang merasa kesal karena di acuhkan langsung merebahkan tubuhnya dan menutup mata hingga tidak lama kantuk mulai menjemputnya.
tangan lembut yang mengusap kepalanya, dapat Danial merasakan. saat membuka mata, ia melihat wanita cantik yang sedang tersenyum lembut ke arahnya.
"bunda" Danial bangun dan langsung memeluk Airin
"bangun mandi dan sholat subuh" Airin melepaskan pelukannya
"memangnya sudah jam berapa...?" Danial mengucek matanya dan melihat jam yang ada di atas nakas
"jam 5" gumamnya
"bunda keluar ya, nanti segera turun di bawah untuk sarapan"
"iya Bun"
Airin beranjak dari ranjang putranya dan keluar kamar. sedang Danial menguap beberapa kali kemudian mengambil handuk dan ke kamar mandi. dengan bersiul ia mulai membersihkan dirinya.
di lantai bawah, Ragel sudah ribut bermain bersama Gauri di ruang keluarga. padahal baru pukul 5 pagi namun rupanya kedua anak itu telah lebih dulu bangun dan kini sedang asik bermain. ada ibu Arini yang menjaga mereka.
Airin masuk kembali ke dalam kamar dan melihat suaminya sedang bersiap-siap.
"berangkat jam berapa mas...?" tanya Airin memperbaiki rambut Adam
"jam 7 sayang" Adam sedang memakai jam tangannya
"mas Deva ikut juga ya...?"
"iya, kan dia asisten aku"
"kalau El-Syakir...?"
"ikut juga, mereka berdua ikut"
Adam merengkuh pinggang Airin dan mendaratkan ciuman di bibir istrinya.
"aku bakalan kangen banget sama kamu" Adam memeluk Airin dan menaruh kepalanya di celuk leher istrinya
"kalau sudah sampai jangan lupa kabarin aku ya"
"tentu sayang" Adam menarik diri dan menatap mesra istrinya
"pengen ngukung kamu di dalam selimut deh. aku nggak jadi pergi aja deh"
"semalam memangnya belum puas, bahkan sampai pinggang aku encok gini" Airin cemberut
"hehehe maaf sayang abis aku kan mau ke luar kota beberapa hari jadi ya harus
puas-puasin supaya nggak kepikiran di sana"
"kamu memang suka gitu"
"tapi kamu juga suka kan...?" Adam menaik turunkan alisnya
Airin memutar bola matanya kemudian mencubit pinggang suami tengilnya itu. kemesraan mereka tetap awet sampai sekarang bahkan setelah mempunyai dua orang anak.
di kamar lain, Seil kini sedang menyiapkan semua perlengkapan suaminya selama di luar kota. setelahnya ia menyimpan koper kecil itu di sampingnya.
"sudah selesai sayang...?" El-Syakir datang dan memeluk Seil dari belakang
"sudah yang, tinggal bawa saja" Seil berbalik dan menghadap ke arah suaminya
"aku pasti bakalan kangen banget sama kalian semua terutama Samudera" El-Syakir mengarahkan matanya kepada putra keduanya yang sedang terlelap di box miliknya
"kan bisa video call yang, kami selalu di sini menunggu kamu pulang"
El-Syakir tersenyum kemudian mencium bibir istrinya. dengan lembut ia ******* bibir merah alami itu dan setelahnya ia membawa istrinya ke dalam pelukan.
"minta satu ronde boleh nggak...?" bisik El-Syakir
"ya ampun yang, ini saja aku masih capek banget loh. kamu mau nyiksa aku ya" Seil memukul punggung suaminya itu
"ya abis kamu pagi-pagi tapi udah cantik banget sih, aku kan jadi pengen"
"nggak usah ngada-ngada deh yang. nanti pulang kan bisa, sampai pagi juga bisa"
"benaran ya...?" El-Syakir melepaskan pelukan dan menatap istrinya
"iya, sejak kapan aku bohong"
"ah nggak sabar nunggu pulang"
"belum juga berangkat udah ingat pulang saja" Seil geleng kepala
tepat jam 6 pagi semua orang telah berkumpul di meja makan. namun tidak dengan Zidan karena laki-laki itu sudah berangkat terlebih dahulu setelah Ardi mengubunginya kalau setengah 7 nanti mereka akan mengadakan rapat. dan juga Danial yang entah sedang apa dirinya di dalam kamar sampai belum juga menongolkan batang hidungnya.
menjadi CEO dalam dua perusahaan memang tidak mudah namun itulah yang harus di tanggung oleh Zidan. namun untuk urusan perusahaan istrinya Wisma Mulia, ia mempercayakan Ardi untuk menghandle semua pekerjaannya di bantu oleh Furqon. dirinya akan terjun langsung apa bila ada sesuatu hal yang harus dibahas dan Zidan harus ikut serta. sementara di perusahaan miliknya sendiri, ada Helmi yang membantu dirinya, untuk Randi dan Pram, mereka berdua mengambil alih perusahaan orang tua mereka. namun meskipun begitu jika Zidan membutuhkan bantuan, mereka tetap siap kapan saja untuk membantu.
di dalam kamar Danial sedang terlibat diskusi dengan Jin.
"alasannya aku harus pindah sekolah itu apa loh Jin, kalau nggak ada alasan bagaimana nanti ayah akan mengizinkanku"
"ya sudah kalau begitu, tetap ikuti saja alurnya, tapi aku akan membuat kalian semua tidak diterima di sekolah itu"
"kami semua...?" kening Danial mengkerut
"iya, kamu dan semua teman-teman mu"
Danial menatap lekat wajah Jin yang kini sedang duduk santai di atas meja.
"sebenarnya apa yang kamu rencanakan. kamu sedang tidak ingin berencana untuk mencelakai teman-teman ku dan kamu mengambil alih raga mereka kan" Danial memicingkan matanya
"memangnya boleh aku melakukan itu...?"
"jangan berani-berani menyentuh teman-teman ku, atau aku..."
"atau apa...? kamu ingin berbuat apa padaku...?" Jin mengangkat sudut bibirnya
"atau aku akan memusnahkan mu. kamu pikir aku takut padamu" Danial memperlihatkan keberaniannya yang hanya secuil itu
"cih, melihat wajahku saja yang mengerikan kamu tidak berani bagaimana bisa kamu akan memusnahkan ku. malah terbalik, aku yang akan membunuhmu"
deg
Danial semakin takut jika hantu itu selalu mengatakan akan membunuh dirinya dan mengambil alih raganya. namun teringat dengan tekadnya semalam bahwa ia harus membuat Jin mengikuti aturannya maka dari itu Danial ingin lebih berani lagi menghadapi hantu itu.
"aku tidak takut padamu, aku punya Tuhan yang dapat melindungi ku darimu. jadi jangan bermimpi untuk dapat menyentuh teman-teman ku"
Danial mengambil tasnya hendak keluar namun pintu kamarnya tiba-tiba terkunci dan ia melayang menabrak dinding. Jin melesat dengan cepat ke arahnya dan berdiri sangat dekat dengannya.
"a-apa yang kamu lakukan" Danial gugup setengah mati
bukannya menjawab namun Jin tersenyum tipis dan menatap tajam Danial yang kini semakin susah menelan salivanya.
"takdirmu akan terus bersamaku setelah kamu melakukan perjanjian darah denganku. ingatlah anak manusia, kamu....telah terikat denganku" Jin tersenyum menyeringai
cek lek
pintu terbuka lebar, saat itu juga Jin menghilang dan Danial jatuh ke lantai.
"Dan, kamu kenapa...? Satria panik melihat Danial meringsut di dinding
"kepalaku pusing" Danial berbohong, tidak mungkin dirinya mengatakan yang sebenarnya, lagi pula meskipun ia berkata jujur Satria belum juga akan percaya
"kali gitu kamu nggak usah ikut MOS dulu, nanti aku beritahu kak Galang"
"jangan, hanya pusing sebentar kok tapi sudah mendingan dan aku baik-baik saja" Danial menggeleng
"kamu yakin...?"
"yakin, ayo kita keluar"
meskipun khawatir namun Satria tetap tidak bisa memaksa sepupunya itu. ia pun mengikuti langkah Dania yang telah lebih dulu keluar kamar.
"lama sekali sayang, habis ngapain...?" tanya Airin setelah melihat anaknya baru saja datang dan duduk samping Satria
"masih mengagumi ketampanan aku yang hakiki ini bunda" Danial menjawab
"kak Danial kepedan tingkat dewa" celetuk Gauri dan hal itu membuat semua orang tertawa
setelah sarapan pagi Adam dan El-Syakir berpamitan kepada semua orang untuk berangkat ke luar kota. namun sebelum itu, mereka mengantar Danial dan El-Syakir terlebih dahulu ke sekolah. untuk Galang, remaja itu berangkat menggunakan motor miliknya.
"jangan buat ulah lagi" ucap Adam setelah mereka sampai di depan gerbang sekolah
"ayah sama papa lama ya pulangnya...?" tanya Satria
"mungkin dua hari atau bisa lebih" El-Syakir menjawab
"ikuti peraturan yang ada kalau tidak kalian tidak akan di terima di sekolah ini" ucap Adam
"kan bisa masuk di sekolah lain yah" kesempatan Danial untuk mengutarakan keinginannya. bukan keinginannya namun keinginan teman hantunya. meskipun masih ragu namun entah kenapa Danial ingin sekali mengikuti kemauan hantu itu
"memangnya kamu tidak ingin masuk ke sekolah ini...?" tanya Adam yang sejak tadi memutar kepala untuk melihat anak dan keponakannya
"kalau misal nggak bisa di terima di sini, boleh sekolah di tempat lain kan yah" ucap Danial
"kamu mau bikin ulah lagi Dan, jangan aneh-aneh deh" Satria bersuara
"sekolah dimana pun sama saja asal bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. sekarang kalian masuklah, tuh teman-teman kalian sudah menunggu" El-Syakir melempar pandangan ke arah anak-anak tim samudera yang berdiri di depan gerbang menunggu Danial dan Satria
keduanya mencium tangan Adam dan El-Syakir setelah itu mereka keluar dari mobil dan menghampiri yang lain.
"udah sembuh Dan...?" tanya Zain
"udah, aku kan nggak segampang itu untuk sakit" jawab Danial
"lutut kamu gimana Ay...?" Satria menatap Ayunda
"sudah bisa jalan" Ayunda tersenyum manis
" ya sudah masuk yuk, hari ini harus lebih baik lagi dari hari kemarin" Kirana mengapit lengan Zain
Alea mengapit lengan Danial sementara Satria bersama Ayunda. mereka semua masuk ke dalam pekarangan sekolah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
☆🅢🅐🅚🅤🅡🅐☆🇮🇩🇸🇩
kq tim samudera g bs liat jin yg ikutin danil
2024-10-23
0
warkop Teteh kuningan
ada apa tuh di sekolahan???bikin pinisirin....
2023-10-30
0
V3
jd rada-rada ngeri nih sama si Jin ,, niat nya itu jahat apa baik sih , msh jd tanda tanya nih ❓❓
2023-02-24
1