"Ri...Riana" seorang siswi mendekati siswi yang duduk berselonjor di lapangan sekolah dengan kepala tertunduk "Ri" pelan ia mengguncang bahu gadis itu namun Riana tidak merespon
"dia kenapa sih"
"nggak tau"
semua siswa-siswi nampak mundur, hanya salah seorang siswi yang masih terus memanggil nama Riana tapi tetap saja gadis itu tidak merespon.
mayat siswi yang berada di dekat Riana, darah mayat sisiwi itu mulai mengenai sepatu Riana.
"hihihi... hihihi"
sejak diam beberapa saat, Riana malah terkekeh. tawanya terdengar menakutkan ditelinga semua siswa-siswi. bagaimana tidak, ia tertawa seperti sosok wanita yang berambut panjang dan memakai baju putih, kuntilanak.
"Riana, kamu baik-baik saja kan...?"
"hahaha... hahaha"
tawa Riana semakin keras, pundak gadis itu naik turun, rambutnya yang panjang menutupi seluruh wajahnya.
"Riana, kamu kenapa sih"
"namaku bukan Riana" Riana mengangkat kepala dan menatap tajam ke arah siswi itu
"astagfirullahaladzim...Ri...Riana"
"menjauh Sal menjauh" seorang siswa laki-laki teriak memanggil nama gadis itu
semua orang kaget ketika Riana mengangkat kepalanya. kedua matanya mengeluarkan darah, ada luka di bagian leher yang juga terus mengeluarkan darah. Riana tersenyum ke arah Salsa yang kini terpaku ditempatnya dengan wajah tegang dan pucat. kakinya sulit untuk ia gerakkan, seperti ada magnet di bawah kedua kakinya.
"astaghfirullah...itu Riana kenapa"
"menjauh Sal menjauh"
semua siswi ada yang lari ketakutan namun masih banyak yang tetap berada di tempat. Riana mendekati Salsa dengan seringai yang menakutkan. saat itu juga Riana mencekik leher Salsa.
ughhh
"astaga...apa yang harus kita lakukan" Satria panik, bukan hanya dirinya. yang lainnya bahkan berteriak saat Riana mencekik Salsa dan mengangkat gadis itu sampai kakinya tidak berinjak di tanah.
Salsa dilempar ke arah tiang basket, kekuatan Riana begitu kuat dapat mengangkat dan melempar Salsa hanya dengan satu tangannya.
"SALSA"
teriakan semua siswa begitu keras, bagaimana tidak Salsa melayang akibat dilempar oleh Riana. namun anehnya gadis itu tidak sampai menabrak tiang basket, melainkan dirinya hanya mengambang di udara. itu karena ada sosok yang menahan tubuhnya, dialah Jin dan yang dapat melihatnya hanyalah Danial.
sebagian siswa ada yang menutup mata mereka tidak sanggup melihat keadaan Salsa nantinya. tapi saat sebagian siswa mengatakan Salsa melayang di udara, mereka membuka mata. hal yang menakjubkan baru saja mereka lihat hari itu juga. ada seorang siswi yang melayang mengambang di udara.
Jin menurunkan Salsa dengan pelan. setelah kakinya menapak di tanah, teman-teman dari Salsa menghampiri gadis itu sementara Riana menatap tajam ke arah Jin.
Riana begitu marah sebab Jin menyelamatkan Salsa. ia kemudian berniat mendekati siswi yang lainnya. matanya menelisik ke semua orang. semua siswa berhamburan melarikan diri, dan saat itu Riana melihat Alea yang sedang bersembunyi di belakang Danial. senyumannya semakin terlihat ketika melihat Alea yang takut kepadanya.
Riana melesat cepat ke arah Danial dan Alea. Alea teriak histeris sebab Riana hendak menarik dirinya namun Danial menendang perut gadis itu sehingga Riana terjungkal ke belakang. karena Danial menghalanginya, Riana mengarahkan tangan kanannya ke arah pot bunga yang berjejer di depan kelas. satu pot bunga melayang ke arah Danial.
"AWAS DAN"
bugh
Danial tidak sempat menghindar sebab pot bunga itu melayang begitu cepat ke arahnya. ia hanya menutup mata namun ternyata sampai beberapa detik dirinya tidak merasakan ada benda yang menghantam tubuhnya. ketika membuka mata rupanya Jin menjadi tameng untuknya.
"Jin" panggil Danial
"kamu tidak apa-apa...?" Jin berbalik untuk melihat keadaan Danial dan Alea. Danial menggeleng kepala sebagai jawaban
(Danial sejak tadi selalu memanggil nama Jin, sebenarnya yang dia maksud Jin itu siapa sih) batin Satria saat dirinya kembali mendengar Danial menyebut nama Jin
"kamu" Riana menunjuk Jin namun semua orang yang berada di tempat itu melihat kalau Riana menunjuk Danial.
Jin membalik badan, dirinya menatap tajam Riana yang saat ini begitu marah kepadanya sebab dua kali Jin telah menggagalkan rencananya.
"Keanu" panggil Riana
"hah...sejak kapan nama Danial berubah menjadi Keanu" ucap Kirana
"Keanu...?" Jeki yang saat itu juga berada di tempat itu, mengernyitkan dahi
"jangan mengacau Ningsih, kembalilah" ucap Jin, seketika tatapannya berubah menjadi sendu kepada Riana
"kamu bilang akan melindungi ku Kean, namun kenapa malam itu kamu tidak datang menolongku" Riana berkaca-kaca, suaranya tidak lagi meninggi.
semua orang heran apalagi Danial saat ini. terlebih lagi Riana yang mengatakan hal semacam tadi, itu membuat Danial semakin penasaran.
"aku mati malam itu, kamu tau, aku menunggu kamu sampai nafasku terlepas dari ragaku"
"maaf Ning... maaf" Jin menahan sesak di dalam dada
"dia sebenarnya bicara sama siapa sih, Danial kah...?" tanya Ayunda
"ya siapa lagi, kan hanya Danial yang dia lihat" timpal Zain
"tapi sejak kapan nama kak Danial berubah menjadi Keanu" ucap Alea
"entah" Satria mengangkat bahu
kepala sekolah bersama guru-guru yang lain baru saja datang. semua siswa diarahkan untuk menjauh sementara kepala sekolah sendiri mendekati Riana dan berdiri di depannya.
Sharlin menghampiri Danial dan teman-temannya saat ia melihat mereka berdiri tidak jauh darinya.
"kenapa dengan siswi itu...?" tanya Sharlin
"entahlah, dia tiba-tiba kesurupan" jawab Zain
Jin masih berada di tempatnya tidak pergi kemanapun sebab sepertinya ia kenal dengan sosok yang merasuki tubuh Riana. sedang kepala sekolah berada di depannya berhadapan dengan gadis itu.
"keluarlah atau tidak saya akan paksa" ucap kepala sekolah
"mereka semua akan mati" Riana kembali menjadi terlihat menakutkan, tatapan yang teduh tadi berusaha menjadi tajam "semua siswi akan mati jika dia tidak dihentikan" lanjut Riana dengan teriakan yang keras
kepala sekolah tidak punya pilihan lain. ia maju semakin mendekati Riana, gadis itu hendak melarikan diri namun dua orang guru laki-laki menghadangnya dan memegang kedua tangannya.
"dia telah kembali...dia kembali untuk mengambil nyawa" Riana memberontak saat tangan kepala sekolah berada di kepalanya dan membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an untuk mengeluarkan sosok yang merasuki Riana
hingga tidak berselang lama Riana jatuh pingsan. salah seorang guru itu menggendongnya dan membawanya ke ruang UKS sementara semua siswa-siswi diarahkan untuk masuk ke dalam kelas masing-masing.
mobil ambulan kembali datang hari itu, polisi pun kembali memeriksa semua dewan guru. mayat siswi itu dibawa ke rumah sakit.
di dalam kelas semua siswa masih membicarakan kejadian tadi. mereka riuh di dalam kelas, kejadian tadi begitu mengerikan bagi mereka. sementara Danial termenung di tempat duduknya. ia masih memikirkan peristiwa yang baru saja mereka alami beberapa menit berlalu.
"aku kok jadi ngeri ya sama apa yang dikatakan kak Riana tadi, kita semua akan mati" Selvia bersuara, karena tempat duduknya tidak jauh dengan keenam remaja itu maka suaranya masih bisa mereka dengar
"kita kan memang akan mati Sel, kamu gimana sih" timpal Ramon
"yeee bukan gitu maksud aku Mon. kalau itu sih aku juga tau, tapi ya cara penyampaiannya itu beda banget kayak aku merasa setiap hari akan ada mayat gitu. kalian dengar nggak sebelum kepala sekolah membuat dia pingsan, Riana bilang dia telah kembali dan akan mengambil nyawa, itu kan serem banget"
"eh tapi yang dia maksud itu siapa ya" Kelvin bertanya
"mana kita tau Vin, apakah setan...?" ucap Aretha
"hus... sembarangan kamu kalau ngomong" Selvia melemparkan pulpen ke arah Aretha
"tapi ya kepsek ternyata hebat juga ya bisa menyadarkan Riana. apa jangan-jangan kepsek itu ustad mungkin ya" celetuk Ramon
Sharlin yang mendengar penuturan Ramon teman kelasnya itu langsung terkekeh pelan, ia menggeleng kepala sebab menurutnya hal itu sangat lucu.
"napa ketawa kamu Shar, aku bicara benar loh"
"udah nggak usah ribut, bentar lagi ibu Amanda masuk" Sharlin tidak menghiraukan pertanyaan Ramon
"nggak akan masuklah, para guru pasti lagi sibuk di kantor. aku jadi kepikiran Hana, kasian sekali dia sampai harus bunuh diri segala. ngapain coba dia lompat dari lantai tiga" ucap Aretha
"jadi yang meninggal tadi namanya Hana ya" sekian menit hanya mendengarkan akhirnya geng Danial cs bertanya. Ayunda bertanya kepada mereka
"iya, dia kelas X3" jawab Selvia
"kalau yang kerasukan tadi dia kelas berapa...?" Kirana ikut bertanya
"dia kakak kelas, XI IPA 1, namanya Riana" Ramon menjawab
"sudah dua siswi yang mati, bahkan hanya berselang satu hari saja setelah penemuan mayat kakak kelas XII kemarin, kini ada lagi yang menjadi mayat. semoga saja besok-besok nggak akan ada lagi kejadian seperti ini" ucap Kelvin
"jadi mayat kemarin itu kakak kelas kita...?" tanya Zain
"hemm...aku nggak tau namanya tapi kalau nggak salah dia kelas XII IPS 3" jawab Ramon
Danial mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di atas meja. ia masih berpikir keras, apa yang sebenarnya terjadi dengan sekolah yang mereka masuki. dari awal Jin memberitahu dirinya agar masuk di sekolah SMA Citra Bangsa dan ia langsung setuju tanpa mencari tau terlebih dahulu seperti apa sekolah yang akan mereka masuki.
(apa sekolah ini adalah sekolah angker ya. ada rahasia apa sebenarnya. kenapa Jin ingin sekali aku masuk di sekolah ini. apalagi perkataannya yang kemarin-kemarin seakan ada sesuatu yang harus aku lawan nanti, tapi apa kira-kira ya)
"woi Dan" Zain menepuk bahu Danial, refleks karena kaget Danial hendak menyikut perut sahabatnya itu. jikalau Zain tidak cepat bertindak mungkin dirinya akan terkena serangan mendadak dari Danial. bahkan karena tenaga Danial yang kuat hampir saja membuat Zain jatuh ke lantai kalau bukan Satria yang menahan tubuhnya.
"oi...kamu mau bunuh aku ya" Zain mendelik
"maaf Zan maaf banget, gue kaget jadinya refleks. kamu nggak kenapa-kenapa kan...?" Danial merasa bersalah
"hampir kenapa-kenapa. kamu mikirin apa sih, dari tadi melamun aja"
"kamu sakit ya...?" tanya Satria
"nggak, hanya ingat kejadian tadi saja. pengalaman pertama menghadapi orang yang kerasukan" Danial bersandar di kursinya "untung Alea nggak berhasil dia raih tadi" lanjutnya
"makasih ya kak" timpal Alea dengan senyum tulus
"sama-sama, aku dan Satria pasti akan jagain kamu. bukan hanya kamu tapi Ayunda dan Kirana adalah tanggungjawab kami bertiga untuk melindungi kalian. benar begitu kan Sat, Zan...?" Danial melihat kedua temannya
"tentu saja, kita kan best friend forever" Zain menjawab dan tersenyum
"itu sudah pasti" ucap Satria
jam pertama hari itu tidak diisi, setelah bel istrahat berbunyi semua siswa-siswi berhamburan keluar kelas. Danial berpamitan kepada teman-temannya untuk ke toilet padahal sebenarnya ia pergi ke gedung belakang perpustakaan dimana di sana tidak akan ada satu pun yang datang sebab gedung itu belum diizinkan untuk beroperasi seperti biasanya.
Danial ingin bertemu Jin di tempat itu. keduanya matanya memperhatikan sekitar. merasa aman dan tidak ada orang, Danial memanggil Jin.
"Jin"
angin dingin menerpa wajahnya, sosok yang ia panggil kini telah berada di sampingnya.
"ada apa memanggilku di tempat ini. bukannya sudah aku katakan jangan datang ke tempat ini"
"karena hanya di sini tempat yang aman untuk bisa aku berbicara leluasa denganmu. apalagi kamu seringkali menghilang"
"kalau mau bicara jangan di sini, aku tunjukkan tempat yang aman untukmu"
"kamu mengkhawatirkanku...?"
Jin diam beberapa saat, setelah itu ia menoleh ke arah Danial.
"ada satu hal yang harus kamu tau Danial" Jin menatap Danial dengan mimik wajah serius "setelah kamu melakukan perjanjian darah denganku dan setelah kedua kakimu menginjak masuk di sekolah ini maka saat itu juga nyawamu akan selalu berada dalam bahaya"
gleg
Danial menelan ludah, kedua matanya berkedip kesekian kali mencoba mencerna perkataan yang Jin ucapkan.
"maksud kamu apa Jin...? kamu berniat membunuhku...?"
"kalau aku ingin sudah sejak kemarin-kemarin"
"lalu apa maksud dari ucapanmu"
"kamu juga akan tau nantinya, sekarang kembalilah dan jangan ke sini lagi. bahaya"
"aku tidak akan kembali sebelum kamu menjawab pertanyaanku Jin"
Danial yang tidak ingin pergi pada akhirnya membuat Jin menghela nafas beberapa kali. ia mendekati Danial dan memegang kedua bahunya.
"aku hanya ingin kamu percaya padaku kalau aku akan melindungi mu. dan juga jangan pernah lepaskan kalung ini" rupanya Danial kembali memakai kalung pemberian dan Jin
"sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dariku Jin" Danial menatap dalam wajah pucat yang sedang bersamanya itu
"kembalilah" ucap Jin
setelah mengatakan itu, Jin menghilang begitu saja. Danial semakin penasaran permainan apa sebenarnya yang Jin lakukan kepadanya. ia seakan bermain teka-teki saat ini dan semuanya hanya membuat kepalanya pusing dan sakit.
"baiklah, akan aku cari tau sendiri apa sebenarnya yang terjadi dengan sekolah ini" gumam Danial kemudian pergi meninggalkan tempat itu
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Indri Wulandari
knp enga jujur aja c danial soal jin itu jng gegabah dan egois
2023-06-22
1
V3
kmna ini kelanjutannya Yaaaaa ❓❓❓🤔🤔🤔🤔🤔🤔🤔
2023-05-11
1
V3
kapan nich up nya lagi ,, dah lama bgt gak up , mpe lupa cerita nya lagi 😔
2023-05-07
1