"kenapa sih Sat, kok tengah malam teriak-teriak gitu...?" Seil yang keluar bersama El-Syakir berdiri di depan pintu kamar mereka. keduanya mendekat putra mereka yang kini sedang terlihat panik
"Danial pah mah, itu Danial kesakitan"
"kenapa dengan Danial...?" Adam dan Airin baru saja keluar menghampiri mereka
"ayo lihat ke dalam yah" Satria menarik tangan Adam untuk masuk ke dalam kamar
namun saat masuk, semuanya menjadi bingung apalagi Satria yang langsung melepaskan tangan Adam dengan memasang wajah terbengong-bengong seperti orang bodoh.
"lah itu Danial sedang tidur Sat, tadi kamu bilang dia sakit" El-Syakir melihat jelas kalau Danial sedang tidur pulas di ranjang
Satria yang kaget dan bingung, mengusap matanya beberapa kali untuk memastikan apakah itu Danial ataukah bukan. sebab tadi sepupunya itu teriak kesakitan bahkan jatuh dari tempat tidur namun sekarang sepupunya itu malah sedang ngorok di tempat tidur.
"loh kok...kok Danial tidur" Satria tergagap, tangannya terulur menunjuk Danial
"kamu ini gimana sih sayang, katanya Danial sakit tapi itu kok dia nggak kenapa-kenapa. apa jangan-jangan kamu mimpi tadi ya atau ngigau" Seil mendekati Satria
Airin mendekati Danial, dilihatnya wajah putranya itu yang sedang terlelap tidur bahkan sampai mendengkur. Adam pun ikut mendekat dan mencium kening Danial.
"anak kita baik-baik saja sayang" Adam merengkuh pinggang Airin
"Danial nggak kenapa-kenapa Sat, mungkin tadi kamu mimpi. ya sudah sebaiknya kamu tidur lagi, ini masih pukul satu dini hari" ucap Airin
"tapi benaran loh, tadi itu...tadi itu Danial teriak kesakitan. aku nggak bohong bunda. pah, benaran aku nggak bohong" Satria masih tetap kekeuh
"sayang" El-Syakir memegang kedua bahu anaknya "tidur ya, besok harus bangun pagi sekolah kalian jauh" El-Syakir mencium kening Satria yang masih belum percaya apa yang terjadi
Seil pun mencium kening anaknya itu kemudian mereka keluar dari kamar dan menutupnya dari luar.
"apa memang aku mimpi ya...?" Satria mencubit tangannya sendiri "aw, sakit kok berarti aku nggak mimpi kan. tapi... tapi kok Danial malah tidur sekarang, tadi kan dia..."
Satria melangkah pelan mendekati Danial. ia pun menggerakkan tangannya di depan wajah sepupunya itu. ia juga mendekati telinga ke bibir Danial hanya untuk memastikan apakah sepupunya itu benar-benar telah terlelap ataukah pura-pura tidur.
"dia benaran tidur" gumamnya menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal
"tau ah, pusing aku" Satria naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya di samping Danial. karena memang dirinya yang masih mengantuk membuat ia terlelap dengan cepat
setelah terdengar nafas Satria yang kini mulai teratur. Danial pun membuka mata dan bangun dari pembaringan. ia memegang lehernya yang masih dirasakan hawa panas yang ditimbulkan oleh kalung yang ia pakai tadi.
"Jin" Danial memanggil dengan pelan
sosok yang dipanggil pun muncul di depannya. Jin melayang dan duduk di meja belajar.
"hampir saja aku ketahuan oleh orang tuamu" ucap Jin, ia memegang kalung yang tadi dipakai oleh Danial
"ya nggak mungkinlah, mereka kan nggak bisa lihat kamu selain aku saja yang dapat melihatmu"
"kamu salah" Jin menyimpan kalung itu di atas meja "kamu salah jika beranggapan seperti itu" lanjut Jin
"salahnya dimana, aku nggak ngerti"
"bukankah sudah aku katakan ada kekuatan besar di rumah ini, dan itu berasal dari...ayah dan bundamu. bukan hanya mereka, om kamu juga, aku dapat merasakan energi besar dalam dirinya. mereka bisa melihat makhluk halus. apalagi bundamu, dia..."
"bunda kenapa, dia paranormal begitu...?"
"bahkan lebih dari paranormal, energinya begitu kuat. kalau aku terlihat oleh mereka, bisa bahaya"
"jangan ngaco deh Jin" Danial mendengus, ia berpikir saat ini Jin sedang berbohong "mana mungkin ayah, bunda dan om El punya kelebihan seperti itu. kamu ada-ada saja kalau bicara" Danial tidak percaya
"terserah kamulah"Jin melayang berdiri di jendela "besok akan ada hal yang menggemparkan lagi" lanjut Jin menatap lurus ke arah luar
"kamu dukun kah, bisa tau apa yang terjadi hari esok" Danial bersandar di ranjang, matanya beralih melihat ke atas meja dimana ada kalung yang ia pakai tadi
"sebenarnya kalung apa itu Jin, kenapa malah menyiksaku dengan mengeluarkan hawa panas. aku sampai tidak tahan, untungnya kamu segera datang dan melepasnya. aku tidak mau lagi memakainya, bisa-bisa aku mati gara-gara kalung itu"
"justru kalung itu yang akan menyelamatkanmu nanti"
"menyelamatkan bagaimana, yang ada malah menyiksaku. pokoknya aku nggak mau pakai lagi"
"tidak bisa, justru nanti dengan kalung itu kita bisa mencegah hal buruk yang akan terjadi" Jin melayang dan mengambil tempat duduk di samping Danial" kalung itu.... adalah pertanda dari kejadian buruk, kamu akan tau nanti. sekarang pakailah kembali"
"aku nggak mau, panasnya sampai membuat otakku hampir mendidih" Danial menggeleng kepala
"jika kalung itu mengeluarkan hawa panas, maka maka baca asma Tuhanmu, dengan begitu hawa panas itu akan berkurang"
"asma Tuhan...? Danial menatap lekat wajah Jin yang pucat "kamu Jin kafir ya, sebut nama Allah saja nggak bisa"
"DIAM KAMU"
Jin membentak Danial dengan suara keras, Danial kaget dan gemetar. saat ini Danial menatapnya dengan tajam, terlihat warna matanya mulai memerah membuat Danial begitu ketakutan.
"k-kamu kenapa...?" Danial beringsut mundur, ia menarik kakinya yang tadinya ia luruskan
"aku tidak suka kamu sebut nama Tuhanmu" Jin menatap Danial dengan begitu tajam, warna matanya....warna mata merah itu membuat Danial semakin takut
"t-tapi kan Allah memang Tuhanku"
"AKU BILANG DIAM"
bentakkan Jin membuat tubuh Danial gemetar. wajahnya pucat dan bibirnya nampak biru, seakan darah tidak mengalir dalam tubuhnya padahal ia bukanlah makhluk seperti Jin.
(audzubillahi minasyaitonirrajim bismillahirrahmanirrahim, Allahu laailaha illahuwalhayyulkayyum) dalam hati Danial membaca ayat kursi
Jin menjadi beringas dan mencekik leher Danial namun karena ia merasakan panas saat menyentuh tubuh Danial, ia mundur dan berteriak agar Danial menghentikan doanya.
"AKU BILANG HENTIKAN"
Jin melemparkan gelas yang ada di atas nakas ke arah Danial hanya dengan gerakan satu tangannya. gelas itu tepat mengenai dahi Danial hingga berdarah dan mengalir ke arah matanya.
"aku nggak akan membantu kamu jika ternyata kamu adalah makhluk kafir yang tidak ingin menyembah Allah"
"kamu mau aku bunuh" Jin kini sedikit lagi akan berubah wujud, namun karena Danial menghentikan doanya, perubahan dalam diri Jin hanya sebatas mengeluarkan kuku tajam dan mata yang berubah warna
matanya menatap ke arah Danial yang seakan sedang menahan hasrat yang begitu menggebu. saat melihat darah yang keluar dari kening Danial, Jin memutar tubuhnya dan membelakangi Danial. dirinya kembali ke wujud seperti semula. itu juga yang ia rasakan saat melihat darah dari seorang siswi yang ditemukan meninggal di perpustakaan. untuk menghilangkan keinginannya, Jin tidak berlama-lama di perpustakaan dan beralih ke samping gedung itu. maka dari itulah Danial dapat melihat dirinya.
"kamu jahat banget Jin, tega melukaiku seperti ini"
kembali Jin memutar badan, ia melihat Danial sedang memegang keningnya yang berdarah bahkan tangannya pun ikut berdarah.
Jin ingin mendekat namun darah segar yang keluar dari kening Danial membuat ia meneguk ludah beberapa kali. ia seperti melihat makanan yang begitu enak dan ingin segera menyantapnya. Danial dapat melihat perubahan sikap Jin saat itu. ia dapat melihat Jin yang sedang terpaku melihat ke arahnya dengan ludah yang terus ia tekan beberapa kali.
"kamu...kamu" Danial menggeleng kepala "astaga, kamu peminum darah...?" pekik Danial yang baru saja sadar
Jin menutup mulutnya dengan cepat, ia kembali memutar badan karena takut tidak bisa menahan diri walaupun sebenarnya kini ia semakin berontak untuk menikmati darah Danial.
"bersihkan lukamu" ucap Jin
"aku tidak akan membantumu jika kamu tidak menjadi Jin muslim, aku tidak ingin berteman dengan makhluk yang kafir"
"kamu tidak bisa memutuskan perjanjian darah yang telah kamu buat sendiri" Jin meninggikan suaranya
"persetan dengan itu, jika kamu tidak menjadi Jin muslim maka aku tidak akan mau bertemu dengan mu lagi"
"manusia brengsek, aku tidak percaya Tuhanmu. dimana dia dulu saat aku membutuhkan bantuan. dia tidak ada dan membiarkan aku mati begitu saja, aku benci Tuhanmu" kini Jin mulai semakin mengeraskan suaranya "Dia tidak menolongku saat aku sedang mengalami sakaratul maut, Dia membiarkan aku kehilangan nyawa. bagaimana bisa aku percaya dengan Tuhan seperti itu. aku begitu mengagungkan dan menyembahnya, tapi dia membiarkan aku mati sedangkan iblis itu ia biarkan berkeliaran dan muncul kembali"
"kamu menyalahkan takdir Tuhan...?"
"lalu siapa yang harus aku salahkan selain Dia" Jin kembali menghadap ke arah Danial
"semua orang akan mati Jin, aku juga akan mati namun tidak seharusnya kita menyalahkan Tuhan. sejak dalam kandungan kita sudah diperlihatkan bagaimana caranya kita akan mati nanti, itulah takdir kita Jin"
"persetan dengan takdir" Jin menghilang begitu saja
Danial menghela nafas, ia kemudian menuju ke kamar mandi untuk membersihkan lukanya. tidak begitu besar, untungnya rambut didepan sedikit panjang sehingga dapat menutupi lukanya itu. Danial kembali ke tempat tidur. kini dirinya sulit untuk tidur kembali, ia sedang memikirkan cara bagaimana agar Jin dapat melafalkan dua kalimat syahadat, ia ingin Jin menjadi muslim bukan makhluk kafir yang suka meminum darah.
di sampingnya, Satria tidak terusik dengan suara Danial yang keras tadi. mungkin karena sudah begitu lelap sehingga dirinya tidak lagi merespon suara apapun.
esok hari sama seperti hari kemarin, mereka ke sekolah pagi-pagi sekali sebab harus menempuh perjalanan jauh. setelah sarapan, Satria dan Danial berpamitan kepada semua orang, pak Samsul yang akan mengantar mereka seperti hari pertama mereka masuk.
"keningmu kenapa Dan, kok sampai luka gitu...?" Zain bertanya saat mereka telah masuk ke dalam mobil
"memangnya kelihatan ya...?" Danial menutup keningnya dengan rambutnya
"kalau seperti itu nggak kelihatan, tapi kalau rambutmu disapu angin jelas kelihatan. memang kamu habis ngapain...?"
"habis gulat dalam tidur ya...?" celetuk Kirana
Satria yang sedang duduk di depan memutar kepala untuk melihat kening Danial.
"coba aku lihat" Satria mengulurkan tangan untuk melihat luka itu "perasaan semalam kening kamu baik-baik saja deh Dan, ini kenapa malah terluka seperti ini...?" Satria menarik tangannya kembali
"aku jatuh dari kamar mandi dan keningku terbentur, jadinya seperti ini" timpal Danial
"lain kali hati-hati den, jatuh di kamar mandi itu sangat berbahaya resikonya. bisa kadang langsung lumpuh atau bahkan ada yang meninggal" pak Samsul melihat Danial dari spion gantung
"iya pak, lain kali aku akan hati-hati" jawab Danial pelan
mobil yang mereka tumpangi mulai dekat dengan sekolah, saat hendak masuk di lorong sekolah, Satria menghentikan mobil itu di jalan utama.
"masih jauh itu den, kenapa berhenti di sini...?" tanya pak Samsul
"di sini saja nggak apa-apa pak, kami ingin jalan kaki saja dari sini, ya semuanya...kita turun di sini saja. lagian udah nggak jauh juga kok" Satria meminta persetujuan teman-temannya
"okelah kita turun di sini saja, pak Samsul jemput jam 4 sore ya" ucap Alea
"baik non" jawab pak Samsul
semuanya turun dari mobil. pak Samsul meninggalkan mereka. banyak siswa-siswi yang sudah datang. mereka berjalan beriringan bersama siswa-siswi yang lainnya. tiba di gerbang sekolah semuanya nampak seperti biasa. hingga kemudian mereka dikejutkan dengan semua siswa yang berlarian ke arah lapangan.
"eh kenapa tuh, kok pada lari-lari segala" Ayunda merasa heran
"lihat yuk, aku jadi penasaran" Alea segera menarik tangan Kirana, ikut berlari bersama siswa-siswi yang lain
karena kedua teman mereka telah menyusul maka mereka semua pun ikut berlari ke arah lapangan. semua siswa berkerumunan membentuk lingkaran. Alea dan Kirana memaksa untuk sampai di depan.
"ada apa sih, kok rame begini...?" Satria bertanya ke salah satu siswa
"ada yang bunuh diri" jawab siswa itu
"b-bunuh diri...?" Satria ternganga mendengarnya
Danial yang mendengar itu, jantungnya langsung berpacu dengan cepat. dirinya kaget, sangat kaget. baru saja kemarin pihak sekolah menemukan mayat sekarang ada lagi mayat yang baru. deru nafasnya naik turun, dirinya sekaan sesak bernafas.
"minggir... minggir" Danial menerobos masuk
seakan sulit untuk percaya, mereka menerobos memaksa masuk untuk sampai di depan. benar saja, seorang siswi di depan sana tergelatak sudah tidak bernyawa. baju seragamnya berubah warna sebagian menjadi merah karena darahnya sendiri. matanya masih terbuka dan belum tertutup.
"besok akan ada hal yang menggemparkan lagi"
perkataan Jin tadi malam terngiang-ngiang di kepala Danial.
(apakah dia tau apa yang akan terjadi hari ini, apakah dia tau semua ini akan terjadi. kenapa...kenapa ucapannya menjadi Kenyataan) Danial menggigit bibir, lututnya lemas melihat siswi itu meregang nyawa dengan begitu mengerikan, membuang dirinya dari lantai tiga
di antara semua orang yang berada di tempat itu, Danial melihat sosok yang sedang menatap lurus ke arah mayat itu.
"Jin" gumamnya namun hal itu masih di dengar oleh Satria karena dirinya berada di dekat Danial
"Jin siapa Dan...?" tanya Satria
"Jin...? siapa Jin...?" Zain menoleh ke arah Satria sebab temannya itu menyebut nama seseorang yang belum pernah ia dengar
Danial tidak menjawab, dirinya fokus menatap lurus ke arah Jin yang dimana ternyata hantu itu sedang menatap ke arahnya.
(jadi ini yang kamu maksud hal yang menggemparkan...?) Danial bertanya dalam hati, tatapannya tidak pernah lepas dari Jin yang berada di kerumunan siswa di sebrang sana
tidak menjawab, Jin melayang mundur tidak terlihat lagi. hal itu membuat Danial bergerak untuk mengejarnya. sayangnya teriakan seorang siswi di tempat itu membuat langkahnya terhenti. semua siswa-siswi panik sebab satu orang siswi itu berteriak begitu keras sampai memekikkan telinga, kemudian setelahnya ia berhenti dan kepalanya menunduk. ia duduk berselonjor di lapangan sekolah, di dekat mayat siswi yang diperkirakan bunuh diri itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Erni Sasa
berati anak"y mah gak pada tau ya klw ortu mereka punya kelebihan..
2023-10-23
0
𝓡𝓲𝓳𝓱𝓪𝓵𝔃
Diskusi tentang Ketuhanan pada makhluk jin sprt ini mesti Pelan pelan saja Danial.. jangan gegabah yg berakibatkan dirimu celaka nantinya. Dan sprtnya dibutuhkan kepekaan .. agar sekiranya semuanya akan baik baik sj.. Tapi ups.. jin gak punya kepekaan hati yah.. nda tau kalo di kisah ini.. 🤭😅 😂🤭🙏🏻
2023-03-27
1
V3
sebenarnya apa yg terjadi yaaa , apa yg membuat siswi itu pd meninggal ❓❓🤔🤔
2023-03-26
1