Kamila dan Danial sama-sama pingsan tidak sadarkan diri di lantai aula. semua orang sedang menunggu mereka di depan pintu. meskipun kepala sekolah menyuruh mereka semua untuk pergi jauh dari aula sekolah, tetapi pak Hamzah tidak melakukan itu. dirinya hanya menuruti perintah untuk keluar dari aula namun tidak meninggalkan tempat itu.
saat itu kepala sekolah menghubungi pak Hamzah, setelah diberitahu Kamila bisa diselamatkan, pak Hamzah langsung membuka pintu. semua orang terburu-buru masuk dan menghampiri mereka.
"kak Dan" Alea menangis melihat Danial semakin pucat di lantai yang dingin
"kita keluar dari sini" ucap kepala sekolah
pak Hamzah menggendong Kamila, sementara Danial, remaja itu digendong oleh pak Samsul di punggungnya.
tim samudera baru saja tiba di sekolah SMA Citra Bangsa. mereka melihat mobil pak Samsul yang ada di parkiran namun tidak ada pemiliknya.
"kalian datang juga...?" Vino bertanya setelah keluar dari mobilnya
tidak saling memberikan kabar bahwa akan datang di sekolah besar itu. semuanya bertemu di tempat itu setelah mereka tiba.
"kalau masalah anak, jelas gue nggak akan tinggal diam" ucap Bara
"itu mobil gue, tapi pak Samsul kemana...?" Leo menunjuk mobilnya. ia pun mendekat mobil itu dan tidak ada seorangpun yang ia temui
"kita masuk saja, perasaan aku nggak enak sejak tadi" usul Adam
mereka yang telah menjadi seorang ayah itu, melewati pagar sekolah memasuki halaman sekolah. dari kejauhan ada beberapa orang yang sedang berlari ke arah mereka, setelah diperhatikan itu adalah anak-anak mereka.
"itu mereka" tunjuk Deva
anak-anak itu yang melihat ayah mereka, langsung berlari cepat ke arah tim samudera dan memeluk mereka. sementara Adam, dirinya panik melihat Danial berada di gendongan pak Samsul.
"kenapa dengan Danial pak, apa yang terjadi" Adam menepuk pelan wajah Danial namun tidak ada respon dari putranya itu
"den Danial pingsan pak" pak Samsul memperbaiki posisi tubuh Danial yang hampir saja akan jatuh
pak Hamzah membawa Kamila ke dalam mobil kepala sekolah. Ananta juga ikut masuk ke dalam. setelahnya kepala sekolah mendekati tim samudera dan menanyakan apakah mereka orang tua anak-anak itu.
"benar pak, kami orang tua mereka" jawab El-Syakir
"sebaiknya bawa dia ke rumah sakit, dia perlu dirawat" kepala sekolah beralih melihat Danial
"kami memang akan ke rumah sakit. kalau begitu kami permisi pak" ucap Adam
kepala sekolah mengganguk, Adam mengambil alih tubuh Danial dan mereka segera membawanya ke mobil. kepala sekolah pun berputar arah kembali ke mobilnya. dari jarak cukup jauh, masih ada seseorang yang ternyata keberadaannya tidak mereka ketahui. dia dengan kaki yang pincang, berlari sekuat tenaga untuk bisa mencapai mobil kepala sekolah yang sudah keluar dari pagar.
"pak... tunggu pak, tunggu" dirinya melambaikan tangan berharap mereka yang ada di dalam mobil itu dapat melihatnya
mobil kepala sekolah semakin jauh meninggalkan sekolah. kakinya yang terluka membuatnya terjatuh karena keseimbangan tubuhnya yang goyah. berderai air mata, dirinya mencoba untuk bangkit. dia harus keluar dari sekolah itu, ia harus segera pergi dari tempat itu.
sementara dari kejauhan sana, sosok yang mengerikan sedang berjalan mendekat ke arahnya. sesekali siswi itu memutar kepala untuk melihat keadaan di belakangnya. dengan kaki yang tidak bisa berjalan normal, ia semakin sulit untuk bisa sampai di gerbang sekolah. demi menyelamatkan dirinya, ia berbelok menuju ke ruang kelas dan bersembunyi di sana.
"tolong aku ya Allah... tolong aku" dirinya bersembunyi di meja paling ujung di sudut kanan
ponsel yang ia pegang sudah tidak aktif lagi karena kehabisan baterai. padahal benda itu adalah harapannya untuk bisa menghubungi orang tuanya atau teman-temannya. sayangnya, kini dirinya harus berjuang sendiri di sekolah yang ternyata menyeramkan itu.
braaaakkk
pintu ruang kelas itu dibuka dengan keras. hampir saja ia mengeluarkan suara karena terkejut. untungnya ia segera membekap mulutnya dengan kedua tangan.
makhluk mengerikan yang begitu menakutkan. dengan dua tanduk yang ada di kepalanya. wajahnya yang menyeramkan bagai wajah serigala. kuku tajam yang siap mencabik-cabik apa saja. kedua matanya menelisik sekitar mencari keberadaan mangsanya.
makhluk itu melangkah maju ke depan, memeriksa setiap dibawah kolong meja untuk memastikan dimana mangsanya bersembunyi. siswi itu berjalan jongkok menyeret kakinya yang terluka. saat makhluk itu sampai di ujung, siswi itu telah berada bersembunyi di meja yang lain.
karena tidak menemukan apa yang dia cari, makhluk itu pergi meninggalkan kelas itu. siswi itu bernafas lega, ia bersandar di dinding dan memeriksa kakinya yang semakin bengkak dan berdarah.
"kamu bisa Zalifa, kamu bisa"
siswi itu adalah Zalifa. dia adalah siswi yang kerap menjadi siswi yang di buli oleh Kamila dan Ananta. entah bagaimana bisa sampai dirinya belum pulang, tapi yang pasti saat ini nyawa remaja itu dalam keadaan bahaya.
pelan-pelan, ia berusaha untuk berdiri. dirinya mengintip di jendela dimana keberadaan makhluk itu sekarang. merasa aman karena tidak melihat makhluk itu, Zalifa mengambil cas ponsel di dalam tasnya. di setiap masing-masing kelas telah disediakan papan colok yang biasa digunakan oleh guru-guru jika mengajar menggunakan infokus. Zalifa dengan kaki yang pincang, berjalan ke depan dan mencas ponselnya.
tidak ingin dilihat oleh makhluk itu lagi, ia bergerak ke arah pintu dan menutupnya kemudian menguncinya dari dalam. di tempat duduk khusus untuk guru, Zalifa duduk memperhatikan ponselnya yang sedang mengisi.
dengan tangan yang gemetar, ia mengambil ponsel itu kemudian mengaktifkannya. hal pertama yang ia lakukan adalah mencari nomor telepon orang tuanya. dirinya harus mengabarkan kalau dia dalam keadaan bahaya sekarang.
nomor ibunya tidak dapat dihubungi, maka ia mencoba menghubungi ayahnya. tersambung namun tidak diangkat. beberapa kali ia mencoba, tetap saja ayahnya tidak mengangkat panggilannya.
"kakak, iya nomor kakak"
Zalifa mencari nomor kakaknya, setelah tersambung langsung diangkat.
Zalifa
halo kak
kakak
Zalifa, ya Allah kamu dimana dek. kenapa segini kamu belum pulang juga.
"ayah, ibu...ini Zalifa menelpon" kakak Zalifa memanggil kedua orang tuanya
Zalifa
kak, tolong aku kak. aku masih di sekolah, tolong aku kak. makhluk itu akan membunuhku
dengan isak tangis, Zalifa berbicara terbata-bata.
"kenapa dengan adikmu Niskal, dimana dia sekarang" ibu Zalifa bertanya dengan nada penuh kekhawatiran
"Zalifa masih di sekolah bu" Niskal menjawab
kakak
kamu masih di sekolah...? kenapa masih di tempat itu. makhluk apa maksud kamu dek
Zalifa
makhluk itu akan membunuhku kak, tolong aku. hiks...hiks...aku belum ingin mati kak
kakak
tenang dek tenang, kakak dan ayah akan jemput kamu sekarang. bersembunyilah, kakak akan ke sana
Zalifa
cepat kak, aku takut sendirian di sini
braaaakkk
pintu yang telah dikunci terbuka dengan begitu mudah. ponsel Zalifa terjatuh bahkan belum sempat ia mengakhiri panggilannya. makhluk itu telah berdiri di ambang pintu dengan rasa lapar yang amat sangat setelah menemukan mangsanya.
di depan rumah sakit Danial di larikan. remaja itu sekarang telah sadar setelah sejak lama ia tidur pulas. kedua matanya menelisik tempat dimana dirinya berada sekarang. bau khas rumah sakit membuat ia tau kalau sekarang dirinya sedang berada di tempat itu. apalagi sekarang tangannya yang sedang di infus.
Adam dan Airin ada di tempat itu. melihat Danial membuka matanya, Airin memberitahu Adam kalau anak mereka telah sadarkan diri.
"sayang, kamu sadar nak" Airin mencium lembut kening Danial
"bunda, kenapa aku di rumah sakit. bukannya tadi aku di sekolah"
"kamu pingsan di sekolah dan di bawa ke sini
apa ada yang sakit...?" Adam bertanya
Danial menggeleng kepala. ia mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya saat di sekolah. kilasan dirinya yang kepanasan karena kalung yang ia pakai muncul di kepalanya. refleks saat itu Danial memegang lehernya dimana kalung itu berada.
"kenapa nak...?" Airin melihat tangan putranya yang sedang menyembunyikan sesuatu di balik bajunya
"nggak ada apa-apa bun. terus teman-teman mana, Kamila apakah berhasil di selamatkan...?"
"Kamila siapa...?" tanya Adam
"siswi yang kerasukan dan ingin bunuh diri yah. tadi kami berusaha menyelamatkannya bersama kepala sekolah dan pak Hamzah. ayah dan bunda tidak tau keadaan dia...?"
Adam dan Airin menggeleng "mungkin dibawa ke rumah sakit lain. sekarang istirahatlah"
"teman-teman Danial bagaimana yah. Satria dan Alea...?"
"mereka sudah ayah suruh pulang. sekarang kamu istirahat"
"tapi aku lapar bun" dengan wajah merengek Danial memegang perutnya
"mas, cariin makanan untuk Danial" Airin menatap Adam
"ya sudah, biar ayah belikan makanan. kamu mau makan apa...?"
"ayam bakar, pakai sambal kacang ya yah"
"diterima" Adam mengacak rambut Danial kemudian ia keluar dari ruangan itu
kini hanya ada Airin dan Danial di dalam itu. dengan memperbaiki selimut anaknya, Airin menanyakan sesuatu hal kepada putranya itu.
"kenapa bisa sampai teman kalian yang bernama Kamila itu kerasukan...?"
"aku juga nggak tau bun. mungkin demit di sana suka sama dia"
"hus...kalau bicara jangan sembarangan nak. nanti kalau ada demit yang suka sama kamu, memangnya kamu mau berteman sama hantu"
"aku punya kok teman gaib, upsss" sadar dengan apa yang ia katakan, Danial seketika membekap mulutnya
"teman gaib...?" Airin menatap lekat putranya
"n-nggak bun, maksudnya aku...aku ingin punya teman gaib. iya, aku ingin punya teman gaib" Danial menjawab spontan dan terbata
"Danial, bunda nggak tuli ya. bunda dengar betul apa yang kamu katakan tadi" sorot mata Airin membuat Danial gugup dan takut
"a-aku serius bun, a-aku nggak b-bohong"
Airin sudah mengeluarkan aura mistis yang ada dalam dirinya. hal itu membuat Danial merinding dan meringsut memegang selimutnya dengan erat.
melihat ketakutan dalam diri anaknya, Airin merasa bersalah telah menatap putranya dengan tatapan mengintimidasi. segera ia menarik Danial dan memeluknya.
"maafin bunda nak, maaf. bunda hanya tidak ingin kamu terlibat dengan sesuatu hal yang gaib" dengan mengusap punggung Danial, Airin begitu merasa bersalah
"bunda jangan kayak tadi lagi, aku takut. bunda jadi serem" aku Danial yang merasa merinding melihat ekspresi bundanya tadi
"iya, maaf ya sayang..maaf" Airin melepas pelukannya dan membelai lembut wajah Danial
Danial mengangguk, melihat ekspresi bundanya sudah normal kembali. ia pun tidak lagi merasa takut. sambil menunggu kedatangan Adam, Danial membaringkan tubuhnya dan menutup mata. sedang Airin terdengar langkah kakinya yang masuk ke dalam kamar mandi.
merasa gelisah dan tidak tenang, Danial membuka matanya dan bangun bersandar di kepala ranjang. ia memegang kalung yang ada di lehernya. ia lepas kalung itu dan ditatapnya dengan lekat.
"kalung apa sebenarnya ini, kenapa ada saja waktu tertentu kalung ini panas dan menyiksaku"
sesaat Danial teringat dengan Jin. ia pun memanggil hantu itu di dalam hatinya takut kalau bundanya mendengar. namun sayangnya, sampai Danial memanggil berulang kali, Jin tidak kunjung datang menghampirinya.
(kemana sih itu setan, giliran dibutuhkan nggak datang-datang) dalam hati Danial memberenggut
terdengar suara derit pintu yang dibuka, Airin keluar dari kamar mandi. bersamaan dengan itu, Adam baru saja datang membeli makanan. ia membeli dengan tiga porsi ayam bakar, untuk ketiganya sebab sebenarnya sejak tadi pun dirinya dan Airin belum sempat untuk makan malam.
dalam keadaan sakit biasanya seorang anak akan manja kepada ibunya. kali ini, Danial bahkan menggunakan sakitnya sebagai alasan tidak mempunyai tenaga untuk mengangkat sendok. Airin tau itu hanyalah akal bulus putranya agar disuapi.
"aku juga mau di suapi sayang, tangan ku sejak tadi rasanya keram. banyak pekerjaan di kantor, aduh...ngilu sekali" tidak ingin kalah dengan sang anak, Adam berpura-pura sakit
"ayah nggak usah ikut-ikutan kenapa" Danial mencebik, ia tau ayahnya itu berpura-pura
"loh siapa yang pura-pura sih, tangan ayah memang sakit. sakit loh sayang" Adam bermanja di dada Airin
"iiiih ayah" Danial mendorong tubuh Adam untuk menjauh dari bundanya "bunda itu punya aku ya" seketika Danial memeluk erat Airin
"oh gitu ya, jadi udah nggak mau sama ayah nih"
"ya bukan gitu, aku kan maunya bunda perhatian sama aku aja. ayah udah tua juga" cebik Danial
"heh...sekate-kate kalau ngomong. ayah masih tampan begini dibilang tua. wajah ayah sebelas duabelas imutnya dengan Ragel loh"
Ragel anak kedua mereka itu dititipkan kepada ibu Arini. sebab selain dengan orang tuanya, Ragel bisa tidur dengan siapa saja tanpa harus banyak drama.
"hiiiiiii...kepedean sekali mas" Airin mencubit wajah Adam
"tapi memangnya aku masih ganteng kan sayang, iya kan" Adam menaik turunkan alisnya
Airin memutar bola mata dan tanpa menghiraukan gurauan suaminya dan sang anak. Airin menyiapkan makanan mereka dan menyuapi keduanya. barulah mereka berhenti berbicara.
tidak terasa hampir mendekati tengah malam. Airin dan Adam telah terlelap di sofa sementara Danial yang kembali merasakan panas di lehernya, terbangun dan buru-buru ke kamar mandi. dirinya berniat untuk melepas kalung itu dan merendamnya di dalam air. namun Jin datang mengejutkan dirinya.
"panas Jin... panas" tidak tahan menahan panas, Danial hendak menyalakan air shower namun Jin menghalanginya
"itu pertanda akan ada korban lagi. padahal tadi kita sudah menyelamatkan Kamila, tapi kenapa kalung itu bereaksi lagi"
"aaaggghh"
Danial tidak dapat menahan untuk tidak berteriak. seketika Jin membekap mulutnya dan membantunya agar kalung itu tidak menyiksa Danial.
"kita harus kembali ke sekolah itu Dan"
"ngapain Jin, kamu gila ya. ini sudah larut malam" di lantai kamar mandi, Danial terengah-engah karena lelah
"korban tumbal akan ada lagi jika kita tidak segera ke sana"
"t-tumbal...?"
untuk sesaat Danial teringat dengan percakapan dua siswa yang ia dengar di dalam toilet. tumbal...siswi SMA Citra Bangsa dijadikan tumbal dan setelah berjumlah ganjil 19 orang, maka akan digenapkan dengan siswa laki-laki hingga berjumlah 20 orang.
"jadi benar, sekolah itu memakan tumbal...?"
"kita tidak punya waktu untuk membahas itu Dan. ayo sebelum semuanya terlambat"
"tapi aku tidak punya tenaga Jin"
"kalau begitu aku yang akan menggerakkan mu"
"maksud kam..."
belum selesai Danial berbicara, Jin sudah masuk ke dalam tubuhnya. seketika tubuh Danial bergetar seperti tersengat listrik. ia kemudian berdiri dan menatap cermin yang ada di depannya.
"aku yang akan mengambil alih tubuhmu" ucap Danial yang sebenarnya Jin lah yang berbicara
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
warkop Teteh kuningan
aduh kasian,,, zalifa kah?
2023-11-01
0
Indri Wulandari
knp c danial msh aja bohong kpd semua orang jd mls bacanya
2023-06-22
1
mia allina
hmmm ngegantung thorr😁🙏
2023-05-24
1