"jadi hari ini kita akan kemana...?" tanya Ayunda
mereka kini tengah menyusuri panjangnya jalan raya yang tidak akan bisa mereka ukur hanya menggunakan kedua kaki mereka. segala peralatan yang mereka bawa, di buang ke tempat sampah karena barang-barang itu sudah tidak lagi mereka perlukan. kini yang tersisa hanya seragam sekolah dan juga tas tempat penyimpanan makanan yang di bawa oleh Kirana tadi.
"ke tempat dimana tidak ada manusia yang juling seperti Jeki" jawab Danial yang sedang memainkan jari-jarinya
"ke rumah aku aja yuk, gimana" Alea memberikan usul
"kalau nggak ada om Leo aku nggak mau. kita pasti kena marah sama tante Alana. kalau ada om Leo kan dia bisa belain kita" Satria menolak
"tante Alana juga marah karena kita juga yang salah kan. tante Alana orangnya baik kok, hanya kita saja yang nakal ya jadinya tante Alana jelas marah lah" ucap Zain
"hummm terus kita kemana dong. aku malas pulang ke rumah, mama sama papa lagi nggak ada di rumah" timpal Kirana
"kita ikuti saja jalan raya ini, kalau sudah capek baru berhenti" ucap Danial
Jin tidak lagi bersama mereka padahal tadi hantu itu mengikuti mereka keluar dari pagar sekolah. Danial celingukan mencari keberadaan hantu itu namun bahkan matanya sudah menelisik ke segala arah ia tidak melihat keberadaan makhluk gaib itu.
"cari siapa Dan...?" tanya Satria
"bukan siapa-siapa" Danial menggeleng dan memfokuskan pandangannya ke arah depan
semakin jauh mereka melangkah tanpa mereka sadari keenamnya telah berada di depan rumah kosong yang pernah mereka jadikan tempat untuk berteduh dari derasnya hujan.
"ini rumah yang kemarin kan, kok bisa kita datang di sini" Kirana menggaruk kepala
"kita kan punya kaki Ki, ya jelas bisalah" timpal Alea
"bukan begitu bego, maksud aku tuh perasaan kita nggak lewat di jalan kemarin deh, ini kenapa kita malah sampai di sini" jawab Kirana
mereka belum masuk ke dalam halaman rumah, keenamnya masih diam di tempat dan melihat sekitar. hingga kemudian Danial melangkahkan kakinya untuk mendekati pagar rumah tersebut.
"eh Dan, mau kemana" Zain menahan lengan Danial
"mau masuk, di sini nyaman untuk bersantai" Danial langsung menarik Zain dan ikut masuk bersamanya
"ih masa bersantai di rumah serem ini sih, kamu lupa ya kemarin kamu pingsan di tempat ini" Kirana mengeraskan suaranya agar kedua remaja yang sudah berada di teras rumah itu dapat mendengarnya
"ayo masuk, ngapain masih di situ" Danial memanggil mereka
ketiga gadis itu saling pandang kemudian mereka melihat ke arah Satria yang masih menelisik sekitarnya.
"kak, pulang aja yuk" Alea mendekati Satria
"masih tempo, udah masuk aja. lagian di rumah ini juga nggak ada apa-apa, kemarin aku sama Ayunda sampai masuk ke ruang dapurnya mencari toilet" Satria menyusul kedua temannya di dalam
karena para lelaki sudah berada di teras rumah maka dengan terpaksa ketiga gadis itu menyusul mereka.
Danial membuka pintu dan seperti biasa pintu yang sudah berkarat itu mengeluarkan bunyi khas miliknya. mereka semua masuk ke dalam dan berkumpul di ruang tengah.
meong...meong
suara kucing terdengar di telinga mereka. dari arah dapur, kucing putih yang sempat mencakar Danial kemarin menghampiri mereka semua dan kucing itu langsung mendatangi Danial naik di pangkuannya.
"dia seperti sudah kenal sama kamu Dan" ucap Ayunda
"kami memang sudah saling kenal" Danial mengelus dengan sayang bulu kucing itu
tatapannya beralih ke arah pajangan foto yang sempat jatuh dan pecah kemarin. seketika Danial terkejut karena foto itu masih utuh seperti pertama kali ia melihatnya. bahkan darahnya yang pernah menetes di lembaran foto itu, sudah tidak ada. bersih seperti sebelumnya. bingkainya pun tidak memiliki kerusakan sama sekali, kacanya pun tidak ada yang retak.
(bagaimana bisa) batinnya seakan tidak percaya
"rumah sebagus ini kok malah di tinggal ya" Zain meraih bantal sofa dan membaringkan tubuhnya
"mungkin mereka telah menemukan tempat yang lebih baik dari rumah ini" jawab Satria yang sedang memperhatikan pajangan foto berukuran besar
meong.... meong
kucing putih itu melompat dari pangkuan Danial dan berlari ke arah dapur. Danial bangkit dari duduknya dan mendekati foto Jin, yang sempat jatuh dan kacanya retak.
"bagaimana bisa foto ini bisa utuh kembali tanpa cacat sedikitpun" gumam Danial
"dia ganteng ya, seperti orang-orang luar" Kirana datang dan berdiri di samping Danial
"tapi dia setan" spontan Danial menjawab
"setan...?" Kirana mengernyitkan dahinya dan memutar kepala melihat Danial
"bukan...bukan apa-apa, aku ingin pipis" Danial melenggang pergi
rupanya rumah itu untuk sampai di dapur harus melewati satu ruangan lagi yang lebih luas dari ruangan tengah. sepertinya itu adalah tempat bersantai atau ruang keluarga. ada dua buah kamar di ruangan yang luas itu dan terdapat satu piano yang berada di sudut ruangan terletak di dekat jendela.
kreeeek
pintu salah satu kamar terbuka, Danial refleks memutar badan dan melihat ke arah kamar itu.
"Jin, kamu kah itu...?"
tidak ingin teman-temannya mendengar, Danial memanggil pelan namun tidak ada jawaban dari hantu itu. begitu besar rasa penasaran dan juga seakan di bisik untuk masuk ke dalam kamar itu, Danial memantapkan hati untuk melangkah selangkah demi selangkah dan kini dirinya telah berada tepat di depan kamar.
pintu kamar belum terbuka lebar, ia kemudian mendorong pintu itu dan di dalam keadaannya nampak gelap. mungkin karena jendela kamar tidak di buka dan juga di tutup rapat oleh gorden.
Danial masuk ke dalam dan meraba-raba dinding kamar, mencoba mencari saklar lampu untuk menyalakan lampu di kamar itu.
klak
keadaan kamar menjadi terang, Danial dapat melihat keadaan kamar tersebut. ada lemari kayu, kursi dan meja belajar, kamar mandi, ranjang yang khusus untuk satu orang dan ada beberapa pajangan foto di atas nakas. baju seragam sekolah masih tergantung di samping lemari, pakaian seragam sekolah SMA. beberapa buku tulis tertata rapi di atas rak dan juga banyak buku-buku baca lainnya.
sebuah lukisan indah ada di kamar itu. rumah di tengah hutan, dan di pagari oleh kayu. dua patung makhluk yang mengerikan, entah binatang apa, berdiri tegak di depan rumah. mempunyai taring yang begitu panjang. gigi atasnya bahkan melewati hidungnya dan gigi bawahnya melewati dagunya. Danial sampai merinding melihat lukisan itu.
Danial mendekati rak buku dan mengambil satu buku tulis.
"Keanu Alexander" Danial membaca tulisan yang ada di lembar pertama buku itu
tulisan tangan yang begitu rapi, bahkan Danial takjub dengan tulisan itu. tulisan tangannya saja tidak seindah tulisan yang ada di dalam buku itu. ia pun mengambil buku-buku yang lain. di antara buku-buku itu, matanya tertuju pada satu buah buku yang bersampul merah.
"iblis" Danial membaca judul buku yang ada di lembar pertama
satu demi satu, lembaran buku itu ia buka. hanya membaca sekilas dan ia berpindah lagi ke lembaran berikutnya.
"sepertinya ini menarik" Danial tertarik dengan buku tersebut
ia menyimpan kembali buku tulis serta buku baca yang ia ambil tadi. kini perhatiannya teralih ke salah satu buku yang ada di atas nakas. buku album yang berukuran kecil dan berwarna hitam.
"Keanu Alexander" Danial membaca lagi tulisan yang terdapat di buku album itu
ia membuka halaman pertama buku tersebut dan membaca tulisan itu.
"iblis vs Tuhan" gumam Danial
tiga kata yang terdapat dalam lembaran kertas kecil itu membuat Danial mengernyitkan dahinya.
"apakah orang ini penyembah iblis, kenapa dia begitu terobsesi dengan hal-hal mengerikan seperti ini"
tidak ingin berlama-lama di tempat itu, Danial langsung keluar. ia menyimpan buku album itu dan hanya membawa buku bersampul merah tadi. tepat setelah ia menutup pintu, di dalam kamar terlihat sosok yang sedang berada di atas lemari. ia tersenyum tipis kemudian akhirnya menghilang.
Danial kembali ke ruang tengah, di sana teman-temannya sedang bermain kartu.
"darimana kak...?" tanya Alea
"dari kamar mandi. aku lapar nih, pulang yuk" ajak Danial
"yah, lagi seru nih. baru juga main" Zain mengeluh
"kalau gitu biar aku yang cari makan di luar, kalian mau makan apa. mungkin tidak jauh dari sini ada warung makan" Satria bangkit karena dirinya tidak ikut bermain kartu
"apa saja yang penting bisa di makan" jawab Ayunda
"aku temani" ucap Danial
keduanya meninggalkan keempat teman mereka yang masih bermain kartu. mereka berdua mengambil arah sebelah kanan karena dari arah kiri tadi, mereka tidak melihat warung makan saat sedang menyusuri jalan raya.
"Sat, kita harus bilang apa nanti sama bunda dan mama kalau kita pulang"
"ya bilang jujur apa adanya kalau kita nggak di terima di sekolah itu"
"terus kalau mereka tanyakan alasannya bagaimana. aku takut nanti bunda cekewa"
"kecewa Dan kecewa" Satria terkekeh karena memang Danial sangat susah untuk menyebut dengan benar kata itu
"sama saja kan, ada wa wa-nya juga"
"ya beda lah" Satria menggeleng kepala "coba ikuti aku ya, pelan-pelan" lanjutnya
"ke"
"ke"
"ce"
"ce"
"wa"
"wa"
"kecewa"
"cekewa"
"hahaha" Satria ngakak karena tidak bisa menahan tawa
"ke ce wa...pelan pelan"
"ke ce wa" Danial mengikuti instruksi Satria
"nah itu baru benar"
"cekewa"
"ya salam" Satria menepuk jidatnya "suka-suka hati engkaulah" Satria angkat tangan sedang Danial hanya cengengesan
"gimana Sat, nanti kalau bunda sama mama cekewa bagaimana...?"
Satria menghela nafas kemudian berhenti sejenak sebelum akhirnya melanjutkan lagi perjalanan.
"ya mau bagaimana lagi, kita ikuti saja alurnya. yang penting kamu harus tau, bagaimanapun kita, bunda sama mama pasti akan mengerti. mereka kalau tau permasalahannya pasti akan membela kita berdua" Satria merangkul Danial
"terus teman-teman bagaimana. mereka kan nggak salah tapi main ikut kita saja"
"karena mereka tidak ingin kita pisah sekolah. tenang saja, semuanya akan baik-baik saja. pulang nanti kita beritahu bunda sama mama dan mencari sekolah yang tepat untuk kita masuki"
"semoga nggak bertemu dengan si Jeki lagi"
"iya... semoga saja"
mereka menemukan warung makan nasi padang. jadilah mereka ke tempat itu dan memesan enam porsi lengkap dengan minumannya. setelah pesanan mereka siap, keduanya kembali untuk pulang ke rumah kosong tadi.
hari itu mereka lalui dengan bercengkrama di rumah kosong, tempat tinggal Jin yang tidak di ketahui oleh kelima dari mereka namun diketahui oleh Danial. bahkan Danial berharap ia melihat hantu itu namun sampai mereka pulang, Jin tidak memperlihatkan dirinya.
malam harinya setelah makan malam, keluarga Sanjaya berkumpul di ruang keluarga. Samudera di pangku oleh ayah Adnan sedang Ragel sibuk dengan mainan mobil-mobilnya. bersama Galang, Ragel terus cekikikan karena selalu di gelitik oleh anak pertama Zidan Sanjaya itu. Gauri sibuk dengan mainan masak-masak miliknya. Zidan belum pulang dari kantor karena masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan.
sementara di sofa tempat duduk Danial dan Satria, keduanya saling sikut menyikut untuk siapa yang lebih dulu membuka suara. Airin dan Seil kini sedang terlibat percakapan bersama ibu Arini dan Vania.
Galang yang melihat kedua adiknya itu, menghela nafas sebelum akhirnya bangkit dari duduknya dan mendekati keempat wanita yang sedang mengobrol itu.
"tante Airin, tante Seil...aku mau bicara" Galang berdiri di dekat mereka
keempatnya menoleh dan menatap Galang yang kini sedang melihat Airin dan Seil.
"mau bicara apa sayang, ayo duduk di sini" Seil menepuk sofa di sebelahnya dan Galang langsung mengambil tempat itu
"Galang mau bicara apa...?" tanya Airin
sebelum membuka mulutnya, Galang melihat ke arah Danial dan Satria yang menunduk dan saling meremas jemari mereka. padahal tadi di rumah kosong keduanya begitu enteng menganggap masalah itu namun sekarang mereka malah tidak berani memberitahu kedua wanita yang telah melahirkan mereka.
"ini tentang Danial dan Satria" ucap Galang mengalihkan pandangan ke arah dua wanita tadi
"memangnya mereka kenapa...?" tanya Seil
"mereka berdua....tidak diterima di sekolah SMA xxx"
"loh kenapa...?" ibu Arini bertanya
"ada masalah apa sayang, kenapa mereka tidak di terima di sekolah itu. bukannya kamu ketua OSIS, kenapa bisa seperti itu" Vania mengeluarkan suara
"mereka.... terlibat perkelahian mah. sebenarnya kasus itu sejak kemarin namun aku masih bisa mengatasinya namun kali ini kepala sekolah langsung yang memutuskan karena sudah kedua kalinya" jawab Galang
terdengar helaan nafas dari mulut Airin dan Seil. keduanya saling melihat ke arah dua remaja yang kini sama sekali tidak berani mengangkat kepala.
"maafin Danial bun, tapi Danial nggak mungkin diam begitu saja kalau ada orang yang berusaha menindas Danial. itu yang diajarkan ayah sama papa" Danial bersuara, bukan membela diri namun mengatakan yang sebenarnya
Airin dan Seil bangkit dari duduk mereka dan menghampiri kedua anak itu. mereka duduk di samping mereka.
"apa yang diajarkan ayah dan papa memang sudah benar. bunda nggak marah sama Danial, ayo angkat kepalanya. memangnya apa yang kamu lihat di lantai itu" Airin mengangkat dagu anaknya
Seil melakukan hal yang sama dan tersenyum lembut menatap putranya.
"mama nggak marah...?" tanya Satria
"kenapa harus marah, memangnya apa yang telah kamu lakukan...? Seil bertanya lembut
"bunda sama mama benaran nggak marah...?" tanya Danial
"tidak" Airin dan Seil menjawab bersamaan
Danial dan Satria tersenyum lebar kemudian memeluk masing-masing ibu mereka. mereka begitu bersyukur memiliki ibu yang mempunyai hati yang lembut kasih sayang seluas samudera.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
V3
kekakuan si Daniel jiplakan nya Adam ,, ngomong nya jg sama 🙈🤣🤣🤣
2023-02-25
1
V3
ooouuhhh ..... sweet bgt sih keluarga mereka 😘😘
2023-02-25
1