menunggu taksi yang telah mereka pesan lewat aplikasi, keenamnya menunggu di bawah pohon yang ada di pinggir jalan. semua siswa-siswi telah dijemput dan ada juga yang berjalan kaki sebab rumah mereka dekat, ada juga yang memakai sepeda motor dan salah satunya adalah Jeki dan Dante. keduanya datang menghampiri Danial dan kawan-kawan.
"mau ngapain lagi sih nih anak" gumam Zain, ia masih mempunyai rasa jengkel terhadap dua remaja itu
"nunggu jemputan ya...?" tanya Jeki dengan ramah. sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat dari sikap sebelumnya, bahkan ia tersenyum ke arah mereka
"kamu bertanya kepada kami...?" Kirana menunjuk diri
"ya sama siapa lagi, hanya kalian kan manusia di sini" Jeki membuka helmnya
"memangnya kenapa nanya-nanya, mau ngajak ribut lagi...?" Alea menjawab ketus
Jeki terkekeh dan menggeleng kepala, ia beralih menatap Ayunda yang sedang bersembunyi di balik punggung Satria. tanpa di duga Jeki mendekati Ayunda, hal itu membuat Satria dan Danial refleks pasang badan.
"mau ngapain lu, lu nyentuh dia lagi gue pastikan gigi lu bakal rontok semua" Danial mendorong Jeki agar menjauh dari mereka
"aku hanya ingin minta maaf kepadanya" ucap Jeki
"minta maaf...? kesambet kamu ya atau salah minuma obat...?" Satria bertanya sinis
"hei...kami ke sini datang mau damai bukan mau cari perkara. hargain dikit kek" Dante meninggikan suara
"Dante cukup, biar aku yang bicara" Jeki menyuruh Dante untuk diam "Ayunda, aku mau minta maaf telah melukaimu kemarin. maafkan aku ya" Jeki menatap Ayunda yang sedang mengintip di balik punggung Satria
"nggak usah drama deh Jek, kita ini bukan berada di negara ginseng jadi simpan semua omong kosong mu itu dan pergi dari sini" Danial tetap tidak percaya kalau semudah itu Jeki akan meminta maaf padahal kemarin-kemarin dia begitu enggan untuk meminta maaf
"ya sudah kalau memang kalian tidak percaya padaku, tapi yang jelas aku sudah minta maaf ya. kalau kalian nggak maafin berarti kalian sendiri yang berdosa" Jeki mundur dan mengambil helemnya
"idih...tau dosa juga lu" Zain mencibir
"dia kan biangnya dosa" timpal Alea
Jeki hanya tersenyum tanpa berniat menanggapi, sementara Dante sudah panas ingin mengeluarkan kata namun Jeki memberikan isyarat untuk tetap diam saja agar tidak memperkeruh suasana.
"kami duluan ya, sampai bertemu besok" Jeki melambaikan tangan. setelah Dante naik mereka berdua meninggalkan Danial dan teman-temannya
baru beberapa menit kepergian Jeki dan Dante, kini sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka, kaca mobil di kabin depan di turunkan dan terlihat Sharlin berada di dalamnya.
"Sharlin" ucap mereka semua
"hai, kok masih belum pulang. nunggu jemputan ya...?" tanya Sharlin
"iya" Danial menjawab
"memangnya rumah kalian dimana...?" seseorang yang menyetir menundukkan kepala agar terlihat oleh mereka
"pak kepsek"
mereka kaget ternyata yang berada di dalam mobil itu adalah kepala sekolah dan lebih mengherankannya lagi kenapa bisa Sharlin satu mobil dengan kepala sekolah mereka.
"hei, kalian ditanya rumah kalian dimana. kok malah bengong" Sharlin mengagetkan mereka
"di kawasan perumahan Sanjaya pak" jawab Danial lagi
"kita satu arah ternyata, ayo masuk ke dalam biar saya yang antar pulang" ucap kepala sekolah yang mereka belum tau namanya itu
"emmm nggak usah pak, sebentar lagi taksi yang kami pesan datang" Satria menolak dengan halus
yang lain mengangguk membenarkan pernyataan Satria karena kepala sekolah menatap mereka dengan lekat, mungkin saja dia berpikir dirinya dibohongi oleh anak-anak itu.
"ya sudah kalau begitu, jangan terlalu lama di sini ya. kami pulang duluan" kepala sekolah akhirnya menerima keputusan mereka
"iya pak, hati-hati di jalan" ucap mereka semua
"aku duluan ya, sampai bertemu besok" Sharlin melambaikan tangan dan semakin menjauh
kepergian mobil kepala sekolah membuat mereka saling pandang, satu pertanyaan terlintas dikepala mereka semua.
"kenapa Sharlin satu mobil dengan kepala sekolah ya...?" Ayunda menggaruk kepala
"keluarganya mungkin" jawab Zain
sementara di dekat Danial, Jin baru saja datang. sejak tadi ia hanya memperhatikan dari jauh dan setelah kepala sekolah pergi barulah ia mendekat.
"kenapa belum pulang...?" tanya Jin
refleks Danial menoleh, ia senang karena Jin akhirnya bersamanya lagi.
(lagi nunggu taksi) Danial menjawab dalam hati sebab jika ia mengeluarkan suara tiba-tiba maka sudah pasti dirinya akan dicerocoki dengan banyak pertanyaan dari teman-temannya
menunggu beberapa saat, sebuah mobil putih berhenti di depan mereka.
"atas nama Danial Zabdan...?" tanya sang sopir yang masih muda
"iya mas" Danial menjawab
mereka masuk ke dalam mobil, semuanya telah mengambil tempat hanya Danial yang masih berada di luar. ia membalikkan badan karena Jin tidak bergerak untuk ikut bersama mereka.
(kamu tidak ikut...?)
"tidak, pegilah...sampai bertemu di rumah mu" Jin menjawab dan langsung menghilang
"ayo Dan, kamu ngapain bengong di situ" Zain memanggilnya
"iya iya" Danial balik badan dan masuk ke dalam mobil
lama berada di dalam selama 40 menit, barulah mereka sampai di rumah milik keluarga Sanjaya. setelah membayar, mobil itu pergi meninggalkan halaman rumah. Alea dan Kirana berlari karena keduanya melihat Samudera yang di gendong oleh ibu Arini. bayi berusia empat bulan itu tertawa geli karena Alea mencium lehernya.
"kalian sudah pulang, kenapa cepat sekali...?" ibu Arini bertanya
Samudera sudah berpindah tempat di gendongan Satria karena bayi itu merengek ingin digendong oleh kakaknya.
"ada kasus di sekolah nek" jawab Danial mencium tangan ibu Arini
semuanya melakukan hal yang sama, ibu Arini menyuruh mereka untuk masuk ke dalam dan berkumpul di ruang keluarga. segala macam mainan di atas karpet bulu terhambur begitu saja, namun tidak membuat penghuni rumah pusing sebab mempunyai anak kecil sudah pasti akan seperti itu.
"kasus apa...?" ibu Arini bertanya
"entah pembunuhan atau bunuh diri tapi di sekolah tadi ada mayat" Ayunda menjawab
"astaghfirullah...mayat siapa...?" mendengar mayat, ibu Arini kaget dan mengelus dada
"siswi SMA Citra Bangsa nek" timpal Zain
"subhanallah, baru hari pertama sekolah sudah ada mayat. mengerikan sekali sekolah itu"
"nek" Alea memeluk dari samping ibu Arini "jangan tegang semuanya baik-baik saja kok, kami akan hati-hati" ucap Alea
ibu Arini menarik nafas dan membuangnya dengan pelan. ia tatap satu persatu anak-anak itu yang dulunya masih dalam gendongannya sekarang merasa sudah tumbuh menjadi remaja.
"kalian cucu-cucu nenek harus hati-hati dimanapun kalian berada ya, harus saling menjaga" ibu Arini tersenyum hangat
"iya nek" mereka menjawab
dari arah samping rumah tepatnya di kolam renang, suara gaduh terdengar. Danial bangkit sebab ia mendengar suara tawa adiknya dan juga Gauri. entah apa yang mereka lakukan dan hal itu membuat Danial penasaran. hanya terhalang dinding kaca, Danial menggeser ke kanan pintu masuk dan melihat Ragel begitu bahagia mandi di dalam kolam bersama Gauri. Airin memasukkan tubuh montok Ragel ke pelampung bebek agar tidak tenggelam. Vania hanya duduk di pinggir kolam dimana kakinya yang masuk ke dalam air.
"adek" Danial memanggil dan melambaikan tangan
Ragel memutar kepala ke arah suara yang ia dengar. melihat Danial ada di situ, Ragel bertepuk tangan dan merengek ingin bermain bersama Danial.
"nggak bisa dek, kakak pakai baju sekolah" Danial hanya tetap melambaikan tangan
"kenapa sudah pulang nak...?" tanya Airin sebab sekarang waktu jam pulang sekolah masih begitu lama namun anaknya kini malah sudah berada di rumah
"kalian bolos ya...?" Vania memicingkan mata ke arah Danial
"ya nggak lah tante. ceritanya panjang bun, tan. aku mau ganti baju dulu. dadaa sayangnya kakak"
Danial balik badan melangkah masuk, hal itu membuat Ragel histeris karena ditinggal oleh kakaknya. Gauri mengambil perhatian Ragel dengan bermain air kembali membuat anak yang berumur satu tahun lebih itu kembali bersorak gembira dan tertawa-tawa.
Danial, Satria dan Zain mengganti pakaian mereka dengan baju rumahan. tentunya Zain memakai baju kedua sepupu itu, ia hanya memilih mana yang dirinya suka. sementara ketiga perempuan, karena tidak memiliki baju ganti maka dengan terpaksa mereka memakai baju Seil karena ukuran badan Seil kecil dan muat di ketiganya.
"tante Seil seperti masih ABG loh, bahaya nih kalau jalan keluar, bisa ketar ketir om El nantinya" Kirana memuji
"tante sudah tua sayang" Seil menjawab lembut
"siapa bilang mama sudah tua, mama terlihat masih muda sekali kok. kalau mama jalan sendirian, pasti dikira belum menikah" Satria memeluk Seil dari samping
"sama kayak mami, bahkan papi pernah cemburu karena ada laki-laki yang datang membawa bunga ke rumah. kalian tau nggak, laki-laki itu mengira kalau papi adalah kakaknya mami, hahaha...aku masih ingat betul wajah masam papi saat itu" Alea tertawa ngakak membuat Samudera dan Ragel yang sedang bermain di karpet terkejut dan menangis
"ups... aduh maaf sayang, kakak kelepasan" Alea merasa bersalah
"nggak apa-apa, Sam pasti sudah ngantuk. jam segini memang waktunya dia untuk tidur" Seil menggendong Samudera dan membawanya ke kamar
Ragel digendong oleh Danial hingga tidak lama, bayi itupun tertidur di pelukan kakaknya. Airin mengambil alih anaknya dan membawanya ke kamar.
"nek...Gauri juga ngantuk" Gauri terus menguap lebar
"ya sudah, ayo tidur sama nenek di kamar" ibu Arini menggandeng tangan mungil Gauri
"mau tidur sama nenek ya...?" Vania bertanya kepada putrinya
"iya, soalnya nenek suka baca dongeng untuk Gauri" gadis kecil itu menjawab "ayo nek" tangan kecilnya memegang erat tangan ibu Arini dan keduanya melangkah pergi
"kakek kok nggak kelihatan ya" Ayunda celingukan mencari keberadaan ayah Adnan
"di halaman belakang rumah, sedang menanam sayur" Vania menjawab
"wah seru tuh, kita ke sana yuk" ajak Zain
"sudah mulai panas loh, kalian nggak takut hitam...?" Vania menggoda mereka
"hitam manis lebih banyak dilirik loh tan" Kirana menimpali dengan candaan
"bisa saja kamu ini, ya sudah kalian ke belakang sana...bantu kakek kalian"
mereka semua mengangguk dan beranjak untuk ke halaman belakang rumah. di halaman belakang rumah, ayah Adnan sedang menanam segala macam sayur. ternyata sudah ada Jin yang sedang duduk santai sambil memperhatikan ayah Adnan.
"kamu sudah di sini saja nggak bilang-bilang" Danial langsung mendatangi Jin
"hei kesambet kamu ya, ngomong sama siapa...?" Zain menepuk bahu Danial
"hehehe" Danial hanya cengengesan
"udah gila" Ayunda mengejek
"kek, kami bantu ya" dengan semangat Satria mendekati ayah Adnan
Danial duduk di gazebo yang memang di sediakan untuk bersantai di tempat itu.
"kamu sudah lama di sini...?" tanya Danial
"ummm mungkin sekitar tiga puluh menit" jawab Jin yang tetap fokus melihat ayah Adnan
"kenapa nggak bilang-bilang, aku kira kamu tadi masih keliling di sekolah"
Jin mengalihkan matanya menatap Danial yang sedang melihat lurus ke depan.
"aku tidak bisa bebas masuk ke dalam rumah mu" sekian detik terdiam akhirnya Jin bersuara
"kenapa...?" Danial menoleh ingin melihat tatapan Jin yang saat ini sedang menatapnya
"ada kekuatan besar di dalam rumah ini"
"maksud kamu ada setan di dalam rumah...?"
Jin menggeleng kepala dan mengalihkan pandangan ke arah rumah yang megah dan besar di depannya. ia tidak menjawab lagi pertanyaan Danial.
"Jin"
"hmm"
"kenapa kamu bisa mati...?"
"maksudnya...?"
"maksud aku, apa yang menyebabkan sehingga kamu meninggal dunia"
satu pertanyaan itu membuat Jin kembali membisu. ia menunduk dan melihat kakinya yang pucat sama seperti wajahnya. merasa bahwa Jin terganggu dengan pertanyaan yang ia ucapkan, Danial merasa tidak enak hati dan meminta maaf.
"maaf, kamu tidak perlu menjawabnya jika memang tidak bisa" Danial mengusap punggung Jin
"kamu ingin tau bagaimana aku mati...?" tanya Jin, kepalanya masih tertunduk
"kalau kamu ingin bercerita tentu saja aku ingin mendengarnya"
"maka siapkan mentalmu untuk melihat kejadian bagaimana aku mati" Jin mengangkat kepala dan menatap Danial dengan dingin
Danial menelan ludah, ia mengalihkan wajahnya karena tatapan Jin lebih menakutkan daripada ditatap tajam oleh ayahnya.
"pergilah ke rumahku, ambil buku harian ku ambil juga sebuah lukisan yang pernah kamu lihat di kamarku"
"untuk apa...?" Danial kembali memutar kepala ke arah Jin
"tugasku yang belum terselesaikan akan beralih kepadamu"
"tugas...?" alis tebal Danial terangkat ke atas
"kamu lupa bahwa kita sudah menyatu sekarang, bukankah kamu bilang akan melakukan apapun itu asal aku tidak mengambil alih tubuhmu. maka lakukan saja jika kamu ingin tetap memiliki ragamu sepenuhnya"
(sebenarnya apa yang dia sembunyikan) batin Danial menatap lekat hantu yang kini sedang berbaring dan menutup mata
"aku tidak menyembunyikan apapun padamu"
"ck" Danial mencebik kesal dan ikut berbaring di samping Jin
"kapan kita ke rumahmu...?"
"harus aku temani juga...?"
"pergi bersama tuan rumah itu lebih baik agar tidak dikirakan pencuri"
"bagaimana kalau sebentar sore...?"
"baiklah" Danial setuju
angin sepoi-sepoi menerpa wajah keduanya, sementara yang lainnya sibuk menanam sayur. Danial ketiduran saat itu juga, di dalam mimpinya ia berada di dalam hutan yang tidak ada satupun seorang manusia di dalamnya. kabut tebal membuat penglihatannya hanya sebatas beberapa meter di depannya.
dari kejauhan ia melihat Jin sedang berdiri dan tersenyum ke arahnya, namun kemudian Jin berbalik dan meninggalkan dirinya.
"Jin... tunggu aku"
teriakan Danial menggema di dalam hutan, ia berlari mengejar Jin yang sudah pergi jauh bahkan sosok hantu itu tidak ia lihat lagi.
"Jin...kamu dimana...?"
"Jin... Jin" Danial terus memanggil nama hantu itu
"hei... Dan bangun"
"Jin jangan tinggalkan aku... Jin kembalilah"
"DANIAL ZABDAN BANGUUUUN"
"Allahuakbar"
Danial bangun seketika karena terkejut, semua orang sedang mengelilingi dirinya dengan menatap heran ke arahnya.
"kamu kenapa...?" ayah Adnan duduk di dekat Danial dan bertanya dengan lembut
"aku mimpi kek" nafas Danial masih ngos-ngosan
"istighfar, agar setan tidak mengganggumu lagi. sekarang masuklah ke dalam kalian sholat setelah itu istirahat" ayah Adnan menepuk pelan bahu Danial kemudian ia beranjak dan masuk ke dalam
"astagfirullahaladzim.... astagfirullahaladzim" Danial mengucap istighfar beberapa kali dan mengembuskan nafas, masih teringat jelas dalam ingatan tentang mimpinya tadi
(apakah itu hutan dibelakang sekolah ya) batinnya
"Dan... Jin itu siapa...?" Satria bertanya setelah melihat Danial mulai merasa baik
"Jin...? Jin siapa...?" suara seseorang terdengar tidak jauh dari mereka, saat menoleh rupanya itu adalah Airin yang kini langkah kakinya semakin dekat dengan mereka
"Jin siapa yang kalian maksud...?" Airin menatap mereka satu persatu
semuanya menggeleng dan menunjuk Danial, mata Airin langsung mengarah ke arah Danial yang kini dengan susah payah menelan ludah karena Airin menatapnya tajam seperti seorang tersangka yang terpergok melakukan sebuah kejahatan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Silvi Vicka Carolina
zidan anaknya namanya sapa ya
2025-01-29
0
Darnisah Isda
harusnya Vania jadi jadi nebek dong ya... kan istri Zidan. Zidan kan setingkat sama ayah adnan sama ibu arini
2023-12-06
0
Indri Wulandari
lebih baik terbuka dan jujur jd kalo ada mslh bs kerja sama dengan lainnya jng gegabah danial
2023-06-22
1