hari sudah menjelang malam, semua keluarga Sanjaya memutuskan untuk sholat magrib terlebih dahulu setelah itu barulah mereka akan mencari Danial dan Satria. Alana dan Leo pun sudah ada di tempat bersama tim samudera yang lain.
setelah sholat magrib, Samudera mulai rewel ingin menyusu. ibu Arini segera mengambil cucunya itu dan ayah Adnan mengambil Ragel dari gendongan Adam karena sejak tadi bayi berusia satu tahun itu tidak ingin lepas dari ayahnya.
"sama kakek ya sayang" ayah Adnan meraih tubuh gembul Ragel
Ragel memberontak di gendongan ayah Adnan. ia tidak ingin dipisahkan dengan ayahnya namun dengan cepat ayah Adnan membawa Ragel ke ruang bermain. di sana sudah ada ibu Arini bersama Samudera dimana bayi itu kini sedang menikmati minumannya di dot. ada juga Gauri adik dari Galang, gadis kecil itu begitu senang bermain dengan kedua bayi itu.
di ruang keluarga, semua orang tengah diskusi untuk mencari keberadaan anak-anak mereka.
"jadi kita harus memulai pencarian darimana...?" tanya Bara
"yang jelas dari sekolah itu, karena tadi pagi kan mereka semua pasti akan ke sekolah untuk mengikuti MOS" jawab Vino
"harusnya aku nggak hukum anak kita jalan kaki yang, akhirnya jadi seperti ini. kalau terjadi sesuatu dengan mereka bagaimana" Starla merasa bersalah telah menghukum Zain
"jangan merasa bersalah terus sayang, anak kita akan baik-baik saja" Vino merengkuh Starla
"sebaiknya kita lakukan pencarian sekarang, sebelum malam semakin larut. jika perlu kerahkan semua pengawal Sanjaya untuk mencari mereka" ucap El-Syakir
"biar aku bantu, akan aku beritahu Helmi dan yang lainnya" ucap Zidan
"aku juga ikut ya" ucap Galang
"kamu di rumah saja jaga yang lain" Zain mengusap bahu anaknya dan mau tidak mau Galang harus patuh
para laki-laki mulai bersiap untuk pergi sementara para perempuan akan menunggu di rumah.
"hati-hati yang, bawa anak kita pulang" Seil menatap lembut El-Syakir
"jangan sedih seperti itu, Satria akan baik-baik saja. kalau kamu sedih nanti Samudera pasti akan rewel, biasanya seperti itu kan" El-Syakir membelai lembut wajah istrinya
"iya, aku hanya khawatir dengan anak kita" Seil mengangguk
sementara Airin kini sedang berada di dalam pelukan Adam. wanita itu berharap mereka semua dapat menemukan anak-anak.
"hati-hati mas" ucap Melati
Deva mengangguk sebelum akhirnya memeluk istrinya dan mengecup keningnya.
Bara dan Nisda berpelukan setelahnya melepas kembali karena para suami akan segera berangkat. Vino melambaikan tangan ke arah Starla sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobil.
"ayo masuk, berdoa saja semoga anak-anak cepat di temukan" ucap Vania
Zidan ikut mencari bersama para pengawalnya, ia sudah menghubungi mereka sebelum mereka berangkat.
di tempat lain, anak-anak tim samudera sedang menunggu Danial diperiksa oleh dokter. Satria sejak tadi bolak balik karena tidak tenang sementara Alea mulai menangis di pelukan Zain. ia takut sepupunya itu terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
menunggu satu jam akhirnya dokter yang menangani Danial keluar, dengan senyum ramahnya ia mendekati para remaja itu.
"kalian keluarga pasien...?" tanya dokter wanita itu
"iya dokter. bagaimana keadaan saudara saya, dia baik-baik saja kan" ucap Satria
"dia baik-baik saja, tidak perlu khawatir. sekarang dia sedang tidur, panasnya pun sudah mulai turun. kalau kalian mau melihatnya silahkan masuk saja tapi jangan ganggu dia dulu ya, biarkan dia istirahat" ucap dokter
"terimakasih banyak dokter" jawab Satria
wanita itu tersenyum ramah kemudian pamit untuk memeriksa pasien yang lain. sedang para remaja itu bergegas masuk ke dalam kamar rawat Danial. sahabat mereka itu sedang terlelap di ranjang rumah sakit dengan selang infus yang ada di tangannya.
"padahal dia tadi baik-baik saja tapi kenapa malah pingsan" ucap Kirana
"entahlah, saat aku masuk dia sudah tergeletak di lantai" timpal Zain
Satria memegang tangan Danial, tidak lagi sedingin saat mereka membawanya ke rumah sakit. mereka semua lega karena Danial tidak mempunyai sakit yang cukup serius.
"udah malam nih, orang rumah pasti nyariin kita" Ayunda melihat ke arah jendela kamar rawat Danial
"ya ampun, mami pasti cemas banget aku nggak pulang-pulang sampai malam" Alea panik
"kalau begitu kalian pulang saja, biar aku di sini yang menjaga Danial. beritahu orang tua kalian untuk menghubungi ayah dan papa, agar mereka datang ke sini" Satria memberikan ide
"kami nggak mungkin ninggalin kalian berdua saja di sini lah Sat. kita sahabat, apapun yang terjadi kita harus tetap bersama" Zain tidak setuju
"lalu bagaimana caranya kita menghubungi orang tua kita" ucap Ayunda
"apa kita pinjam ponsel suster di sini saja ya lalu kita menghubungi orang rumah" ucap Kirana
"nah boleh juga tuh. ya sudah biar aku saja yang keluar untuk meminjam ponsel suster. kebetulan aku hafal nomor mama dan papa aku" ucap Ayunda
"jangan, kamu itu lagi sakit... sebaiknya biar Zain saja yang keluar dan kamu aku antar untuk bertemu dokter agar mengobati lukamu. harusnya tadi sekalian aja dengan kamu di obati" Satria tidak mengizinkan Ayunda
"tapi aku kan sudah diobati di UKS sekolah Sat"
"tetap saja kamu harus diperiksa oleh dokter mumpung kita sekarang lagi di rumah sakit"
"ya sudah kalau gitu, aku saja yang keluar untuk meminjam ponsel" Zain akhirnya bangkit dan keluar dari kamar rawat Danial
sementara Satria membantu Ayunda untuk berdiri kemudian keduanya pun keluar untuk mencari dokter agar memeriksa luka gadis itu.
kini tinggallah Kirana dan Alea di dalam ruangan itu. mereka berdua bangkit untuk duduk di sofa sementara Danial dibiarkan untuk istirahat.
"dimana aku"
Danial berada dalam kegelapan namun tidak begitu gelap. masih ada pencahayaan yang dapat menerangi jalannya meskipun tidak terang, namu itu cukup untuk melihat jalan yang ia lalui.
"Satria... Zain...kalian dimana" teriaknya memanggil
"Kirana... Alea... Ayunda, Kalian dimana" lagi Danial kembali berteriak
"kemana semua orang sih kenapa mereka nggak ada. ini juga kenapa gelap begini, mati lampu kah" gumamnya
sebenarnya Danial takut, bagaimanapun ia tidak pernah berada dalam situasi seperti sekarang. baginya saat ini ia seperti sedang syuting film horor, berada di tempat yang gelap lagi pengap dan juga tidak ada seorangpun manusia yang ia temui. namun dirinya mencoba untuk tetap berani dan mencari teman-temannya atau ia berharap dapat menemukan pintu keluar untuk segera melarikan diri dari tempat itu.
hingga kemudian dari kejauhan yang berjarak beberapa meter darinya, Danial melihat seseorang yang sedang berdiri membelakanginya. jika ia perhatikan lebih jelas, sosok itu adalah seorang laki-laki. Danial tersenyum, ia akhirnya dapat menemukan orang.
bahkan ia berlari untuk mendekat orang tersebut dan ia berhenti tepat di belakangnya.
"emmm... halo" Danial menggaruk kepala karena seakan sungkan untuk menyapa orang itu
"apakah kamu terjebak juga di dalam ruangan ini juga...?"
pertanyaan Danial tidak di jawab oleh orang itu. bahkan sama sekali tidak bersuara ataupun menggerakkan kepalanya untuk menjawab.
(apakah dia bisu atau tuli) batin Danial heran
"kak" Danial memberanikan diri memegang bahu orang itu
orang itu kemudian berbalik dan menghadap ke arah Danial. namun Danial seketika ketakutan dan mundur perlahan. wajah orang itu terlihat begitu pucat, bibirnya biru dan warna matanya pun biru. ia menatap tajam Danial yang semakin ketakutan melihat orang itu.
"s-siapa kamu...?" Danial tergagap
orang itu tersenyum menyeringai membuat Danial berbalik badan dan hendak berlari namun kakinya malah tersandung padahal tidak ada benda apapun yang akan mengait kakinya. Danial jatuh ke lantai, ia semakin beringsut dan mundur perlahan sedang orang itu perlahan tapi pasti melangkah mendekati Danial.
"jangan mendekat, atau aku akan teriak"
orang itu tidak memperdulikan ucapan Danial. ia semakin melangkah ke depan dan semakin dekat dengan Danial. saat semakin dekat, Danial semakin ketakutan karena rupanya laki-laki itu pakaiannya berdarah, ada sebuah pisau yang tertancap tepat di jantungnya. dari lukanya itulah darah terus keluar mengubah warna bajunya.
"j-jangan mendekat" Danial tetap mundur dengan cara menyeret tubuhnya
"kamu pikir jika aku membunuhmu di sini akan ada orang yang dapat mengetahuinya...?" ucap laki-laki itu
"a-apa maumu...?"
"mauku...? hmmm...aku mau darahmu, bagaimana apa kamu bersedia memberikan darahmu untuk aku minum...?"
deg
Danial menelan ludahnya dengan susah payah, jantungnya semakin berdetak kencang dan keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulitnya.
"darahku pahit, kamu tidak akan suka karena aku sering makan paria"
"hahaha"
laki-laki itu tertawa terbahak dan melayang mengelilingi Danial kemudian ia berhenti di belakangnya.
"aku....suka darah yang pahit" bisiknya di telinga Danial
"t-tapi....a-aku...aku..."
"bicara yang benar, apa kamu tidak bisa bicara dengan normal. padahal saat di tempatku kamu berbicara dengan lancar" laki-laki itu membentak Danial membuat Danial kaget dan memegang dadanya
"astaghfirullah, hampir copot jantungku" Danial spontan berdiri
"kamu pikir aku takut padamu hah. sini maju kamu, ayo kita bertarung, dasar setan nggak ada akhlak main bentak aja" Danial berbalik ke belakang namun ternyata laki-laki itu sudah tidak ada
"lah loh...kemana perginya" Danial menggaruk kepala
fuuuuhhh
ia merasakan ada yang meniup telinganya. refleks ia berbalik dan hendak memukul namun dirinya hanya memukul angin. setelahnya ada yang menepuk pundaknya, Danial berbalik lagi dan saat itu juga dirinya teriak ketakutan.
"aaaaaa setaaaaaaan"
Danial lari terbirit-birit setelah melihat penampakan yang mengerikan. sementara laki-laki itu hanya menyunggingkan senyum dan menghilang.
"aaaa ayaaaaaaah...bundaaaaaaa, ada setaaaaaaan"
"setaaaaaaan... setaaaaaaan"
"astaghfirullah, Danial kenapa tuh"
Kirana dan Alea mendekat karena mereka mendengar Danial teriak begitu keras.
"Dan bangun Dan...hei bangun" Kirana mengguncang tubuh Danial namun remaja itu belum juga bangun
"kak... bangun kak" Alea membantu dan tetap saja Danial yang sepertinya sedang bermimpi itu terus memberontak dan berteriak
"wah harus menggunakan cara jitu nih" Alea menggulung bajunya
"mau ngapain Al...?"
"mau mengeluarkan tenaga dalamku"
Alea meniup tangannya dan menguasapnya kemudian yang terjadi selanjutnya
plaaaak
dengan begitu kerasnya Alea menampar wajah Danial. saat itu juga Danial terbangun dari mimpinya dan meringis kesakitan memegang pipinya.
"huufffttt akhirnya kamu sadar juga" Kirana merasa lega
"kok pipi aku sakit ya" ucap Danial menahan perih
"lupakan rasa sakit sekarang ceritakan kenapa sampai kakak teriak-teriak dalam mimpi seperti di kejar setan" ucap Alea
"s-setan...?" kembali Danial mengingat mimpinya tadi
matanya menelisik ke setiap sudut ruangan hingga akhirnya dalam satu titik kedua matanya melihat sesuatu. sesuatu yang kini membuat dirinya bergetar hebat bahkan ranjangnya pun ikut bergetar, mulutnya seakan keluh untuk berbicara dan tangannya mulai dingin.
"astaga Dan, ada apa denganmu, hei kenapa kamu bergetar seperti ini" Kirana panik bukan main
sosok yang Danial lihat sedang melayang di udara di langit-langit kamar. ia tersenyum menyeringai dan melambaikan tangan ke arah Danial.
"aaaaaa setaaaaaaan"
Danial melompat dari ranjangnya dan berlari keluar. ia bertabrakan dengan Zain yang hendak akan masuk ke dalam kamar. Danial lari terbirit-birit terus mengeluarkan kata setan yang membuat semua orang heboh dan bingung.
"Za, kejar Danial" ucap Alea
Zain yang jatuh karena ditabrak oleh Danial segera bangkit dan berlari mengejar temannya itu. Alea dan Kirana berhenti karena Ayunda dan Satria memanggil mereka.
"ada apa, kenapa Zain lari seperti itu...?" tanya Satria
"dia mau mengejar Danial, Danial kabur" jawab Kirana
"kabur...?" Satria dan Ayunda kaget
"iya, pas sadar langsung teriak setan terus kabur gitu aja. ayo kak kejar kak Danial, nanti kalau kak Danial kenapa-kenapa bagaimana" Alea menggoyang lengan Satria
tanpa berpamitan Satria segera berlari untuk mengejar kedua temannya.
Danial yang sudah sangat ketakutan tidak berhenti walaupun Zain beberapa kali memanggilnya. remaja itu melewati setiap kamar pasien dan berlari menuju ke lobi.
"astaga, kencang banget sih larinya" Zain berhenti dan menarik nafas kemudian kembali berlari
Zain melihat Danial berlari ke arah timur. dengan tenaga penuh Zain berlari kencang untuk mengejar Danial. mereka bahkan dilihat banyak orang seperti seseorang yang mengejar maling namun anehnya mereka memakai seragam sekolah SMP.
"Danial woi... berhenti nggak" teriak Zain
"nggak mau, ada setan" Danial ikut berteriak
dengan terus berlari Danial tidak memperhatikan sekitar hingga kemudian ada sebuah motor yang datang dari arah kanan melaju begitu cepat sementara Danial pun masih terus berlari cepat. karena larinya yang begitu kencang, Danial tidak dapat mengendalikan tubuhnya untuk berhenti hingga sebuah motor akan menabrak Danial.
"DANIAL"
teriakan Zain bersamaan dengan jatuhnya pengendara motor tersebut. ia oleng karena hampir menabrak Danial. iya, hampir saja pengendara motor itu menabrak Danial namun ternyata ada sosok yang menyelamatkannya. bahkan Danial pun kini tidak sadar jika dirinya diselamatkan karena ia masih menutup matanya.
merasa tidak ada sesuatu yang mengenai tubuhnya, Danial membuka mata dan keningnya langsung mengkerut saat menyadari dirinya telah berada di seberang jalan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
warkop Teteh kuningan
mau minta tolong kah itu setaaaan....
2023-10-30
0
V3
jangan-jangan setan itu mau jd teman nya Daniel yaa ,, bukan mau membunuh nya
2023-02-24
1