emosi yang menggebu-gebu melihat temannya dicelakai oleh orang lain membuat Danial naik pitam dan langsung melayangkan pukulan ke wajah Jeki.
"Danial" Satria kaget, betapa tidak sepupunya itu telah memukul seseorang dan mengakibatkan bibirnya berdarah
"bangun Lo" Danial meneriaki Jeki yang tersungkur di tanah
"udah Dan udah, aku nggak apa-apa...aku baik-baik saja" Ayunda memeluk Danial agar temannya itu tidak lagi memukul Jeki "Za, Sat, tolongin" teriak Ayunda
Zain dan Satria menarik Danial untuk menjauhi Jeki. salah satu teman Jeki tersulut emosi dan hendak melayangkan pukulan untuk membalas perbuatan Danial. namun Zain menghalau dan ia menangkis pukulan dua remaja itu.
"yang salah teman kalian ini, nggak usah ikut campur" Zain menatap tajam lawannya
"dia udah mukul teman gue, nggak bisa gitu dong" teman Jeki yang bernama Dante di papan nama miliknya mendorong Zain dengan keras
"Dante udah" teman Jeki yang bernama Bintang menarik Dante agar tidak melakukan keributan
Jeki bangun dan mengusap sudut bibirnya yang berdarah. ia tersenyum tipis kemudian menegakkan kepala menatap semua orang yang ada di depannya. dari jauh dua orang yang berseragam SMA kini sedang berjalan ke arah mereka. Jeki tersenyum menyeringai kemudian menatap Danial dengan senyuman licik.
"segini doang tenaga elu...? banci" Jeki mengejek Danial
"brengsek" Danial yang sudah begitu tersulut emosi langsung melayangkan kembali pukulan di wajah Jeki. kembali remaja itu terhuyung dan untungnya tidak sampai terkapar karena Bintang menahannya
"APA YANG KALIAN LAKUKAN...?" suara teriakan membuat mereka kaget
dua orang kakak kelas yang keluar bersama-sama dengan Danial dan teman-temannya tadi, mereka adalah Haikal dan Aqil. keduanya datang dan menatap tajam mereka semua.
"dia mencelakai teman kami kak" Danial menunjuk Jeki
"bohong kak, alih-alih saya mencelakai teman mereka, malah aku yang kena pukul padahal aku nggak melakukan apapun" Jeki bersilat lidah
"benar itu kak, Jeki nggak salah malah dia yang memukul Jeki" Dante membela Jeki dan menunjuk Danial
"kamu memukulnya...?" tanya Haikal kepada Danial
"dia mencelakai teman saya kak, lihat lutut dan sikunya terluka. kakinya di kait saat kami sedang berlari untuk masuk ke dalam sekolah" Danial memperlihatkan luka yang dialami Ayunda
"apa benar dia melakukan itu...?" Aqil bertanya lembut kepada Ayunda dan gadis itu mengangguk. Alea dan Kirana merangkul Ayunda
"bohong kak, aku nggak melakukan apapun. memangnya mana buktinya kalau aku mengait kakinya. kalian jangan fitnah ya" Jeki masih bersilat lidah
"kamu mau bukti...? baiklah ayo kita lihat buktinya, bukankah di depan sekolah ini ada kamera cctv. kita bisa melihat bukti itu melalui rekaman cctv" Satria tersenyum tipis dan hal itu membungkam mulut Jeki dan Dante. keduanya saling pandang dan mulai gugup
"katakan dengan jujur Jeki, apa kamu mengait kakinya saat Ayunda berlari. jika kamu terbukti berbohong maka mulai hari kamu akan kami pulangkan dan besok jangan datang lagi mengikuti MOS. kami tidak menerima seorang siswa baru yang mempunyai tindakan kriminal seperti kamu" ucap Haikal
perkataan Haikal membuat Jeki semakin kesal dengan Satria dan yang lainnya.
"Jeki yang salah kak, dia...dia mengait kaki Ayunda. aku sendiri melihatnya" Bintang akhirnya bersuara
"apa-apaan sih kamu Bi" Dante marah Bintang mengatakan kejadian yang sebenarnya
"kakak dengar sendiri kan, memang dia yang salah. harusnya bukan hanya aku tonjok tapi aku lempar dia ke sungai Nil" Danial bersuara dengan tatapan ingin sekali melempar Jeki di atas pohon
Aqil menghela nafas kemudian ia menggaruk hidungnya yang terasa gatal. sementara Haikal, bergeming sejenak kemudian mengeluarkan suara.
"kalian semua harus di hukum" Haikal berucap dengan tegas
"tapi kami nggak salah kak, itu fitnah" Jeki tidak terima dirinya akan di hukum
"jadi kamu tidak tau kesalahanmu yang lain. terlambat masuk kelas setelah bel masuk berbunyi. apa telingamu tuli apa yang aku katakan tadi sebelum kamu dan kedua temanmu datang meminta izin" Haikal langsung membungkam mulut Jeki. remaja itu mengepalkan tangan dan menunduk. dendam mulai menggerogoti hatinya, ia semakin benci kepada geng Danial.
"ikuti kami" perintah Haikal
"Ay, kamu bisa jalan atau aku gendong saja gimana...?" Satria khawatir melihat Ayunda kesulitan berjalan karena lututnya yang terluka cukup besar
"nggak usah, aku masih bisa jalan kok" Ayunda menolak
Kirana dan Alea membantu Ayunda. mereka berdua memapah gadis itu sementara para laki-laki memilih berjalan di belakang mereka. Jeki serta kedua temannya telah lebih dulu meninggalkan mereka.
Danial dan Jeki mendapatkan dua hukuman. karena mereka terlibat perkelahian maka dari itu keduanya di suruh membersihkan tiga toilet yang ada di sekolah itu. hukuman kedua baik mereka berdua maupun yang lain akan membersihkan sekolah setelah semua siswa pulang ke rumah. itu adalah keputusan dari ketua OSIS, siapa lagi kalau bukan Galang Pratama Sanjaya.
dengan lesu Danial melangkah untuk menuju ke toilet yang ada di lantai dua. Galang yang melihat remaja itu hanya bisa menghela nafas. bagaimanapun Danial telah melakukan kesalahan dan harus dihukum. Galang kemudian berjalan mengikis jarak antara dirinya dan Danial dan memanggil saudaranya itu.
"Danial" panggil Galang
Danial berhenti dan berbalik. ia tersenyum tatkala melihat Galang datang menghampirinya. hanya berjarak dua langkah, Galang berhenti dan menatap lekat tatapan Danial.
"kamu tau kan kalau kakak sayang banget sama kamu...?" tanya Galang dan Danial mengangguk
"namun meskipun begitu peraturan tetaplah peraturan. kamu harus menjalani hukumanmu dengan begitu kamu adalah laki-laki yang bertanggung jawab"
"iya kak, aku tidak menyesal dihukum" Danial tetap menunjukkan wajahnya yang ceria
"sini peluk" Galang merentangkan kedua tangannya
dengan senyuman lebar Danial mendekat dan memeluk Galang. selama melakukan kesalahan entah itu dirinya ataupun Satria juga Alea, Galang tidak pernah memarahi mereka. hanya sebuah nasihat yang ia berikan untuk adik-adiknya itu.
"kerjakan hukumanmu dengan benar ya"
"iya kak"
Galang melepaskan pelukannya dan menepuk pelan pundak Danial. kedekatan mereka itu membuat siswa yang lain saling berbisik-bisik dan bertanya-tanya ada hubungan apa antara ketua OSIS dan siswa baru itu.
"Lang" sebuah suara mengalihkan perhatian keduanya
Azka datang dan berjalan cepat melangkah mendekati keduanya.
"kenapa Az...?" tanya Galang
"kita harus rapat dadakan"
"sekarang...?
"iya, ini menyangkut tentang..." Azka melirik Danial yang hanya diam memperhatikannya keduanya berbicara
Galang meraup wajahnya dengan kasar kemudian menghela nafas panjang. ia kembali menghadap ke arah Danial dan menatap teduh adiknya itu.
"apa membahas tentang aku ya kak. apa aku tidak akan diterima di sekolah ini...?" akhirnya Danial bersuara
"siapa bilang. kamu melakukan semua itu karena ada sebabnya kan, tenang saja kakak tidak akan tinggal diam. sekarang pergilah, serahkan semuanya kepada kakak" Galang meyakinkan Danial
Danial mengangguk kemudian berbalik meninggalkan mereka berdua. sementara Galang dan Azka berlari ke ruangan tempat akan di adakannya rapat OSIS bersama guru-guru yang lain.
saat tiba rupanya rapat telah berlangsung. Galang mengambil tempat duduk di depan sementara salah satu guru sedang berbicara.
"keluarkan saja Danial, bukankah sekolah ini mengadakan MOS untuk melihat tingkah laku semua siswa baru. kita berhak tidak menerima mereka yang bermasalah" salah satu anggota OSIS bersuara
"memangnya situ siapa, sampai mengambil keputusan sepihak. bukankah alasan Danial sudah jelas. dia memukul Jeki karena siswa baru itu telah menyelakai teman Danial. kalau aku jadi Danial, bukan hanya aku pukul tapi aku patahkan kakinya sekalian. cari masalah kok sama perempuan, banci banget" Jihan membalas ucapan anggota OSIS itu
"tapi tindakan memukul itu sudah keterlaluan, harusnya dia melaporkan kepada kita semua bukannya malah main hajar saja"
"sepertinya memberikan pelajaran kepada siswa itu sebelum melapor kepada kita semua, itu tindakan yang menurut aku wajar saja. dia pantas mendapat pukulan itu karena konsekuensi dari perbuatannya sendiri. kalau tidak ingin dipukul maka jangan membuat ulah" Galang menimpali
"alah, jelaslah ketua OSIS membela Danial. siswa baru itu kan adiknya, nggak mungkinlah dia akan diam saja" salah seorang bernada sinis menjawab Galang
"dan kamu adalah kakak sepupu Jeki bukan. kenapa tidak nasehati saja adikmu itu, atau suruh dia pulang minum susu di rumah jika datang di sekolah hanya ingin melukai orang lain" Azka membalas dengan perkara pedas
"diam semuanya. kenapa malah kalian yang ribut. kita mengadakan rapat untuk mencari solusi bukan malah berdebat seperti ini. jika kalian tidak dapat menyelesaikan masalah ini, kepala sekolah akan mengambil keputusan untuk mengeluarkan mereka berdua" salah seorang guru memukul meja membuat semuanya terdiam
"kita berikan mereka kesempatan sekali lagi pak. masih ada dua hari lagi pelaksanaan MOS. aku yakin Danial tidak akan mengulangi kesalahannya itu" Nagita bersuara
"iya aku setuju. kita berikan mereka kesempatan sekali lagi. pelaksanaan MOS masih tersisa dua hari, kita lihat perkembangan mereka selama dua hari itu" anggota OSIS yang lainnya setuju dengan pemikiran Nagita
"ngapain melihat dua hari lagi. Jeki di sini adalah korban, pulangkan saja Danial dia kan pelaku utamanya" kakak sepupu Jeki itu masih bersikeras untuk memulangkan Danial
"dan jangan lupa Jeki juga adalah pelaku utama dari celakanya siswa baru yang bernama Ayunda Devano. tidak masalah jika Danial di pulangkan namun itu berarti Jeki akan ikut dipulangkan juga" Galang menatap tajam ke arah kakak sepupu Jeki itu
kakak sepupu Jeki mendengus kesal karena Galang selalu menyudutkan Jeki.
hasil rapat mengambil kesimpulan bahwa Danial dan Jeki akan diberikan kesempatan untuk MOS berikutnya. selama perilaku mereka baik dalam dua hari MOS itu maka mereka akan diterima di sekolah ternama itu namun jika kejadian seperti tadi masih terulang maka keduanya akan dipulangkan dan tidak diluluskan untuk masuk ke sekolah bergengsi itu.
setelah rapat selesai, bel panjang berbunyi. semua siswa baru bersorak senang karena hari ini mereka telah melalui satu hari pelaksanaan MOS dan tersisa dua hari lagi. berbondong-bondong mereka menuju ke gerbang sekolah namun tidak dengan anak-anak tim samudera. mereka akan menjalani hukuman membersihkan seluruh area kawasan sekolah. Danial telah menyelesaikan tugasnya membersihkan toilet. Jeki pun kini sedang bersama dua temannya. mereka semua mulai bekerja, memungut setiap sampah yang berserakan di setiap depan kelas.
meskipun hanya memungut sampah namun sekolah yang begitu luas itu tentu menguras juga tenaga. dua orang memegang tong sampah dan empat lainnya memungut sampah. mereka berkeliling ke kelas-kelas lain, di kantin, Mushola, perpustakaan, dan ruangan lainnya.
Galang serta ketiga temannya sebenarnya kasian kepada mereka namun tidak ada yang bisa mereka lakukan selain melihat saja. setelahnya mereka meninggalkan sekolah.
Usman kakak sepupu Jeki datang menghampiri adiknya itu bersama dua orang temannya. Jeki, Dante serta Bintang, mereka sedang memungut sampah di depan kantor.
"Jeki" panggil Usman
"kak Usman"
"letakkan tong sampah itu, ikut pulang bersama kakak"
"tapi kak, kami kan sedang dihukum nanti kalau..."
"bodoh kalian kalau mengikuti hukuman itu. sudah turuti saja perintahku. biar anak-anak itu yang memungut semua sampah di sini" Usman memotong ucapan Bintang
"tapi kak..." Bintang begitu ragu
"sudah, ayo kita semua pulang" Usman menarik Jeki untuk mengikuti dirinya.
Dante memutuskan untuk ikut bersama Usman sementara Bintang masih bergeming di tempatnya. ia takut untuk melakukan kesalahan sehingga dirinya mendapatkan masalah. dengan helaan nafas panjang ia tetap menjalani hukumannya, dirinya tidak ingin mendapatkan masalah nantinya.
sore menjelang barulah mereka semua selesai dengan pekerjaan mereka. Danial serta yang lainnya berjalan ke arah pagar, saat itu juga Bintang sedang mengarah ke tujuan yang sama. saat semakin dekat, Satria menanyakan keberadaan kedua temannya.
"kedua teman kamu mana, kok kamu cuma sendiri...?" tanya Satria
"sudah pulang, aku belakangan karena harus mengerjakan sesuatu" jawab Bintang
"apa... mereka tidak membantu kamu...?" Zain menatap lekat ke arah Bintang
"aku pulang duluan" tanpa menjawab, Bintang melengos pergi begitu saja
tidak ingin ambil pusing, mereka kembali melanjutkan langkah. di tengah perjalanan, awan hitam mulai menyelimuti langit. rintik-rintik hujan mulai turun hingga berganti dengan hujan yang semakin deras. mereka semua berlari mencari tempat untuk berteduh. di sebuah rumah yang seperti tidak terawat, mereka memutuskan untuk berteduh di rumah itu.
"huft...hari ini sial banget sih" gerutu Kirana
"duduk Ay" Satria mengambil kursi di dekat mereka dan mendudukkan Ayunda di kursi itu
"thanks Sat" Ayunda tersenyum dan dibalas oleh Satria
"eh tapi ngomong-ngomong kita....di rumah siapa ini...?" Alea melihat sekeliling
mereka pun mengedarkan pandangan. rumah yang bercat warna kuning dan sebagian catnya sudah mengelupas. rumput-rumput liar mulai menumbuhi halaman rumah bahkan di samping rumah. pagar besi yang mereka lewati tadi sudah berkarat seperti puluhan tahun tidak di rawat. ada dua sangkar burung yang tergantung di teras rumah itu. bahkan di samping kanan rumah, daun pohon kedondong telah memenuhi tanah. pohon itu sekarang sedang berbuah, begitu banyak sampai sebagian yang telah masak sudah berjatuhan di tanah.
"jangan-jangan ini rumah angker lagi" ucap Kirana
"hust...jangan bicara sembarangan kenapa Ki" Zain menegur gadis itu
ngiiiik
suara derit pintu yang terbuka membuat mereka semua terlonjak kaget. padahal tadi pintu rumah itu tertutup rapat namun sekarang malah terbuka seakan ada seseorang yang membukanya.
"hanya angin itu mah" Danial bersikap tenang
braaaakkk
"Allahuakbar"
mereka kaget bukan main. Danial bahkan melompat di punggung Satria sementara Kirana melompat ke arah Zain hingga dengan terpaksa Zain menggendong gadis itu.
Satria mendekap Alea dan Ayunda karena dua gadis itu refleks memeluk dirinya.
ngiiiik
ngiiiik
ngiiiik
derit pintu mulai semakin menjadi seperti ayunan yang terus bergerak. Danial turun perlahan dari punggung Satria kemudian melangkah pelan mendekati pintu. tidak ada siapapun yang memainkan pintu itu. dengan keberanian yang sebenarnya hanya secuil, Danial memegang gagang pintu dan menutupnya dengan rapat.
"huufffttt...aman...aman" Danial mengelus dada dan berbalik untuk bergabung bersama yang lain
hujan tidak lagi begitu deras namun tetap saja jika mereka terobos maka sudah pasti mereka akan basah kuyup. apalagi Zain yang mempunyai penyakit yang sama seperti Vino. remaja itu tidak bisa terkena hujan terlalu lama.
semuanya mendesah berat dan terpaksa harus menunggu sampai hujan redah. sayangnya derit pintu yang kembali terdengar mengusik ketenangan mereka semua.
"pintunya rusak kali" ucap Zain
"padahal aku udah tutup loh tadi" ucap Danial
"aku kok jadi merinding ya" Kirana memeluk dirinya sendiri
"balik yuk, lama-lama di sini aku jadi takut" Alea mengapit lengan Satria
"tapi Zain kan nggak bisa mandi hujan" timpal Satria
mereka menahan diri dan tetap bertahan sampai hujan benar-benar berhenti. saat itu juga Ayunda ingin buang air kecil.
"aku kebelet pipis nih" Ayunda mulai gelisah
"yah jangan sekarang dong Ay, mau pipis dimana di sini" ucap Zain
"tapi aku udah nggak tahan. di rumah ini pasti ada toiletnya kan, kita masuk aja ke rumah ini yuk"
"ah nggak ah, aku nggak mau" Alea menggeleng cepat
"ayo dong temani aku masuk, masa iya aku pipis di celana" Ayunda mulai merengek
"biar aku sama Satria yang temani Ayunda. Zain di sini saja bersama Alea dan Kirana" Danial memberikan saran
"kalau nanti kita dikira pencuri bagaimana Dan. masa iya masuk ke rumah orang begitu saja" Satria ragu untuk masuk ke dalam
"sudah jelas rumah ini rumah terbengkalai yang tidak berpenghuni. ayo masuk, sebelum Ayunda benaran pipis di celana" timpal Danial
Satria membantu Ayunda untuk berdiri sedang Danial memberanikan diri untuk membuka pintu rumah tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
V3
kira-kira anak-anak dr Team Samudra punya kelebihan jg gak yaa spt para orang tua nya ❓❓
2023-02-24
2
Kayla Azzahra
Rumah kosong
2023-02-06
1
Ernii Aliya
pas masuk rumah kosong,,trs ketemu setan,,,trs kenalan,, kata setan nya namaku jeans,,, panggil aja,, jin,,..
hahahaha ngarang 🤣🤣
2023-02-06
1