semua siswa termasuk guru-guru yang berada di dalam kelas yang berbeda, berlari ke arah perpustakaan. kecuali enam remaja yang masih saling pandang satu sama lain dengan perasaan yang tidak menentu. kata mayat tadi membuat mereka merasa ngeri dan ada ketakutan.
"kita lihat yuk" ajak Ayunda kepada yang lain
"nggak ah, aku takut. itu mayat loh Ay mayat" Alea menggeleng kepala, menolak untuk melihat mayat itu
"dia nggak akan gigit kamu loh Al, aku sebenarnya takut juga tapi penasaran mayatnya siapa" ucap Ayunda
"kita nggak akan kenal, kita saja barusan masuk di sekolah ini. udalah kita di sini saja, malas aku pergi sana. ujung-ujungnya juga hanya pergi berdesakan" Danial menyandarkan badannya ke dinding
"tapi aku penasaran kenapa bisa sampai ada mayat di sekolah ini" Zain membuka suara
"nah kan, Zain juga pengen lihat. ayolah kita pergi sebentar saja" Ayunda merengek "Sat, ayo" Ayunda menarik lengan Satria
"nggak usah Ay, benar kata Danial kita nggak akan kenal sama mayatnya. mending di kelas saja" Satria menolak dengan memberikan senyuman manisnya kepada Ayunda
"ya udah deh" Ayunda akhirnya mengalah dengan bibir maju beberapa centi ke depan
mereka memutuskan untuk masuk kembali ke dalam kelas. namun Danial melihat sosok yang melayang dari ekor matanya. ia berbalik cepat untuk melihat dan ternyata sosok itu adalah Jin. hantu itu melayang cepat menuju ke arah dimana semua orang berlari untuk melihat mayat yang ada di perpustakaan.
(dia ngapain mau ke sana) batin Danial
kini pergolakan dalam hati Danial mulai bermain. dirinya sebenarnya malas untuk saling berdesakan namun ia pun penasaran apa yang akan dilakukan oleh Jin di tempat ditemukannya mayat itu karena hantu itu mengarah ke perpustakaan.
"woi...aku ke perpustakaan ya" Danial berpamitan dan langsung berlari tanpa menunggu jawaban semua orang
"ih tadi katanya nggak mau sekarang malah pergi sendiri. curang banget sih" Ayunda memberenggut
"kita ikut sajalah, pengen tau mayatnya laki-laki apa perempuan" Kirana yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara
pada akhirnya mereka memutuskan untuk ikut. dengan langkah tergesa-gesa kelimanya berjalan ke arah perpustakaan. dari kejauhan sudah terlihat kerumunan siswa yang berada di depan perpustakaan. mereka melihat Danial ada diantara para siswa itu. mereka mengikis jarak mendekati Danial.
"gimana Dan...?" tanya Satria
"seperti yang kamu lihat, kita nggak bisa masuk ke dalam" Danial menjawab, kepalanya terus celingukan mencari seseorang
"nyari siapa sih kak...?" Alea bertanya sambil ikut celingukan memperhatikan sekeliling
"nggak nyari siapa-siapa" bohong Danial kemudian ia merangkul bahu Alea
(kemana lagi tuh setan) mata Danial memperhatikan sekitarnya, mencari sosok Jin yang sempat ia lihat tadi
penemuan mayat tadi membuat sekolah Citra Bangsa heboh terutama lagi semua siswa-siswi yang bersekolah di tempat itu.
kepala sekolah datang bersama beberapa guru setelah salah seorang siswa memberitahukan kepada mereka. semua siswa memberikan jalan kepada kepala sekolah, enam remaja itu mengambil kesempatan mengikuti langkah para guru dan kepala sekolah di belakang mereka hingga kini keenamnya sudah berada di depan.
kain merah menjadi penutup mayat yang belum mereka lihat entah perempuan atau laki-laki. darah yang merah dan kental tergenang di lantai yang berwarna putih. Alea bahkan hampir muntah melihat banyaknya darah itu. Zain memutar tubuh Alea agar tidak melihat ke arah mayat itu.
"kasian sekali ya"
"iya kasian banget, padahal dia cantik banget tapi kok malah jadi mayat seperti itu. ngeri banget"
"mayatnya perempuan ya...?" Satria yang mendengar beberapa siswi yang berbisik-bisik di dekatnya, memutar kepala dan bertanya
"iya, dia siswi kelas XI IPA 2. namanya Tantri" salah seorang menjawab
"kakak kelas ternyata" gumam Zain
Danial tidak habis pikir, sekolah yang begitu besar dan berkelas rupanya malah terjadi kasus pembunuhan. dalam pikirannya kalau bukan pembunuhan berarti bunuh diri, hanya dua kasus itu yang menjadi pernyataan semua orang.
mobil ambulan datang bersamaan dengan mobil polisi. tiga orang polisi datang bersama tiga orang perawat yang sudah menyediakan tandu untuk mengeksekusi mayat.
satu orang polisi berjabat tangan dengan kepala sekolah kemudian mayat itu langsung dimasukkan ke dalam kantung jenazah dan dibawa langsung ke mobil ambulan. untuk dibawa ke rumah sakit. sudah jelas pasti akan dilakukan tindakan otopsi.
untuk sementara perpustakaan ditutup, bahkan sudah dipasangkan garis polisi. kepala sekolah mengarahkan ketiga polisi itu ke kantor karena tentu saja mereka akan diinterogasi.
semua siswa di arahkan untuk bubar dan kembali ke ruang kelas masing-masing. saat itu Danial menemukan sosok yang dicarinya sejak tadi. Jin sedang berdiri di samping perpustakaan dan mengarah ke arah hutan belakang sekolah. Danial hendak melangkah untuk mendekati Jin namun Kirana menahannya.
"mau kemana Dan...?" tanya Kirana
"ke sana sebentar, sebentar saja. kalian pergilah duluan" Danial melepaskan tangan Kirana dari lengannya. ia berlari mengejar Jin yang sudah melayang meninggalkan perpustakaan
"Danial mau kemana...?" tanya Satria saat melihat sepupunya itu berlari meninggalkan mereka
"nggak tau, dia nggak bilang mau kemana. balik yuk, aku ngeri di sini" Kirana menarik Zain
"tunggu Danial dulu, jangan kita tinggal" ucap Ayunda
memang sudah tidak ada siswa-siswi di tempat itu selain mereka. hanya saja karena tidak ingin meninggalkan Danial seorang diri, maka mereka bertahan dengan berlindung di bawah pohon yang ada di samping perpustakaan.
sementara Danial mengejar Jin yang sudah masuk ke dalam hutan. diantara perbatasan antara pagar sekolah dan hutan, Danial berdiri di dekat pagar. sunyi sepi di tempat itu, bulu kuduknya mulai berdiri apalagi terlihat di dalam hutan sana berkabut seperti di film horor yang pernah ia tonton.
"Jin" panggilnya dengan perasaan mulai takut
Danial melangkah semakin mendekati pagar, tidak ada pintu keluar di tempat itu, yang ada hanya pagar besi yang tinggi dan di atasnya runcing seperti tombak.
"Jin" sekali lagi Danial memanggil namun hantu itu tidak memperlihatkan dirinya ataukah memang dia tidak ada di tempat itu
di luar pagar ada sebuah papan yang tertancap di batang pohon besar dengan bertuliskan area terlarang. dalam artian di hutan itu di larang bagi siapapun siswa yang akan masuk ke sana.
"kemana sih dia, dasar setan" dengan kesal Danial mengambil batu dan melemparnya ke luar pagar
karena tidak menemukan Jin, Danial balik badan untuk kembali. tepat saat itu suara auman seperti serigala terdengar dari arah hutan. tubuh Danial menengang seketika, ia merinding dan mengusap tengkuknya. perlahan ia kembali membalikkan badannya untuk melihat ke arah hutan. kabut tebal yang menyelimuti hutan membuat pandangan mata Danial hanya sampai beberapa meter saja.
"auuuuu"
"astaghfirullah"
Danial bahkan jatuh saking kagetnya. anehnya kakinya gemetar dan tidak dapat ia gerakkan. pengaruh takut luar biasa karena seumur hidupnya baru kali itu dia mendengar secara langsung suara binatang buas di dalam hutan sana.
"ayo dong kaki gerak, aku nggak mau mati di sini" Danial memukul kakinya agar bisa bergerak kembali sayangnya bahkan untuk menariknya saja begitu susah
dengan terpaksa Danial menyeret tubuhnya, hanya itu satu-satunya cara untuk menjauh dari tempat itu. apalagi suara auman itu semakin dekat dengan dirinya.
"hiks Jin, tolong aku" Danial ingin menangis, jantungnya bahkan berdetak lebih cepat dari biasanya. keringat dingin sudah mulai keluar dari keningnya. tubuhnya bergetar bahkan tangannya sudah basah dengan keringat
Grrrrr
suara itu bahkan mungkin hanya berjarak beberapa meter dari pagar yang masih terhalang oleh kabut. Danial menggigit bibir, matanya nampak sudah berkaca-kaca, dirinya benar-benar takut jika nanti itu binatang buas maka sudah pasti ia akan diterkam dan dimakan hidup-hidup.
"auuuuu"
"aa...mmmm"
teriakan Danial terhenti karena seseorang membekap mulutnya. sosok itu adalah Jin. Jin membawa tubuh Danial melayang lebih cepat bersembunyi di balik pohon beringin yang ada di belakang sekolah.
"sssttt" Jin meletakkan jari telunjuknya di bibir mengisyarakatkan agar Danial tidak bersuara dan Danial mengangguk pelan
"tunggu di sini" ucap Jin dengan pelan namun Danial menggeleng cepat dan memeluk tubuh Jin dengan erat. Danial tidak ingin ditinggalkan seorang diri, dirinya benar-benar takut dan tidak ingin Jin pergi
maka dengan terpaksa Jin tetap diam dipeluk oleh Danial. ia tau remaja itu sedang ketakutan sekarang apalagi detak jantungnya berpacu begitu cepat seperti telah melakukan lari maraton sejauh berpuluh kilometer.
merasa telah aman, Jin mendudukkan Danial di rerumputan agar Danial mengendalikan dirinya.
"kamu kemana saja, aku panggil-panggil kamu nggak nyahut. kamu budeg ya" Danial menghirup udara sebanyak-banyaknya dengan begitu rakus karena sejak tadi ia bahkan sering menahan nafas
"kamu datang mencariku...?" tanya Jin
"nggak, aku datang mencari setan" dengan kesal Danial menjawab
"oh, ya sudah kalau gitu. aku panggil para setan penghuni hutan itu untuk datang berkenalan denganmu" Jin hendak berdiri
"eh jangan" dengan cepat Danial menahan lengan Jin "aku mencari kamu tau, kamu kan setan" ucapnya dengan wajah cemberut
Jin melihat lekat wajah Danial yang sudah dipenuhi keringat. ia pun mendekat dan melap keringat Danial menggunakan tangannya. tentu saja hal itu membuat Danial kaget, namun Jin hanya memasang wajah datarnya saat Danial menatapnya dan kembali ia menggeser tubuhnya.
"kamu takut...?" tanya Jin
"tentu saja, apakah di dalam hutan sana ada binatang buas. serigala atau semacamnya, suara tadi sangat menyeramkan" masih teringat dalam kepala bagaimana suara itu membuat Danial merinding
"kalau kamu takut dari sekarang, bagaimana nanti kamu akan menghadapinya" Jin menata lurus ke depan
"maksud kamu...? menghadapi siapa...?" kening Danial mengkerut
"lupakan saja, nanti juga kamu akan tau"
"apakah kamu memang suka main tebak-tebakan seperti ini. tinggal bilang saja apa susahnya sih" Danial memasang wajah kesal
"sudah jangan menangis nanti aku belikan kamu permen karet" Jin mengejek
"cih...siapa juga yang menangis"
"nah tadi itu mata siapa yang berkaca-kaca sampai nggak mau ditinggal"
"itu bukan aku, kamu pasti salah lihat" Danial enggan untuk mengaku karena merasa malu
"hmmm...." Jin manggut-manggut " mungkin tadi itu setan penunggu belakang sekolah ini ya"
"hei...sejak kapan aku jadi setan. aku tampan membahana seperti ini kamu bilang setan, kamu rabun ya, pakai kacamata riben sana" Danial semakin kesal dipanggil setan sedang Jin terkekeh karena ia merasa jika Danial kesal remaja itu terlihat lucu dimatanya
"menyebalkan....malah tertawa lagi" Danial melemparkan daun-daunan ke arah Jin
"kamu lucu" Jin semakin tertawa lebar
"kimi lici" karena semakin kesal digoda oleh Jin, Danial melompat dan menaiki tubuh Jin kemudian memukulnya sedang Jin tidak membalas. ia hanya menutup wajahnya menggunakan lengannya
sekian menit mereka di tempat itu barulah Satria dan yang lainnya datang mencari Danial. tadinya mereka akan menunggu saja namun karena sudah terlalu lama Danial pergi maka mereka sepakat untuk menyusulnya ke arah belakang sekolah.
"kamu ngapain di sini, di tungguin dari tadi" Zain ikut duduk di samping Danial
mereka semua duduk dan melihat ke arah hutan.
"kak Danial kok berani sendirian di sini" ucap Alea " hutan itu serem banget loh, pasti banyak setannya" lanjutnya dengan mengapit lengan Satria
"kamu ngapain sih di sini...?" tanya Satria
"nggak ngapa-ngapain, hanya pengen menghirup udara segar saja" jawab Danial
karena Danial sudah mempunyai teman, Jin berdiri dan melayang mendekati pagar pembatas.
(mau kemana...?) Danial bertanya dalam hati karena Jin mendengar suara batinnya
"kembalilah ke kelas jangan lama-lama di tempat ini. aku pergi sebentar" setelah mengatakan itu, Jin menembus pagar dan melayang masuk ke dalam hutan
"segar dan adem juga di sini ya" Ayunda bersandar di bahu Zain
"kita balik yuk" ajak Danial
"yaah, baru juga kami sampai" keluh Kirana
"udah balik, kita kan harus masuk lagi" Danial berdiri, dirinya tidak ingin berlama-lama di tempat hampir membuatnya kencing di celana saking takutnya ia tadi
akhirnya mereka memutuskan untuk kembali, semua orang lebih dulu melangkah sementara Danial menoleh sekilas dan berharap dalam hati agar Jin baik-baik saja. entah mengapa ia merasa kalau ada yang tidak beres dengan hutan terlarang itu, seperti mempunyai aura yang begitu gelap dan menakutkan.
penemuan mayat tadi membuat pihak sekolah memulangkan semua siswa lebih awal. tentu saja semua siswa bersorak gembira, karena mereka pulang lebih awal dari jam pulang biasanya.
satu persatu siswa-siswi meninggalkan sekolah, sementara enam remaja tadi masih berada di dalam kelas membereskan buku-buku mereka. masih ada satu orang siswa lagi yang sedang menunggu mereka di luar, dia adalah ketua kelas X2.
"kamu tunggu siapa...?" tanya Zain setelah mereka semua keluar
"tunggu kalian, aku mau kunci pintu kelas kita" jawabnya
"oh maaf ya, kami pikir kamu menunggu seseorang" Satria tidak enak hati
"tidak apa-apa" ia tersenyum dan mulai mematikan kipas angin juga lampu. setelahnya ia menutup pintu dan menguncinya
"kita belum berkenalan, nama kamu siapa...?" tanya Danial
"nih" ia menunjuk papan nama di baju sekolahnya
"Sharlin Gunawan" ucap mereka semua
"iya, salam kenal ya" Sharlin tersenyum kepada mereka semua
"salam kenal juga, semoga kita bisa berteman baik ya" Alea tersenyum
"tentu saja, kalau begitu aku ke ruangan kepala sekolah dulu ya" ucap Sharlin
"lah mau ngapain, bukannya mau pulang ya" Ayunda heran
Sharlin hanya tersenyum dan meninggalkan mereka semua. kepergian Sharlin membuat mereka pun juga meninggalkan kelas. karena jemputan mereka belum datang, mereka memutuskan untuk jalan kaki sampai di jalan utama setelah itu mereka akan menunggu taksi untuk pulang.
"ini masih tempo loh, gimana kalau kita jalan-jalan saja dulu" Kirana memberikan ide
"dengan pakaian seragam sekolah seperti ini...?" timpal Alea
"kan bisa gantian, tinggal beli baju" jawab Kirana
"ini sih memang masih tempo, tapi kita mau jalan-jalan kemana...?" Zain merespon
" ke mall atau kemana gitu"
"nggak ah, malas aku. mending pulang ke rumah" Satria menolak
"aku juga malas" timpal Danial
"ya udah pulang saja kalau gitu, di rumah kak Danial sama kak Satria ya" ucap Alea
"nah setuju, pengen main sama dedek Samudera dan Ragel" timpal Kirana
semuanya setuju untuk ke rumah keluarga Sanjaya. sebelum itu, mereka telah menghubungi sopir yang akan menjemput mereka agar tidak lagi datang ke sekolah karena keenamnya sudah dalam perjalanan pulang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
mia allina
yg di tunggu2 akhirx up juga, makasih yha Thor 🙏😊
2023-05-20
1
V3
Alhamdulillah stlh 7 purnama akhirnya novel Panggil Aku Jin up lagi ,, dh terlalu lama Loch menghilang nya. 🤭🤭
sampai lupa lagi kn aku mereka anak siap saja 🤭🤭
Daniel anak Adam Ratu
Satriya anak El Syakir dan ...
Alea anak Alana dan Leo
Ayunda anak Melati dan Bara
Kirana anak Kevin apa yaa ❓
maaf klu jd salah habis dah lama bgt gak up , jd lupa kn , faktor Umur nich 🤣🤭
2023-03-19
1
𝓡𝓲𝓳𝓱𝓪𝓵𝔃
Alhamdulillah.. setelah sekian lama menunggu.. akhirnya Update juga ini cerita.. hehehee.. Makasih ya thor Awan Biru.. 🙏😁
2023-03-19
0