langkah kaki Danial berhenti sebab dirinya penasaran dengan apa yang ada di dalam hutan sana. masih di belakang perpustakaan, Danial termenung seorang diri. padahal kemarin di tempat itu adalah tempat yang membuatnya ketakutan karena suara aneh yang ia dengar dari dalam hutan sana. jika dilihat-lihat, padahal masih pagi hari namun entah mengapa di dalam hutan sana terlihat seperti dalam keadaan senja, seperti warna kelabu yang jikalau masuk ke dalamnya akan membuat siapapun merinding.
"sekolah ini terlihat begitu besar, tapi kok rada-rada angker begini ya" gumam Danial
garis polisi di gedung perpustakaan itu tentunya belum dibuka. kedua mata Danial menatap lurus ke depan, di dalam hutan sana dirinya begitu penasaran apakah begitu berbahayanya hutan itu sampai semua orang tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam sana.
"apa yang ada di dalam sana, kenapa kemarin seperti ada monster yang datang dari arah hutan itu"
karena Jin telah pergi, Danial memutuskan untuk pergi dari tempat itu. dia pergi dengan berbagai ragam pertanyaan yang berkecamuk dikepalanya. siapa Jin sebenarnya, apa yang membuat hantu itu mati dan dirinya lebih penasaran ada apa dengan sekolah yang ia tempati sebagai lembaga untuk menuntut ilmu. dirinya berpikir, di sekolah itu pernah terjadi sesuatu hal yang tidak dirinya dan yang lain tau.
"sejak awal Jin ingin agar aku sekolah di sini. tapi kenapa...? apa yang membuat Jin begitu menginginkan aku sekolah di sini. malah angker pula"
"apa jangan-jangan" Danial menghentikan langkah, ia membalikkan badan hingga dirinya menatap lurus ke arah hutan sana "Jin mati di sekolah ini ya" gumamnya, pikiran itu tiba-tiba datang saja dalam kepalanya
melihat bagaimana keadaan sekolah itu setelah pertama mereka masuk, sudah membuat Danial penasaran, apa sebenarnya yang dengan sekolah itu.
"pasti ada yang tau dengan kejadian lampau di sekolah ini, itu yang perlu aku harus cari tau" Danial menggangguk yakin dengan keputusannya
dirinya kembali mengayun langkah semakin jauh dari perpustakaan hingga seseorang memanggil namanya.
"Dan" Satria memanggil
karena namanya dipanggil, Danial memutar badan. di belakangnya, Satria dan Zain sedang berjalan ke arahnya membawa kertas putih yang ada di tangan Satria.
"darimana kamu, dicariin dari tadi juga" tanya Zain
"toilet. itu apa...?" Danial menunjuk kertas yang dipegang oleh Satria
"ini amplop, ketua OSIS mengarahkan semua ketua kelas untuk mengumpulkan uang seikhlasnya saja agar disumbangkan ke keluarga siswi yang meninggal tadi" Satria memperlihatkan amplop yang ada di tangannya, telah berisi uang dari teman-teman kelasnya
"kenapa kamu yang ngerjain...? emang kamu ketua kelas ya. Sharlin mana, kan harusnya dia yang bertemu ketua OSIS...?" ucap Danial
"bukan sih, tapi ibu Amanda mempercayakan itu kepada aku karena Sharlin ada urusan lain. mana uangmu, sini berikan"
"yaah uangku di dalam tas, pinjam uang kalian dulu lah"
"ya sudah, ayo kita ke kelas XI IPA 2" ajak Satria, dirinya sambil merogoh uang dua puluh ribu dari dalam kantung celananya dan memasukkan ke dalam amplop
"mau ngapain...?" Danial mengernyitkan dahi
"mau ketemu ketua OSIS terus ngasih ini sama dia, ayo buruan" Satria menarik tangan kedua sahabatnya
ketiganya berjalan melewati banyak kelas kemudian mereka akan naik ke lantai tiga. setiap kelas telah tertulis nama kelas masing-masing dari papan yang diukir indah dan di tancapkan di atas ambang pintu.
di sekolah itu telah diatur tata letak setiap masing-masing kelas. mulai dari kelas 10 sampai kelas 12. untuk kelas 10, letak kelas mereka ada dibagian bawah, di lantai dua khusus untuk kelas 11 dan di lantai tiga untuk kelas 12. banyaknya siswa yang menimba ilmu di tempat itu, jelas sudah pasti dari kelas 10 sampai kelas 12 memerlukan ruang kelas yang banyak.
"emang ketua OSIS-nya siapa...?"
"aku juga nggak tau, cuman dikasih tau sama ibu Amanda untuk ke kelas XI IPA 2 ketemu sama ketua OSIS"
kini mereka telah sampai di lantai tiga. mencari kelas yang menjadi tempat tujuan mereka dan kini ketiganya telah berada di depan kelas itu.
"kita tunggu di luar saja ya Sat" ucap Zain
"ya jangan dong, kalian berdua harus ikut masuk, ayo" Satria menarik keduanya dan masuk ke dalam
siswa-siswi di kelas itu mengernyitkan dahi saat melihat ada siswa wajah baru yang berdiri di samping pintu. Danial mendekati salah satu siswi yang duduk di bangku depan sebelah kiri.
"maaf kak, ketua OSIS katanya ada di kelas ini. boleh aku tau yang mana orangnya...?" tanya Danial
"tuh dia baru datang" siswi itu menunjuk dengan dagunya ke arah pintu masuk. seorang siswa baru saja masuk ke dalam kelas dan berjalan duduk di kursinya
Danial mengkode Satria dan Zain menunjuk siswa itu yang duduk paling depan pojokan sebelah kanan. Satria dan Zain mendekati siswa tersebut sementara Danial kembali berdiri di dekat pintu.
"maaf kak, kakak ketua OSIS ya...?" Satria bertanya setelah berada di depan meja siswa itu
dia yang sedang memeriksa sesuatu di dalam tasnya, mendongakkan kepala melihat dua siswa yang menurutnya asing karena baru pertama kali melihat keduanya.
"iya, ada apa ya...?"
"ini kak saya mau memberikan sumbangan para siswa dari kelas X.2, tadi ibu Amanda mengarahkan saya untuk memberikannya kepada kakak sebagai ketua OSIS di sekolah ini" Satria menyerahkan amplop yang sejak tadi ia pegang
"oh iya, terimakasih ya" dengan tersenyum siswa itu mengambil amplop itu
"sama-sama kak, kalau begitu kami pergi dulu"
"iya, silahkan"
ketiganya meninggalkan kelas itu dan hendak kembali menuruni tangga. namun Danial menghentikan langkah dan mengatakan kalau dirinya ingin ke toilet.
"di bawah saja lah Dan' ucap Zain, bahkan kaki kanannya sudah berada di tangga pertama
"nggak bisa, udah kebelet nih. kalian duluan saja" Danial berlari ke arah toilet yang berjarak cukup jauh
"gimana Sat...?" Zain meminta pendapat apakah mereka harus menunggu Danial atau tidak
"turun sajalah, dia juga nggak akan nyasar. nggak nyaman aku di sini, bukan kawasan kita soalnya" Satria melihat banyak siswi yang memperhatikan keduanya
"aku juga nggak nyaman, ayo turun" ajak Zain
keduanya benar-benar meninggalkan Danial, mereka berpikir anak remaja itu jelas tidak akan kesasar jika kembali ke kelas mereka. tinggal turun sampai di lantai satu dan berjalan ke arah kelas X.2.
di dalam toilet, Danial bernafas lega. dirinya dapat mengeluarkan yang sejak tadi membuatnya sesak. hendak membuka pintu dan akan ke wastafel mencuci tangan, ia urungkan sebab dirinya mendengar percakapan dua orang di dalam toilet itu.
"aku mau pindah saja dari sekolah angker ini"
"yaaah...kalau kamu pindah, aku nggak punya teman lagi kawan"
"nggak sanggup aku Ben, bayangin aja sudah tiap hari ada yang mati. di tambah lagi tadi ada yang kesurupan. kamu nggak takut apa. lagian ya, kamu nggak tau ya kalau sekolah ini dulunya tiap hari setiap siswi banyak yang mati dan terakhir yang meninggal itu adalah seorang siswa"
"pernah dengar sih, katanya ada yang menumbalkan setiap siswi di sekolah ini. untuk apa juga, aku nggak tanya lagi. tapi kan itu hanya cerita doang. kalaupun iya, sekolah ini udah aman nggak seperti dulu lagi"
"tumbal...?" Danial yang masih berada di tempat itu, terkejut mendengar ucapan kedua orang itu
"kalau aman, nggak akan ada lagi siswi yang meninggal Beni. apalagi mereka mati persis seperti kejadian waktu dulu. nggak ada yang tau dan mereka tiba-tiba ditemukan pihak sekolah udah nggak bernyawa. kamu nggak takut apa"
"tapi kita kan cowok Arya, nggak masuk dalam daftar tumbal lah"
"aku pernah mendengar kalau korban terakhir setelah korban siswi berjumlah ganjil 19 orang, akan digenapkan dengan laki-laki sehingga genap 20 orang. aku nggak mau ya jadi korban tumbal salah satunya, aku masih ingin hidup bro. pokoknya aku mau keluar dari sekolah ini"
di dalam sana, Danial mendengar dengan serius. semakin penasaran dirinya hingga ia memutuskan membuka pintu dan hendak menanyakan cerita keduanya tadi. sayangnya, dua siswa itu sudah pergi tanpa belum sempat ia mencegahnya.
"apa benar ada yang menumbalkan para siswi...? tapi siapa...?
maka semakin banyak saja pertanyaan yang berkecamuk di dalam kepala Danial. dari cerita yang tidak sengaja ia dengar tadi, ada terbesit perasaan ingin percaya namun semua itu ia tampik lagi karena bisa saja itu hanyalah kabar angin yang sama sekali tidak benar. biasanya memang seperti itu, mendengar cerita dari mulut ke mulut yang pastinya sudah ditambahkan dengan bumbu-bumbu penyerap rasa agar orang yang mendengarkan semakin percaya.
hari itu pembelajaran tetap berlangsung, kejadian tadi pagi sudah tidak dibahas lagi meskipun ada sebagian siswa siswi yang diam-diam membicarakan hal itu. Danial telah kembali ke dalam kelas. mata pelajaran kali itu, mereka membuat kelompok belajar untuk mengerjakan soal yang diberikan oleh ibu Amanda.
"minggu depan setiap kelompok akan persentase ya"
"iya bu"
"Sharlin, nanti nama-nama kelompok teman-teman mu bawa ke ruangan ibu ya"
"baik bu"
ibu Amanda langsung keluar, di saat itu semua siswa-siswi berhambur untuk mencari teman kelompok.
"aku boleh masuk kelompok kalian nggak...?" Sharlin mendekati meja enam orang remaja yang kini sedang berdiskusi untuk satu kelompok saja
"boleh, kebetulan kan tiap kelompok harus enam atau tujuh orang" Alea langsung menyetujui "boleh kan gays...?" lanjutnya menatap satu persatu teman-temannya
"boleh saja, tapi kamu yang jadi ketua kelompoknya" ujar Danial
"tidak masalah" Sharlin menjawab setuju
"kalau gitu aku tulis di sini nama kamu ya" Ayunda menulis nama Sharlin di urutan pertama, setelahnya barulah menulis namanya sendiri dan teman-temannya
enam kertas telah berada di tangan Sharlin, itu berarti enam kelompok yang ada. ketua kelas X2 itu, membawa kertas yang ada di tangannya ke kantor untuk ia serahkan kepada ibu Amanda.
"hari ini, sudah bisa mendaftar untuk kegiatan ekskul sepulang sekolah. kalian mau ikut yang mana...?" tanya Ayunda
"aku mau memanah, itu keren banget kalau aku pintar memainkan panah" Kirana, nampak begitu semangat mengutarakan keinginannya
"kalau aku suka pedang deh kayaknya. club latihan pedang ada nggak sih" tutur Alea, wajahnya ia topang di meja menggunakan kedua tangannya
"ada lah...jangankan pedang, pencak silat dan karate pun ada tau. tapi aku bingung mau ikut yang mana" ucap Ayunda
"ya nggak usah ikut kalau bingung, gitu aja kok repot" ujar Danial
"yeee... bukannya ngasih solusi pilih yang mana kek" Ayunda mencebik
"ikut sesuai bakat sajalah. aku sih mau ikut club basket sama karate. mending kalian bertiga ikut karate juga deh, supaya nanti kalau ada yang ganggu, bisa menyelamatkan diri sendiri" Satria menatap tiga perempuan yang sedang bersama mereka
"kekuatan aku mah nggak bisa kalau ikut karate. baru latihan aja pasti udah nggak bisa, apalagi kalau di suruh lawan teman" ucap Kirana
"elleh... nggak usah sok lemah deh. kemarin saat kita dikejar anjing, siapa yang larinya paling cepat coba. tau-taunya kamu sudah di atas pohon saja" timpal Zain
"yaaa itu kan gerakan refleks Za, iya kali ada anjing aku mau diam aja"
"ya makanya itu, sebenarnya kamu itu kuat hanya malas gerak aja alias mager"
"mending kalian ikut karate aja deh, atau pencak silat. dengan begitu kalau nanti ada orang-orang seperti Jeki yang ngerjain kalian, ya kalian bisa melawan. bukannya kami nggak mau menjaga kalian bertiga, tapi tidak setiap hari kita bersama kan" ujar Danial
"tapi kalian ikut kan...? kita pulangnya dekat magrib loh, takut aku kalau nggak ada kalian. masa iya cuman kita bertiga aja yang ikut" ucap Alea
"iya iya, kami tetap ikut. aku juga mau ikut club basket" jawab Danial
"aku kalau karate kayaknya enggak deh, soalnya di rumah kadang suka belajar sama papa. aku mungkin mau ikut ekskul basket sajalah" ujar Zain
"aku pedang sama karate kalau begitu. kalau kalian apa...?" Alea bertanya kepada Kirana dan Ayunda
"aku sih memanah sama karate" jawab Kirana
"kamu gimana Ay...?" Satria mengarahkan mata kepada anak Deva dan Melati itu
"aku menembak aja deh, siapa tau nanti bisa jadi polwan kan" jawabnya sambil tersenyum
"berarti setelah jam istirahat nanti, kita langsung mendaftar ya. aku dengar sih, besok sudah mulai latihannya" ucap Ayunda
semuanya mengangguk setuju. tepat setelah jam istirahat kedua mereka berpisah untuk pergi ke tempat masing-masing pendaftaran. setelahnya, mereka bertemu di tempat pendaftaran untuk karate. banyak juga yang mengikuti latihan beladiri itu, ada perempuan namun kebanyakan dari mereka adalah laki-laki. jam dan jadwal sudah diberitahu, setiap mereka yang mengikuti latihan akan pulang pada saat magrib menjelang. enam anak remaja itu sepakat, akan menunggu satu sama lain meskipun ada diantara mereka yang tidak ikut latihan pada hari itu.
pelajaran berikutnya kembali berlanjut hingga sampai jam pada akhirnya bel panjang berbunyi. suara riuh mulai terdengar, hari itu mereka selesai mengikuti proses pembelajaran.
"Alea, tolong matikan kipasnya ya" ucap Sharlin, karena satu kipas angin ada di atas kepala remaja itu, tempat duduknya tepat berada di bawah kipas angin
"oke" Alea mengangkat jempol dan menarik tali untuk mematikan kipas
"thanks cantik" Sharlin tersenyum, kemudian melangkah mematikan kipas angin yang lain
dipanggil cantik oleh ketua kelas mereka, Alea mesem-mesem sendiri. remaja itu tersenyum malu dan menggigit tali tasnya.
"idih...kenapa kamu, kesambet ya" Kirana heran melihat temannya itu
"kesambet senyuman manis" balas Alea rada oleng
"aw...mau dong kesambet brondong manis" Ayunda menggoda
"kedondong manis...kedondong manis. mau aku aduin sama orang di rumah...?" Danial telah berdiri di belakang mereka dengan wajah garang dan mata tajamnya
"kita cuman bercanda kok kak, galak amat sih" Alea menggaruk kepala, mulai panik karena tiba-tiba Danial sudah berada di belakang ketiganya
"kok aku merinding ya, keluar yuk" tanpa aba-aba, Ayunda menarik tangan kedua temannya. mereka tidak ingin kena semprot oleh para lelaki dan apalagi sampai dilaporkan kepada orang tua mereka
"dasar pecicilan, masih kecil juga" celetuk Danial
"siapa yang pecicilan...?" tanya Zain
"anak kemarin sore" Danial menjawab namun matanya menatap lekat ke arah Sharlin yang sedang menurunkan gorden
ketua kelas mereka itu dengan cekatan melakukan tugasnya sebagai ketua kelas. setelahnya ia beralih kembali ke mejanya untuk mengambil tasnya.
"loh...kalian belum pulang...?" Sharlin kaget karena tiga remaja laki-laki itu masih berada di dalam kelas
"ini mau pulang, dan kamu" Danial menunjuk mata Sharlin menggunakan dua jarinya kemudian ia menunjuk kedua matanya sendiri, setelahnya ia menaruh jari telunjuknya di leher, mempraktikkan seperti seseorang yang sedang menyembelih hewan "kamu ada dalam pantauan ku saat ini" Danial memasang wajah datar
Sharlin yang tidak tau permasalahan sama sekali, melongo seperti bodoh melihat ekspresi Danial kepadanya. ia bahkan menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal, keningnya mengkerut menatap heran.
"apaan sih kamu Dan, nggak jelas banget" Satria menarik sepupunya itu untuk keluar kelas
Zain mengkode Sharlin untuk melihat ke arahnya, kemudian ia menyimpan jari telunjuknya di kening.
"oooh" Sharlin manggut-manggut tanda mengerti
kedua matanya melihat ke arah luar, ia melihat salah seorang yang berdiri di depan pintu sedang menunggu ketiga teman mereka.hal itu seketika membuatnya tersenyum tipis.
"dia manis juga ternyata" gumamnya, sambil merapikan bukunya dan meninggalkan kelas, tentu saja tidak lupa ia menguncinya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
Leo
baca ulang 😁
2024-06-03
0
Rizki Nita
ceritanya seperti cerita novel KUN
2023-09-21
2
Ayu Lutdiyasari
lanjut lagi kak, Biar gak lupa ma ceritanya
2023-05-16
1