Episode 17

langkah kaki Danial berhenti sebab dirinya penasaran dengan apa yang ada di dalam hutan sana. masih di belakang perpustakaan, Danial termenung seorang diri. padahal kemarin di tempat itu adalah tempat yang membuatnya ketakutan karena suara aneh yang ia dengar dari dalam hutan sana. jika dilihat-lihat, padahal masih pagi hari namun entah mengapa di dalam hutan sana terlihat seperti dalam keadaan senja, seperti warna kelabu yang jikalau masuk ke dalamnya akan membuat siapapun merinding.

"sekolah ini terlihat begitu besar, tapi kok rada-rada angker begini ya" gumam Danial

garis polisi di gedung perpustakaan itu tentunya belum dibuka. kedua mata Danial menatap lurus ke depan, di dalam hutan sana dirinya begitu penasaran apakah begitu berbahayanya hutan itu sampai semua orang tidak diperbolehkan untuk masuk ke dalam sana.

"apa yang ada di dalam sana, kenapa kemarin seperti ada monster yang datang dari arah hutan itu"

karena Jin telah pergi, Danial memutuskan untuk pergi dari tempat itu. dia pergi dengan berbagai ragam pertanyaan yang berkecamuk dikepalanya. siapa Jin sebenarnya, apa yang membuat hantu itu mati dan dirinya lebih penasaran ada apa dengan sekolah yang ia tempati sebagai lembaga untuk menuntut ilmu. dirinya berpikir, di sekolah itu pernah terjadi sesuatu hal yang tidak dirinya dan yang lain tau.

"sejak awal Jin ingin agar aku sekolah di sini. tapi kenapa...? apa yang membuat Jin begitu menginginkan aku sekolah di sini. malah angker pula"

"apa jangan-jangan" Danial menghentikan langkah, ia membalikkan badan hingga dirinya menatap lurus ke arah hutan sana "Jin mati di sekolah ini ya" gumamnya, pikiran itu tiba-tiba datang saja dalam kepalanya

melihat bagaimana keadaan sekolah itu setelah pertama mereka masuk, sudah membuat Danial penasaran, apa sebenarnya yang dengan sekolah itu.

"pasti ada yang tau dengan kejadian lampau di sekolah ini, itu yang perlu aku harus cari tau" Danial menggangguk yakin dengan keputusannya

dirinya kembali mengayun langkah semakin jauh dari perpustakaan hingga seseorang memanggil namanya.

"Dan" Satria memanggil

karena namanya dipanggil, Danial memutar badan. di belakangnya, Satria dan Zain sedang berjalan ke arahnya membawa kertas putih yang ada di tangan Satria.

"darimana kamu, dicariin dari tadi juga" tanya Zain

"toilet. itu apa...?" Danial menunjuk kertas yang dipegang oleh Satria

"ini amplop, ketua OSIS mengarahkan semua ketua kelas untuk mengumpulkan uang seikhlasnya saja agar disumbangkan ke keluarga siswi yang meninggal tadi" Satria memperlihatkan amplop yang ada di tangannya, telah berisi uang dari teman-teman kelasnya

"kenapa kamu yang ngerjain...? emang kamu ketua kelas ya. Sharlin mana, kan harusnya dia yang bertemu ketua OSIS...?" ucap Danial

"bukan sih, tapi ibu Amanda mempercayakan itu kepada aku karena Sharlin ada urusan lain. mana uangmu, sini berikan"

"yaah uangku di dalam tas, pinjam uang kalian dulu lah"

"ya sudah, ayo kita ke kelas XI IPA 2" ajak Satria, dirinya sambil merogoh uang dua puluh ribu dari dalam kantung celananya dan memasukkan ke dalam amplop

"mau ngapain...?" Danial mengernyitkan dahi

"mau ketemu ketua OSIS terus ngasih ini sama dia, ayo buruan" Satria menarik tangan kedua sahabatnya

ketiganya berjalan melewati banyak kelas kemudian mereka akan naik ke lantai tiga. setiap kelas telah tertulis nama kelas masing-masing dari papan yang diukir indah dan di tancapkan di atas ambang pintu.

di sekolah itu telah diatur tata letak setiap masing-masing kelas. mulai dari kelas 10 sampai kelas 12. untuk kelas 10, letak kelas mereka ada dibagian bawah, di lantai dua khusus untuk kelas 11 dan di lantai tiga untuk kelas 12. banyaknya siswa yang menimba ilmu di tempat itu, jelas sudah pasti dari kelas 10 sampai kelas 12 memerlukan ruang kelas yang banyak.

"emang ketua OSIS-nya siapa...?"

"aku juga nggak tau, cuman dikasih tau sama ibu Amanda untuk ke kelas XI IPA 2 ketemu sama ketua OSIS"

kini mereka telah sampai di lantai tiga. mencari kelas yang menjadi tempat tujuan mereka dan kini ketiganya telah berada di depan kelas itu.

"kita tunggu di luar saja ya Sat" ucap Zain

"ya jangan dong, kalian berdua harus ikut masuk, ayo" Satria menarik keduanya dan masuk ke dalam

siswa-siswi di kelas itu mengernyitkan dahi saat melihat ada siswa wajah baru yang berdiri di samping pintu. Danial mendekati salah satu siswi yang duduk di bangku depan sebelah kiri.

"maaf kak, ketua OSIS katanya ada di kelas ini. boleh aku tau yang mana orangnya...?" tanya Danial

"tuh dia baru datang" siswi itu menunjuk dengan dagunya ke arah pintu masuk. seorang siswa baru saja masuk ke dalam kelas dan berjalan duduk di kursinya

Danial mengkode Satria dan Zain menunjuk siswa itu yang duduk paling depan pojokan sebelah kanan. Satria dan Zain mendekati siswa tersebut sementara Danial kembali berdiri di dekat pintu.

"maaf kak, kakak ketua OSIS ya...?" Satria bertanya setelah berada di depan meja siswa itu

dia yang sedang memeriksa sesuatu di dalam tasnya, mendongakkan kepala melihat dua siswa yang menurutnya asing karena baru pertama kali melihat keduanya.

"iya, ada apa ya...?"

"ini kak saya mau memberikan sumbangan para siswa dari kelas X.2, tadi ibu Amanda mengarahkan saya untuk memberikannya kepada kakak sebagai ketua OSIS di sekolah ini" Satria menyerahkan amplop yang sejak tadi ia pegang

"oh iya, terimakasih ya" dengan tersenyum siswa itu mengambil amplop itu

"sama-sama kak, kalau begitu kami pergi dulu"

"iya, silahkan"

ketiganya meninggalkan kelas itu dan hendak kembali menuruni tangga. namun Danial menghentikan langkah dan mengatakan kalau dirinya ingin ke toilet.

"di bawah saja lah Dan' ucap Zain, bahkan kaki kanannya sudah berada di tangga pertama

"nggak bisa, udah kebelet nih. kalian duluan saja" Danial berlari ke arah toilet yang berjarak cukup jauh

"gimana Sat...?" Zain meminta pendapat apakah mereka harus menunggu Danial atau tidak

"turun sajalah, dia juga nggak akan nyasar. nggak nyaman aku di sini, bukan kawasan kita soalnya" Satria melihat banyak siswi yang memperhatikan keduanya

"aku juga nggak nyaman, ayo turun" ajak Zain

keduanya benar-benar meninggalkan Danial, mereka berpikir anak remaja itu jelas tidak akan kesasar jika kembali ke kelas mereka. tinggal turun sampai di lantai satu dan berjalan ke arah kelas X.2.

di dalam toilet, Danial bernafas lega. dirinya dapat mengeluarkan yang sejak tadi membuatnya sesak. hendak membuka pintu dan akan ke wastafel mencuci tangan, ia urungkan sebab dirinya mendengar percakapan dua orang di dalam toilet itu.

"aku mau pindah saja dari sekolah angker ini"

"yaaah...kalau kamu pindah, aku nggak punya teman lagi kawan"

"nggak sanggup aku Ben, bayangin aja sudah tiap hari ada yang mati. di tambah lagi tadi ada yang kesurupan. kamu nggak takut apa. lagian ya, kamu nggak tau ya kalau sekolah ini dulunya tiap hari setiap siswi banyak yang mati dan terakhir yang meninggal itu adalah seorang siswa"

"pernah dengar sih, katanya ada yang menumbalkan setiap siswi di sekolah ini. untuk apa juga, aku nggak tanya lagi. tapi kan itu hanya cerita doang. kalaupun iya, sekolah ini udah aman nggak seperti dulu lagi"

"tumbal...?" Danial yang masih berada di tempat itu, terkejut mendengar ucapan kedua orang itu

"kalau aman, nggak akan ada lagi siswi yang meninggal Beni. apalagi mereka mati persis seperti kejadian waktu dulu. nggak ada yang tau dan mereka tiba-tiba ditemukan pihak sekolah udah nggak bernyawa. kamu nggak takut apa"

"tapi kita kan cowok Arya, nggak masuk dalam daftar tumbal lah"

"aku pernah mendengar kalau korban terakhir setelah korban siswi berjumlah ganjil 19 orang, akan digenapkan dengan laki-laki sehingga genap 20 orang. aku nggak mau ya jadi korban tumbal salah satunya, aku masih ingin hidup bro. pokoknya aku mau keluar dari sekolah ini"

di dalam sana, Danial mendengar dengan serius. semakin penasaran dirinya hingga ia memutuskan membuka pintu dan hendak menanyakan cerita keduanya tadi. sayangnya, dua siswa itu sudah pergi tanpa belum sempat ia mencegahnya.

"apa benar ada yang menumbalkan para siswi...? tapi siapa...?

maka semakin banyak saja pertanyaan yang berkecamuk di dalam kepala Danial. dari cerita yang tidak sengaja ia dengar tadi, ada terbesit perasaan ingin percaya namun semua itu ia tampik lagi karena bisa saja itu hanyalah kabar angin yang sama sekali tidak benar. biasanya memang seperti itu, mendengar cerita dari mulut ke mulut yang pastinya sudah ditambahkan dengan bumbu-bumbu penyerap rasa agar orang yang mendengarkan semakin percaya.

hari itu pembelajaran tetap berlangsung, kejadian tadi pagi sudah tidak dibahas lagi meskipun ada sebagian siswa siswi yang diam-diam membicarakan hal itu. Danial telah kembali ke dalam kelas. mata pelajaran kali itu, mereka membuat kelompok belajar untuk mengerjakan soal yang diberikan oleh ibu Amanda.

"minggu depan setiap kelompok akan persentase ya"

"iya bu"

"Sharlin, nanti nama-nama kelompok teman-teman mu bawa ke ruangan ibu ya"

"baik bu"

ibu Amanda langsung keluar, di saat itu semua siswa-siswi berhambur untuk mencari teman kelompok.

"aku boleh masuk kelompok kalian nggak...?" Sharlin mendekati meja enam orang remaja yang kini sedang berdiskusi untuk satu kelompok saja

"boleh, kebetulan kan tiap kelompok harus enam atau tujuh orang" Alea langsung menyetujui "boleh kan gays...?" lanjutnya menatap satu persatu teman-temannya

"boleh saja, tapi kamu yang jadi ketua kelompoknya" ujar Danial

"tidak masalah" Sharlin menjawab setuju

"kalau gitu aku tulis di sini nama kamu ya" Ayunda menulis nama Sharlin di urutan pertama, setelahnya barulah menulis namanya sendiri dan teman-temannya

enam kertas telah berada di tangan Sharlin, itu berarti enam kelompok yang ada. ketua kelas X2 itu, membawa kertas yang ada di tangannya ke kantor untuk ia serahkan kepada ibu Amanda.

"hari ini, sudah bisa mendaftar untuk kegiatan ekskul sepulang sekolah. kalian mau ikut yang mana...?" tanya Ayunda

"aku mau memanah, itu keren banget kalau aku pintar memainkan panah" Kirana, nampak begitu semangat mengutarakan keinginannya

"kalau aku suka pedang deh kayaknya. club latihan pedang ada nggak sih" tutur Alea, wajahnya ia topang di meja menggunakan kedua tangannya

"ada lah...jangankan pedang, pencak silat dan karate pun ada tau. tapi aku bingung mau ikut yang mana" ucap Ayunda

"ya nggak usah ikut kalau bingung, gitu aja kok repot" ujar Danial

"yeee... bukannya ngasih solusi pilih yang mana kek" Ayunda mencebik

"ikut sesuai bakat sajalah. aku sih mau ikut club basket sama karate. mending kalian bertiga ikut karate juga deh, supaya nanti kalau ada yang ganggu, bisa menyelamatkan diri sendiri" Satria menatap tiga perempuan yang sedang bersama mereka

"kekuatan aku mah nggak bisa kalau ikut karate. baru latihan aja pasti udah nggak bisa, apalagi kalau di suruh lawan teman" ucap Kirana

"elleh... nggak usah sok lemah deh. kemarin saat kita dikejar anjing, siapa yang larinya paling cepat coba. tau-taunya kamu sudah di atas pohon saja" timpal Zain

"yaaa itu kan gerakan refleks Za, iya kali ada anjing aku mau diam aja"

"ya makanya itu, sebenarnya kamu itu kuat hanya malas gerak aja alias mager"

"mending kalian ikut karate aja deh, atau pencak silat. dengan begitu kalau nanti ada orang-orang seperti Jeki yang ngerjain kalian, ya kalian bisa melawan. bukannya kami nggak mau menjaga kalian bertiga, tapi tidak setiap hari kita bersama kan" ujar Danial

"tapi kalian ikut kan...? kita pulangnya dekat magrib loh, takut aku kalau nggak ada kalian. masa iya cuman kita bertiga aja yang ikut" ucap Alea

"iya iya, kami tetap ikut. aku juga mau ikut club basket" jawab Danial

"aku kalau karate kayaknya enggak deh, soalnya di rumah kadang suka belajar sama papa. aku mungkin mau ikut ekskul basket sajalah" ujar Zain

"aku pedang sama karate kalau begitu. kalau kalian apa...?" Alea bertanya kepada Kirana dan Ayunda

"aku sih memanah sama karate" jawab Kirana

"kamu gimana Ay...?" Satria mengarahkan mata kepada anak Deva dan Melati itu

"aku menembak aja deh, siapa tau nanti bisa jadi polwan kan" jawabnya sambil tersenyum

"berarti setelah jam istirahat nanti, kita langsung mendaftar ya. aku dengar sih, besok sudah mulai latihannya" ucap Ayunda

semuanya mengangguk setuju. tepat setelah jam istirahat kedua mereka berpisah untuk pergi ke tempat masing-masing pendaftaran. setelahnya, mereka bertemu di tempat pendaftaran untuk karate. banyak juga yang mengikuti latihan beladiri itu, ada perempuan namun kebanyakan dari mereka adalah laki-laki. jam dan jadwal sudah diberitahu, setiap mereka yang mengikuti latihan akan pulang pada saat magrib menjelang. enam anak remaja itu sepakat, akan menunggu satu sama lain meskipun ada diantara mereka yang tidak ikut latihan pada hari itu.

pelajaran berikutnya kembali berlanjut hingga sampai jam pada akhirnya bel panjang berbunyi. suara riuh mulai terdengar, hari itu mereka selesai mengikuti proses pembelajaran.

"Alea, tolong matikan kipasnya ya" ucap Sharlin, karena satu kipas angin ada di atas kepala remaja itu, tempat duduknya tepat berada di bawah kipas angin

"oke" Alea mengangkat jempol dan menarik tali untuk mematikan kipas

"thanks cantik" Sharlin tersenyum, kemudian melangkah mematikan kipas angin yang lain

dipanggil cantik oleh ketua kelas mereka, Alea mesem-mesem sendiri. remaja itu tersenyum malu dan menggigit tali tasnya.

"idih...kenapa kamu, kesambet ya" Kirana heran melihat temannya itu

"kesambet senyuman manis" balas Alea rada oleng

"aw...mau dong kesambet brondong manis" Ayunda menggoda

"kedondong manis...kedondong manis. mau aku aduin sama orang di rumah...?" Danial telah berdiri di belakang mereka dengan wajah garang dan mata tajamnya

"kita cuman bercanda kok kak, galak amat sih" Alea menggaruk kepala, mulai panik karena tiba-tiba Danial sudah berada di belakang ketiganya

"kok aku merinding ya, keluar yuk" tanpa aba-aba, Ayunda menarik tangan kedua temannya. mereka tidak ingin kena semprot oleh para lelaki dan apalagi sampai dilaporkan kepada orang tua mereka

"dasar pecicilan, masih kecil juga" celetuk Danial

"siapa yang pecicilan...?" tanya Zain

"anak kemarin sore" Danial menjawab namun matanya menatap lekat ke arah Sharlin yang sedang menurunkan gorden

ketua kelas mereka itu dengan cekatan melakukan tugasnya sebagai ketua kelas. setelahnya ia beralih kembali ke mejanya untuk mengambil tasnya.

"loh...kalian belum pulang...?" Sharlin kaget karena tiga remaja laki-laki itu masih berada di dalam kelas

"ini mau pulang, dan kamu" Danial menunjuk mata Sharlin menggunakan dua jarinya kemudian ia menunjuk kedua matanya sendiri, setelahnya ia menaruh jari telunjuknya di leher, mempraktikkan seperti seseorang yang sedang menyembelih hewan "kamu ada dalam pantauan ku saat ini" Danial memasang wajah datar

Sharlin yang tidak tau permasalahan sama sekali, melongo seperti bodoh melihat ekspresi Danial kepadanya. ia bahkan menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal, keningnya mengkerut menatap heran.

"apaan sih kamu Dan, nggak jelas banget" Satria menarik sepupunya itu untuk keluar kelas

Zain mengkode Sharlin untuk melihat ke arahnya, kemudian ia menyimpan jari telunjuknya di kening.

"oooh" Sharlin manggut-manggut tanda mengerti

kedua matanya melihat ke arah luar, ia melihat salah seorang yang berdiri di depan pintu sedang menunggu ketiga teman mereka.hal itu seketika membuatnya tersenyum tipis.

"dia manis juga ternyata" gumamnya, sambil merapikan bukunya dan meninggalkan kelas, tentu saja tidak lupa ia menguncinya

Terpopuler

Comments

Leo

Leo

baca ulang 😁

2024-06-03

0

Rizki Nita

Rizki Nita

ceritanya seperti cerita novel KUN

2023-09-21

2

Ayu Lutdiyasari

Ayu Lutdiyasari

lanjut lagi kak, Biar gak lupa ma ceritanya

2023-05-16

1

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Episode 138
139 Episode 139
140 Episode 140
141 Episode 141
142 Episode 142
143 Episode 143
144 Episode 144
145 Episode 145
146 Episode 146
147 Episode 147
148 Episode 148
149 Episode 149
150 Extra part
Episodes

Updated 150 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Episode 138
139
Episode 139
140
Episode 140
141
Episode 141
142
Episode 142
143
Episode 143
144
Episode 144
145
Episode 145
146
Episode 146
147
Episode 147
148
Episode 148
149
Episode 149
150
Extra part

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!