hari ini adalah hari kedua di adakannya MOS di sekolah SMA xxx. hal pertama yang mereka lakukan adalah melakukan PBB di lapangan sekolah tersebut. dari beberapa gugus telah di arahkan oleh setiap kakak kelas yang tergabung dalam anggota OSIS.
kali ini gugus Merpati, gugus Danial dan kelima temannya di dampingi oleh dua kakak kelas laki-laki dan perempuan. mereka bernama Andika dan Dian. keduanya mengarahkan mereka bagaimana PBB yang benar. perlengkapan mereka pun di pakai, selama MOS maka mereka akan memakai semua itu sampai MOS selesai.
pukul 9 pagi, karena matahari mulai panas dan lagi semua siswa baru telah kepanasan maka mereka semua di suruh untuk istrahat. semuanya bernafas lega dan dengan cepat langsung menuju ke kantin untuk memesan minuman dingin menghilangkan dahaga yang sejak tadi menyiksa tenggorokan.
"kita cari tempat yang nyaman aja yuk, kebetulan aku bawa bekal. tadi mama nyiapin banyak untuk kita semua" ucap Kirana di saat mereka hendak akan menuju ke kelas
"kalau gitu kita ke sana" Satria menunjuk salah satu tempat duduk di bawah pohon beringin, tepatnya berada di samping kelas
"di belakang kelas aja, jarang juga ada orang yang ke sana kan. kita bisa bebas tanpa ada yang menganggu" Zain memberikan ide
"boleh juga tuh. ya sudah kita ke belakang kelas saja" Danial setuju
"aku ambil bekal dulu" Kirana masuk ke dalam kelas setelah itu ia keluar dan mereka pun berjalan menuju ke belakang kelas mereka
di belakang kelas itu, begitu sejuk dan adem karena pepohonan yang melindungi mereka dari pancaran sinar matahari. ada beberapa tempat duduk di masing-masing belakang kelas, bahkan sekarang ada beberapa siswa yang memilih istrahat di tempat itu.
"bawa minuman nggak...?" tanya Ayunda "masa iya habis makan kita nggak minum" lanjutnya lagi
"yah aku lupa" Kirana menepuk jidatnya
"beli aja deh di kantin, biar aku sama Danial yang pergi" Satria langsung menarik tangan Danial
"main tarik aja kamu, aku lapar loh" Danial menggerutu
"tadi kan sudah sarapan" Satria terus menarik tangan Danial melewati setiap kelas
"aku hanya sarapan roti, nggak kenyang"
"siapa suruh sarapan roti"
"lepasin juga tangan aku, aku kayak tahanan saja"
Satria melepaskan tangan Danial dan mereka kembali melangkah beriringan. seperti biasa kantin akan di serbu oleh para siswa tapi kali ini masih banyak tempat yang kosong dan juga di samping kantin ini akan di buka lagi kantin baru, masih satu cabang dengan kantin yang sekarang.
"baguslah jika tempatnya di perluas, supaya kita nggak selalu nggak kebagian tempat" ucap Danial
mereka berdua masuk ke dalam kantin dan memilih duduk di sebuah tempat duduk yang kosong. Satria langsung ke depan untuk mengambil minuman yang ada di dalam kulkas. enam minuman botol segera ia ambil, tidak lupa ia juga mengambil beberapa cemilan dan roti.
"berapa bu...?" tanya Satria
"40 rb nak"
Satria mengeluarkan uang 50 rb dan memberikan kepada ibu kantin.
"tunggu sebentar ya"
"iya Bu"
sementara Danial yang sedang menunggu Satria, dia kedatangan tamu tak diundang. tiga orang siswa baru menghampiri dirinya dan duduk di tempatnya. mereka adalah Jeki, Dante dan Bintang.
"minggir kamu, ini tempat kami" ucap Jeki dengan songong
"kenapa harus aku yang minggir, yang lebih dulu duduk di sini itu aku bukan kalian" Danial menjawab tenang dan bersidekap
"Jek, mending cari tempat lain aja...masih banyak yang kosong" ucap Bintang
"aku mau tempat ini, jadi sebaiknya kamu minggat. lagian kamu juga nggak pesan apapun kan, pergi sana" usir Jeki
"kamu saja yang pergi" jawab Danial
Jeki mengeram kesal karena Danial tidak mengindahkan perkataannya. kemudian Satria datang menghampiri mereka namun karena ia tidak melihat kaki Dante yang sengaja ia simpan di tengah jalan langsung membuat Satria tersandung. Satria terjatuh dan hampir akan menyentuh lantai namun tiba-tiba tubuh Satria mengembang di udara. padahal jarak wajahnya dengan lantai kantin hanya tersisa satu jengkal saja namun tubuhnya tertahan karena sebuah tangan memegang baju belakangnya tepat di leher bagian belakang. sayangnya tangan itu tidak di lihat orang lain. yang dapat melihatnya hanyalah Danial seorang. sementara Jeki serta siswa-siswi yang lain ternganga dan terkejut melihat itu.
tubuh Satria di tarik kembali dan dirinya dapat berdiri tegak. sementara penglihatan semua siswa kalau Satria seakan bergerak sendiri tanpa ada yang memegangi tubuhnya.
"apakah dia punya ilmu mengembang di udara...?"
"gila, dia hebat banget"
"astaga, dia keren tapi kok bisa ya"
semua siswa heboh melihat atraksi yang dilakukan oleh Satria. bahkan Danial sampai menganga dan terkejut. bukan karena ia takjub dengan Satria melainkan ia kaget karena Jin sudah berada di sekolah itu.
"hai" Jin melambaikan tangan ke arah Danial yang belum mengedipkan matanya sejak tadi
"huufffttt... hampir saja" Satria bernafas lega
kemudian ia menyimpan minumannya di atas meja yang berada di dalam kantung plastik serta cemilan yang ia beli, setelahnya ia melihat ke arah Dante.
buuuk
"aaaggghh"
Dante teriak kesakitan karena Satria menendang tulang betisnya.
"ups... sakit ya" Satria berucap tanpa merasa bersalah
"Sat" tegur Danial
"sorry, gue sengaja seperti kamu yang sengaja mengait kakiku" Satria menatap dingin Dante yang masih meringis kesakitan
"brengsek lu" Jeki menggebrak meja namun sama sekali tidak membuat Danial ataupun Satria kaget
Jeki hendak memukul Satria sayangnya malah pukulan itu mengarah ke wajahnya.
buaaaak
"aaaggghh"
"aw... sakit banget tuh kayaknya" Jin memasang wajah ngilu merasa prihatin dengan Jeki yang memukul wajahnya sendiri
sementara Danial seperti boneka, matanya hanya berkedip dan kembali ternganga karena perbuatan Jin.
"Jek, kamu nggak apa-apa...?" tanya Bintang
"sakit bego" Jeki mengumpat Bintang
semua orang menertawakan Jeki yang dengan bodohnya malah memukul wajahnya sendiri. bahkan akibat pukulan itu matanya bengkak sebelah.
"mau aku tambah kasih babak belur nggak...?"
"eh jangan" spontan Danial melarang Jin
"kenapa kamu...?" Satria melihat Danial
"eh... nggak... nggak kenapa-kenapa. ayo pergi"
Danial mengambil kantung plastik di atas meja dan menarik tangan Jin untuk pergi dari tempat itu. sementara Satria menggaruk-garuk kepala merasa bingung dengan tingkah Danial namun kemudian ia menyusul sepupunya itu.
"kok pergi sih, aku kan masih ingin main" Jin menggurutu sepanjang jalan namun Danial tidak menjawab
mereka sampai di belakang kelas dimana semua orang sedang menunggu kedatangan mereka.
"lama banget sih, aku kira kalian membeli minuman ke planet mars" ucap Zain
Danial menyimpan kantung plastik berisi minuman dan cemilan di tengah-tengah mereka. setelah itu mereka mulai menyantap nasi goreng telur mata sapi buatan Nisda yang dibawa oleh Kirana ke sekolah.
Jin yang bete mulai menghilang padahal Danial baru saja menoleh ke arahnya namun hantu itu sudah tidak ada.
(kemana lagi perginya tuh demit) batin Danial
selesai mereka makan, bel masuk pun terdengar. dengan segera mereka membereskan tempat makanan dan menyimpannya ke dalam tas khusus untuk menyimpan benda-benda itu. cemilan yang belum sempat dimakan dimasukkan ke dalam tas. mereka meninggalkan halaman belakang kelas menuju ke dalam kelas.
semua siswa baru diam tanpa bersuara. hingga kemudian salah seorang kakak kelas datang dan masuk ke dalam kelas mereka.
"mana yang bernama Danial dan Satria...?" tanya kakak kelas itu, dia adalah seorang laki-laki
Danial dan Satria angkat tangan karena nama mereka di sebut.
"ikut saya ke ruang BK" ucap kakak kelas itu
keduanya saling pandang tidak mengerti dan bingung. namun mereka tetap beranjak dan mematuhi perintah kakak kelas itu.
"loh kenapa mereka di panggil ke ruang BK" Alea khawatir
"apa mereka membuat masalah...?" timpal Kirana
tidak ada yang dapat mereka lakukan selain hanya pasrah dan menunggu kedua teman mereka kembali.
sementara itu Danial dan Satria sudah berada di depan ruang guru BK. kakak kelas itu m membuka pintu dan mereka masuk ke dalam. hal yang membuat mereka terkejut adalah rupanya Jeki dan Dante sudah berada di dalam sana namun tidak dengan Bintang. kini Danial dan Satria mulai paham kenapa mereka di panggil ke tempat itu.
"silahkan duduk" ucap guru BK yang dimana dia adalah seorang wanita
kakak kelas yang memanggil Danial dan Satria langsung pamit untuk keluar. kini di ruangan itu tinggallah guru BK, dan empat orang calon siswa di sekolah itu.
"kalian tau kenapa sampai ibu memanggil kalian di sini kan" ucap guru BK
"tidak bu" jawab Danial dan Satria
Jeki dan Dante tersenyum sinis dan mengejek seakan ingin mengatakan kalau kali ini Danial dan Satria akan menghadapi masalah yang besar.
"Jeki dan Dante melapor kalau kalian berdua memukul mereka, apa itu benar...?"
"itu tidak benar" jawab Satria
"dia berbohong bu, jelas-jelas dia menendang kakiku" Dante bersuara
"ternyata kamu ini bodoh ya" Satria tersenyum sinis mengejek Dante
"apa kamu bilang" Dante mulai emosi dan hendak menyerang namun guru BK menggebrak meja membuat Dante ciut
"jika kamu melakukan penyerangan seperti tadi saya pastikan kamu akan pulang sekarang juga" guru BK berucap tegas
"maaf bu" Dante menunduk
guru BK kembali mengalihkan pandangan ke arah Dania dan Satria.
"benar kalian memukul mereka...?" tanya guru BK
"kami tidak melakukan pemukulan. justru dia" Satria menunjuk Dante "dia yang memulai dengan mengait kakiku hingga aku terjatuh ke lantai dan aku balas dengan menendang kakinya" jawab Satria dengan jujur
"cara jitu untuk membalas orang yang sok jagoan" ucap Danial menatap lekat Jeki dan Dante
"dia yang memukul saya bu, lihat wajah saya sampai bengkak seperti ini" Jeki menunjuk Danial
"apa kamu punya bukti...?" Danial bertanya
"buktinya sudah jelas, wajah aku babak belur. kamu harus tanggung jawab" Jeki membentak Danial
"bu, kami tidak melakukan kesalahan. mereka yang lebih dulu sering mengganggu kami" ucap Satria
"kemarin dia memukul saya bu, hari ini dia memukul saya lagi. lebih baik keluarkan saja mereka berdua" ucap Jeki
"siapa kamu sampai berani memerintah saya" guru BK menatap Jeki dengan tajam
"m-maaf bu" Jeki menunduk
permasalahan itu akhirnya terdengar di luar dan sampai juga di telinga kepala sekolah. Galang dan gengnya tetap mempertahankan Danial dan Satria sementara anggota OSIS yang lain ingin agar keduanya tidak di terima di sekolah itu. rapat kembali berlangsung dan kali ini bahkan Usman memprovokasi semua orang untuk memulangkan Danial.
"baiklah, namun jika Danial dan Satria di pulangkan maka Jeki dan Dante pun harus di pulangkan. kasus kemarin berawal dari ulah Jeki sendiri dan hari ini berawal dari Dante. jika korban di pulangkan maka biang kerok pun harus di keluarkan" Galang berucap tegas
"apa-apaan ini, Jeki dan Dante nggak salah... mereka itu korban" Usman tidak setuju dengan usulan Galang
"Usman, sejak tadi kamu terus berkoar-koar menyalahkan orang lain padahal adik sepupu kamu juga bersalah. jika seperti itu lebih baik kamu keluar saja dari anggota OSIS. OSIS tidak membutuhkan anggota yang arogan dan emosional seperti kamu" seorang guru membentak Usman membuat laki-laki itu berhenti berbicara namun begitu kesal saat melihat Galang dan gengnya tersenyum mengejeknya
guru BK tidak mengambil keputusan sendiri, semuanya tergantung dari pemimpin sekolah yaitu kepala sekolah. dan kini hasil keputusan dari kepala sekolah bahwa Danial dan Satria serta Jeki dan Dante tidak di terima di sekolah SMA xxx dengan berbagai pertimbangan yang ada.
keputusan itu telah sampai di telinga keempat remaja itu. Danial dan Satria hanya bisa menghela nafas dan menerima semua keputusan.
"sudah aku bilang, jalani sesukamu tapi aku yang mengatur" Jin datang tiba-tiba di samping Danial
"ya ya ya, kamu menang. puas...?"
"belum, masih banyak hal yang harus kita lalui. persiapkan mentalmu saja"
"terserah kamulah"
kini Danial dan Satria mengambil barang-barang mereka di kelas dan akan pulang. teman-teman keduanya tidak percaya, mereka tidak akan satu sekolah.
"sial banget sih kita" Satria menendang kaleng minuman
mereka berdua berjalan kaki untuk sampai di rumah. harusnya akan di jemput namun karena mereka pulang belum waktunya maka keduanya terpaksa berjalan kaki.
"syukuri apa yang ada, hidup adalah anugrah" Danial malah bernyanyi di saat Satria sedang kesal
hingga kemudian dari kejauhan kedua nama mereka di panggil. saat mereka menoleh, semua teman-teman keduanya melambaikan tangan dan berlari ke arah mereka.
"loh kenapa kalian pulang...?" tanya Danial
"senasib sepenanggungan" Zain tersenyum
pada akhirnya mereka semua memutuskan untuk pulang dan akan menjelaskan hal itu kepada kedua orang tua mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 150 Episodes
Comments
warkop Teteh kuningan
senasib sepenanggungan......mantaf
2023-10-30
0
V3
jgn sampai si jin berbuat jahat pd mereka semuanya
2023-02-24
1
Helmi Sintya Junaedi
aku lagi enak baca ko habis???? lah baru sadar baru episode 8...
lanjut thor
2023-02-14
1