Arjuna mengikatkan tali pada sebuah batang pohon, lalu memilih tanah keras untuk pijakan kaki. Setelah merasa tanah pijakannya cukup kuat menopang badan, dengan sigap Arjuna mulai menuruni jurang.
Kontur tanah basah, lembek, licin, dan dipenuhi akar rambat membuatnya sedikit kesulitan. Namun dengan pengalaman saat latihan, tak butuh waktu lama Arjuna sudah sampai di dasar jurang yang dipenuhi semak belukar.
Ada ceceran darah yang sudah mengering di tanah, tapi Arjuna tidak dapat menemukan jasad atau sosok orang yang sedang terluka di sekitar jurang itu.
Arjuna membabat semak dan cabang ranting pohon kecil yang menghalangi langkahnya. Dia terus berjalan turun lebih jauh menuju ke arah mata air yang membentuk aliran sungai kecil.
Tiba tiba Arjuna menghentikan langkahnya, wajahnya pucat, tubuhnya bergetar hebat, jantungnya berdegup kencang tak beraturan, dan lidahnya kelu tak dapat berucap.
Seketika Arjuna terdiam mematung, dia tak kuasa untuk bergerak, bukan karna ada singa atau binatang buas lain di depan matanya, melainkan sosok gadis bergaun merah berdiri menghadang dengan tatapan kosong dan raut wajah yang sedih.
Gadis itu berdiri melayang sangat dekat di depan Arjuna. Mata gadis itu meneteskan cairan, tapi bukan air mata, melainkan tetesan darah yang membasahi kelopak matanya. Arjuna ingin lari dari tempat itu, tapi kakinya sama sekali tak bisa bergerak.
"Oh Tuhan, tolong aku..."
Bisik Arjuna lirih, dia berdoa dalam hati sambil memejamkan mata. Gadis bergaun merah berada lebih dekat, saat Arjuna membuka matanya. Ia menunjuk satu tempat dekat Arjuna berdiri lalu gadis itu menghilang.
Arjuna masih berdiri di tempatnya, efek kaget yang ditimbulkan hadirnya sosok gadis bergaun merah membuatnya lemas, shock tak percaya apa yang dilihatnya.
Hampir lima menit Arjuna mematung, dia baru tersadar kalau sosok yang dilihatnya bukan manusia. Tubuh Arjuna masih gemetar, wajahnya pucat, dengan gontai Arjuna melangkah ke arah tempat yang di tunjuk gadis bergaun merah.
Arjuna membabat tanaman rambat disekitarnya, sembari memikirkan peristiwa mistis yang baru saja ia alami.
"Apa yang terjadi pada gadis itu sampai dia muncul dihadapanku dengan tampilan seram seperti itu."
Belum lama ia membabat semak yang menghalangi jalan, tiba tiba saja Arjuna jatuh tertelungkup, kakinya terperosok pada cekungan tanah yang membuatnya mencium sesuatu.
"Haaaaaaahhh...."
Arjuna berteriak sejadi jadinya, dia buru buru berdiri karena kaget, ternyata tubuhnya mendarat di atas tengkorak manusia yang terbungkus gaun merah lusuh nyaris berwarna coklat.
Tomy yang mendengar suara teriakan Arjuna menjadi panik, dengan tergesa gesa dia memasang sarung tangan, dan meraih tali dan segera turun ke dasar jurang.
Sementara itu Arjuna lari tunggang langgang tak karuan, hingga menabrak Tomy yang baru saja melepas pengaman tali.
"Heh.. to**l, kali ini ulah apa lagi yang kamu buat?"
Tomy mendorong keras tubuh Arjuna yang menindih badannya. Tampak raut kesal di wajahnya.
"Maaf, maaf bang, sorry.. sorry... Itu bang, disana ada tengkorak manusia."
Arjuna bicara terbata bata sambil menunjuk ke arah semak belukar yang telah di babatnya. Tomy membersihkan pakaian yang kotor karena jatuh di tanah akibat ditabrak oleh Arjuna. Setelahnya dia fokus memperhatikan arah yang tunjuk Arjuna.
"Sial wanita itu lagi.."
Ucap Tomy setengah bergumam. Dia enggan untuk mendekat ke arah gadis bergaun merah itu, tapi rasa penasaran menggerakkan hatinya.
Tomy dan Arjuna mengumpulkan keberanian untuk mendekati gadis itu, mereka berjalan beriringan sambil menggenggam senjata masing masing.
Gadis bergaun merah itu tersenyum ramah wajahnya tak lagi seram, dia berdiri tepat di atas jasadnya yang telah menjadi tengkorak, sambil menunjuk ke bawah kemudian menghilang begitu saja.
Tomy segera berlari mendekati tengkorak gadis bergaun merah, dengan belatinya Tomy segera menyingkirkan semak semak yang menimbun tengkorak gadis itu.
Dan lagi lagi Tomy dikejutkan oleh fenomena yang menurutnya aneh. Seumur hidup Tomy baru menyaksikan keajaiban bukti kekuasaan Tuhan.
Tepat di samping bawah tengkorak gadis bergaun merah, dia melihat sosok tertelungkup dengan kondisi lemah, dan sebagian tubuhnya tertutup longsoran tanah.
Dengan tergesa gesa Tomy membersihkan tubuh pria itu dari tanah yang menibun, dan dia terkejut karena saat membalikkan badannya, ternyata pria itu adalah Wira.
"Jun, ini pak Wira..!"
Seperti juga Tomy, Arjuna terkejut, karena pria yang baru mereka temukan adalah Wira. Pria yang selama ini dicari cari.
Tomy menangkupkan ke dua tangannya di depan hidung sembari menunduk di hadapan tengkorak manusia di hadapannya.
Dengan hati hati dia membungkus tengkorak itu menggunakan gaun yang sudah mulai lapuk lalu menggendong dan kemudian meletakkannya ditanah yang lebih luas.
Setelah itu dia membantu Arjuna untuk memberikan pertolongan pertama kepada Wira, yang saat itu menggerakkan jarinya untuk memberi tanda bahwa dia masih hidup.
Arjuna meminumkan sebotol air mineral kepada Wira kemudian membalut luka sobek, lalu mencabut anak panah yang bersarang di pundak pria kekar itu.
Setelah melakukan pertolongan seadanya Arjuna segera mengikat tubuh Wira di bantu oleh Tomy. Dengan hati hati, ia membopong tubuh Wira yang terikat kuat di punggung. Perlahan lahan Arjuna mendaki naik ke atas.
Sementara Tomy menyusul naik ke atas sambil menggendong, tengkorak gadis bergaun merah. Setibanya di atas mereka segara membuat tandu menggunakan batang kayu yang dirakit dengan tali, lalu mereka bergegas keluar dari tengah hutan.
Hari hampir malam, saat mereka samapai di pintu rimba tempat, Arjuna memarkirkan mobil. Setelah memeriksa luka luka di tubuh Wira, mereka segera memacu mobil menuju puskesmas desa, tempat Arjuna menitipkan Mila.
Satu jam kemudian mereka sampai dihalaman puskesmas dan langsung di sambut oleh tiga orang berseragam polisi. Tomy terkejut karena ternyata Kapolres kota tempatnya mengabdi sudah berada disana sedang berbincang bincang dengan kaposek.
"Selamat malam komandan, izin melapor."
Tomy memberi hormat kepada ke dua perwira dihadapannya, kemudian melaporkan apa yang telah terjadi di hutan, sejak kedatangan mereka kemarin.
"Kalian benar benar ceroboh, kamu sadar apa yang sudah kalian lakukan?"
"Wahyu, Siska, dan wartawan bernama Linda hilang, sampai sekarang belum diketahui nasibnya. Lalu sekarang kamu membawa seorang perwira dengan kondisi terluka parah, bersama tengkorak perempuan yang bahkan tidak diketahui asal usulnya."
Kapolres menumpahkan kekesalannya kepada Tomy. Wajahnya begitu sangar, membentak Tomy yang hanya tertunduk pasrah mendengar suara atasanya yang begitu keras memekakkan telinga.
"Tok.. Tok...!"
Suara pintu di ketuk, menyelamatkan Tomy dari amarah, sang komandan. Dokter masuk dengan tergesa gesa, dia tidak perduli dengan apa yang tengah berlangsung diruangan itu.
"Maaf mengganggu kamdan, sepertinya kita harus memindahkan pak Wira ke rumah Sakit. Beliau kehilangan banyak darah, kondisinya kritis, kami takut tidak bisa menanganinya disini karena keterbatasan peralatan medis."
"Baik dok, usahakan yang terbaik, saya tidak mau terjadi apa apa dengan anak itu."
Seketika Wajah Kapolres berubah panik, bersama dokter dan perawat, mereka merujuk Wira ke rumah Sakit terdekat, yang jaraknya sangat jauh dari lokasi mereka saat ini.
"Bertahan Wir...!"
"Jangan menyerah sekarang nak, saya belum sempat menghukummu, baj***an."
Mobil Ambulans melaju kencang menembus gelap malam, sementara di depan sebuah mobil patroli polisi mengawal ambulans.
Pagi hari Tomy dan Arjuna yang tidak ikut serta dengan rombongan kapolres, segera meminta bantuan beberapa orang warga desa untuk menguburkan tengkorak gadis bergaun merah yang mereka temukan.
"Siapapun namamu, terima kasih telah menununtun kami menemukan pak Wira. Hanya ini yang bisa kami lakukan untukmu, semoga kamu tenang disana."
Usai berdoa Tomy menaburkan bunga di atas pusara gadis bergaun merah, dia berterima kasih karena gadis tak kasat mata itu telah membantu mereka menemukan Wira yang saat itu tengah berusaha melawan maut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments