"Cling.. Cling .."
Dua buah pesan masuk ke phonsell Arjuna, namun bintara muda itu belum sempat untuk membaca pesan. Dia masih disibukan dengan kasus Black Rose yang menyeret namanya. Hari itu Arjuna dipanggil untuk menjadi saksi.
"Jun ada pesan masuk di phonsellmu..!"
Tomy memanggil Arjuna yang kebetulan sedang melintas di lorong menuju ruang penyidik. Arjuna menoleh, lalu berbalik arah menghampiri Tomy.
"Terima kasih bang."
Ucap Arjuna singkat, lalu kembali ke meja kerja untuk mengambil phonsellnya. Dengan tergesa gesa dia langsung membuka isi pesan yang ternyata berasal dari Wira.
"Astaga ini pesan dari pak Wira bang...!"
"Ada apa Jun, kenapa wajahmu terlihat tegang begitu?"
Tomy bangun dari tempat duduk, lalu datang menghampiri Arjuna yang tampak tegang setelah membaca isi pesan diphonsellnya.
"Anu.. bang Tom, pak Wira meminta bantuan, beliau mengirimkan peta lokasi tempatnya berada saat ini. Tapi masalahnya personil sedang kosong. Saya bingung, apa saya lapor ke atas atau bagaimana ya?"
Arjuna ragu untuk membicarakan isi pesan kepada Tomy. Tapi dia juga khawatir terhadap keselamatan Wira. Sudah sejak kemarin atasannya itu tidak memberi kabar, dan sekarang tiba tiba saja dia mengirim pesan untuk meminta bantuan.
"Benar juga, personil kita sedang ditugaskan untuk mencari Wahyu, Siska, dan Linda. Semua sedang sibuk dengan kasus Black Rose."
Tomy bergumam, mengerutkan dahinya, dia bisa memahami kebingungan juniornya itu. Setelah menimbang nimbang, akhirnya Tomy mengajak Arjuna untuk pergi ke lokasi tempat Wira berada.
Tomy pergi ke ruang atasan untuk meminta izin lebih dulu. Tak lama kemudian, Tomy kembali menemui Arjuna yang sedang menunggu di lorong.
"Ayo Jun kita pergi berdua saja!"
"Siap.. Bang."
Arjuna segera menyiapkan perbekalan yang mereka butuhkan. Senjata, makanan, dan obat obatan di masukkan ke mobil milik Tomy. Setelah dirasa cukup, mereka berdua langsung bergegas pergi menuju lokasi yang dikirimkan oleh Wira.
"Lokasi ini tampaknya berada di sekitar hutan lebat, jalur alternatif menuju banyuwangi Jun."
"Sepertinya begitu bang."
Sahut Arjuna singkat. Tomy membuka peta dan menandai titik lokasi yang akan mereka tuju. Sementara Arjuna mengemudi bagai orang yang sedang kalut. Pemuda itu ingin segera tiba di lokasi agar cepat mengetahui nasib semua teman temannya.
"Jun hati hati, kita sedang dalam misi untuk memberi bantuan kepada pak Wira. Jangan sampai karena cara menyetirmu yang ugal ugalan, malah membuat kita jadi celaka."
"Iya bang maaf, saya hanya sedang gusar. Jujur saja pesan dari pak Wira membuat saya agak khawatir."
Arjuna memperlambat laju mobil, berupaya untuk lebih tenang. Ucapan Tomy benar, saat ini mereka sedang dalam misi mencari Wira dan teman temannya. Dia tidak ingin ceroboh dan menambah masalah.
Hampir empat jam Arjuna mengemudikan mobilnya. Mereka mulai masuk ke jalur sepi. Tidak ada rumah di sepanjang jalan, hanya pohon pohon besar, dan rapat yang ada di hadapan mereka.
"Apa disini tempatnya ya bang?"
Arjuna menghentikan mobilnya, dan Tomy turun untuk memastikan, kalau mereka sudah berada pada jalur yang benar.
"Kalau saya perhatikan peta ini, seharusnya kita akan masuk ke kawasan hutan lima ratus meter di depan sana Jun."
Tomy tidak yakin, karena jarak pepohonan terlalu rapat, tapi dia tidak punya pilihan selain percaya pada peta sebagai panduan mereka.
"Ayo bang, berarti sedikit lagi kita akan menemukan mobil pak Wira, atau setidaknya mobil milik pelaku."
Arjuna mulai tidak sabar, mereka segera masuk mobil lalu perlahan mobil bergerak menuju titik sesuai peta. Dengan hati hati Arjuna masuk pintu rimba, dia bisa melihat jejak ban mobil diantara rumput dan tanah basah.
"Sepertinya kita sudah semakin dekat dengan tujuan bang."
"Iya Jun, dari sini kita harus lebih waspada."
Tomy memperhatikan sekeliling, tapi dia tidak melihat tanda tanda keberadaan mobil Wira di tempat itu. Semakin masuk ke dalam hutan suasana makin sunyi, sinar matahari mulai minim.
"Bruak...!"
Tiba tiba saja sesuatu menabrak mobil mereka, sekonyong konyong Arjuna membanting setir mobil, dan langsung berhenti mendadak karena terkejut.
Dengan sigap Tomy mengeluarkan senjata dari dash board mobil. Ia bergegas keluar sambil mengokang pistolnya.
"Tadi itu apa ya bang?"
"Entahlah Jun, biar saya periksa, kamu lindungi saya!"
Tomy segera melangkah ke depan mobil dan melihat tubuh seorang wanita muda terbaring di tanah nyaris tergilas mobil mereka. Dengan hati hati Tomy, memeriksa tubuh wanita itu.
"Dia masih hidup Jun..!"
Arjuna bergegas menghampiri Tomy. Dia melihat tubuh seorang wanita muda sedang terkulai lemah dengan kondisi yang penuh darah.
Ada banyak luka ditubuhnya. Di paha kanan wanita itu tertancap anak panah, sementara di punggungnya, terdapat luka sayat senjata tajam yang cukup dalam.
Tomy bergegas mengambil kotak P3K, dan air mineral, lalu cepat cepat melakukan pertolongan pertama, semampunya.
"Ayo Jun, bantu saya angkat wanita ini ke mobil."
"Baik bang."
Setelah mengobati luka wanita misterius itu, Arjuna dan Tomy menggotongnya masuk ke dalam mobil. Setelah itu mereka berunding. Tomy memutuskan, Arjuna akan pergi mencari balai pengobatan di desa terdekat, sementara dirinya akan masuk hutan untuk mencari keberadan Wira.
Tomy mengambil beberapa perlengkapan yang ia butuhkan untuk bertahan hidup. Pistol, belati, obat obatan, tali, dan beberapa makanan di susun rapi dalam ransel besar.
Sebelum berpisah mereka berjabat tangan, kemudian Tomy merangkul juniornya sembari menepuk pundaknya.
"Setelah menemukan puskesmas, kamu langsung ke polsek Jun, minta orang untuk menjaga ketat wanita itu, lalu segera kembali kemari."
"Pasti bang, saya akan kembali, setelah urusan wanita ini beres."
Arjuna masuk ke dalam mobil, lalu perlahan meninggalkan Tomy sendirian berjalan masuk ke dalam hutan.
Di tempat berbeda Siska membuka matanya, dia mengarahkan pandangan ke segala penjuru untuk mencari tahu dimana dia berada saat ini.
Kepala Siska masih terasa berat, pandangannya buram, polwan cantik itu, berusaha mengenali siapa yang berada di dekatnya.
"Aku dimana, tempat apa ini, kenapa dingin sekali disini?"
Siska mengamati seisi ruangan besar, yang hanya diterangi beberapa obor dan puluhan lilin besar yang terletak di meja marmer. Sementara tangan dan kakinya terikat.
Di samping Siska terlihat seorang gadis yang juga baru tersadar. Dia adalah Linda, wartawan itu nampak bingung kala mendapati dirinya terikat di sebuah batu berbentuk meja.
"Tempat apa ini, kenapa seram sekali?"
Mereka berdua berusaha untuk mengingat ingat kembali kejadian dua hari lalu, sebelum mereka berakhir terikat dalam ruangan dingin dan bau anyir darah seperti saat ini.
"Siska.. kita ada dimana sekarang, apa yang terjadi, kenapa tempat ini menyeramkan sekali, baunya aneh seperti aroma darah?"
"Saya juga tidak tahu Lin, setelah kita di sekap di Black Rose, yang saya ingat kita di bawa kemari dengan mobil, lalu setelah itu sepertinya mereka menyuntikkan sesuatu yang membuat sekujur badan ku mengeras, dan sekarang kita berada disini, terikat, hanya itu yang saya ingat.
Siska dan Linda meronta ronta berusaha melepaskan diri dari belenggu yang mengikat tubuh mereka. Tapi semua usaha itu sia sia. Ikatan di tubuh mereka terlalu kuat, sementara mereka masih dalam keadaan lemah.
Pengaruh obat bius yang di suntikan oleh orang orang suruhan Leo Hadi Wijaya, membuat tubuh keduanya seakan lumpuh.
"Oh calon pengantin persembahan kanjeng ratu sudah sadar rupanya. Selamat datang di kuil Sandikala. Semoga kalian betah di kuil, tempat bersemayamnya para dewi."
"Tenang saja, kalian tidak akan lama disini, kanjeng ratu akan segera mengirim kalian menuju kelanggengan."
"Alam kekal dimana kalian tidak lagi mengalami penderitaan, hanya ada kesenangan, dan kebahagiaan."
Tiba tiba saja pria tinggi besar bertopeng mengenakan jubah merah hadir diantara Siska dan Linda yang berusaha untuk melepaskan diri.
Di leher pria bertopeng melingkar sebuah kalung dengan bandul berbentuk bintang, persis sama dengan tato Hana. Gadis yang ditemukan tewas mengering di area gudang pelabuhan.
"Jadi tato bintang itu adalah lambang sekte Sandikala rupanya."
Siska berbisik dalam hati, dia mulai faham, mengapa Wira sangat yakin akan dapat menemukan bukti di balik misteri kematian Hana.
Ternyata teori Wira tentang kematian Hana terbukti benar, ada kaitannya dengan Black Rose, dan sebuah perkumpulan rahasia, atau sekte yang bernama Sandikala.
"Hey pengecut, kalau berani buka topengmu, biar saya bisa melihat jelas wajah orang yang hanya berani menyiksa wanita."
"Hahaha...!"
"Mulut polwan ini tajam juga rupanya, tapi tidak apa apa, nanti pada saat ritual bulan purnama anda berdua pasti akan memiliki kesempatan untuk melihat wajah kami."
"Sampai saat itu tiba, sebaiknya jaga lidah anda atau saya terpaksa memotongnya nona polwan."
Pria bertopeng itu pergi meninggalkan Siska dan Linda dengan menyisakan pertanyaan besar di benak mereka.
"Siapa orang orang itu sebenarnya, Sandikala ini organisasi apa?"
"Apakah mereka benar benar sebuah sekte sesat, atau hanya sindikat perdagangan manusia?"
Siska memejamkan mata, jantungnya berdegup kencang, dia bisa membayangkan, apa yang akan dilakukan orang orang sekte Sandikala pada ritual purnama nanti.
"Apapun caranya kita harus bebas dari tempat ini Lin."
Linda terdiam pasrah, kata kata pria bertopeng benar benar telah meneror mentalnya. Linda tidak bisa membayangkan jika dirinya akan berakhir di tempat ini menjadi tumbal sebuah sekte bernama Sandikala.
"Harusnya aku tidak terlibat terlalu dalam dengan urusan polisi. Sekarang semua sudah terlambat, aku disini terikat menunggu maut datang menjemput."
Linda menyesali keberaniannya. Dia tidak pernah sedikitpun memikirkan dampak yang timbul dari rasa penasarannya, akan sebesar ini.
Sekarang Linda dan Siska berada pada titik terapuh mereka. Hanya mukjizat saja yang bisa menolong keduanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments