Wira segera tancap gas menuju rumah sakit, waktu seakan tengah memburunya. Jam dinding rumah sakit menunjukkan pukul tujuh pagi. Wira berjalan cepat setengah berlari menuju lobi rumah sakit untuk mencari informasi dokter jaga yang menangani jasad tanpa identitas yang dikirimkan ke rumah sakit itu kemarin.
Kondisi rumah sakit saat itu agak lengang, maklum saja masih pagi. Di lorong hanya ada beberapa perawat jaga, yang akan berganti shift dan cleaning service yang terlihat sedang sibuk membersihkan lorong rumah sakit.
Tanpa basa basi Wira mendatangi meja resepsionis dan berbicara dengan seorang perawat untuk menanyakan siapa dokter yang menangani jenazah wanita tanpa identitas yang ditemukan di wilayah pelabuhan.
Dari keterangan perawat jaga, Wira mendapat informasi bahwa dokter yang menangani jasad X bernama dokter Ani. Diapun bergegas menuju ruang otopsi agar segera bertemu dokter dan membahas kasusnya.
"Semoga saja dia masih berada disini."
Ucap Wira lirih penuh harap. Sebentar lagi akan ada pergantian shift, Wira tidak ingin usahanya untuk bertemu dokter Ani jadi sia sia.
Dan nasib mujur berpihak padanya, Wira bertemu dokter Ani tepat saat dokter itu keluar dari kamar jenazah di temani seorang perawat.
"Dok... Dokter Ani.. !"
Suara teriakan Wira menggema di lorong menuju kamar jenazah. Dokter yang merasa namanya di panggil segera menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke arah datangnya suara.
"Ya.. Saya Ani, apa ada yang bisa saya bantu pak?"
"Perkenalkan saya AKP Wira Raditya, petugas yang menangani kasus penemuan jenazah wanita tanpa identitas di daerah gudang peti kemas pelabuhan Bu Ani."
"Oh.. tadi malam anak buah bapak sudah menemui saya, tapi memang saya belum bisa memberikan keterangan apapun, perihal kematian korban."
"Jujur ini kasus janggal yang agak rumit pak Wira. Saya masih harus mendiskusikannya dengan para dokter, agar kami bisa mengambil kesimpulan tentang penyebab kematiannya."
"Maaf dok, apa ada sesuatu yang bisa dokter jelaskan kepada saya tentang kondisi jasad korban, apa saja dok, barang kali ada petunjuk awal yang bisa jadi rujukan."
Wira mendesak dokter Ani untuk menjelaskan kondisi secara umum, agar memperoleh sedikit petunjuk tentang jasad X.
Dokter Ani tidak menjawab pertanyaan Wira. Dia melangkah masuk kembali ke kamar jenazah, dan membuka lagi lemari pendingin yang di dalamnya tersimpan jasad X.
Kontan Wira memalingkan wajahnya, aroma kamar jenazah yang khas membuatnya mual. Sementara dokter Ani meminta perawat yang bersamanya untuk meletakkan jasad X di meja perawatan jenazah.
"Untuk saat ini yang bisa saya katakan adalah, kondisi korban seperti jasad yang di awetkan, dalam tubuhnya kami tidak menemukan nutrisi. Darah mengering pembuluh darah di otak pecah, dan jantungnya tidak ada atau hilang."
"Dari uji DNA di laboratorium usia wanita ini diperkirakan baru dua puluh lima tahun, tapi yang aneh, entah mengapa sebagian rambutnya berwarna putih. Bisa jadi pengaruh gen, atau pigmennya lemah, mungkin juga faktor lain yang belum diketahui.
"Kulit tubuhnya kering, berkerut, tak lazim untuk wanita di usianya. Jaringan otot membiru, lalu ada lendir di daerah bibir yang saat ini masih kami periksa di lab.
"Tidak ada tanda tanda kekerasan fisik pada tubuh korban sehingga kami tidak bisa menjelaskan secara pasti penyebab kematiannya. Jujur saja saya katakan, masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan."
"Semua masih harus kami teliti lebih lanjut pak Wira. Tolong beri kami waktu untuk memeriksa lebih detil agar dapat menyimpulkan penyebab kematiannya secara jelas berdasarkan disiplin ilmu kedokteran."
"Ya meskipun kita sama sama tahu, bahwa manusia akan sulit menjalani hidup tanpa jantung."
Wira terperanjat mendengar penjelasan dokter Ani, otaknya seakan tidak dapat menerima paparan yang baru saja ia dengar.
"Oh iya pak Wira, coba perhatikan bahu sebelah kanan gadis ini, dia memiliki tato bergambar bintang, barang kali anda bisa menemukan petunjuk dari tato tersebut. Paling tidak anda dapat menggunakan gambar tato itu untuk melacak keberadaan keluarga si gadis X."
Menurut Wira ucapan dokter Ani ada benarnya. Dia bisa mulai penyelidikan dengan mencari orang orang atau komunitas yang menggunakan tato serupa. Syukur syukur bisa menemukan anggota keluarga gadis X pikirnya.
Wira mengambil foto tato bergambar bintang di bahu jasad yang terbujur kaku di atas meja perawatan jenazah. Sambil mengernyitkan dahinya Wira berusaha mencerna semua informasi yang di sampaikan dokter Ani.
"Saya tidak bisa mengatakan apa apa lagi, selain berterima kasih atas kerja samanya bu dokter. Kalau ada perkembangan, mohon informasikan kepada saya."
"Apapun itu, sekecil apapun informasinya, tolong kabari saya."
"Ini kartu nama saya, kapan saja bu dokter bisa menghubungi saya bila ada perkembangan."
"Oh tentu pak Wira, saya juga berharap kasusnya dapat segera menemukan titik terang."
"Bagaimanapun hukum wajib di tegakkan dan yang bersalah harus mendapat ganjarannya."
Wira menjabat tangan dokter Ani, lalu meminta izin untuk meninggalkan rumah sakit. Sementara dokter Ani, hanya memandangi perwira muda itu sampai benar benar hilang dari pandangan matanya.
Jam sepuluh pagi Wira tiba di halaman kantor, dia baru saja turun dari mobil, saat seorang gadis cantik dengan tanda pengenal melingkar di leher, datang menghampirinya.
"Pak Wira, pak.. maaf mengganggu waktu anda sebentar, perkenalkan, saya Linda dari kantor surat kabar Surya, izin untuk wawancara sebentar saja pak."
"Nanti saja mbak Linda, saya sedang sibuk, ada hal penting yang harus saya kerjakan sekarang!"
"Apa maksud bapak, sibuk menangani kasus misterius di pelabuhan, dan gadis yang melompat di mall kemarin malam pak?"
Linda segera mencecar Wira dengan pertanyaan, sembari mengikuti langkahnya yang berjalan cepat menuju kantor.
"Pak Wira tolong jawab saya, apakah dua kasus itu saling terkait pak?"
Wira menghentikan langkahnya, dalam benak pria kekar itu, ia mengaggumi kecerdasan Linda sebagai wartawan muda. Dia belum lagi berpikir apakah kedua kasus itu saling terkait. Namun Linda seakan akan telah memberinya sedikit pencerahan.
Wira memicingkan matanya, ia memperhatikan Linda yang saat ini sedang berdiri di depannya mengharapkan jawaban.
"Kamu jenius, ikuti saya sekrang, dan kita cari tahu sama sama jawaban atas pertanyaanmu!"
"Maksud bapak?"
"Maaf pak, saya tidak mengerti maksud anda, boleh jelaskan apa artinya?"
"Maksud saya, kamu ingin berita tentang kasus yang sedang kami tangani. Jadi saya izinkan kamu untuk meliput penyelidikan ini sampai tuntas."
"Eksklusif, khusus hanya untuk kamu."
Mendengar ucapan Wira, Linda melompat kegirangan. Dia sangat gembira bagai sedang mendapat hadiah puluhan juta dari acara kuis di televisi.
"Terima kasih komandan."
Ucap Linda sambil menjabat erat tangan Wira tanpa rasa segan sedikitpun. Bibir manisnya menyungging senyuman hangat penuh keakraban. Wira cukup terkejut melihat reaksi Linda terhadapnya. Gadis wartawan itu memeluk lengan Wira seolah olah mereka teman masa kecil.
"Eheem...!"
Suara Wira langsung menyadarkan Linda, tentang posisi mereka yang baru saja kenal, dan hanya sebatas hubungan profesionalisme kerja.
Linda buru buru melepaskan pegangan tangannya dari lengan Wira. Dia mengikuti langkah Wira dari belakang, sembari menepuk nepuk keningnya, sadar akan kekonyolan yang baru saja ia perbuat.
Dari jauh beberapa anggota polri, memperhatikan tingkah laku Linda. Wajah wartawan cantik itu memerah, dia berjalan menunduk sambil bersembunyi di balik punggung Wira yang lebar.
"Putrinya pak komandan?"
Seorang petugas jaga, mencoba menyapa sambil meledek Linda. Wira hanya membalasnya dengan senyum lebar, lalu mengepalkan tangannya.
Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di depan ruang kerja. Wira memanggil Siska dan Tomy untuk ikut masuk ke ruangannya guna membahas gadis X dan berbagai kemungkinan yang menghubungkan kasusnya dengan kasus bunuh diri di mall semalam.
Wira meminta ke dua staffnya membandingkan berkas korban untuk mencari korelasi yang mungkin terhubung, sehingga mereka lebih mudah menemukan motif di balik meninggalnya korban, walaupun mereka semua tahu kalau dua kasus ini berbeda.
Satu jam lamanya mereka meneliti berkas, mengamati dan mencatat beberapa keganjilan dalam ke dua kasus, namun mereka sama sekali tidak melihat ada benang merah yang bisa menghubungkan ke dua kasus tersebut.
Linda yang sejak tadi hanya diam melihat sambil sesekali mengambil foto, kemudian membuka obrolan untuk mengurangi ketegangan.
"Mungkin ke dua kasus ini bisa di hubung hubungkan kalau ke duanya sama sama memiliki ciri atau pola khusus sebelum kematian mereka."
Celetukkan Linda, membuat Siska dan Tomy saling berpandangan, mereka coba meneliti kembali berkas dihadapannya, sambil memikirkan ucapan Linda.
Tiba tiba Wira yang sedari tadi hanya mencatat dan mencoret coret buku agenda, menjentikkan jari, seakan akan menemukan ide, atau jawaban dari misteri tewasnya ke dua gadis itu. Dengan sigap Wira meraih phonesellnya lalu menghubungkan kabel data dengan komputer yang berada di dekatnya.
Tangan Wira cekatan menekan tombol mouse dan tak lama kemudian dia sudah mencetak dua foto korban yang sama sama memiliki tato bintang di bahu kanan.
"Kalian lihat ini, mereka berdua memiliki kesamaan ciri. Keduanya memiliki tato di bahu mereka."
"Tato korban di mall, tidak terlihat jelas karena terutup rambut, tapi coba lihat ke dua gambar ini, mereka memiliki tato yang mirip."
Wira menyodorkan ke dua foto kepada Siska dan Tomy, lalu mereka menyadari foto tato itu memang mirip tapi berbeda. Satu tato bintang di kelilingi lingkaran di tengah, sedang yang lain tidak.
"Maaf pak ini berbeda, mungkin hanya sebuah kebetulan mereka memiliki tato di bahu kanan, tapi sebenarnya ke dua kasus ini berbeda, tidak terkait satu sama lain."
Tomy menyanggah teori Wira, karena tato di ke dua jasad itu memang hanya mirip, dan akan tampak jelas berbeda bila keduanya disandingkan.
Pada awalnya Wira sempat terpancing ucapan Tomy, namun ia lebih mengikuti instingnya yang mengatakan bahwa mereka berdua memiliki hubungan yang saling terkait.
Wira meminta tomy untuk memperbanyak gambar tato, lalu memerintahkan seluruh anggota di bawahnya untuk mencari informasi sebanyak mungkin mengenai tato tersebut.
"Cari siapa saja orang yang menggunakan tato bintang seperti itu, tanyakan di buat oleh siapa, dan di studio mana?"
Berdasarkan instruksi tersebut, seluruh anggota yang berada di bawah komando Wira langsung bergerak mengumpulkan informasi. Beberapa orang dimintai keterangan, semua studio tato di geledah, namun mereka tidak menemukan satu petunjuk yang bisa mengarah pada penyelidikan.
Wira terlihat kesal, beberapa kali ia memukulkan tinjunya ke dinding hingga mengundang perhatian para staff yang berada di luar ruang kerjanya. Sementara Linda yang sejak awal selalu mengikuti aktifitas Wira menjadi agak takut melihat cara Wira meluapkan emosinya.
"Pak apa saya boleh meminta salinan gambar tato itu?"
"Mungkin saya bisa membantu mencari informasi."
Wira langsung memberikan salinan foto tato kepada Linda tanpa mengucapkan sepatah katapun. Linda mengambil salinan foto itu, dan langsung meminta izin meninggalkan ruangan.
Linda bergegas pergi menuju tempat kerjanya. Tak lama berselang, gadis itu sudah sampai di kantor, kemudian buru buru membuka laptop, dan sibuk berselancar di internet.
Linda membuka berbagai situs berita, sejarah, dan mitos, terkait gambar tato yang diberikan Wira kepadanya. Namun setelah lama mencari informasi, Linda sama sekali tidak menemukan artikel atau gambar yang cocok dengan tato yang dimaksud. Terkecuali gambar pentagram yang menurut banyak artikel, selalu dikaitkan dengan okultisme atau satu aliran penyembah setan.
Tidak disangka, hari mulai gelap, dan Linda baru tersadar kalau di ruangan itu hanya tersisa dia seorang diri. Suasana kantor yang sunyi sepi, membuat bulu kuduk merinding. Tiba tiba saja Linda merasa tidak nyaman. Hatinya mengatakan ada sesuatu di ruangan kantor yang sedang memperhatikannya dari suatu tempat.
Linda buru buru merapikan laptopnya kemudian berlari menuju tangga sambil komat kamit membaca doa sebisanya. Security yang melihat Linda berlari ketakutan, merasa heran dengan tingkahnya hari ini.
"Mbak Linda... Mbak..!"
Security itu berniat akan nenyapa Linda dan bertanya ada apa, sampai sampai dia berlari begitu kencang, seperti baru saja melihat setan. Tapi niat itu batal dilakukan, karena Linda keburu meninggalkan kantor.
Di halaman parkir, Linda menengadahkan wajah ke langit, dan melihat ujung menara kantor tempatnya bekerja diselimuti awan hitam pekat yang berputar.
Untuk beberapa detik Linda memejamkan mata, lalu membukanya kembali, dan ternyata langit terlihat normal normal saja, awan hitam di puncak gedung tidak tampak lagi olehnya. Dengan perasaan yang berkecamuk Linda meninggalkan halaman kantor mengendarai secuter bersejarah miliknya.
Di tempat berbeda Wira melamun seorang diri. Dia masih memikirkan apakah tato di bahu ke dua korban memiliki arti khusus, atau hanya sekedar fashion anak milenial yang tidak punya makna apa apa seperti yang dikatakan Tomy.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
EsTehPanas SENJA
hmmm tato yang sama dengan gadis yang loncat dari lantai 3 mall kemaren 🤔
2023-09-20
1