Hampir sore ketika Linda berpamitan pulang kepada Wira. Gadis itu mengendarai skuter berwarna kombinasi putih dan pink, melaju meninggalkan komplek perumahan.
Linda memacu motornya dengan kecepatan sedang, situasi jalanan kota Surabaya yang sangat padat membuatnya hanya bisa melaju santai.
Di lampu merah Linda menyempatkan diri memperbaiki poninya agar tidak mengganggu pengelihatan. Dari kaca spion Linda bisa melihat ada seseorang dengan jaket hitam berada tepat di belakang, hanya berjarak satu motor saja.
Lampu merah ke dua, dia melihat pria berjaket hitam itu lagi. Awalnya Linda merasa biasa saja. Tapi saat berbelok arah ke jalan menuju rumahnya, Linda masih melihat pria berjaket hitam, mengikutinya dengan mengatur jarak.
Sadar dirinya sedang di buntuti, Linda langsung menikung, lalu masuk ke dalam sebuah mini market. Pria itu tidak mengikutinya, tapi Linda tahu pria itu sedang menunggunya di sebrang jalan.
Dengan gemetar Linda mengambil phonesellnya, lalu bergegas memanggil taxi. Pelayan mini market yang curiga dengan gerak gerik Linda mendekatinya, namun Linda segera beranjak pergi menuju sebuah taxi yang baru saja parkir di depan mini market.
Sambil mengendap endap dia membuka pintu taxi. Supir taxi yang melihat gelagat Linda yang begitu aneh, menjadi curiga.
" Ada apa mbak, kenapa jalan jongkok seperti sedang main petak umpet?"
"Ssst....!"
"Jalan dulu pak nanti saya jelaskan!"
"Tapi kita mau kemana mbak?"
"Pokoknya jalan dulu saja, jangan tanya!"
Nada suara Linda meninggi, Supir taxi tidak punya pilihan lain kecuali mengikuti arahan penumpangnya. Perlahan mobil berjalan meninggalkan mini market.
Linda menoleh ke arah mini market tempatnya memarkirkan motor. Dan benar dugaanya pria berjaket hitam itu memang membuntutinya.
Linda bisa melihat pria itu kesal, karena terkecoh olehnya. Beberapa kali pria misterius itu melampiaskan kekesalannya dengan menendang body skuter milik Linda.
Setelah merasa bebas dari ancaman, Linda baru menceritakan apa yang terjadi kepada supir taxi. Supir menyimak cerita Linda dengan seksama, dia berusaha memahami situasinya.
"Bagaimana kalau kita ke kantor polisi saja mbak?"
"Tidak usah pak, saya tidak punya cukup bukti untuk membuat laporan."
Supir taxi itu mengangguk, sedang Linda memintanya untuk mengambil jalan memutar sedikit lebih jauh, untuk memastikan tidak ada orang yang membuntutinya lagi.
Tiba di rumah Linda langsung masuk, mengunci pintu dan jendela, lalu menghubungi seorang teman untuk mengambil skuternya yang masih terparkir di depan mini market.
Ibu Linda yang melihat tingkah laku aneh anaknya, langsung bertanya apa yang terjadi. Tapi Linda menghindar ke kamar dan menjawab semua baik baik saja, agar Ibunya tidak khawatir.
Senin pagi, seperti biasa Linda berangkat ke kantor surat kabar Surya dengan menggunakan taxi. Begitu sampai di halaman kantor, dia melihat pemandangan tak lazim, karyawan surat kabar belum masuk kerja dan hanya berkumpul di depan kantor sambil membicarakan sesuatu.
"Ada apa ya mas, kok semua di luar?"
"Ada surat kaleng Lin, isinya ancaman bom dari orang tidak di kenal."
Linda bertanya kepada salah seorang karyawan untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Dia langsung menghubungkan teror hari ini dengan pria berjaket hitam yang membuntutinya kemarin.
"Apa ini ada hubungannya dengan kejadian kemarin ya?"
"Tapi aku salah apa, rasanya aku tidak pernah punya musuh?"
Linda bertanya tanya dalam hati, mencoba menganalisa situasi yang terjadi. Dia coba mengingat apa yang telah dilakukannya seminggu terakhir.
Tiba tiba sirine mobil polisi, dan mobil pemadam kebakaran datang bersamaan. Linda tidak ingin membuang kesempatan emas untuk mendapatkan berita ekslusif, ia mengambil foto petugas penjinak Bom yang masuk ke dalam kantor, lalu berjalan menuju mobil polisi untuk mewawancarai salah satu petugas.
"Lin.. sini..!"
Suara seorang pria yang familiar di kuping Linda menghentikan langkahnya. Linda menoleh ke belakang, dan seorang pria berkumis tipis, menggengam erat lengannya, lalu menyeretnya menjauh dari kerumunan.
"Pak Haris?"
"Ada apa ini pak?"
"Kamu ikut saya sekarang, kita bicara di coffe shop depan!"
Linda menuruti permintaan Haris, mereka berdua jalan menyebrang menuju sebuah coffe shop yang terletak tepat di sebrang kantor Surat kabar Surya.
"Tolong jelaskan ada apa sebenarnya pak, kenapa ada ancaman bom di kantor kita?"
"Saya juga diikuti orang misterius kemarin sore?"
"Ada apa sebenarnya?"
"Ssssttt... pelan pelan kalau bicara!"
"Nanti ada yang dengar Lin!"
"Ini masalah liputanmu di club Black Rose!"
"Ada apa dengan liputan itu, rasanya saya hanya melakukan liputan standar dengan skala wajar pak?"
"Ada yang tidak suka kamu mengangkat berita tentang club itu, mereka mengancam saya lewat telepon, semalam."
Linda baru memahami keadaannya sekarang, liputan gaya hidup metropolis, yang mengangkat berita tetang pergaulan bebas anak muda, dengan mengambil gambar Club Black Rose sebagai cover berita, mengusik seseorang.
Akhirnya Linda mengerti, mengapa ada orang yang mengikutinya kemarin. Linda jadi penasaran dengan pemilik Club, kenapa berita tentang gaya hidup yang biasa saja sampai berbuntut ancaman serius terhadap kantor surat kabar tempatnya bekerja.
"Asal kamu tahu Lin, surat kabar itu baru terbit dua hari kemarin, dan tiba tiba saja sudah ludes di borong orang."
"Lalu setelah itu, malamnya ada orang yang mengancam saya untuk tidak mengusik Black Rose."
"Jadi saya mohon kamu tidak usah melanjutkan riset tentang mereka lagi Lin, takutnya keluarga kita berdua terkena masalah."
"Kenapa tidak lapor polisi saja pak, ini kan tindak kriminal namanya?"
Linda sangat geram, wajahnya merah, tangannya terkepal di atas meja, seolah ingin menghajar orang yang melakukan ini pada mereka.
"Kamu punya bukti apa untuk melaporkan mereka, surat kaleng, dan ancaman melalui telepon tidak cukup untuk mengatakan pemilik Black Rose bertanggung jawab atas semua ini."
Linda terdiam, dia memahami kekhawatiran bosnya, tetapi Linda terlanjur penasaran, dia berniat tetap akan menyelidiki Black Rose tanpa sepengetahuan Haris.
"Ya sudah pak, saya tidak akan meneruskan liputan, lagipula semua itu adalah ide anda, jadi kalau bapak berniat menghentikan liputan, terserah bapak, saya hanya bisa menurut saja."
Linda menghabiskan kopinya lalu bangkit, pergi meninggalkan Haris yang masih duduk diam sambil menangkupkan ke dua tangannya menopang dagu.
Tampak kecemasan di raut wajah pria itu, dia bisa memahami kekesalan Linda, karena liputan ini memang atas idenya.
Sementara itu tanpa di sadari, seseorang dengan topi hitam memperhatikan mereka dari sudut yang tersembunyi. Beberapa kali dia mengambil gambar, lalu pergi bersamaan dengan Linda yang meninggalkan Haris sendiri di Coffe shop.
Linda memutuskan tidak masuk kantor hari ini, dia memilih pergi ke perpustakaan, untuk mencari buku atau artikel yang terkait dengan tato di bahu jasad gadis X.
Di kantornya Wira meminta Siska dan Tomy untuk melakukan hal yang sama dengan Linda. Sejak pagi polwan cantik itu sibuk mencari tahu simbol aksara jawa, beserta artinya di internet.
Di meja kerjanya, Tomy juga di minta Wira untuk memperjelas gambar huruf aksara jawa, agar lebih mudah untuk di baca dan diterjemahkan.
"Berhasil..!"
"Pak.. pak Wira..!"
Suara Siska mengejutkan Wira, buru buru ia lari ke meja Siska untuk mencari tahu apa yang mebuat polwan itu begitu heboh, hingga membuat gaduh seisi ruangan.
"Apa yang berhasil, Sis?"
"Ini pak, arti dari huruf aksara jawa kuno, di tato wanita itu adalah kelanggengan, abadi, atau kekal."
"Kata ini sebenarnya biasa saja, maknanya juga baik, namun kata ini biasa digunakan untuk mereka yang akan menggapai nirwana."
"Maksudmu apa Siska, coba jelaskan lebih detil?"
"Maksud Siska, kata kelanggengan biasanya di gunakan untuk mengucapkan salam perpisahan kepada seseorang yang akan, atau sudah meninggal, ruh mereka akan pergi ke alam kekal, dimana hidup yang sesungguhnya baru akan di mulai."
Tiba tiba Linda datang dari ujung ruangan, dan langsung menyela pembicaraan mereka. Wira sepontan menoleh ke arah Linda yang berjalan sambil menenteng sebuah buku.
"Nah, itu dia artinya pak, persis seperti yang di katakan Linda."
Siska membenarkan ucapan Linda, sambil mengacungkan jempol, sebagai tanda bahwa dia sepakat dengan Linda.
"Jadi artinya kelanggengan, atau keabadian?"
Wira mencatat kata itu di buku agenda, sambil berpikir, apakah itu benar benar tato, atau hal lain semisal cap sebagai penanda bahwa mereka bagian dari komunitas tertentu.
"Linda kamu ikut saya, sedangkan Siska dan tomy, kalian berdua coba periksa semua file tentang organisai, perkumpulan, atau apa pun yang mungkin menggunakan gambar bintang seperti tato itu."
"Siap komandan." Ucap Siska dan tomy nyaris bersamaan.
Tanpa basa basi Wira langsung berjalan ke luar ruangan di ikuti Linda di belakang. Mereka berdua pergi menuju pelabuhan, untuk melihat lokasi penemuan jasad X.
Sepanjang jalan Linda membisu, gadis itu ingin bercerita tentang kejadian di kantornya hari ini, tapi dia tidak enak hati, takut akan memecah fokus Wira.
"Saya dengar kantormu mendapat teror bom pagi ini Lin, bagaimana kejadiannya?"
"Iya pak, tadi pagi seseorang tidak di kenal meninggalkan bungkusan berwarna hitam beserta sepucuk surat bernada ancaman kepada direktur kami."
"Kemarin, saya juga di ikuti orang misterius dengan jaket hitam. Tapi untungnya saya berhasil mengecoh orang itu, dan meloloskan diri dengan menumpang taxi."
"Di hari yang sama, Pak Haris pemimpin redaksi juga mendapat ancaman lewat telepon."
"Apa ada orang yang kalian curigai?"
"Menurut pak Haris, ini semua karena liputan saya tentang pergaulan bebas, yang menggunakan gambar Club Black Rose sebagai cover."
Wira merasa ada yang janggal dari cerita Linda. Seharusnya manajemen mereka bisa menegur saja surat kabar Surya dengan melayangkan somasi, apabila pemberitaan media dirasa merugikan club Black Rose.
"Memangnya apa isi beritanya Lin, saya tidak melihat berita seperti itu kemarin, atau hari ini?"
"Surat kabar itu sudah habis dibeli orang, sehingga tidak sempat beredar."
"Isi berita standart kami hanya mengulik gaya hidup anak muda perkotaan jaman sekarang, yang cendrung negatif. Doyan hura hura, pergaulan bebas, hingga penggunaan obat terlarang."
"Ya jujur saja saat itu, saya memang sempat mewawancarai beberapa pengunjung Black Rose tapi pertanyaan saya normatif."
"Pasti ada sesuatu yang tidak sengaja kamu lakukan Lin, mungkin sesuatu yang mengandung aib bagi mereka."
"Saya berani menjamin pak, semua di batas kewajaran, sesuai etika jurnalis."
"Kamu masih menyimpan file artikel, dan fotonya Lin?"
"Masih ada di laptop saya kok pak."
"Ok nanti kita bahas kasusmu, sekarang bantu saya mencari bukti tambahan di TKP jasad X."
Wira mengakhiri percakapan mereka, saat mobil sedan merah tiba di lokasi yang masih di pasang garis polisi.
Mereka bergegas turun, dan meneliti kembali TKP. Wira sibuk mengais tanah untuk mencari bukti yang mungkin tercecer di lokasi, sedangkan Linda mengambil gambar sambil mengelilingi area pelabuhan.
"Jika jasad sengaja di buang disini pasti ada jejak, sidik jari, atau benda korban yang terjatuh."
Wira terus berjalan hingga jauh dari lokasi jasad, Dia coba membayangkan berbagai kemungkinan, bagaimana jasad korban bisa tergeletak disana.
"Krack.."
Tiba tiba Wira merasa sepatunya menginjak sesuatu, sebuah liontin yang penuh dengan tanah, melekat di alas sepatunya, dia segera memungut liontin itu, lalu membersihkannya dengan sapu tangan.
Ada foto seorang gadis di liontin itu. Wira merasa foto itu mengingatkannya kepada seseorang, siapa dan dimana pernah melihat, Wira tidak tahu pasti. Dia hanya merasa wajah di foto sangat familiar.
"Ada apa pak?"
"Kok Bapak melamun?"
"Ini Lin, saya menemukan Liontin di tanah. Ada foto seorang gadis di dalamnya dan rasanya wajah gadis itu tak asing untuk saya."
Linda mengambil Liontin yang terbungkus sapu tangan, dia memperhatikan foto buram dan coba mengingat ingat apakah dia pernah melihat orang di dalam foto tersebut.
"Astaga.. ini mirip dengan jasad X pak. Benar wajah mereka mirip, hanya saja yang ini tiga puluh tahun lebih muda dari jasad itu."
Wira langsung teringat keterangan dokter Ani. Dia pernah mengatakan kalau gadis X berdasarkan uji laboratorium baru berusia dua puluh lima tahun.
"Ini bukan dua orang berbeda yang mirip Lin, orang di foto ini memang dia."
"Dia siapa pak?"
"Dia adalah gadis X, Lin."
"Cepat masuk ke mobil, kita pergi ke rumah sakit sekarang juga."
Wira dan Linda segera berlari masuk ke dalam mobil, mereka tidak sabar untuk memastikan bahwa foto gadis di liontin adalah jasad tanpa identitas yang sekarang berada di lemari pendingin Rumah sakit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments