Arjuna tiba di puskesmas desa terdekat, beberapa orang langsung datang membantunya untuk menurunkan wanita yang terbaring di kursi penumpang.
Mereka langsung membawa wanita misterius ke ruang perawatan UGD. Dokter segera memeriksa luka luka di tubuh wanita itu, dan langsung mengambil tindakan.
"Luka lukanya cukup parah, semoga saja kita masih bisa menyelamatkan wanita ini."
Ucap dokter kepada salah seorang perawat yang membantunya. Sementara di luar Arjuna tengah berbicara kepada seorang petugas babinsa, ia miminta bantuan kepadanya untuk meminta penjagaan ketat kepada perempuan yang sedang di rawat.
"Selamat siang pak, perkenalkan nama saya Arjuna, anggota dari polres kota, ini kartu tanda snggota saya."
"Wanita yang saya bawa, dia adalah korban selamat dari upaya pembunuhan. Jadi mohon bantuan agar di tempatkan personil untuk menjaga wanita itu."
Babinsa itu tidak menjawab ucapan Arjuna. Dia malah sibuk memeriksa kartu anggota yang disodorkan oleh Arjuna.
Sembil meneliti keasilian kartu Anggota milik Arjuna, babinsa mengamatinya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan penuh selidik.
Pria berkulit sawo matang, dengan kumis tipis itu, seolah olah sedang menguliti Arjuna dengan pandangan matanya yang tajam. Dia benar benar ingin memastikan kalau pemuda yang berada di hadapannya adalah anggota polisi.
"Baik mas Juna, saya akan menelpon kapolsek, agar mengirim bantuan kemari. Untuk sementara, saya akan meminta keterangan dari anda guna melengkapi laporan penyelidikan kasus ini."
"Baik pak, terima kasih atas kerja samanya."
Arjuna langsung menjelaskan detil pristiwa yang telah terjadi di pinggir hutan. Namun dia tidak menjelaskan tentang alasannya berada di pinggir hutan tersebut.
Setelah menanyakan beberapa hal terkait wanita yang sedang dirawat, petugas babinsa itu langsung menghubungi kapolsek tempatnya bertugas.
Polisi itu langsung menjelaskan situasi yang sedang mereka hadapi kepada kapolsek. Tak lama kemudian kapolsek datang bersama dua anggota.
Dia langsung menjabat tangan Arjuna kemudian menanyakan kembali detil peristiwa penemuan wanita yang diduga korban percobaan pembunuhan di pinggir hutan.
Setelah memberikan keterangan, mereka bertiga pergi mengunjungi, lokasi tempat penemuan wanita misterius yang saat ini sedang di rawat oleh dokter puskesmas.
Sampai di lokasi, Arjuna langsung menunjukkan tempat dia menemukan wanita itu, lalu kembali menceritakan kejadian dari awal saat dia masuk ke dalam hutan, sampai tiba tiba menemukan wanita itu nyaris tertabrak oleh mobilnya.
"Saya menemukan dia disini komandan, wanita itu jatuh tepat di depan mobil, dan saat saya coba untuk memeriksa, ternyata dia sudah tergeletak di tanah dalam keadaan pingsan."
Kapolsek agak heran mendengar penuturan Arjuna, dia merasa ada yang ganjil dari kesakaian polisi muda itu. Kapolsek sempat menaruh curiga kepada bintara muda yang berdiri dihadapannya. Namun dia segera menepis prasangka itu, karena logikanya mengatakan bahwa pembunuh, tidak akan mungkin menyelamatkan jiwa korbannya.
"Jadi anda menemukan korban tergelatak disini, dan tempat ini kira kira berjarak lima ratus meter dari jalan raya utama, lalu sebenarnya apa yang anda lakukan disini mas Arjuna?"
Arjuna agak kaget mendengar pertanyaan dari kapolsek. Dia tidak menyangka perwira itu akan menayakan kehadirannya di tempat ini. Arjuna segera mengolah bahasa tubuhnya agar tidak terlihat gugup saat menjawab.
"Sebenarnya saya ingin pergi mengunjungi seorang teman di kota Banyuwangi, tapi karena lelah saya memutuskan untuk beristirahat, entah kenapa saya tertarik masuk ke dalam hutan, mungkin karena suasana yang sejuk dan pemandangannya yang indah."
"Ya bapak tahu sendiri, di kota Surabaya, cuacanya sangat panas, dan pepohonan juga sudah jarang kita jumpai disana."
Arjuna berbohong untuk menutupi tujuan keberadaannya di sekitar hutan tersebut. Kapolsek mengernyitkan dahinya, lalu meminta dua orang anggota polisi menyusuri hutan, dan memang mereka tidak menemukan apa apa yang membuat mereka harus mencurigai Arjuna.
"Kami akan tetap memeriksa kasus ini, saya harap mas Arjuna bersedia bekerja sama apabila nanti keterangan anda di butuhkan."
"Oh tentu saja pak, saya juga ingin minta tolong kepada bapak kapolsek, agar untuk sementara waktu, wanita itu di jaga ketat petugas."
"Maklum saja dia adalah saksi korban pembubnuhan, saya berharap jiwanya bisa tertolong, dan kita bisa mendapatkan kesaksian, tentang apa yang sebenarnya telah terjadi."
"Anda jangan khawatir mas Juna, saya akan menempatkan dua petugas, yang akan berjaga dua puluh empat jam."
"Terima kasih pak."
Ucap Arjuna sembari menyungging senyum lebar penuh keakraban. Setelah menyisir TKP, mereka semua pergi meninggalkan hutan. Kemudian Arjuna minta izin kepada dokter untuk menginap semalam di rumah dinas, yang berada dekat dengan puskesmas.
Bagi Arjuna malam ini sangat genting, sebab jika pembunuh itu tahu korbannya masih selamat, tentu mereka akan datang untuk menghabisinya, dan Arjuna tidak ingin semua itu terjadi.
Malam telah tiba, setelah mandi dan makan malam, Arjuna segera pergi ke puskesmas untuk bertemu dokter sekaligus memeriksa kondisi korban.
"Dok bagaimana keadaannya, apa sudah ada perkembangan?"
"Mas Juna tidak usah khawatir, wanita itu sudah melewati masa kritisnya, kita doakan saja dia akan segera sadar."
"Syukurlah dok, terima kasih atas kerja kerasnya."
"Sama sama mas Juna."
Arjuna sangat bersyukur, karena wanita itu bisa diselamatkan. Malam ini dia bisa beristirahat dengan tenang, lalu besok dia berencana untuk menyusul Tomy ke hutan.
Matahari telah terbit, udara dingin pedesaan membuat Arjuna enggan untuk bangun, tapi dia harus segera memastikan kondisi wanita yang telah ditolongnya kemarin.
Arjuna bergegas ke puskesmas, dua orang polisi yang ditugaskan untuk menjaga wanita itu, terlihat masih duduk berjaga di depan pintu. Arjuna menghampiri mereka yang tampak letih karena begadang semalaman.
"Bagaimana keadaan perempuan itu pak, apa dia sudah sadar?"
"Dia sudah sadar mas, tapi kondisinya masih lemah, dokter baru saja selesai memeriksa kondisinya. Menurut beliau setelah kondisinya setabil, kita akan bisa menayai perempuan itu."
"Syukurlah, semoga kita bisa segera mendapat informasi tentang pelaku dan motifnya pak."
Arjuna masuk ke dalam ruang perawatan untuk melihat kondisi wanita mistirius yang ditolongnya. Kondisi wanita itu tampak mulai membaik, dia sudah bisa membuka mata, beberapa luka sobek sudah dijahit dan sedikit demi sedikit, dia sudah bisa menggerakkan tangannya.
"Bagaimana keadaanmu, apa yang terjadi, siapa yang melakukan ini padamu, apa kamu ingat namamu?"
Arjuna mencoba mengorek keterangan, dari wanita itu sembari merekam pernyataannya menggunakan phonsell. Dengan terbata bata dia coba berbicara untuk menceritakan semua yang ia alami dipondok tengah hutan.
"Nama saya Mila karyawan pabrik garmen. Saya diculik dua orang laki laki saat pulang kerja di malam itu. Pengaruh obat bius membuat saya tidak sadar."
"Saat membuka mata, saya telah berada di ruangan kecil sempit, bersama dua orang lain dengan kondisi tangan, dan kaki terikat. Mulut kami disumpal menggunakan lakban."
"Terakhir kali saya sempat mendengar mereka mengatakan, kalau kami semua akan di bawa ke kuil untuk menjadi tumbal persembahan ritual purnama."
Arjuna agak terkejut ketika wanita bernama Mila mengatakan bahwa mereka akan dijadikan tumbal ritual purnama. Ekspresi wajah Arjuna seketika menjadi tegang, dengan seksama dia terus menyimak penuturan wanita yang terkulai lemah di atas ranjang perawatan puskesmas.
Sambil mencatat beberapa point penting, Arjuna kembali mencecar mila dengan beberapa buah pertanyaan.
"Lalu apa yang terjadi, bagaimana kamu bisa lolos, bukankah saat itu kamu di kunci di sebuah ruangan dengan kondisi terikat?"
"Saat itu mereka membuka pintu kamar, untuk memberi kami makanan. Tapi tiba tiba terjadi keributan. Terdengar teriakan gaduh di luar sana. Saya mendengar suara letusan senapan, dan mereka berhamburan keluar."
"Sepertinya mereka mengejar seseorang, entah dia korban penculikan seperti kami, atau orang lain yang tersesat, mungkin juga penyusup. Saya tidak tahu pasti."
"Dalam benak saya, yang terpenting harus bebas dan lari dari tempat terkutuk itu secepatnya. Ketika mereka mengejar seseorang di hutan, saya berusaha melepas ikatan tangan dan kaki menggunakan kapak yang tersandar di dinding ruangan."
"Singkatnya saya berhasil melepaskan ikatan, kami bertiga, lalu kabur dari pondok.Tapi sayangnya kami tidak punya cukup waktu untuk pergi jauh. Mereka telah kembali, dan memergoki kami saat akan kabur ke dalam hutan."
"Saya sangat gugup, pikiran kacau, dan kami terpaksa lari terpisah menyelamatkan diri masing masing. Mereka memburu seolah olah saya adalah kelinci buruan. Suara jeritan teman teman seakan meneror. Saya benar benar ketakutan, sehingga tidak perduli apa apa lagi."
"Mereka terus mengejar, memburu, dan menyerang dengan kapak, menembaki dengan panah, dan senapan. Saya berteriak minta tolong, tapi semua sia sia. Tidak ada siapapun yang bisa memberi pertolongan."
Mila mulai menangis mengingat periatiwa yang telah ia lewati. Arjuna terus mendengarkan cerita wanita itu dengan seksama, sambil sesekali mengatakan sesuatu untuk membuatnya tenang.
Kemudian Mila melanjutkan ceritanya.
"Saya terus berteriak minta tolong, tapi justru jerit suara minta tolong itu membuat mereka jadi tahu keberadaaan saya."
"Bingung, takut, tidak tahu lagi harus berbuat apa, saya hanya berlari tak tentu arah, dan mereka terus mengejar."
"Saat itu saya merasa paha kanan terasa sangat perih, ternyata sebuah panah menancap di paha kaki sebelah kanan."
"Lalu saya jatuh terperosok, terguling guling diantara belukar, bersyukur ada batang pohon tumbang yang menahan, dan saya bisa bersembunyi di semak semak."
"Saat itu saya sudah mulai pasrah, berserah diri jika harus mati di hutan."
"Tapi entah mengapa suara gaduh mereka sudah tidak terdengar lagi, mungkin ini pertolongan Tuhan. Saya berusaha merambat naik dengan berpegangan pada akar akar pohon yang menjuntai kebawah."
"Saya coba bangkit untuk terus berjalan tapi kepalala sudah terlalu berat, pandangan mata saya mulai gelap, lalu setelahnya saya tidak ingat apa apa lagi."
"Saya baru tersadar kembali, setelah berada disini di puskesmas ini."
Mila menuturkan kisahnya sambil berderai air mata, tampak sekali dia sangat terguncang. Peristiwa penculikan yang di alaminya membuat wanita itu trauma.
Arjuna mematikan rekaman di phonsellnya, dia berhenti bertanya, karena khawatir dengan kondisi mental wanita itu.
"Wanita ini rupanya sangat tertekan, sebaiknya aku serahkan saja kasusnya kepada polsek, lalu segera menyusul bang Tomy untuk mencari pak Wira."
Arjuna berbicara sendiri dalam hati, dia sudah merencanakan semua dalam benaknya, saat tiba tiba kapolsek datang menghampiri dan menepuk pundak bintara muda itu.
"Bagaimana mas, sudah ada perkembangan, bagaimana kondisinya?"
"Dia sudah bisa bicara komandan, tapi kondisi mentalnya masih belum stabil. Tadi saya sudah minta dia untuk menceritakan semua yang terjadi di hutan."
Arjuna lalu menyerahkan bukti rekaman, hasil introgasinya kepada wanita malang itu. Kapolsek mengajak Arjuna keluar ruang perawatan untuk membahas kasusnya, dan akhirnya mereka berdua sepakat, bahwa kasus itu akan diambil alih oleh kapolsek setempat.
Setelah semua urusan dirasa telah selesai, Arjuna langsung pamit untuk melanjutkan perjalanannya mencari keberadaan Tomy dan Wira.
Kapolsek mengantar Arjuna hingga depan halaman puskesmas dan mobil Arjuna segera bergerak menuju hutan dimana dia meninggalkan Tomy seorang diri kemarin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments