Seperti biasa Wira tiba dirumah pukul dua puluh dua malam. Pria lajang selalu menghabiskan waktu lebih lama diluar.
Mungkin dia tidak ingin merasa sepi, jadi setelah bekerja Wira selalu menyempatkan diri untuk nongkrong dengan teman atau sendiri saja menikmati musik di caffe sembari menyusun rencana kerja.
Ayah, Ibu, dan adik Wira berada jauh di kota Jakarta. Rina kekasihnya bekerja sebagai karyawan Bank BUMN di Bandung. Satu tahun ini mereka menjalin hubungan jarak jauh.
Rindu berat itu pasti, tapi Wira merasa ini yang terbaik untuk mereka. Komunikasi satu satunya solusi untuk menjaga hubungan. Beruntungnya Rina bukan gadis manja yang banyak menuntut. Dia gadis mandiri yang sangat pengertian.
Wira memang tidak pernah mengumbar kehidupan pribadinya kepada orang lain, terlebih kepada mereka yang belum di kenal dekat. Ada alasan khusus baginya untuk menutup itu semua dari orang lain. Maklum saja profesinya sebagai anggota polri beresiko memiliki banyak musuh.
Dua tahun kariernya di kepolisian, pria ganteng berotot ini, terhitung sudah sepuluh kali memenjarakan kriminal kelas kakap dan setidaknya tiga orang diantaranya adalah bandar obat terlarang jaringan internasional. Tentu itu adalah prestasi bagi institusi yang menaunginya. Tapi bagi Wira pribadi adalah resiko besar, karena artinya bertambah satu musuh.
Tentu bukan perkara mudah untuk berkecimpung di dunia kriminal. Lengah sedikit nyawa bisa jadi taruhannya. Wira sadar sepenuhnya akan resiko yang ditanggungnya, karena itu sedapat mungkin ia tidak mengekspose kehidupan pribadi dan orang orang terdekatnya kepada publik.
Malam ini Wira baru akan tidur di sofa, saat tiba tiba dia mendengar sesuatu yang mengganggu di luar. Wira membuka pintu untuk memeriksa sekeliling, tapi dia tidak menemukan apapun di luar, kecuali security komplek yang berkeliling untuk memastikan warga aman.
Baru saja akan masuk ke rumah, mendadak alarm mobilnya berbunyi. Kontan saja Wira panik, dia bergegas mengambil kunci dan mematikan suara alarm yang memekakkan telinga.
"Sial...!"
Ujarnya menggerutu. Wira memeriksa kondisi mobilnya, dan dia terkejut karena melihat noda darah yang telah mengering di dashboard mobilnya. Dia baru ingat kalau sejak kejadian di mall, Wira belum membuang sarung tangan medis yang digunakannya waktu itu.
Wira hanya membungkus sarung tangan dengan kantung plasik, lalu menyimpannya di laci dashboard mobil. Karena sibuk, dia lupa untuk membuangnya.
Malam itu juga Wira segera membersihkan noda darah di dasboard, lalu mengambil kantong plastik dari laci dan membakarnya di tong sampah.
Perasaan Wira tiba tiba saja berubah menjadi tidak nyaman. Dia tidak tahu apa yang membuat suasana hatinya jadi buruk. Malas memikirkan hal aneh, Wira mengambil segelas air untuk minum, kemudian memaksakan dirinya tidur walau masih belum mengantuk.
Jam tiga dini hari Wira terbangun karena merasa kedinginan. Dia bermaksud mencari remote untuk mematikan AC, namun tidak bisa menemukan keberadaan barang yang ia cari.
Dengan mata setengah terpejam Wira bangkit dari tidur lalu turun dari ranjang. Belum sadar sepenuhnya, Wira mendengar suara dari kamar mandi.
"Siapa yang mandi pagi pagi begini batinnya."
Wira melangkah menuju kamar mandi, lalu tersadar kalau dia hanya tinggal seorang diri di rumah itu. Sekujur tubuh Wira terasa kaku. Dia berdiri mematung di depan kamar mandi yang pintunya setengah terbuka.
Wira menahan jeritnya karena dari kaca yang tergantung di atas wastafel, dia melihat sosok wanita yang bunuh diri di mall dengan kondisi yang mengenaskan.
Seluruh tubuh wanita itu berlumuran darah hingga memenuhi lantai kamar mandi. Wajahnya pucat memandang tajam ke arah cermin.
Untuk satu menit lamanya Wira diperlihatkan pemandangan yang menyeramkan. Gadis itu memutar badannya lalu hilang menembus dinding.
"Ini benar benar tidak masuk akal."
"Aku baru saja melihat hantu?"
"Aku seorang polisi, di teror hantu gentayangan?"
"Owh.. Tidak, ini hanya khayalanku saja, Wira kamu harus menemui dokter psikater."
Wira galau, dia meragukan kesehatan mentalnya sampai merasa harus berkonsultasi dengan dokter atau psikolog.
Cukup lama berdiri terpaku di depan pintu kamar mandi, Wira kembali duduk di tepi ranjang sambil mengusap wajahnya. Terselip rasa takut dalam hati, tapi Wira segera menepisnya.
Dalam remang, Wira terus berpikir ada apa dengan dirinya. Dia dikenal sebagai sosok berani, kuat, rasional, skeptis, dan selalu mengandalkan logika, sekarang berhadapan dengan satu kondisi di luar nalar, berbau mistis.
"Tidak bisa begini terus, aku harus menemui om Boris."
Wira butuh nasehat dari orang lain tentang masalah ini, dan Sepintas yang terbayang dalam benaknya adalah AKBP Boris Sihombing. Perwira menengah yang dikenal cukup dekat dengan keluarganya.
Tidak menunggu lama Wira langsung berpakaian menyambar jaket, mengambil kunci mobil dan sebentar kemudian sedan merah meluncur memecah keheningan pagi.
Jam lima tiga puluh, Wira sampai di depan rumah AKBP Boris Sihombing. Orang yang dipercaya Wira akan dapat memberikan wejangan sekaligus solusi atas masalahnya.
Wira berdiri di depan pagar dengan ragu. Lalu seorang pria paruh baya berkaca mata tebal keluar dari rumah, berdiri dengan ekspresi wajah yang keheranan.
"Siapa yang bertamu pagi pagi begini?"
"Selamat pagi om Boris!"
"Wira..?"
"Ada apa anak itu kemari sepagi ini?"
Pria paruh baya bernama Boris berjalan, menuju pintu pagar, menyambut kedatangan Wira. Mereka berpelukkan, lalu Boris merangkul Wira berjalan masuk ke ruang tamu rumahnya yang cukup luas dengan beberapa foto serta lukisan menghias dinding.
"Ada apa kamu pagi buta sudah kemari?"
"Pasti ada masalah yang sangat genting sampai kamu mengunjungi om di jam begini. Tantemu saja belum sempat memasak nasi goreng, kamu sudah datang cari sarapan."
Ucap Boris bercanda untuk mencairkan suasana. Baru kali ini dia melihat anak seniornya itu, agak kikuk berhadapan denganya.
"Bagaimana kabar orang tuamu, adikmu jadi masuk fakultas kedokteran?
"Mereka semua sehat om, dan Dika jadi masuk fakultas kedokteran."
"Ehm.. Begini om, saya tutup point saja. Maksud kedatangan saya ke rumah om Boris, ingin membahas satu kasus yang tidak biasa."
"Tidak biasa bagaimana Wir..?"
Wira agak ragu meneruskan ucapannya, sementara Boris menanggapinya dengan wajah yang mulai serius.
"Om Boris percaya hantu itu ada?"
"Hahaha..!"
"Tentu saya percaya, yang begitu itu bagian dari budaya kita Wir..."
Boris tertawa terbahak, suaranya keras memenuhi seisi rumah. Wajah Wira sontak memerah, dia merasa konyol karena telah bertanya soal hantu.
"Jadi siapa yang bertemu dengan hantu?"
"Apa kamu di datangi hantu penasaran?"
"Iya om, saya melihatnya dua kali dan tadi pagi penampakan yang paling solid. Saya melihatnya dari cermin kamar mandi."
Mendengar pengakuan Wira, Boris terdiam. Dahinya berkerut, Dia sepertinya sedang memikirkan sesuatu.
"Memang apa yang sudah kamu lakukan, sampai dia ikut pulang?"
"Mahluk itu bukan penghuni asli di rumahmu?"
"Bukan om.."
"Bagaimana om Boris tahu?"
Pria paruh baya itu tidak menjawab, dia hanya menatap wajah Wira, seolah sedang memastikan ucapan Wira itu benar adanya.
"Ini om, gadis ini yang mendatangi saya."
"Entah benar nyata atau hanya halusinasi, tapi semenjak saya memeriksa kasusnya, gadis ini seperti mengikuti saya."
"Setidaknya dia menampakkan diri dua kali."
"Mungkin om Boris pernah melihat gambar tato ini, atau setidaknya punya sedikit informasi mengenai tato di foto?"
Boris mengambil foto di meja lalu memeriksa detil tato sambil coba mengingat sesuatu. Tampak sekali dia berusaha menggali lagi memori tentang kejadian di masa lampau, yang ingin dilupakannya.
"Sepertinya om familiar dengan tato itu, tapi tidak ingat persis dimana, dan siapa orang yang punya tato seperti ini?"
"Tolong ingat ingat lagi om, ini sangat penting untuk pengembangan kasus yang saya tangani."
"Sudahlah Wir, tidak usah terlalu dipikirkan kasus ini. Anggap saja kasus bunuh diri biasa, atau kasus kriminal yang tersangkanya masih dalam proses penyelidikan, dan kamu lepas kasusnya agar ditangani orang lain."
"Om sarankan kamu ambil cuti, pulang ke Jakarta atau berlibur."
"Soal hantu itu om hanya menyarankan, kamu bersihkan semua barang pribadi, mobil dan rumahmu, pokoknya semua hal yang pernah bersentuhan dengan dia."
"Om yakin kamu membawa sesuatu yang melekat dengan hantu itu, sehingga dia mengikutimu ke rumah."
"Lain kali kalau pulang dari TKP, bersihkan badanmu dulu baru pulang ke rumah, supaya aura jahat tidak ikut pulang ke rumah."
"Untungnya kamu masih bujang, jadi dia cuma ikut kamu, bagaimana bila dia meneror keluargamu?"
Wira tertegun mendengar nasehat Boris, dia berpikir lagi tentang kejadian di mall, lalu memastikan bahwa dirinya tidak membawa barang apapun milik korban, kecuali sarung tangan dengan noda darah yang telah di bakar, dan yang tidak ia sadari sepatunya pasti terkena genangan darah korban saat ia sedang memeriksa jasadnya.
Masalah tato, Wira yakin Boris mengetahui sesuatu tapi dia sengaja menutupinya. Karena satu alasan.
Wira ingin sekali mencecar Boris dengan banyak pertanyaan, namun rasa hormat kepada orang tua mencegah Wira untuk melakukannya.
"Wir.. Wira..!"
"Eh.. Iya om maaf, saya tidak fokus, ucapan om Boris membuat saya menyadari sesuatu."
"Kalau begitu saya permisi dulu."
Wira menjabat tangan Boris, lalu dengan tergesa gesa dia meninggalkan rumah orang yang akrab ia sapa dengan panggilan om.
"Saya pamit dulu om..!"
Pria paruh baya itu tersenyum melambaikan tangan, sambil menggeleng gelengkan kepala, perlahan dia melangkah masuk ke dalam rumah.
Di perjalanan pulang Wira merenung. Ucapan Boris mempengaruhi pikirannya. Hatinya ingin menolak untuk percaya, tapi kejadian itu nyata ia alami.
Satu jam berkendara Wira tiba di rumah. Tak ingin membuang waktu, dia langsung membersihkan seluruh isi rumah, mencuci pakaian, sepatu dan terakhir mencuci mobil.
Semua dilakukan oleh Wira seorang diri. Sampai tak terasa waktu berjalan sangat cepat. Wira mulai merasa lapar dan berencana untuk memasak mie instan.
"Teng...teng..!"
Terdengar suara ketukkan pintu pagar, Wira merasa agak kesal. Dia menghentikan aktifitasnya, lalu bergegas melihat siapa yang datang.
"Linda..?"
Kepala Wira dipenuhi tanda tanya, dia tidak menyangka kalau wartawan cantik itu tahu alamat rumahnya, dan datang di waktu dia sedang tidak ingin menerima kunjungan.
"Kamu tahu dari mana alamat saya?"
"Mau apa datang kemari?"
Wira membuka pintu pagar, sembari memburu Linda dengan pertanyaan beruntun. Linda tidak menjawab, dia hanya mengangkat kotak makanan yang di jinjingnya, lalu menerobos masuk ke dalam rumah.
"Kamu cari teman makan siang sampai jauh kemari?"
"Saya tahu Bapak belum makan siang, jadi saya datang bawa nasi rawon ke sini."
Tanpa sungkan Linda masuk menuju dapur sambil memperhatikan isi rumah Wira yang begitu rapih.Wira mengikuti Linda dari belakang sambil menggaruk kepalanya. "Gadis ini berani sekali pikirnya."
Linda mengambil mangkuk, piring, sendok, dan gelas seperti sedang berada di rumahnya sendiri. Sementara Wira sebagai tuan rumah justru terlihat canggung. Dia merasa risih dengan sikap Linda yang melayaninya berlebihan. Bahkan Rina saja tidak pernah memperlakukan dirinya sebaik Linda.
"Maaf pak, saya minta izin membahas ini, di jam istirahat bapak."
"Panggil Wira saja, ini bukan jam dinas."
"Baik mas Wira."
"Ini soal tato kemarin mas."
"Nanti saja di bahas, saya sedang lapar."
Linda menutup mulutnya dengan tangan sambil tertawa kecil. Dia takut Wira kehilangan selera makan tapi tidak bisa menahan tawa karena untuk pertama kali Linda melihat Wira tidak menjaga wibawa di depannya.
Untuk lima belas menit, ruang makan menjadi hening. Hanya sesekali terdengar suara sendok yang beradu. Wira memperhatikan paras cantik Linda, andai saja tidak ada Rina dalam hatinya, tentu Linda akan cocok menjadi pendamping.
Sadar dirinya sedang di perhatikan, Linda lansung menundukkan wajahnya. Gerak tubuhnya menunjukkan kalau dia merasa tidak nyaman diperhatikan. Tapi apa daya, Linda datang sendiri ke sarang singa, jadi dia harus siap dengan segala resikonya. Begitu yang ada di benak Linda saat Wira menatapnya.
Wira menyelesaikan makannya lebih cepat dari Linda, dia langsung membawa piring, mangkuk dan gelasnya sendiri ke belakang. Linda yang sejak tadi merasa tertekan jadi merasa lega. Cepat cepat dia menghabiskan suapan terakhir, lalu segera minum dan membawa piring ke belakang menyusul Wira.
"Biarkan saja di situ, nanti saya yang cuci."
Linda menuruti saja ucapan Wira, jantungnya berdegup kencang, bila tatapan mereka bertemu. Wira langsung berjalan ke ruang tamu, sementara Linda mengeluarkan laptop dari tas, kemudian menyusul Wira ke ruang tamu.
"Jadi apa yang kamu ketahui tentang tato bintang itu Lin?"
"Ini mas, coba lihat foto tato yang sudah saya perbesar. Menurut mas Wira ini apa?"
Wira melihat gambar tato yang sudah di perbesar Linda berkali kali. Walau sedikit pecah pecah, tapi Wira masih bisa melihat titik putih di tato itu. Titik putih itu sebenarnya mirip aksara jawa kuno. Tapi dia masih tidak yakin karena gambarnya kabur.
"Itu huruf aksara jawa kuno Lin."
"Tepat, dan yang lebih penting meskipun, tato ini berbeda tapi hurufnya sama mas."
"Sekarang kita tinggal cari tahu artinya, kemudian mencari sumber referensi, barangkali saja tato itu terkait dengan sekelompok orang, komunitas, atau organisasi."
Wira kagum dengan kecerdasan Linda. Beberapa hari ini polisi dibingungkan dengan kasus gadis X. Tapi Linda bisa memberikan petunjuk awal hanya dalam waktu dua hari saja.
"Gadis pintar, analisamu tajam, harusnya kamu jadi polisi, bukan wartawan."
Ujar Wira menyanjung. Mendengar pujian Wira, Linda lantas tersenyum tipis. Dia senang karena bisa membantu polisi mengungkap kasus jasad X.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments